Kedudukan Filologi dan Ilmu-Ilmu Lain


  1. Lingustik

Linguistik merupakan ilmu tentang bahasa; penyelidikan bahasa secara ilmiah yang muncul pertama kali pada tahun 1808 dalam majalah ilmiah yang disunting oleh Johan Severin Vater dan Friedrich Justin Bertuch (Kridalaksana. 2011:114). Sedangkan hubungan antara filologi dan linguistik tercermin dari objek kajiannya, bahasa. Manakala filologi mencari makna dari suatu teks yang pada dasarnya adalah bahasa maka filologi membutuhkan linguistik sebagai upaya untuk memaknai bahasa masa lampau dengan berbagai keunikannya.

            Untuk penelitian linguistik, ahli linguistik memerlukan suntingan naskah-naskah lama hasil kerja filolog dan mungkin juga membutuhkan hasil kajian bahasa teks lama oleh ahli filologi. Dari hasil kerja para filolog inilah para ahli linguistik menggali dan menganalisis seluk beluk bahasa-bahasa tulis yang pada umumnya telah berbeda dengan bahasa sehari-hari. Hasil kajian linguis ini kelak akan dimanfaatkan oleh filolog. Dengan demikian terdapat hubungan timbal balik antara filologi dan linguisti

Kemudian, ada beberapa cabang linguistik yang dipandang dapat membantu filologi dalam pengkajian naskah. Pertama, etimologi yang berfungsi untuk mempelajari asal muasal sejarah kata. Kedua, sosiolinguistik merupakan cabang linguistik yang menelaah korelasi dan saling berpengaruhnya antara perilaku bahasa dan perilaku sosial. Ketiga, stilistika merupakan ilmu yang mencermati gaya bahasa sastra sehingga filologi akan terbantu untuk mengetahui berapa usia teks tersebut.

Ada beberapa cabang linguistik  yang dipandang dapat membantu filologi, yaitu diantaranya: etimologi, sosiolinguistik, dan stilistika. Etimologi merupakan ilmu yang mempelajari asal usul dan sejarah kata. Hampir setiap pengkajian bahasa teks selalu ada yang bersifat etimologis. Hal ini mudah dimengerti karena teks-teks nusantara banyak yang mengandung kata serapan dari bahasa asing yang dalam perjalanannya mengalami perubahan bentuk dan kadang-kadang juga berubah arti. Pengkajian perubahan bentuk dan bentuk makna kata menuntut pengetahuan tentang fonologi, morfologi, dan semantik, yaitu ilmu-ilmu yang mempelajari bunyi bahasa, pembentukan kata dan makna kata.

Sosiolinguistik, sebagai cabang linguistik yang mempelajari hubungan saling pengaruh antara perilaku bahasa dan perilaku masyarakat. Ilmu ini sangat bermanfaat untuk menekuni bahasa teks.

Selanjutnya stilistika, yaitu cabang ilmu linguistik yang menyelidiki bahasa sastra, khususnya gaya bahasa. Ilmu ini dapat membantu filologi dalam pencarian teks asli atau mendekati aslinya dan dalam penentuan usia teks.

2.  Paleografi

Paleografi merupakan ilmu yang mengkaji macam-macam tulisan kuno. Ilmu ini sangat perlu untuk penelitian tulisan kuna atas batu, logam, atau bahan lainnya. Paleografi mempunyai dua tujuan (Neiermeyer, 1947:47)

Pertama menjabarkan tulisan kuna karena beberapa tulisan kuna sulit dibaca. Kedua menempatkan berbagai peninggalan tertulis dalam rangka perkembangan umum tulisannya dan atas dasar itu menentukan waktu dan tempat terjadinya tulisan tertentu. Hal ini sangat penting untuk mempelajari tulisan tangan karya sastra yang biasanya tidak menyebutkan nama dan di mana suatu karya tertulis, serta siapa penulisnya. Perlu pula diperhatikan ciri-ciri lain seperti panjang dan jarak baris-baris, bahan naskah, ukuran, tinta.

Dari beberapa ilmu pendukung dalam pembahassan filologi, paleografi merupakan ilmu yang wajib dimiliki oleh seorang filolog dikarenakan ilmu ini membahas mengenai tulisan-tulisan kuno. Sedangkan hubungan antara keduanya adalah pengkajian mengenai penjabaran tulisan-tulisan kuno baik dalam prasasti, batu atau pun logam. Lebih lanjut, paleografi akan membantu dalam menentukan waktu dan tempat terjadinya tulisan tersebut. Hal ini sangat penting karena indikator-indikator yang muncul dari tulisan tersebut akan memberikan titik terang tentang siapa pengarang tulisan tersebut. Selain itu, hal yang tidak boleh dilewatkan adalah pengamatan anatomi dari tulisan itu sendiri seperti ukuran, bahan naskah, tinta, panjang dan jarak baris dalam tulisan.

Dalam sejarah Asia tenggara, ada pula tulisan kuno yang dikembangkan di Nusantara dulu. Tulisan itu adalah tulisan yang disebut Palawa. Tulisan ini dibagi menjadi 2 ciri, palawa awal dan palawa lanjut. Palawa awal menunjukkan adanya pengaruh dari India Selatan dan Sri Langka di abad ke-3 hingga abad ke-5. Sedang palawa lanjut, dimulai pada abad ke-7 dan 8.

3.  Ilmu Sastra

Dalam peradaban nusantara banyak sekali karya fiksi yang mengarah kepada karya sastra. Karya sastra ini lebih didominasi dengan karaya yang bergenre jenaka atau pelipur lara, berbingkai. Selain itu, ada pula cerita pewayangan yang menggambarkan kisah kehidupan manusia yang tercermin dari khasanah agama Islam. Tentunya, itu semua membutuh kan pendekataan yang signifikan untuk mengetahui secara pasti makna dari kisah-kisah tersebut.

Untuk itu, pendekatan yang dirasa baik dan tepat adalah 4 pendekatan milik Abrams (1953) oleh Teeuw (1980) yang dianggap oleh Wellek dan Waren sebagai 3 pendekatan ekstrinsik dan 1 pendikatan intrinsik.

  1. Pendekatan Mimetik         : Suatu pendekatan yang lebih mengutamakan aspek-aspek referensial, acuan karya sastra, kaitannya dengan dunia nyata.
  2. Pendekatan pragmatik      : Pendekatan yang mengutamakan respon atau pengaruh suatu teks terhadap pembaca atau pendengar.
  3. Pendekatan ekspresif        : Suatu pendekatan yang menitik beratkan penulis karya sastra sebagai penciptanya yang mengandung banyak arti didalam karyanya terutama dalam eksperi dan emmosii pengarang.
  4. Pendekatan objektif          : Pendekatan yang mengkaji naskah tersebut tanpa melihat asal muasal naskah tersebut.

Akan tetapi, para sastrawan modern mendapati suatu pendekatan yang disebut pendekatan represif. Pendekatan ini lebih menonjolkan seberapa besar tanggapan pembaca terhadap karya yang ada.

            Banyak naskah nusantara yang mengandung teks sastra, yaitu teks yang berisi cerita rekaan (fiksi). Contoh yang demikian yaitu teks-teks melayu yang berisi cerita wayang, cerita jenaka, cerita berbingkai dan lain sebagainnya.

Karena banyak jumlah teks sastra dan kecenderungan dalam menanganinya, maka dalam perjalanannya filologi pernah dipandang sebagai ilmu sastra. Sekarang ini semakin pesatnya ilmu sastra , filologi dipandang sebagai cabang ilmu sastra. Bantuan filologi pada ilmu sastra terutama berupa penyediaan suntingan naskah lama dan hasil pembahasan teks yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan penyusunan sejarah sastra maupun teori sastra.

Ilmu sastra akan betul-betul bersifat umum hanya apabila data untuk penyusunan teri-teorinya didasarkan juga pada sastra lama, bukan hanya pada sastra baru. Konvensi sastra baru belum tentu sama dengan konvensi sastra lama. Dengan demikian, hasil-hasil kajian terhadap teks-teks sastra lama akan sangat berguna untuk penyusunan teori-teori ilmu sastra yang betul bersifat umum.

Diatas tadi telah dijelaskan bahwa karya nusantara sangatlah banyak dan sebagian besar dari karya yang lahir merupakan karya sastra kuno atau tradisional. Dari karya yang ada, filologi berperan untuk menelaah lebih dalam tentang kandungan karya tersebut dan mengelompokkannya dalam sub-bagian yang mempermudah khalayak untuk membacanya. Dari hal tersebut, para sastrawan yang mumpuni saat ini menggunakannya untuk menyusun sebuah sejarah sastra atau teori sastra.

 

4.  Ilmu Agama

Selain ilmu sastra atau linguistik yang diperlukan dalam memaknai sebuah teks, seorang filolog pula harus mengetahui seluk-beluk tentang agama yang ada di nusantara. Seperti Hindu, Budha dan Islam. Mengingat ketiga agama ini banyak mempengaruhi budaya nusantara. Ddalam masalah ilmu bantu yang satu ini diharapkan seorang filolog dapat mengkoneksikan hubungan antara pengaruh agama dalam sebuah naskah seperti yang tercitra dalam naskah Brahmadapura yang menjadi kitab panutan pemeluk agama Hindu.

Lebih lanjut, Dari sejumlah 5.000 naskah Melayu yang telah berhasil dicatat oleh Ismail Hussein dari perpustakaan dan museum berbagai Negara yang terdiri dari 800 judul, 300 judul diantaranya berupa karya-karya dalam bidang ketuhanan (Baried, 1994:23). Dalam pernyataan ini menandakan bahwa ilmu tentang agama memiliki peran penting dalam pengkajian filologi yang nantinya dapat memberikan kontribusi terhadap pemecahan isi dari suatu naskah.

            Penjelajahan terhadap naskah-naskah nusantara lewat karya-karya ilmiah memberikan kesan bahwa naskah-naskah itu diwarnai dengan pengaruh agama Budha, Hindu, dan Islam. Pada naskah jawa kuna terdapat pengaruh Hindu dan Budha, bahkan ada yang memang berisi ajaran agama tertentu. Dalam naskah-naskah melayu, nampak pengaruh Islam mewarnai khasanah naskah tersebut.

Banyak neskah-naskah lama yang yang mengandung unsur keagamaan yang mewarnai khasanah naskah yang aada di nusantara ini. Seperti dalam naskah kuna jawa yang dipengaruhi oleh unsur-unsur agama Hindu dan Budha. Sedangkan naskah-naskah melayu, banyak diwarnai oleh agama Islam. Pengarus sastra Islam dalam sastra jawa baru pada umumnya melalui sastra Melayu.

Suntingan naskah terutama naskah yang mengandung teks keagamaan atau sastra kitab dan hasil pembahasan kandungannya akan menjadi bahan penulisan perkembangan agama yang sangat berguna. Dari teks-teks semacam itu akan diperoleh gambaran yang berupa perwujudan penghayatan agama, percampuran agama Hindu, Budha, dan Islam dengan kepercayaan yang hidup di masyarakat nusantara. Permasalahan aliran-aliran agama yang masuk ke nusantara. Gambaran tersebut merupakan permasalahan yang ditangani oleh ilmu sejarah perkembangan agama. Dengan demikian, penanganan naskah sastra kitab secara filologi akan sangat bermanaat bagi ilmu sejarah perkembangan agama.

Penelitian agama dengan menggunakan illgi dapat dibagi dalam tiga pendekatan, yaitu metode tafsir, pendekatan filologi terhadap As-Sunnah (Al-Hadits) dan pendekatan flologi terhadap teks, naskah dan kitab (hermeneutika).

5.    Sejarah Kebudayaan

Penguasaan Sejarah Negara bagi seorang filolog akan membantu dalam meruntutkan sejarah dan kebudayaan yang telah ada secara runtut dan historis. Melalui sejarah kebudayaan, kita dapat mengetahui seberapa jauh kebudayaan yang tumbuh dan berkembang pada waktu itu. Hal ini, sangat berbanding lurus dengan seberapa hebat karya yang mereka lahirkan.

Khasanah sastra nusantara di samping diwarnai dengan pengaruh agama Hindu, Budha, dan Islam, juga memperlihatkan adanya pengaruh klasik India, Arab, dan Persi. Pengaruh karya India klasik seperti Ramayana dan Mahabharata muncul dalam sastra lama nusantara.

Selain mengumpulkan naskah lama, memelihara, dan menyuntingnya, filologi banyak mengungkapka khasanah warisan nenek moyang. Misalnya kepercayaan, adat istiadat, kesenian, dan lain sebagainya. Melalui pembacaan naskah lama dapat diketahui penyebutan atau pemberitahuan adanya unsurr-unsur budaya yang sekarang telah punah.

Hal-hal yang telah disebutkan di atas merupakan bahan yang sangat berguna untuk penyusunan sejarah kebudayaan. Itulah manfaat filologi bagi sejarah kebudayaan.

Untuk pendekatan historis terhadap karya-karya  lama nusantara seperti itu diperlukan pengetahuan sejarah kebudayaan. Melalui sejarah kebudayaan akan diketahui pertumbuhan dan perkembangan unsur-unsur budaya suatu bangsa. Unsur-unsur budaya yang erat kaitannya dengan pendekatan historis karya-karya lama nusantara antara lain sistem kemasyarakatan, kesenian, ilmu pengetahuan, dan agama.

Dalam hal ini filologi berperan untuk mengangkat khazanah atau suri tauladan ruhaniyah nenek moyang yang termaktub dalam sebuah naskah baik berupa adat istiadat, kesenian ataupun kepercayaan. Nantinya, hal ini akan menjadi bahan pembelajaran bagi ilmu sejarah kebudayaan. Dalam perjalanannya, beberapa kebudayaan telah punah atau hilang karena tidak ada penerus dalam pelaksanaannya.Maka, filologi dianggap penting untuk membatu ilmu ini untuk mengungkap khazanah kuno yang masih terendap dalam naskah.

6.  Antropologi

Secara singkat disebutkan bahwa antropologi ialah penyelidikan terhadap manusia dan kehidupannya (Partanto, 2001:44). Dari pengertian yang ada, maka dapat dikaitkan dengan filologi bahwa kehidupan manusia tidak bisa lepas dari adanya kebudayaan dan filologi mengkaji salah satu budaya dari manusia yang berbentuk naskah. Dalam hal ini, antropologi lebih menekankan penelitian bagaimana manusia menyikapi naskah yang telah ada dari zaman dahulu hingga sekarang.

           Penggarapan naskah tidak dapat terlepas dari konteks masyarakat dan budaya yang melahirkannya. Untuk kepentingan ini ahli filologi dapat memanfaatkan hasil kajian atau metode antropologi sebagai suatu ilmu yang berobjek penyelidikan manusia dipandang dari segi fisiknya, masyarakatnya, dan kebudayaannya. Masalah yang erat kaitannya antropologi misalnya sikap masyarakat terhadap naskah.

7.  Folklor

Folklor merupakan ilmu yang relatif masih baru karena semula dipandang sebagian dari ilmu antropologi.  Unsur-unsur budaya yang terangkum dalam folklor dapat digolongkan menjadi dua yaitu unsur budaya yang materinya bersifat lisan dan golongan budaya yang materinya bersifar upacara-upacara. Yang termasuk golongan pertama yaitu mitologi, legenda, cerita asal usul, dongeng, mantera, teka-teki, dan lain sebagainya. Sedangkan yang termasuk golongan yang kedua yaitu upacara yang mengiring kelahiran, perkawinan, kematian. Yang paling erat kaitannya dengan filologi yaitu golongan pertama yang termasuk sastra lisan, terutama sastra lisan yang berupa cerita rakyat. Folklor sangat erat kaitannya dengan filologi karena banyak teks lama yang menceritakan unsur-unsur folklor, misalnya teks yang termasuk jenis sastra sejarah atau babad.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Aziz, Fu’adi. 1993. Filologi Sebuah Pengantar. Yogyakarta: Fakultas Adab UIN Sunan

Baried, Siti Baroroh, et. 1994, Pengantar Teori Filologi. Yogayakarta: Badan Penelitian dan

Publikasi Fakultas Seksi Filologi Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada

Mirzaindie. 2009. “Kedudukan Ilmu Filologi dengan Ilmu Lain”. dalam

http://mirzaindie.blogspot.com diunduh Senin, 27 Februari 2012, pukul 15.22 WIB.

Kridalaksana, Harimurti, 2011, Kamus Linguitik edisi 4. Jakarta : PT. Gramedia Utama.

Partanto, Puis. 2001. Kamus Ilmiah Populer. Arkola: Surabaya.

Verhaar, 2010, Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta : Universitas Gajah Mada

Hermankhan. 2009. Ilmu Bantu Filologi. http://angkringanesimbok.blogspot.com/2007/11/seputar-istilah-filologi.html. Diakses pada10 Oktober 2011 pukul 07.30 WIB. (Online ).

Thohir, Mudjahirin. 2005. Filologi dan Kebudayaan. http://staff.undip.ac.id/sastra/mudjahirin/2009/04/26/filologi-dan-kebudayaan-2/. Diakses pada 10 Oktober 2011 pukul 07.35 WIB. (Online).

Pengantar Teori Filologi. (Anonim)

TUGAS AKHIR WACANA


REFERENSI DAN INFERENSI WACANA BAHASA INDONESIA

  1. Bacalah teks berikut dengan cermat lalu jawablah pertanyaan di bawahnya!

(1) Enam jam dijarah api, Hartono Elektronik, pusat penjualan barang-barang elektronik di Jalan Kertajaya, habis terbakar. (2) Puluhan peawat televisi, laser disc, lemari es, mesin cuci, tape deck, radio tape, video dan aneka barang elektronik lainnya jadi abu. (3) Sebagian lainnya meleleh “dimanakn” si jago merah. (4) Total kerugiannya diperkirakan lebih dari Rp 1 miliar. (5) toko yang dipercaya sebagian konsumen menjual dengan harga miring itu mengeluarkan asap sekitar pukul 05.30, saat tiga karyawan yang menjaga toko milik hartono Suprapto itu tertidur pulas. (6) Seorang polisi yang kebetulan berpatroli di jalan Kertajaya mengetahui atap itu curiga. (7) sumber api diduga dari korsleting yang terjadi di lantai dasar sisi timur, ruang penempatan jenset. (8) Api mulai membesar setelah terjadi tiga letusan di ruangan itu. (Jawa Pos, 20 Januari 1997)

  1. Manakah ungkapan kebahasaan yang menunjuk pada acuan (referen) yang sama?
  2. Tunjukkan ungkapan kebahasaan yang sama tetapi menunjuk pada acuan yang tidak sama!
    1. Tariklah inferensi berdasarkan ajaran berikut!
    2. Pengusaha itu pindah ke kantor baru.
    3. Gedung itu bertingkat tiga.

Jawab:

  1. Ungkapan kebahasaan yang menunjuk pada acuan yang sama adalah (a) Hartono Elektronik (1), pusat penjualan barang-barang elektronik terkenal di Jalan Kertajaya (1), toko yang dipercaya sebagian konsumen menjual dengan harga miring (5), dan toko dan toko milik Hartono Suprapto (5); (b) diajarah api (1) dengan “dimakan” si jago merah (3).
  2. Ungkapan kebahasaan sama yang menunjuk pada acuan yang berbeda adalah itu pada (5, 5, 6, dan 8)
    1. Inferensi yang dapat diambil adalah “kantor baru itu bertingkat tiga”.

Petunjuk:Jawablah B bila menurut Anda pernyataan betul dan S bila salah!

  1. Referensi dalam analisis wacana selalu mengacu pada objek yang berada di luar teks. (S)
  2. Referensi yang benar adalah yang sesuai dengan konteksnya. (B)
  3. Dalam menarik inferensi tuturan pendengar harus selalu memperhatikan konteksnya. (B)
  4. Agar pembaca dapat memahami acuan secara tepat ia harus mempunyai pengetahuan yang “sama” dengan penulis. (S)
  5. Dalam percakapan, acuan yang dirujuk harus disepakati oleh pewicara dan pendengar. (S)
  6. Antara penulis dan pembaca harus memiliki inferensi yang sama. (S)
  7. Membuat inferensi berarti memahami proposisi yang “hilang” dalam teks. (B)
  8. Agar dapat memahami informasi tersirat suatu ujaran, pendengar perlu memahami makna eksplikaturnya. (B)
  9. Implikatur dapat memahami dengan baik bila kita memahami budaya masyarakatnya. (B)
  10. Inferensi selalu bergantung pada konteks. (B)

KOHESI DAN KOHERENSI WACANA BAHASA INDONESIA

            Petunjuk: Bacalah dengan seksamaparagraf berikut lalu jawablah pertanyaan dibawahnya!

(1) karier dalam kemiliteran Soedjono Hoemardani diawali di kota kelahirannya, Surakarta, dengan pangkat letnan satu pada Resimen Infantri XV. (2) setelah itu, ia pindah ke markas Teritorial IV di Semarang. (3) Pada 1960, ia pindah ke Jakarta, dan menjabat Wakil Deputi III Kasad. (4) Dua tahun kemudian, dengan pangkat letnal kolonel ia diangkat sebagai Pejabat Deputi III Kasad. (5) Ia pernah dikirim ke Amerika Serikat, mengikuti pendidikan Finance Advanced Course di Fort Benjamin Harrison. (6) Sepulang dari AS, pada awal-awal Orde Baru, pak Djono diberi kepercayaan sebagai asisten pribadi (aspri) Presiden Soeharto. (7) Ketika lembaga ini dihapus, Soedjono Hoemardani masih tetap menampingi Presiden Soeharto, sebagai Irjenbang.

  1. Tunjukkan alat kohesi yang menunjukkan urutan waktu!
  2. Tunjukkan alat kohesi yang menunjukkan pengulangan dengan penggantian (substitusi)!
  3. Tunjukkan alat kohesi sarana tunjuk anafora!
  4. Menurut pendapat Anda apakah paragraf di atas koheren? Berikan alasan jawaban Anda!

Jika telah selesai, periksalah hasil latihan Anda dengan memperhatikan rambu-rambu jawaban berikut!

  1. Alat kohesi urutan waktu: setelah itu (2), dua tahun kemudia (4), sepulang dari AS (6).
  2. Alat substitusi: Soedjono Hoemardani (1) diganti dengan kata ia (2,3,4,5) dan Pak Djono (6), asisten pribadi (6) diganti lembaga (7).
  3. Alat kohesi sarana tunjuk anafora: ini (7) mengacu pada asisten pribadi (6).
  4. Koheren karena ide tiap kalimat saling berhubungan dan ditata dengan apik sehingga mudah dipahami pembaca.

Petunjuk:Untuk menjawab soal nomor 1 sampai 5, pilihlah satu jawaban yang paling tepat!

  1. Unsur pembentuk wacana seperti berikut, kecuali ….
  2. Alat kohesi
  3. Kolokasi
  4. Penataan logis
  5. Penataan koordinatif
    1. Berikut adalah jenis alat kohesi, kecuali ….
    2. Substitusi
    3. Konjungsi
    4. c.    Repitisi
    5. Leksikal
      1. Berikut adalah bentuk penanda konjungsi urutan waktu, kecuali ….
    6. Setelah itu
    7. Oleh karena itu
    8. Akhirnya
    9. d.    Mula-mula
      1. Pancasila dapat diiterpretasikan secara luas sedemikian rupa sehingga meliputi pengertian yang mencakup segala aspek kehidupan. Sebaliknya, Pancasila tidak dapat dipersempit, sehingga menjadi monopoli golongan masyarakat tertentu saja.

Kata sebaliknya pada teks tersebut termasuk jenis alat kohesi ….

  1. a.    Pertentangan
  2. Alahan
  3. Parafrase
  4. Pilihan
    1. Seorang yang berfilsafat dapat diumpamakn seorang yang berpijak di bumi sedang tengadah ke bintang-bintang. Dia ingin mengetahui hakikat dirinya dan kesemestaan galaksi.

Kata dia pada teks di atas termasuk jenis alat kohesi ….

  1. Pertentangan
  2. Pengulangan
  3. c.    Pilihan
  4. Parafrase
    1. Kohesi adalah berhubungan maknawi antarbagian suatu teks yang ditandai oleh penggunaan penandahubung yang dapat diamati.

sebab

Koherensi merupakan salah satu unsur pembentuk koherensi.

  1. Dalam teks, kohesi lebih penting dari koherensi.

sebab

Alat kohesi sebagai sebuah unsur pembentuk teks.

  1. Kehadiranalat kohesi dalam teks berfungsi sebagai pengikat bagian-bagian dari teks.

sebab

dengan adanya alat kohesi, gagasan dalam teks akan lebih mudah dipahami.

  1. Alat kohesi anafora merupakan sarana tunjuk yang digunakan untuk mengacu pada hal-hal yang akan disebutkan.

sebab

Anafora, termasuk jenis kohesi alat kohesi leksikal.

  1. Substitusi merupakan penjalin suatu proposisi dengan unsur bahasa yang lain tanpa mengubah referensinya.

sebab

Substitusi merupakan salah satu alat kohesi leksikal.


 

WACANA LISAN DAN TULIS

Petunjuk:bacalah dengan seksama penggalan percakapan berikut lalu jawablah pertanyaan dibawahnya!

I: (1) Assalamu’alaikum,

P: (2) Wa’alaikumsalaam. (3) Lho, Dik Junaidi. (4) Dengan siapa, Dik?

I: (5) sendirian, Pak. (6) Rencananya, dengan nyonya, tapi … dia ternyata harus menghadiri rapat PKK RT.

P: (7) Apa dia itu pengurus PKK?

I: (8) Bukan, Pak. (9) Hanya kali ini, dia harus mengurus pertemuan itu, karena harus menguruspertemuan pada bulan berikutnya. (11) Pertemuan itu, diadakan setiap bulan.

P: (13) Tempatnya, di mana, biasanya?

I: (14) Kalau tempatnya, biasanya, berpindah-pindah. (15) E … maksud saya, tergantung siapa yang mendapatkan arisan itu. (16) Karena yang mendapat arisan selalu dua, maka tempat pertemuannya, diadakan di rumah salah satu yang mendapat arisan itu. (17) Pertemuan kali ini, diadakan di rumah temannya nyonya. (18) Untung saja tidak di rumah. (19) Kalau di rumah, tentu saya tidak dapat ke sini.

Berdasarkan data di atas, jawablah pertanyaan di bawah ini!

  1. Buktikan dengan data di atas bahwa dalam wacana lisan kalimatnya tidak berstuktur!
  2. Buktikan dengan data bahwa dalamwacana lisan frasa benda yang digunakan pendek.

Petunjuk:Untuk menjawab soal nomor 1 sampai 5, pilihlah satu jawaban yang paling tepat!

  1. Dalam wacana tulis tidak pernah ditemukan ungkapan kebahasaan yang dimaksudkan sebagai pengantar perbaikan (revisi), baik pada aspek bahasa maupun isi dan penataannya, karena ….
  2. Wacana tulis selalu benar
  3. Ada kesempatan merevisi selalu dipublikasikan
  4. c.    Wacana tulis didukung konteksnya
  5. Dalam wacana tulis hubungan antara penutur dan mitra tuturnya tidak langsung.
    1. Wacana lisan cenderung tidak menggunakan piranti hubung (piranti kohesi) karena ….
    2. a.    Pemahaman ujaran dibantu oleh konteksnya
    3. Prinsip efisiensi dalam berbahasa
    4. Pemahaman ujaran dibantu oleh pewicara
    5. Pemahaman ujaran dibantu oleh situasi
      1. Wacana tulis cenderung menggunakan kalimat yang panjang-panjang, karena ….
    6. Agar pembaca lebih mudah memahami gagasan
    7. Penulis mempunyai kesempatan untuk memperbaiki jika ada kesalahan pengungkapan gagasan
    8. Komunikasi antara penulis dan pembaca tidak langsung sehingga idenya perlu ditata secara runtut dari diungkapkan secara jelas
    9. d.    Kalimat pendek/berupa frase dalam wacana tulis lebih sulit dipahami pembaca
      1. Manakah di antara kalimat berikut yang biasa dipakai dalam wacana lisan?
    10. Terus, sekarang bicara soal, cowok saja, ya!
    11. Kurikulum 1994 mata pelajaran Bahasa Indonesia mempunyai karakteristik yang berbeda dari kurikulum sebelumnya
    12. c.    Konotasi jelek apa yang disebut para eks di dunia sepak bola, benar-benar terjadi di Stadion San Siro Milan, Minggu sore lalu
    13. Bagi pengelola tim nasional, pelatnas jangka panjang dirasakan perlu karena pemain-pemain terbaik di Indonesia belum bisa disetel dengan sistem block down seperti di negara yang sepak bolanya sudah maju
      1. Dalam wacan lisan, hal-hal yang sudah diketahui tidak perlu diungkapkan lagi. Hal ini sesuai dengan prinsip ….
        1. Efisiensi
        2. b.      Kualitas
        3. Cara
        4. Relevansi
  1. Dalam wacana lisan, sering ditemukan ungkapan kebahasaan maksud saya begini untuk memperbaiki ujaran yang sudah disampaikan.

sebab

Pemahaman wacana lisan sangat didukung oleh konteksnya.

  1. Dalam wacana lisan, ekspresi yang kurang tepat dapat segera diatasi/diperbaiki.

sebab

Komunikasi antara pembicara dan pendengar biasanya terjadi secara langsung.

  1. Wacana lisan disampaikan secara spontan

sebab

Wacana lisan disusun tanpa persiapan.

  1. Dalam wacana tulis, konteks pemakaian bahasa harus dipaparkan penulis dalam teksnya.

sebab

Komunikasi antara pembaca dan penulis terjadi secara tidak langsung.

  1. Dalam suatu pertuturan, antara pembicara dan pendengar sudah bersepakat mengenai topik yang akan dibicarakan.

sebab

Penataan, gagasan dalam wacana lisan berpola topik-komen.


 

WACANA MONOLOG, DIALOG, DAN POLILOG

Kerjakan latihan berikut.

  1. Carilah masing-masing satu buah contoh bentuk wacana lisan monolog, dialog, dan polilog yang ada dalam lingkungan Anda!
  2. Cobalah identifikasi ciri-ciri masing-masing contoh yang Anda temukan!

Jika telah selesai, periksalah hasil latihan Anda dengan memperhatikan rambu-rambu jawaban berikut!

  1. a. Contoh Monolog

Siswa:

“Yth. Bapak kepala SMPN 1 Malang,

Yth. Bapak dan Ibu Guru SMPN 1 Malang,

Yth. Bapak dan Ibu Wali Murid,

Yth. Para undangan, dan

Rekan-rekan yang saya cintai

Assalamu’alaikum wr, wb.

Pada hari yang berbahagia ini, perkenankanlah kami atas nama wakil lulusan mengajak hadirin untuk memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah, Tuhan yang Maha Kuasa, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kita dapat mengikuti acara perpisahan lulusan SMPN 1 Malang tahun ajaran 1997/1998.

Bapak Kepala Sekolah yang kami hormati,

Hari ini merupakan hari yang berbahagia bagi kami karena telah menyelesaikan sebagian tugas yang harus kami selesaikan. Dengan cara perpisahan ini berarti kami telah diakui keberhasilan perjuangan dan doa kami selama kurang lebih 3 tahun ini. Oleh sebab itu, pada kesempatan yang berbahagia ini tidak lupa kami mengucapkan banyak terimakasih kepada Bapak/Ibu Guru, Bapak/Ibu Staf Tata Usaha.

….”

  1. Contoh Dialog

Konteks: Rama (3 tahun), dan Nita (4 tahun) membuka majalh Bobo dan menemukan gambar rumah.

Rama : Ini lumah (Rumah)? (menunjuk gambar rumah)

Nita   : Iya lumah.

Rama : Lumahnya bagus?

Nita   : Iya, pintel (Pinter)

Rama : Lumahku, lumahku bagus.

Nita   : Lumahnya jelek, kok bagus.

  1. Contoh Polilog

Membahas masalah gender.

Penyiar                   :“Sejak dulu wanita itu selalu dijadikan orang belakang. Orang kelas dua. Kita harus memperjuangkannya.

Wartawan laki-laki : “Itukan sesuai dengan kodratnya.”

Wanita karier          :  “Bukan kodrat itu, tapi dibuat oleh manusia. Seandainya, orang laki-laki, maaf ya, tidak egois dan tidak memandang wanita itu rendah, maka para wanita akan lebih percaya diri. Cobalah lihat sekarang, wanita yang diberi kepercayaan ternyata dapat memimpin negara.

Wartawan laki-laki :“bagaimana pun juga wanita itu tetap terbatas, baik dari segi fisik maupun mental. Secara umum, emosi wanita lebih meledak-ledak”

Wanita karier          :  “Emosi bukan merupakan ukuran rendahnya status wanita”

  1. Ingat bahwa wacana monolog lisan ditandai oleh:

(a)    hanya ada satu pembicara

(b)   tidak ada balikan langsung, dan

(c)    terjadi dalam komunikasi lisan.

Wacana dialog lisan ditandai oleh:

(a)    ada dua pembicara,

(b)   terjadi pergantian peran, dan

(c)    terjadi dalam komunikasi lisan.

Wacana polilog lisan ditandai oleh:

(a)    ada lebih dua orang,

(b)   terjadi pergantian peran, dan

(c)    terjadi dalam komunikasi lisan.

Petunjuk:Untuk menjawab soal nomor 1 sampai 5, pilihlah satu jawaban yang paling tepat!

  1. Penjenisan wacana menjadi wacana monolog, dialog, dan polilog didasarkan pada ….
  2. Jumlah peserta dalam komunikasi
  3. Ada tidaknya pergantian peran peserta komunikasi
  4. Jumlah peserta yang terlibat dalam komunikasi
  5. d.    Hubungan antara sumber pesan dan penerima pesan
    1. Berikut adalah unsur pokok dalam dialog, kecuali ….
    2. a.    Penerima pesan
    3. Topik
    4. Alih tutur
    5. Konteks
      1. Salah satu prinsip yang perlu diperhatikan dalam wacana dialog adalah kesopanan. Yang termasuk prinsip kesopanan adalah seperti berikut, kecuali ….
    6. a.    Jangan memaksakan kehendak
    7. Menjaga agar pendengar tetap baik
    8. Memberikan pilihan kepada mitra tutur
    9. Memberi penguatan kepada mitra tutur
      1. Dalam dialog, bila seorang peserta menyampaikan sesuatu informasi sebanyak yang diperlukan mitra tuturnya, dialog itu berarti memenuhi prinsip ….
    10. a.    Kuantitas
    11. Kualitas
    12. Relasi
    13. Cara
      1. Pergantian tutur dalam wacana polilog tidak resmi diatur oleh ….
    14. pembicara
    15. pendengar
    16. c.    moderator
    17. konvensi pemakai bahasa
  1. pasangan ujaran terdekat dapat terjadi bila ujaran yang dihasilkan seseorang menimbulkan ujaran yang lain.

sebab

Pasangan ujaran tedekaat terjadi pada wacana dialog saja.

  1. Pergantian tutur mengikuti pola tertentu.

sebab

Pola pergantian tutr ditentukan oleh budaya masyrakat pemakai bahasa.

  1. Dalam suatu pasangan terdekat, kemungkinan terjadi adanya rangkaian sisipan.

sebab

Sisipan dalam pasangan terdekat mempunyai fungsi tertentu dalam komunikasi.

  1. Dalam dialog, pergantian tutur dapat terjadi topik yang dibicarakan bagus.

sebab

Topik dapat dikembangkan sesuai dengan minat peserta dialog

  1. Sebuah ujaran hanya dapat dianggapi sebanyak dua macam kemungkinan oleh mitra tuturnya.

sebab

Ujaran tanggapan dapat bervariasi sesuai dengan minat peserta.


 

WACANA DESKRIPSI, EKSPOSISI, ARGUMENTASI, PERSUASI, DAN NARASI

Kerjakan tugas berikut.

  1. Carilah contoh bentuk wacana tulis jenis deskripsi, eksposisi, argumentasi, persuasi, dan narasi yang ada di lingkungan anda, masing-masing satu buah!

Jawab:

  1. Contoh wacana deskrispi

Dicari seorang buron

Seorang laki-laki kira-kira berumur 35 tahun. Rambutnya gondrong sebahu dan lurus. Kulit hitam gelap dan lengan kanan bertato dengan gambar wanita telanjang. Ciri lain yang menonjol, hidungnya mancung dan terdapat bekas gorean melintang dari hidung sampai pipi. Pria ini berkumis tebal dan lebat serta berjenggot.

  1. Contoh wacana eksposisi

(per) Peningkatan kadar keasaman air hujan air hujan disebabkan oleh sisa pembakaran di udara. Bahan bakar fosil (misalnya minyak bumi, gas alam, batu bara) bila dibakar akan menghasilkan sulfur dioksida (SO2) dan nitrogen oksida (NOx) sebagai penyebab utama keasaman itu. Penghasil SO2 dan NOx terbesar adalah pembangkit listrik dan industri yang menggunakan batubara sebagai bahan bakar. SO2 dan NOx itu juga dilepaskan oleh kendaraan di jalan. Zat-zat yang berat akan jatuh ke bumi dan yang ringan mengambang di udara.  Jika hujan, zat-zat yang mengembang di udara itu, tersapu bersih oleh hujan yang turun. Makin banyak zat-zat itu makin asam air hujan yang menyapunya.

  1. Contoh wacana argumentasi

Kemama tiga ratus rupiah. Ship khan, Bu? Jadi puan berpikir kritis mahasiswa S! Dapat ditingkatkan, antara lain dengan memberikan latihan secara intensif dalam menyusun argumen. (Al) Makalah mahasiswa S1 menunjukkan kelemahan penalaran. Makalah-makalah mahasiswa S1 mengandung argumen-argumen yang rancu. (Pem) Berpikir kritis ditandai oleh kemampuan menggunakan bahasa secara jelas dan tepat. Berpikir kritis ini nampak pada skripsi dan makalah mahasiswa S1 yang ditulis dengan penalaran baik.

  1. Contoh wacana persuasi

LD : Gratis! Bu, ada yang gratisan lagi!

Rinso satu kilo seakrang berhadiah, hadiahnya itu….

WD : O, apa sih? (dengan penuh rasa ingin tahu)

LD : He, betul kan … nggak sabar khan! Hadiah-nya itu satu sabun Livebuoy seratus gram seharga tiga ratus rupiah. Ship khan, Bu? Jadi ingat, setiap beli Rinso satu kilogram bertanda khusus, jangan lupa minta hadiahnya satu sabun Livebuoy! Okey, cepet lho sebelum habis!

  1. Contoh wacana Narasi

Natalisa, seorang gadis remaja, sangat mencintai binatang piaraan. Setiap pagi dia membawa anjingnya berjalan-jalan. Setelah itu dia memberi makanan kedua anjingnya dan tiga ekor kucing yang juga dipeliharanya. Kemudian, dia membersihkan sangkar burung nuri yang baru dibelinya dari pasar dan setelah selesai langsung memberi makannya. Kalau sang surya sudah memancarkan sinarnya, dijemurnya burung nuri itu selama satu jam. Setelah pekerjaan-pekerjaan mengurus binatang piaraannya selesai, akhirnya dia makan pagi di dapur.

  1. Cobalah identifikasi ciri-ciri masing-masing contoh yang anda temukan!

Jawab:

Ciri wacana deskripsi: (a) jenis wacana yang ditujukan kepada penerima pesan agar dapat membentuk suatu citra (imajinasi) tentang sesuatu hal (b) aspek kejiwaan yang dituju adalah emosi, (c) tidak bersifat evaluatif.

Wacana eksposisi berciri:  (a) bertujuan untuk menerangkan sesuatu hal, (b) dapat berisi konsep-konsep dan logika yang harus diikuti, (c) untuk memahaminya diperlukan proses berpikir.

Wacana argumentasi berciri: (a) adanya isu yang sifatnya kontroversi antara penutur dan mitra tutur, (b) berusaha menjelaskan alasan-alasan yang logis untuk meyakinkan mitra tuturnya (pembaca atau pendengar). (c) biasanya topik diangkat karena mempunyai nilai, (d) elemen pokoknya, yaitu (1) pernyataan, alasan, dan pembenaran.

Wacana persuasi berciri: (a) berutujuan mempengaruhi mitra tutur dan (b) aspek yang dituju adalah emosi dan pikiran.

Wacana narasi berciri: (a) berisi berita, (b) unsur yang penting adalah waktu, pelaku, dan peristiwa, (c) untuk menggerakkan aspek emosi.

  1. Selanjutnya diskusi hasil kerja anda dengan teman anda, untuk mencocokkan pemahaman anda!

Jawab:

Hasil diskusi bergantung pada wacana yang anda temukan dengan memperhatikan ciri-ciri jenis wacana pada rambu-rambu jawaban nomor 2.

Petunjuk: Pilihlah salah satu alternatif jawaban yang anda anggap paling tepat!

  1. Pembedaan jenis wacana menjadi deskripsi, eksposisi, argumentasi, persuasi, dan narasi didasarkan pada….
  2. Tujuan komunikasi
  3. b.    Peran penutur dalam komunikasi
  4. Saluran komunikasi
  5. Cara memproduksi pesan
    1. Pemakaian bahasa dalam kampanye politik menjelang pemilihan umum, dikategorikan sebagai wacana jenis….
    2. Argumentasi
    3. b.    Persuasi
    4. Deskripsi
    5. Eksposisi
      1. Jenis wacana persuasi, sasaran penyampaian pesan adalah aspek….
    6. Emosi
    7. Intelektual
    8. Emosi dan intelektual
    9. d.    Keterampilan
      1. Jenis wacana argumentasi, sasaran penyampaian pesan adalah aspek….
    10. Emosi
    11. Intelektual
    12. c.    Emosi dan intelektual
    13. Keterampilan
      1. Jenis wacana narasi menonjolkan aspek berikut, kecuali….
    14. a.    Urutan waktu
    15. Imajinasi
    16. Adanya tokoh
    17. Intelektual
  1. Jenis wacana deskripsi bermaksud menggambarkan suatu objek seperti apa adanya.

Sebab

Wacana deskripsi bermaksud membentuk imajinasi pembacanya.

  1. Jenis wacana eksposisi hanya cocok untuk menyampaikan konsep abstrak

Sebab

Untuk memahami wacana eksposisi perlu melibatkan aspek emosional dan intelektual.

  1. Wacana argumentasi pada dasarkan bermaksud mempengaruhi pembaca agar dapat menerima gagasan yang ditawarkan.

Sebab

Wacana argumentasi perlu didukung oleh alasan-alasan yang dapat meyakinkan pembacanya.

  1. Pernyataan (claim) dalam wacana argumentasi merupakan proposisi yang hendak dipertahankan oleh penulis.

Sebab

Dalam wacana argumentasi, penulis harus mengambil posisi sesuai dengan keyakinan.

  1. Unsur waktu merupakan aspek terpenting dalam wacana narasi.

Sebab

Unsur waktu dapat membuat pembaca mengaktifkan emosinya.


 

KONTEKS WACANA BAHASA INDONESIA

Latihan 1

  1. Berikan penjelasan singkat tentang konteks, konteks linguistik, koteks, konteks ekstralinguistik, dan konteks situasi!

Jawaban:

Konteks adalah benda yang menjadi lingkungan atau situasi penggunaan bahasa. Konteks linguistik adalah konteks yang berupa unsur bahasa. Koteks adalah teks atau bagian teks yang menjadi ligkungan bagian teks yang lain dalam sebuah wacana. Konteks ekstra linguistik adalah konteks yang bukan unsur bahasa. Konteks situasi adalah konteks yang berupa faktor-faktor pembentuk situasi.

  1. Apa peranan konteks dalam penggunaan bahasa?

Jawaban:

Konteks berperan menentukan ketepatan bentuk dan makna dalam penggunaan bahasa.

  1. Mengapa partisipan harus memperhatikan konteks penggunaan bahasa?

Jawaban:

Partisipan harus memperhatikan konteks penggunaan bahasa agar dapat menggunakan bahasa secara tepat dan dapat menentukan makna secara tepat pula. Dengan kata lain, penggunaan bahasa, baik produktif maupun responsif, senantiasa terikat konteks dalam penggunaan bahasa.

Latihan 2

Pilih salah satu jawaban yang tepat!

  1. Konteks adalah….
  2. Benda atau hal yang bersama ada dengan teks
  3. Unsur-unsur peristiwa yang mengiringi teks
  4. c.    Unsur-unsur yang memebentuk teks
  5. Benda atau hal yang di luar teks
    1. Manakah yang bukan konteks?
    2. Partisipan
    3. b.    Topik
    4. Sarana komunikasi
    5. Tujuan komunikasi
      1. Selain konteks ada koteks. Yang dimaksud koteks adalah sebagai berikut ini, kecuali….
    6. Teks yang menjadi lingkungan teks yang lain
    7. Lingkungan teks yang berupa teks
    8. Bagian teks yang menjadi lingkungan bagian teks yang lain
    9. d.    Lingkungan di luar teks
      1. Konteks linguistik adalah konteks yang….
    10. Berupa satuan-satuan bahasa
    11. Dapat dikenali dari segi ilmu bahasa (linguistik)
    12. c.    Berupa kata-kata dan kalimat-kalimat yang dituturkan oleh partisipan
    13. Berupa teks atau bagian teks yang menjadi lingkungan teks atau bagian teks
      1. Pengguna bahasa harus memperhatikan konteks berdasarkan pertimbangan bahwa….
    14. a.    Keberhasilan tujuan komunikasi ditentukan oleh konteks
    15. Makna tuturan ditentukan oleh konteks
    16. Konteks senantiasa menjadi lingkungan teks
    17. Tidak ada tuturan tanpa konteks
      1. Apa yang tidak termasuk konteks ekstralinguistik?
    18. Topik
    19. Partisipan
    20. c.    Waktu
    21. Paragraf


 

MACAM-MACAM KONTEKS

Latihan 1

  1. Konteks linguistik adalah konteks yang …
    1. Dipelajari dalam bidang linguistik
    2. B.     Berupa unsur-unsur bahasa
    3. Dituturkan oleh partisipan
    4. Berupa kata-kata
  2. Apa saja yang termasuk dalam konteks linguistik?
    1. Penyebutan depan, sifat kata kerja, kata kerja bantu, pengetahuan
    2. Sifat kata kerja, pengetahuan, preposisi, kata kerja bantu
    3. C.     Penyebutan depan, sifat kata kerja, kata kerja bantu, preposisi
    4. Pengalaman partisipan, preposisi, penyebutan depan
  3. Konteks ekstralinguistik adalah konteks yang …
    1. Tidak dapat dikenali dengan linguistik
    2. B.     Unsur di luar bahasa yang menjadi lingkungan wacana
    3. Unsur yang dapat dikenali oleh partisipan
    4. Hal-hal yang terkait dengan penggunaan bahasa
  4. Yang tersebut berikut ini tidak termasuk konteks ekstralinguistik …
    1. Partisipan, topik, latar, saluran
    2. Topik, kerangka topik, latar, kode
    3. Partisipan, praanggapan, topik, latar
    4. D.    Waktu, tempat, partisipan, makna
  5. Penggunaan konteks linguistik dan ekstralinguistik untuk menganalisis wacana bersifat …
    1. A.     Simultan
    2. Terpisah
    3. Sendiri-sendiri
    4. berurutan


 

PENGGUNAAN KONTEKS DALAM ANALISIS WACANA

Latihan 1

  1. Jika analisis wacana diarahkan pada kalimat dalam teks, sasaran analisis adalah …
    1. Kegramatikalan kalimat
    2. Struktur kalimat
    3. Kaidah konstruksi kalimat
    4. D.    Nilai fungsional kalimat
  2. Mengapa analisis satuan unsur wacana senantiasa didasarkan pada konteks?
    1. Karena konteks dapat dicari oleh analisis wacana
    2. B.     Karena status dan nilai fungsional kalimat ditentukan oleh konteks
    3. Karena konteks itu meliputi konteks linguistik dan ekstralinguistik
    4. Karena sasaran analisis wacana adalah status dan nilai fungsional kalimat dalam teks
  3. Sebuah acuan kewacanaan dapat ditentukan berdasarkan …
    1. Kepekaan yang dimiliki partisipan
    2. Gaya penuturan wacana
    3. C.     Konteks yang berlaku
    4. Perkiraan partisipan
  4. Apakah maksud tuturan dapat ditentukan oleh konteks?
    1. Ya, karena maksud tuturan itu termasuk konteks
    2. Ya, karena konteks tidak dapat dilepaskan dari wacana
    3. C.     Ya, karena konteks merupakan faktor penentu maksud tuturan
    4. Ya, karena partisipan senantiasa mempertimbangkan konteks
  5. “Menteri Luar Negeri, Ali Alatas, baru saja tiba di tanah air. Dia segera memberikan laporan kepada Presiden bahwa kunjungannya ke berbagai negara di Eropa harus segera ditindaklanjutui”.

Siapakah yang dimaksudkan dengan “dia” pada kalimat kedua teks tersebut?

  1. Menteri Luar Negeri
  2. Ali Alatas
  3. Menteri
  4. D.    Menteri Luar Negeri, Ali Alatas

 

 


 

PRINSIP INTERPRETASI LOKAL DAN PRINSIP ANALOGI

Latihan 1

  1. Apa yang dimaksud dengan lokal dalam interpretasi lokal?

Jawaban:

Lokal dalam interpretasi lokal adalah semua konteks yang bersama ada dengan wacana. Dengan kata lain, lokal itu adalah konteks lokal wacana. Konteks lokal itu bisa berupa konteks linguistik, non linguistik, konteks fisik dan non fisik, konteks waktu serta partisipan.

  1. Apa yang dimaksud dengan interpretasi lokal dalam analisis wacana?

Jawaban:

Interpretasi lokal adalah interpretasi wacana yang didasarkan pada konteks lokal (linguistik dan nonlinguistik).

  1. Apa yang dimaksud dengan analogi dan berpikir analogi?

Jawaban:

Analogi adalah persamaan atau persesuaian antara dua hal yang berlainan. Berpikir analogi adalah berpikir dengan menyamakan satu hal dengan hal lain dalam rangka melakukan interpretasi.

  1. Apa yang dimaksud dengan interpretasi analogi dalam analisis wacana?

Jawaban:

Interpretasi analogi dalam analisis wacana adalah interpretasi wacana berdasarkan keteraturan yang berlaku pada wacana yang lain, yakni wacana yang sama.

  1. Mengapa seorang partisipan selalu tidak mengalami kesulitan dalam memahami wacana ynag baru?

Jawaban:

Orang tidak mengalami kesulitan dalam interpretasi wacana karena sudah memiliki pengalaman yang relevan untuk memahami wacana yang baru itu. Dengan pengalaman tersebut, dia dapat melakukan cara berpikir analogi.

Latihan 2

  1. Dua prinsip dalam analisis wacana adalah prinsip interpretasi …
  2. Lokal dan temporal
  3. Tekstual dan nontekstual
  4. Linguistik dan nonlinguistik
  5. D.  Lokal dan analogi
    1. Pengertian lokal dalam prinsip interpretasi lokal mencakup konteks …
      1. Yang berupa tempat saja
      2. Linguistik atau koteks
      3. C.     Linguistik dan konteks nonlinguistik
      4. Ranah
  6. Prinsip interpretasi lokal digunakan oleh analis wacana untuk melakukan interpretasi dengan persyaratan sebagai berikut …
    1. A.     Tidak boleh membentuk konteks yang lebih besar dari pada yang diperlukan
    2. Boleh membentuk konteks yang lebih besar dari pada yang diperlukan
    3. Tidak perlu mempertimbangkan konteks yang bukan konteks lokal
    4. Hanya boleh mempertimbangkan konteks lokal
  7. Analogi adalah …
    1. A.     Persamaan dan perbedaan dua benda atau hal yang berlainan
    2. Cara berpikirberdasarkan kesamaan atau kesesuaian dua benda atau hal yang berlainan
    3. Kejadian dua peristiwa yang bersamaan
    4. Hubungan logis antara dua benda atau hal yang berlainan
  8. Dengan interpretasi analogi, analisis wacana harus mempertimbangkan …
  9. Konteks yang relevan saja
  10. B.     Semua konteks secara lengkap
  11. Konteks lokal saja
  12. Konteks lokal linguistik atau koteks


 

SKEMATA DALAM ANALISIS WACANA

Latihan 1

  1. Apa yang dimaksud dengan skemata?

Jawaban:

Skemata adalah pengetahuan yang terkemas secara sistematis dalam ingatan manusia.

  1. Mengapa manusia memiliki skemata?

Jawaban:

Manusia memiliki skemata karena manusia memiliki organ otak yang memungkinkan manusia itu memiliki ingatan, dan ingatan manusia itu bersifat sistematis.

  1. Mengapa pula manusia dengan mudah dapat menggunakan skemata yang dimilikinya?

Jawaban:

Manusia dengan mudah dapat menggunakan skemata karena skemata yang dimilikinya itu merupakan representasi pengetahuan yang sifatnya generik. Dengan skemata demikian itu, dia dengan mudah dapat mengaplikasikan skematanya pada wacana baru.

  1. Apa yang dimaksud dengan struktur pengendalian skemata?

Jawaban:

Struktur pengendalian skemata adalah struktur cara pengaktifan skemata yang mencakup dua kategori struktur, yakni (1) cara pengaktifan dari atas ke bawah, dan (2) cara pengendalian dari bawah ke atas.

  1. Apa fungsi skemata bagi pembaca/pendengar dan bagi analisis wacana?

Jawaban:

Bagi pembaca/pendengar, skemata berfungsi untuk memahami teks. Bagi analisis wacana, di samping berfungsi untuk melakukan analisis wacana lebih lanjut dari berbagai aspek elemen-elemen wacana, struktur wacana, acuan, koherensi dan kohesi wacana.

Latihan 2

  1. Skemata adalah …
    1. Sembarang pengetahuan yang terdapat dalam ingatan
    2. Pengetahuan yang terdapat dalam ingatan
    3. C.     Pengetahuan yang terkemas secara sistematis dalam ingatan
    4. Pengetahuan yang harus diatur dalam ingatan
  2. Skemata memiliki struktur pengendalian, yakni …
    1. A.     Cara pengaktifan skemata sesuai dengan kebutuhan
    2. Susunan skemata dalam ingatan
    3. Bangun konstruksi pengetahuan dalam ingatan
    4. Tipe-tipe struktur pengetahuan dalam ingatan
  3. Dalam pengendalian struktur skemata ada cara pengaktifan dari atas ke bawah, dan sebaliknya, ada lagi cara pengaktifan skemata yakni …
    1. A.     Data ke konsep atau bagian ke kebutuhan
    2. Yang konkret ke yang abstrak
    3. Yang jelas ke yang tidak jelas
    4. Konsep ke data atau dari kebutuhan ke bagian
  4. Bagi pembaca/pendengar, skemata berfungsi untuk …
    1. Mencocokkan pengetahuan dengan isi teks
    2. B.     Menilai isi teks
    3. Memahami isi teks
    4. Menguji kebenaran isi teks
  5. Bagi analisis wacana, skemata digunakan untuk hal berikut, kecuali
    1. Memahami wacana
    2. Menemukan elemen-elemen wacana
    3. Menemukan acuan kewacanaan
    4. D.    Menyusun wacana baru

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

ANALISIS KOHESI DAN KOHERENSIA

Latihan 1

  1. Bacalah teks tersebut baik-baik! Analisislah piranti kohesi yang terdapat dalam teks ini!

Teks 15

Lomba Burung Berkicau Diundur

Lomba burung berkicau dan ayam berkisar yang sedianya dilangsungkan 16 Februari diundur pada 23 Februari. Lomba ini diselenggarakan Pemda Sidoarjo ke-138. Lomba itu dilaksanakan untuk melestarikan budaya memelihara burung dan ayam berkisar tersebut. Harap para peserta dan pecinta memperhatikan.

(Dikutip dengan modifikasi dari Jawa Pos 15 Februari 1997:11)

Jawaban:

Piranti kohesi dalam teks 15

  1. Gramatikal

Penujukan : Lomba ini, Lomba itu.

  1. Leksikal

Repetisi   : lomba, lomba ini, lomba itu

Sinonimi : dilangsungkan, diselenggarakan

Kolokasi  : lomba, peserta

  1. Jelaskan hubungan antar kalimat dalam setiap teks berikut!

Teks 16

01 : Kepalaku sakit

02 : Bodrex, ya?

Jawaban:

Dengan kalimat “Kepalaku sakit”, 01 bermaksud minta bantuan kepada 02. Berdasarkan tafsirannya itu, 02 menawarkan salah satu jenis obat (Bodrex) dengan kalimat “Bodrez, ya?” Dengan begitu kedua kalimat tersebut berhubungan. Pada teks 17, tuturan 01 dipahami oleh 02 bahwa kebutuhan makna harus diatasi dengan cara ke luar. Karena itu, lahirlah kalimat 02 “Ke luar saja nanti”. Dengan maksud untuk mencari makanan.

Latihan 2

Perhatikan teks berikut!

(1)   Saya datang ke sini ada perlu dengan toni. (2) begini! (3) saya bermaksud mengajak adik saya itu pulang. (4) orang tua sudah sakit-sakitan. (5) kesibukan saya di Surabaya tidak mungkin saya tinggalkan. (6) Satu-satunya yang mungkin adalah adik saya.

  1. Toni pada kalimat (1) dapat dikenali sebagai adik penutur berdasarkan petunjuk berikut.
  2. Kata saya pada kalimat (1)
    1. B.       Penggunaan frasa adik saya itu pada kalimat (3) dan frasa adik saya pada kalimat (6).
    2. Kata sakit-sakitan pada kalimat (4) memberikan petunjuk bahwa penutur dan penutur dan toni memiliki orang tua yang sama.
    3. Frasa kesibukan saya pada kalimat (5) menunjukkan kedekatan hubungan dengan adik saya.
  3. Harapan penutur agar Toni pulang dimaksudkan agar Toni mau menunggui orang tua. Tujuan itu dapat dikenali dari…
  4. Kalimat (3)
  5. Kalimat (4)
  6. C.       Kalimat (5)
  7. Kalimat (6)
  8. Kata begini pada kalimat (2) mengganti…
  9. Kalimat (3), (4)
  10. Kalimat (4), (5)
  11. C.       Kalimat (3), (4), (5), (6)
  12. Kalimat (3), (4), (6)
  13. Dari teks itu dapat diketahui bahwa orang tua penutur tidak di Surabaya. Hal itu dapat diketahui dari isi …
  14. Kalimat (3)
  15. Kalimat (4)
  16. C.       Kalimat (5)
  17. Kalimat (6)
  18. Pada teks itu dapat diketahui bahwa penutur tidak dapat pulang untuk menunggui orang tuanya berdasarkan isi …
  19. Kalimat (3)
  20. Kalimat (4)
  21. C.       Kalimat (5)
  22. Kalimat (6)


 

SEJARAH SINGKAT KAJIAN WACANA

Latihan 1

  1. Coba anda terangkan secara singkat latar belakang munculnya kajian terhadap wacana!

Jawaban:

Kajian terhadap analisis wacana muncul karena ketidakpuasan para ahli bahasa terhadap hasil kajian linguistik.

  1. Coba jelaskan perbedaan antara kajian sintaksis dengan wacana ! Beri Contoh !

Jawaban:

Dalam kajian sintaksis, satuan bahasa terbesar adalah kalimat. Sedangkan dalam studi wacana, mempelajari satuan bahasa (rangkaian kalimat) yang digunakan dalam komunikasi.

  1. Jelaskan 2 manfaat mempelajari wacana !

Jawaban:

Manfaat mempelajari wacana antara lain, (a) dapat memahami proses belajar bahasa pada anak-anak. (b) mengetahui kemampuan bercakap-cakap seseorang, dan (c) mengetahui perilaku bahasa dalam konteks tertentu.

  1. Munculnya kajian terhadap wacana disambut baik oleh berbagai ilmuwan, baik dari bidang sosiolinguistik dan psikologuistik. Coba jelaskan maksud pernyataan tersebut !

Jawaban:

Maksudnya, bahwa para ahli yang berkecimpung di bidang sosiolinguistik maupun psikolinguistik menyambut dengan baik kehadiran ilmu baru dalam bidang bahasa yang dinamakan analisis wacana itu. Sambutan tersebut ditindaklanjuti dengan mengembangkan kajian wacana yang dikembangkan oleh ahli sosiolinguistik lebih menekankan kajian satuan bahasa yang dikaitkan dengan aspek-aspek sosial. Sedangkan ahli psikolinguistik lebih menekankan pada proses psikologis pemakai bahasa dalam menghasilkan maupun memproduksi wacana.

Latihan 2

  1. Munculnya studi tentang analisis wacana di dorong oleh…
  2. Perkembangan ilmu bahasa
  3. Perkembangan filsafat Yunani
  4. C.       Kajian linguistik tidak memuaskan
  5. Kajian linguistik yang terbatas
  6. Sinclair dan Coulthrad adalah 2 orang yang berpengaruh dalam studi analisis wacana, mereka menganalisis wacana yang di bentuk di lingkungan…
  7. Interaksi kelas
  8. B.       Masyarakat
  9. Pasar
  10. Sekolah
  11. Unsur struktur yang ditemukan dalam studi analisis wacana interaksi kelas antara lain seperti berikut, kecuali
  12. A.       Pelajaran
  13. Transaksi
  14. Pertukaran
  15. Gerakan
  16. Perbedaan menonjol kajian analisis wacana dengan studi linguistik sebelumnya adalah …
  17.  Pelibatan konteks dalam pemahaman ujaran
  18. Pelibatan unsur pembicara dalam pemahaman ujaran
  19. C.       Kajian analisis wacana lebih luas
  20. Kajian analisis wacana lebih bermanfaat


 

PENGERTIAN WACANA DAN ANALISIS WACANA

Latihan 1

  1. Wacana merupakan satuan bahasa terbesar di atas kalimat. Jelaskan maksud pernyataan tersebut !

Jawaban:

Maksudnya, tataran kebahasaan yang kita kenal selama ni adalah kalimat, kalusa, frasa, kata dan bunyi. Sedangkan wacana merupakan satuan bahasa yang tingkatannya di atas kalimat. Wacana biasanya didukung oleh lbih dari satu kalimat dan satuan bahasa tersebut digunakan dalam proses komunikasi.

  1. Pada suatu malam, anda mendengarkan siaran Dunia Dalam Berita TVRI pada jam 21.00. jenis kategori wacana apakah siaran tersebut?

Jawaban:

Siaran Dunia Dalam Berita termasuk kategori wacana lisan transaksional. Alasannya, wacana tersebut menggunakan saluran bahasa lisan dan lebih menekankan pada penyampaian isi berita (gagasan) dan tidak menghendaki adanya tanggapan langsung dari pemirsa.

  1. Jelaskan maksud fungsi informasional bahasa !

Jawaban:

Fungsi informasional bahasa berfokus pada makna. Maksudnya, bahasa lebih ditekankan pada fungsinya untuk menginformasikan sesuatu. Misalnya melaporkan, mendeskripsikan, menjelaskan, dan mengkonfirmasi sesuatu.

  1. Analisis wacana mengkaji bahasa yang digunakan dalam konteks sosial. Jelaskan maksud pernyataan tersebut !

Jawaban:

Maksudnya, analisis wacana merupakan suatu kajian yang meneliti atau menganalisis bahasa yang digunakan secara alamiah, baik dalam bentuk tulis, maupun lisan. Penggunaan bahasa secara alamiah ini berarti penggunaan bahasa seperti dalam komunikasi sehari-hari.

Latihan 2

  1. Kata wancana dalam kosa kata bahasa Indonesia mengalami…
  2. Perubahan makna
  3. Pegeseran makna
  4. C.       Perluasan makna
  5. Pergantian makna
  6. Istilah wancana, yang sinonim dengan discourse adalah …
  7. Rangkaian beberapa kalimat
  8. B.       Satuan bahasa yang digunakan dalam komunikasi
  9. Bahasa dalam pemahaman
  10. Penggunaan kalimat
  11. Situasi komunikasi yang menghasilkan wacana, harus melibatkan komponen seperti berikut, kecuali…
  12. Penyampaian pesan
  13. Konteks
  14. C.       Saluran
  15. Keinginan
  16. Khotbah Jumat di masjid merupakan bentuk wacana …
  17. A.       Lisan transaksional
  18. Lisan interaksional
  19. Tulis transaksional
  20. Tulis interaksional
  21. Bila anda berdiskusi kelompok dengan teman untuk membahas suatu masalah maka wacana yang dihasilkan termasuk wacana …
  22. Lisan transaksional
  23. B.       Lisan interaksional
  24. Tulis transaksional
  25. Tulis interaksional
  26. Fungsi transaksional bahasa lebih menekankan pada aspek …
  27. A.       Penyampaian gagasan
  28. Terjadinya interaksi timbal balik antar penutur
  29. Keratan hubungan antar penutur
  30. Keindahan bahasa yang digunakan
  31. Makna ujaran dalam wacana sangat ditentukan …
  32. Pewicara yang mempunyai pesan
  33. Konteks pembicaraan
  34. C.       Topik yang dibahas
  35. Saluran informasinya
  36. Fungsi direktif bahasa berorientasi pada …
  37. Penyampaian pesan
  38. Pesan yang disampaikan
  39. Saluran
  40. D.       Penerima pesan
  41. Dalam situasi komunikasi, bahasa mempunyai fungsi kontekstual, maksudnya bahwa …
  42. Dalam memahami makna ujaran harus mempertimbangkan konteksnya
    1. Dalam memahami makna ujaran kadang-kadang perlu mempertimbangkan konteksnya
  43. Konteks pemakaian bahasa tergantung pada penyampaian pesan
  44. D.       Konteks wacana itu bermacam-macam sesuai dengan kebutuhan
  45. Analisis wacana merupakan disiplin ilmu yang …
  46. Memanfaatkan kajian pemakaian bahasa
  47. B.       Mengkaji bahasa dalam pemakaian
  48. Mengkaji bahasa paparan
  49. Mengkaji peran sumber pesan


 

PERSYARATAN TERBENTUKNYA WACANA

Latihan 1

Bacalah kedua teks berikut dengan seksama. Lalu tentukan mana di antara keduanya yang dapat dikategorikan wacana dan mana yang bukan wacana. Berikan alasan anda.

Teks A

(1)   Dibandingkan dengan ilmu-ilmu alam yang telah mengalami perkembangan sangat pesat, ilmu-ilmu soaial agak tertinggal di belakang. (2) beberapa ahli bahkan berpendapat bahwa ilmu-ilmu sosial takkan pernah menjadi ilmu dalam arti sepenuhnya. (3) di pihak lain terdapat pendapat bahwa secara lambat laun ilmu-ilmu soaial akan berkembang juga meskipun tak akan mencapai derajat keilmuan seperti apa yang dicapai ilmu-ilmu alam. (4) menurut kalangan lain, tak dapat disangkal bahwa dewasa ini ilmu-ilmu soaial masih berada dalam tingkat yang belum dewasa. (5) walaupun begitu, mereka beranggapan bahwa penelitian-penelitian di bidang ini akan mencapai derajat keilmuan yang sama seperti yang dicapai sama seperti yang dicapai ilmu-ilmu alam.

Teks B

(1)   Demonstrasi adalah suatu metode untuk menjelaskna makna suatu istilah. Terutama yang termasuk dalam kelompok aksi, dengan memperagakan aksi tersebut. (2) belakangan ini sering kita dengar dan baca adanya demonstrasi di berbagai daerah. (3) dalam mata pelajaran ilmu alam, guru dan murid harus mempersiapkan sejumlah demonstrasi untuk memperoleh pemahaman lebih baik. (4) kita harus selalu waspada terhadap hal-hal tersebut di atas.

Jawaban:

Teks yang layak dikategorikan wacana adalah Teks A. Karena memenuhi prinsip kebutuhan dan kepaduan. Buktinya (a) semua kalimat pada teks tersebut mendukung suatu ide pokok, yaitu perbedaan perkembangan antara ilmu-ilmu alam dan ilmu sosial dan (b) ide-ide pendukung ditata secara runtut dan sistematis sehingga pesan yang disampaikan penulis mudah dipahami.


 

ELEMEN-ELEMEN WACANA

Latihan 1

  1. Informasi utama sebuah wacana terdapat pada …
    1. A.                 Elemen inti
    2. Elemen wajib
    3. Elemen luar inti
    4. Elemen manasuka
    5. Elemen-elemen wacana tertata secara …
      1. Random
      2. B.     Sistematis
      3. Hirarkis
      4. Acak
      5. Kehadiran elemen wacana bergantung pada …
        1. A.     Kehendak penutur
        2. Tuntutan komunikasi
        3. Kebaruan informasi
        4. Urutan informasi
        5. Manakah pernyataan yang benar?
          1. Elemen wacana selalu diwadahi dalam sebuah kalimat
          2. B.     Elemen wacana dapat diwadahi dalam sebuah kalimat atau lebih
          3. Elemen wacana ditentukan berdasarkan segmentasi wacana
          4. Elemen wacana tidak dapat dikenali secara jelas

MATERI METODE PENELITIAN BAHASA


DASAR-DASAR METODE PENELITIAN

-          Penelitian

Suatu kegiatan untuk mencari, mencatat, merumuskan, dan menganalisis sampai menyusun laporan.

-          Metodologi Penelitian

Sekumpulan peraturan, kegiatan, dan prosedur yang digunakan oleh pelaku suatu disiplin ilmu untuk melaksanakan penelitian.

METODOLOGI PENELITIAN

  1. Sekumpulan peraturan, kegiatan, dan prosedur yang digunakan oleh pelaku suatu disiplin ilmu
  2. Studi atau analisis teoretis mengenai suatu cara/metode
  3. Cabang ilmu logika yang berkaitan dengan prinsip umum pembentukan pengetahuan (knowledge)
  4. Metode yang digunakan dalam melaksanakan penelitian
  5. Merupakan dasar penyusunan rancangan penelitian
  6. Merupakan penjabaran dari metode ilmiah secara umum

LANGKAH – LANGKAH PENELITIAN     

  1. Menentukan Topik
  2. Menemukan, memilih, dan merumuskan masalah
  3. Menyusun latar belakang teori
  4. Menetapkan hipotesis
  5. Menyusun rancangan penelitian
  6. Memilih alat pengumpul data
  7. Mengumpulkan dan menyajikan data
  8. Mengolah dan menganalisis data
  9. Mengambil kesimpulan
  10. Menyusun laporan

PENELITIAN KUALITATIF DAN KUANTITATIF

  • Penelitian Kualitatif                         

Penelitian yang berdasarkan kualitas ‘mutu’ data.

  1. Penilaian validitas melalui pengecekan silang atas sumber informasi
  2. Menggunakan latar alamiah
  3. Intrumennya adalah manusia, baik peneliti sendiri atau dengan bantuan orang lain.
  4. Tujuan utama penelitian kualitatif adalah membuat fakta mudah dipahami
  • Penelitian Kuantitatif          

Penelitian yang berdasarkan kuantitas ‘jumlah’ data.

  1. menitikberatkan pada pengukuran
  2. Pengukuran statistik
  3. persentase

PERBEDAAN PENELITIAN
Kualitatif dan Kuantitatif

  • Penelitian Kuantitatif:

Penelitian berangkat dari teori menuju data, dan berakhir pada penerimaan atau penolakan terhadap teori yang digunakan.

  • Penelitian Kualitatif

Peneliti bertolak dari data, memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan penjelas, dan berakhir dengan suatu “teori”.

Kegunaan penelitian kualitatif:

  1. Untuk mengetahui aktualitas
  2. Realitas sosial
  3. Persepsi manusia  (melalui pertanyaan penelitian yang telah dipersiapkan terlebih dahulu).

Jenis-jenis Penelitian Kualitatif

1.      Biografi

  • Penelitian biografi adalah studi tentang individu yang dituliskan kembali dengan mengumpulkan dokumen dan arsip-arsip.
  • Tujuan penelitian ini adalah mengungkap pengalaman menarik yang mempengaruhi atau mengubah hidup seseorang.

2.      Fenomenologi

Penelitian fenomenologi adalah penelitian yang menjelaskan atau mengungkap makna, konsep, atau fenomena.

3.      Grounded theory

  • Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan atau menemukan suatu teori yang berhubungan dengan situasi tertentu .
  • Situasi yang ditumakan misalnya, individu saling berhubungan, bertindak, atau terlibat dalam suatu proses.
  • Inti dari pendekatan grounded theory adalah pengembangan suatu teori yang berhubungan erat dengan konteks peristiwa yang dipelajari.

4.      Etnografi

Etnografi adalah penelitian untuk menguraikan dan penafsiran suatu budaya atau sistem kelompok sosial.

  • peneliti ini mempelajari pola perilaku, kebiasaan, dan cara hidup
  • melibatkan pengamatan yang cukup panjang terhadap suatu kelompok
  • Peneliti mempelajari arti atau makna dari setiap perilaku, bahasa, dan interaksi dalam kelompok.

5.      Studi Kasus

Penelitian studi kasus adalah penelitian yang mengeksplorasi suatu masalah dengan batasan terperinci, memiliki pengambilan data yang mendalam, dan menyertakan berbagai sumber informasi.

  • Penelitian ini dibatasi oleh waktu dan tempat, dan kasus yang dipelajari berupa program, peristiwa, aktivitas, atau individu.

LATAR BELAKANG

a.      Topik Terbaru

b.      Topik Lebih Spesific

c.       Data Pendukung

d.      Bahasa

e.       Pengembangan Topik

 TEKNIK PENGUMPULAN DATA

1.      Observasi

Pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat secara sistematik gejala–gajala yang diselidiki.

–  Memiliki pengetahuan tantang apa yang akan diobservasi.

–  Menyelidiki tujuan penelitian.

–  Mencatat tiap gejala secara terpisah.

2.      Wawancara :

Teknik pengumpulan data yang dilakukan secara lisan.

–  Bisa dilakukan dalam bentuk perorangan atau kelompok

–  Persiapan à pedoman wawancara

–  Bentuk pertanyaan à terbuka, terstruktur, tertutup

–  Kondisikan hubungan yang baik dengan respnden

–  Lakukan perekaman / pencatatan selama wawancara berlangsung

–  Dapat melakukan interpretasi secara langsung langsung

3.      Angket

–  Teknik pengumpulan data secara tidak langsung,

–  Bentuk pertanyaan à terbuka, terstruktur, tertutup

4.        Studi Dokumenter

Teknik pengumpulan data dengan menghimpun dan menganalisis dokumen

–  Dokumen dipilih dan dihimpun berdasarkan tujuan dan fokus penelitian

–  Dokumen diurutkan sesuai dengan urutan kronologis, kekuatan, dan kesesuaian

–  Melakukan analisis data

INSTRUMEN PENELITIAN

Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat untuk mengumpulkan data.

  • Instrumen penelitian dapat berwujud alat sederhana seperti lembar observasi, lembar wawancara, lembar angket, atau alat-alat elektronik.
  • Peneliti dapat memilih instrumen, modifikasi sesuai dengan tujuan penelitian, dan melakukan validasi untuk memperoleh angka reliabilitas.

Beberapa hal yang harus diperhatikan:

  1. Kesesuaian instrumen
  2. Data yang diperlukan
  3. Jenis data
  • Validitas adalah ketepatan mengukur apa yang seharusnya diukur. Data disebut valid apabila data tersebut dapat mengukur apa yang seharusnya diukur
  • Reliabilitas adalah kemampuan memberikan hasil pengukuran yang konsisten. Suatu data disebut reliabel apabila data tersebut dapat dipakai untuk menguji kelompok yang sama pada waktu yang berbeda hasilnya tidak berbeda.

Aturan Menggunakan Instrumen

  1. Gunakan bahasa yang sederhana, jelas, dan langsung.
  2. Tanyakan satu topik untuk satu pertanyaan.
  3. Hindari pertanyaan yang mengarahkan.
  4. Jika informan tidak jelas, berikan definisi singkat.
  5. Gunakan pertanyaan yang logis, netral, dan tidak menyudutkan.

MEMBUAT PERTANYAAN

Pertanyaan yang baik

1. Logis

2. Jelas

3. Tidak  menyudutkan

4. Netral

CARA MEMBUAT RUMUSAN MASALAH

Kelayakan Masalah Penelitian

1. Segi Keilmuan

  • Masalah harus jelas kedudukannya dalam struktur keilmuan yang sedang dipelajari.
  • Masalah disesuaikan dengan kemampuan peneliti yang bersangkutan.

2. Segi Metode Keilmuan

  • Masalah penelitian harus dapat dipecahkan melalui langkah-langkah berpikir ilmiah.

3. Segi Kepentingan dan Kegunaan

  • Masalah penelitian harus disesuaikan dengan kepentingan peneliti. (S1, S2, S3, Bisnis)

Isi Masalah Penelitian

  • Pertanyaan-pertanyaan yang sengaja dirumuskan untuk menemukan jawaban melalui penelitian ilmiah.
  • Masalah penelitian tidak sama dengan judul penelitian.
  • Masalah adalah inti persoalan yang tersirat dalam judul penelitian.

Kriteria Permasalahan

  1. Jelas
  2. Terbatas
  3. Menarik minat peneliti
  4. Harus dirumuskan dalam bentuk pertanyaan, bukan pernyataan

Sumber Masalah

  1. Membaca buku atau hasil penelitian orang lain
    1. Mengkaji konsep
    2. Menjabarkan variabel yang terlibat
    3. Menganalisis hubungan antarvariabel
  2. Melakukan studi pendahuluan atau studi penjajakan
    1. Pengamatan terhadap fenomena nyata
    2. Tentukan fokus pengamatan
    3. Tentukan aspek yang akan diteliti
  3. Pengalaman Pribadi

Masalah dan Judul Penelitian

  1. Masalah dan judul saling berkaitan
  2. Masalah harus memberikan kesan terhadap judul
  3. Judul harus mencerminkan masalah
  4. Judul ditetapkan setelah masalah dirumuskan (tidak sebaliknya)

TUJUAN PENELITIAN

Tujuan Penelitian

  1. Untuk menjelaskan tujuan akhir yang akan dicapai oleh peneliti setelah penelitian selesai dilakukan.
  2. Untuk memberikan gambaran yang tegas tentang sasaran dan ruang lingkup penelitian.

Teknik Merumuskan Tujuan Penelitian

  1. Singkat dan spesifik
  2. Diarahkan untuk menjawab permasalahan yang telah dirumuskan.

Kerangka Teori

  • Kerangka Teori adalah teori-teori yang digunakan di dalam penelitian.
  • Pengkajian  mengenai gejala morfofonemik digunakan teori dari Parera (1994: 18), Kridalaksana (1994), Ramlan (2001a), dan Chaer (2007).
  • Pengkajian mengenai afiks digunakan teori Tarigan (1988), Kridalaksana (1992), (1994), Ramlan (2001a), Alwi dkk. (2003), dan Verhaar (2006: 107).
  • Pengkajian mengenai ciri-ciri morfologis verba digunakan teori Kridalaksana (1994), Chaer (2002), Alwi dkk. (2003: 104), dan Verhaar (2006: 52).
  • Pengkajian mengenai ciri-ciri sintaktis verba digunakan teori Kridalaksana (1994: 51), Ramlan (2001a: 59), dan Alwi dkk. (2003: 87).
  • Pengkajian mengenai ciri-ciri semantik verba digunakan teori Quirk dkk. (1985), Djajasudarma (1993b: 5), dan Alwi dkk. (2003: 94-95).
  • Pengkajian mengenai makna gramatikal afiks verba digunakan teori Kridalaksana (1994: 40), Alwi dkk. (2003: 103), dan Verhaar (2006: 118).

Bobot dan Relevansi

  1. Bobot  adalah manfaat penelitian bagi ilmu pengetahuan.
    1. Hasil penelitian ini dapat memberikan gambaran yang rinci, mendalam, dan komprehensif mengenai afiks verbal bahasa Melayu Jambi.
    2. Data kebahasaan dalam penelitian ini dapat bermanfaat bagi data kebahasaan bahasa Melayu Jambi khususnya dan data linguistik pada umumnya.
    3. Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat dalam memahami kesemestaan bahasa dan bagi tipologi bahasa.
    4. Kesejagatan itu dapat dilihat dari afiks, kategori, dan makna gramatikal.
      1. Penelitian ini dapat dijadikan pedoman dan perangsang bagi peneliti berikutnya, baik dalam objek yang sama maupun dengan objek yang berbeda, yang berhubungan dengan afiks verbal bahasa Melayu Jambi.
      2. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi pengembangan teori linguistik, paling tidak memperkaya khasanah teori linguistik.
      3. Kehadiran hasil penelitian ini juga memberikan bahan acuan yang membantu dalam penyusunan tata bahasa Melayu Jambi.
  1. Relevansi adalah hubungan penelitian dengan ilmu pengetahuan.

METODE PADAN

Metode padan adalah metode analisis data yang alat penentunya di luar, terlepas, dan tidak menjadi bagian dari bahasa (langue) yang bersangkutan.

Jenis-jenis Metode Padan

  • Metode padan referensial adalah metode analisis bahasa berdasarkan referensi yang terkandung pada tuturan bahasa. Metode ini digunakan untuk memperoleh gambaran hierarki bahasa.

Dia mandi.                  Pelaku —tindakan

Dia mencium adik.      Pelaku—tindakan—sasaran

  • Metode padan fonetis artikulatoris adalah metode analisis bahasa dengan menggunakan alat penentu organ atau alat ucap pembentuk bunyi bahasa.

Pita suara—vokal, konsonan

Penghentian alat ucap—kata, kalimat

  • Metode padan translasional adalah metode analisis bahasa dengan menggunakan alat penentu bahasa atau lingual lain.

Ada yang dipisah ada yang tidak—kata

Dimulai huruf kapital dan diakhiri tanda titik—kalimat

  • Metode padan ortografis adalah metode analisis bahasa dengan menggunakan alat penentu perekam atau tulisan.

Bertindak menuruti atau menentang apa yang diucapkan oleh

si pembicara—kalimat perintah

Berkata dengan isi yang informatif—kalimat tanya

Terdengar melengking tinggi atau biasa—kalimat seru

  • Metode padan pragmatis adalah metode analisis bahasa dengan menggunakan alat penentu lawan bicara.

Bahasa Inggris —the—nomina

a atau an—satu

METODE DISTRIBUSIONAL

Metode distribusional atau metode agih adalah analisis data yang menggunakan alat penentu bahasa yang bersangkutan. Metode ini biasanya digunakan untuk menganalisis tuturan. Metode distribusional berfungsi untuk menjelaskan dan mendeskripsikan unsur – unsur data yang akan diteliti.

Teknik-teknik metode distribusional

1. Teknik Urai Unsur Terkecil ‘Ultimate Constituent Analysis’ (UCA)

Teknik Urai Unsur Terkecil dimaksudkan mengurai suatu satuan lingual tertentu atas unsur-unsur terkecilnya. Unsur terkecil yang mempunyai makna biasanya disebut “morfem”.

Contoh : Berlari, unsur terkecilnya adalah “ber-” dan “lari”.

DATA

Pengertian Data

Data adalah kumpulan angka, fakta, fenomena, atau keadaan yang merupakan hasil pengamatan, pengukuran, atau pencatatan terhadap karakteristik atau sifat suatu objek.

Data berfungsi untuk membedakan objek yang satu dengan yang lain pada sifat yang sama. Data merupakan deskripsi dari suatu kejadian yang kita hadapi. Data dapat berupa catatan-catatan dalam kertas atau buku.

Syarat-syarat data yang baik:

1. Objektif: Data harus sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.

2. Representatif: Data harus mewakili objek yang diteliti.

3. Kesalahan Baku (Standar Error): Kesalahan data sampel kecil.

4. Tepat waktu (up to date): Data harus dapat digunakan tepat pada waktunya.

5. Relevan: Data yang dikumpulkan harus sesuai dengan masalah yang akan di selesaikan.

KLASIFIKASI DATA

Berdasarkan sifatnya

1) Data kuantitatif : data yang berupa angka-angka

2) Data kualitatif : data yang berupa kata-kata atau pernyataan-pernyataan

Berdasarkan sumbernya

1) Data primer adalah data yang diperoleh dari

sumber data secara langsung.

2) Data sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber data secara tidak langsung.

Kegunaan Data

1. Sebagai dasar suatu perencanaan

2. Sebagai alat control

3. Sebagai dasar evaluasi

4. Sebagai dasar untuk membuat keputusan atau   memecahkan persoalan

Metode Pengumpulan Data

1. Observasi (Pengamatan Langsung)

2. Survei

3. Interview (Wawancara/Kuesioner)

4. Dokumentasi

5. Eksperimen (Percobaan/Pengukuran langsung)

METODE PADAN

Metode padan adalah metode analisis data yang alat penentunya di luar, terlepas, dan tidak menjadi bagian dari bahasa (langue) yang bersangkutan.

Jenis-jenis Metode Padan

  • Metode padan referensial adalah metode analisis bahasa berdasarkan referensi yang terkandung pada tuturan bahasa. Metode ini digunakan untuk memperoleh gambaran hierarki bahasa.

Dia mandi.                  Pelaku —tindakan

Dia mencium adik.      Pelaku—tindakan—sasaran

  • Metode padan fonetis artikulatoris adalah metode analisis bahasa dengan menggunakan alat penentu organ atau alat ucap pembentuk bunyi bahasa.

Pita suara—vokal, konsonan

Penghentian alat ucap—kata, kalimat

  • Metode padan translasional adalah metode analisis bahasa dengan menggunakan alat penentu bahasa atau lingual lain.

Ada yang dipisah ada yang tidak—kata

Dimulai huruf kapital dan diakhiri tanda titik—kalimat

  • Metode padan ortografis adalah metode analisis bahasa dengan menggunakan alat penentu perekam atau tulisan.

Bertindak menuruti atau menentang apa yang diucapkan oleh

si pembicara—kalimat perintah

Berkata dengan isi yang informatif—kalimat tanya

Terdengar melengking tinggi atau biasa—kalimat seru

  • Metode padan pragmatis adalah metode analisis bahasa dengan menggunakan alat penentu lawan bicara.

Bahasa Inggris —the—nomina

a atau an—satu

METODE DISTRIBUSIONAL

Metode distribusional atau metode agih adalah analisis data yang menggunakan alat penentu bahasa yang bersangkutan. Metode ini biasanya digunakan untuk menganalisis tuturan. Metode distribusional berfungsi untuk menjelaskan dan mendeskripsikan unsur–unsur data yang akan diteliti.

Teknik-teknik metode distribusional

1. Teknik Urai Unsur Terkecil ‘Ultimate Constituent Analysis’ (UCA)

Teknik Urai Unsur Terkecil adalah analisis data dengan mengurai suatu satuan lingual tertentu atas unsur-unsur terkecilnya. Unsur terkecil yang mempunyai makna biasanya disebut “morfem”.

Contoh : Berlari, unsur terkecilnya adalah “ber-” dan “lari”.

2. Teknik Pilah Unsur Langsung ‘Immediate Constituent Analysis’ (ICA)

Teknik ini berdekatan dengan teknik urai unsur terkecil yaitu memilah atau mengurai suatu konstruksi tertentu (sintaksis) atas unsur-unsur langsungnya.

Contoh: Ia pergi ke Jogja. (“ia”, ‘pergi”, dan “ke Jogja”).

3. Teknik Lesap (delisi)

Teknik Lesap adalah teknik analisis data dengan melesapkan (melepaskan, menghilangkan, menghapuskan, mengurangi) unsur satuan lingual. Pelesapan atau penghilangan unsur dalam teknik lesap berfungsi untuk mengetahui kadar keintiman unsur yang dilesapkan. Kadar keintiman ini dapat dilihat dari gramatikal atau tidak gramatikalnya suatu unsur.

Tadi pagi, ia pergi ke Jogjakarta.

Unsur “ke” pada contoh di atas bersifat wajib. Bila “ke” dihilangkan, maka akan menjadi: ”Tadi pergi, ia pergi Jogjakarta”. Kalimat tersebut menjadi tidak gramatikal.

4. Teknik Ganti (substitusi)

Teknik ganti (substitusi) adalah teknik analisis data dengan menyelidiki kepararelan atau kesejajaran distribusi satuan lingual. Teknik ini digunakan untuk mengetahui kadar kesamaan kelas atau kategori. Penjenisan dapat menghasilkan nomina, verba, adjektiva dan lain-lain.  Kata Amin sekelas dengan kata Mereka. Hal ini berdasarkan data bahwa kata-kata tersebut saling menggantikan. Contoh:

Mereka pergi ke sekolah.

Amin pergi ke sekolah.

Kata Mereka adalah sekelas, sekategori, dan sejenis dengan kata Amin.

5. Teknik Perluas (ekspansi)

Teknik perluas adalah teknik memperluas satuan lingual dengan unsur tertentu.

Teknik ini berguna untuk:

(a)    memperluas kosa kata.

(b)   mengetahui identitas satuan lingual.

(c)    menentukan makna (aspek semantis) satuan lingual.

”Rumah baru” dapat diperluas menjadi:

”rumah [yang] baru”

“dalam rumah baru”

“dalam sebuah rumah baru”

“di dalam rumah yang baru”

6. Teknik Balik (permutasi)

Teknik balik adalah teknik analisis data dengan membalikkan urutannya. Teknik ini bertujuan untuk menguji tingkat keketatan relasi antarunsur suatu konstruksi.

(1) Bir baru, berbeda dengan “baru bir”

(2) Ali memukul Norton, berbeda dengan “Norton memukul Ali”.

Frase “bir baru” yang termasuk frase endosentris atributif benar-benar berbeda dan “baru bir”. Kalimat ”Ali memukul Norton.”, berbeda dengan ”Norton memukul Ali.”, karena kalimat pertama Ali berperan sebagai agentif (pelaku) dan Norton sebagai pasientif (penderita), sedangkan dalam kalimat kedua Norton berperan sebagai agentif (pelaku) dan Ali sebagai pasientif (penderita).

TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL

  • Sampel adalah sebagian dari populasi. Artinya tidak akan ada sampel jika tidak ada populasi.
  • Populasi adalah keseluruhan elemen atau unsur yang akan kita teliti.
    • Elemen = orang, kalimat, surat kabar, TV, kejadian, atau benda yang dijadikan objek penelitian.
    • Alasan Pengambilan Sampel

1)      Populasi demikian banyaknya sehingga dalam praktiknya tidak mungkin seluruh elemen diteliti.

2)      Keterbatasan waktu penelitian, biaya, dan sumber daya manusia, membuat peneliti harus meneliti sebagian dari elemen penelitian.

1. Sampel Probabilitas (Probability Sampling)

    a. Sampel Acak Berstrata (Simple Random Sampling)

b. Sampel Acak Berstrata Proporsional (Proportionate Stratified Random Sampling)

c. Sampel Acak Berstrata Tidak Proporsional (Disproportionate Stratified Random Sampling)

d. Sampel Area (Area Sampling)

2. Sampel Nonprobabilitas (Nonprobability Sampling)

a. Sampel Sistematis (Systematic Sampling)

     b. Sampel Kuota (Quota Sampling)

c. Sampel Insidental (Insidental Sampling)

d. Sampel Purposif (Purposive Sampling)

e. Sampel Jenuh (Jenuh Sampling)

f.  Sampel Bola Salju (Snowball Sampling)

3. Sampel Probabilitas (Probability Sampling)

Sampel Probabilitas adalah teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Pemilihan sampel dilakukan secara acak dan dilakukan secara objektif, dalam arti tidak didasarkan semata-mata pada keinginan peneliti, sehingga setiap anggota populasi memiliki kesempatan tertentu untuk terpilih sebagai sampel.

a.  Sampel Acak Sederhana (simple random sampling)

Sampel Acak Sederhana adalah sebuah proses sampel yang dilakukan sedemikian rupa sehingga setiap satuan sampel yang ada dalam populasi mempunyai peluang yang sama untuk dipilih ke dalam sampel. Dikatakan simple (sederhana) karena pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu. Cara demikian dilakukan bila anggota populasi dianggap homogen.

b. Sampel Acak Berstrata Proporsional (Proportionate Stratified Random Sampling)

Sampel Acak Berstrata adalah teknik pengambilan sampel acak sederhana dari setiap strata populasi yang sudah ditentukan lebih dulu. Penarikan sampel acak berstrata, populasinya di skat-skat menjadi beberapa group yang disebut strata. Teknik ini digunakan bila populasi mempunyai anggota/unsur yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional.

Suatu organisasi yang mempunyai pegawai dari Tatar belakang pendidikan yang berstrata, maka populasi pegawai itu berstrata. Misalnya jumlah pegawai yang lulus S1 = 45, S2 = 30, STM = 800, ST = 900, SMEA = 400, SD = 300. Jumlah sampel yang harus diambil meliputi strata pendidikan tersebut.

c. Sampel Acak Berstrata Tidak Proporsional (Disproportionate Stratified Random Sampling)

Sampel Acak Berstrata Tidak Proporsional adalah teknik penggambilan sampel yang digunakan untuk menentukan jumlah sampel, bila populasi berstrata tetapi kurang proporsional.

Misalnya pegawai dari unit kerja tertentu mempunyai; 3 orang lulusan S3, 4 orang lulusan S2, 90 orang S1, 800 orang SMU, 700 orang SMP. Maka tiga orang lulusan S3 dan empat orang S2 itu diambil semuanya sebagai sampel. Karena dua kelompok ini terlalu kecil bila dibandingkan dengan kelompok S1, SMU, dan SMP.  

d.  Sampel Area (Area Sampling)

Sampel Area adalah teknik sampel yang digunakan untuk menentukan sampel bila objek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas, misalnya penduduk dari suatu negara, provinsi atau kabupaten. Untuk menentukan penduduk mana, yang akan dijadikan sumber data, maka pengambilan sampelnya berdasarkan daerah populasi yang telah ditetapkan.

Misalnya di Indonesia terdapat 30 provinsi, dan sampelnya akan menggunakan 15 provinsi, maka pengambilan 15 propinsi itu dilakukan secara random. Tetapi perlu diingat, karena provinsi-provinsi di Indonesia itu berstrata (tidak sama) maka pengambilan sampelnya perlu menggunakan stratified random sampling. Provinsi di Indonesia ada yang pendudukanya padat, ada yang tidak, ada, yang mempunyai hutan banyak ada, yang tidak, ada, yang kaya bahan tambang ada yang tidak. Karakteristik semacam ini perlu diperhatikan sehingga pengambilan sampel menurut strata populasi itu dapat ditetapkan.

2. Sampel Nonprobabilitas (Nonprobability Sampling)

Sampel Nonprobabilitas adalah teknik pengambilan sampel yang tidak memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Teknik pengambilan sampel ini dilakukan dengan pertimbangan-pertimbangan peneliti, sehingga semua anggota populasi tidak mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai anggota sampel.

  1. Sampel Sistematis (Systematic Sampling)

Sampel Sistematis adalah teknik pengambilan sampel berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut. Misalnya anggota populasi yang terdiri dari 100 orang. Dari semua anggota itu diberi nomor urut, yaitu nomor I sampai dengan nomor 100. Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan nomor ganjil saja, genap saja, atau kelipatan dari bilangan tertentu, misalnya kelipatan dari bilangan lima. Untuk ini maka yang diambil sebagai sampel adalah nomor 1, 5, 10, 15, 20, dan seterusnya sampai 100.

b. Sampel Kuota (Quota Sampling)

Sampel Kuota adalah teknik pengambilan sampel yang dilakukan dengan acak dan mempertimbangkan kriteria yang akan dijadikan anggota sampel sampai jumlah (kuota) yang diinginkan. Peneliti menentukan sendiri ukuran dan kriteria sampel. Penarikan sampel dilakukan atas dasar pertimbangan peneliti untuk tujuan meningkatkan representasi sampel penelitian sampai jumlah tertentu sebagaimana yang dikehendaki peneliti.

Langkah penarikan sampel kuota antara lain:

  1. Peneliti merumuskan kategori quota dari populasi yang akan ditelitinya melalui pertimbangan-pertimbangan tertentu sesuai dengan ciri-ciri yang dikehendakinya, seperti jenis kelamin, dan usia.
  2. Menentukan besarnya jumlah sampel yang dibutuhkan, dan menetapkan jumlah jatah (quotum).
  3. Mengambil jumlah jatah yang diperlukan. Teknik sampling kuota biasanya digunakan bila populasinya berukuran besar.
  4. Sebagai contoh, akan melakukan penelitian tentang pendapat masyarakat terhadap pelayanan masyarakat dalam urusan Izin Mendirikan Bangunan. Jumlah sampel yang ditentukan 500 orang. Kalau pengumpulan data belum didasarkan pada 500 orang tersebut, maka penelitian dipandang belum selesai, karena belum memenuhi kouta yang ditentukan.
  5. Bila pengumpulan data dilakukan secara kelompok yang terdiri atas 5 orang pengumpul data, maka setiap anggota kelompok harus dapat menghubungi 100 orang anggota sampel, atau 5 orang tersebut harus dapat mencari data dari 500 anggota sampel.
  6. c. Sampel Insidental (Insidental Sampling)
  7. Sampling Insidental adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan/insidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data.
  8. Sampel ini diambil berdasarkan faktor spontanitas, artinya siapa saja yang secara tidak sengaja bertemu dengan peneliti dan sesuai dengan karakteristiknya, maka orang tersebut dapat dijadikan sampel. Dengan kata lain sampel diambil/terpilih karena ada ditempat dan waktu yang tepat. Tanpa kriteria peneliti bebas memilih siapa saja yang ditemuinya untuk dijadikan sampel.
  9. d. Sampel Purposif (Purposive Sampling)
  10. Sampel Purposif adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Teknik penarikan sampelnya dilakukan berdasarkan karakteristik yang telah ditetapkan. Penentuan kriteria ini dimungkinkan karena peneliti mempunyai pertimbangan-pertimbangan tertentu di dalam pengambilan sampelnya.
  11. Misalnya akan melakukan penelitian tentang kualitas makanan, maka sampel sumber datanya adalah orang yang ahli makanan, atau penelitian tentang kondisi politik di suatu daerah, maka sampel sumber datanya adalah orang yang ahli politik. Sampel ini lebih cocok digunakan untuk penelitian kualitatif, atau penelitian-penelitian yang tidak melakukan generalisasi.  
  12. e. Sampel Jenuh (Jenuh Sampling)
  13. Sampel Jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang, atau penelitian yang ingin membuntuhkan generalisasi dengan kesalahan yang sangat kecil. Istilah lain sampel Jenuh adalah total sampel. 
  14. f. Sampel Bola Salju (Snowball Sampling)
  15. Sampel Bola Salju adalah teknik penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian membesar. Ibarat bola salju yang menggelinding yang lama-lama menjadi besar. Dalam penentuan sampel, pertama-tama dipilih satu atau dua orang, tetapi karena dengan dua orang ini belum merasa lengkap terhadap data yang diberikan, maka peneliti mencari orang lain yang dipandang lebih tahu dan dapat melengkapi data yang diberikan oleh dua orang sebelumnya. Begitu seterusnya, sehingga jumlah sampel semakin bertambah sampai mengkristal yang berarti sample sudah cukup dan tidak bertambah lagi.

LEKSIKOLOGI


leksikologi

Leksikologi  mempelajari seluk beluk kata ialah mempelajari perbendaharaan kata  dalam suatu bahasa, mempelajari pemakaian kata serta artinya seperti dipakai oleh maayarakat pemakai bahasa. Misalnya kata masak yang mempunyai beberapa arti dalam pemakaiannya dalam kalimat

Contoh:..

1.      Sudah sampai tua hingga harus dipetik, di makan : Misalnya tentang buah yang masak di pohon

2.      Sudah jadi ( tentang masakan) Misalnya meskipun sudah beberapa jam direbus , belum masak juga ubi ini

3.      Sudah selesai, sudah dipikirkan. Misalnya adonan ini belum masak, bangsa kita dianggapnya belum masak

4.      Mengolah, membuat panganan. Misalnya masak kue lapis

Lekikologi mempelajari arti yang lebih kurang tetap yang terkandung dalam kata. Yang lazim disebut leksikal (lexical meaning)

Contoh:..

Rumah = berumah

Di samping  kata rumah terdapat juga kata berumah di mana  keduanya sama-sama memiliki arti leksikal

Rumah berarti “ bangunan untuk tempat tinggal”, bngunan pada umumnya

Berumah berarti “ mempunyai rumah, diam, tinggal”

Arti leksial dan pemakaian kata tersebut dibiarakan dalam leksikologi, sedangkan dalam morfologi dibicarakan perubahan bentuknya dari rumah menjadi berumah

PENGERTIAN LEKSIKOLOGI

Leksikologi adalah ilmu mengenai leksikon yang satuannya disebut leksem. Leksikologi mengarah pada kata yang sudah jadi, baik yang terbentuk secara arbitrer, maupun yang terbentuk sebagai hasil proses morfologi. Dalam hal simantik, leksikologi membicarakan makna leksikal dengan berbagai aspek dan permasalahannya.(Chaer,2008:6)

Leksikologi mempelajari seluk-beluk kata, ialah mempelajari perbendaharaan kata dalam suatu bahasa, mempelajari pemakaian kata serta arti seperti dipakai oleh masysrakat pemakai bahasa (Ramlan,1983:17). Misalnya kata masak, kata ini memiliki berbagai arti dalam pemakaiannya, seperti dijelaskan dalam kamus sebagai berikut :

1.   ‘sudah sampai tua hingga boleh dipetik, dimakan, dsb’.

Misalnya : belum masak juga ubi ini.

2.   ‘sudah jadi’

Misalnya : Meskipun sudah sejam direbus, belum masak juga ubi ini.

3.   ‘sudah selesai, sudah dipikir’

Misalnya : Bangsa kita diangapnya belum masak.

4.   ‘mengolah, membuat panganan’

Misalnya : masak kue lapis

Selanjutnya diterangkan pula arti kata bentukan dari kata tersebut, kata masak-memasak berarti ‘hal atau urusan memasak makanan, dsb’, memasakkan  artinya ‘memasak untuk orang lain’; mungkin juga berarti ‘menjadikan masak’, masakan berarti ‘barang apa yang dimasak, seperti lauk-pauk, makanan, dsb’,  pemasak berarti ‘orang yang memasak’ mungkin juga berarti ‘alat untuk memasak’.

Perbandingan Morfologi dengan Leksikologi

Morfologi dan Leksikologi sama-sama mempelajari kata, ari kata, akan tetapi di antara keduanya terdapat perbedaan. Leksikologi mempelajari arti yang lebih kurang tetap yang terkandung dalam kata atau yang lazim disebut arti leksis atau makna leksikal, sedangkan morfologi mempelajari arti yang timbul akibat peristiwa gramatis yang biasa disebut arti gramatis atau makna gramatikal. Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut :

Kata kosong mempunyai berbagai makna dalam pemakaiannya, antara lain :

a)      Tidak ada isinya; misalnya: peti besinya telah kosong.

b)      Hampa, berongga (geronggang) di dalamnya; misalnya: tinggal butir-butir padi yang kosong.

c)      Tidak ada yang menempati; misalnya: rumah itu kosong.

d)     Terluang; misalnya: waktu kosong.

e)      Tidak mengandung sesuatu yang penting atau berharga; misalnya: perkataannya kosong.

Selain itu, ada pula kata-kata mengosongkan ‘menjadikan kosong’, pengosongan ‘perbuatan mengosongkan’, kekosongan ‘keadaan kosong’ atau ‘menderita sesuatu karena kosong’.

kata kosong dengan mengosongkan. Kedua kata itu masing-masing mepunyai arti leksis atau makna leksikal. Kosong antara lain artinya ada lima butir seperti yang tertera pada contoh di atas, sedangkan mengosongkan makna atau artinya ‘menjadikan atau membuat jadi kosong’. Mengenai arti leksis kedua kata tersebut dibicarakan dalam leksikologi, sedangkan dalam morfologi dibicarakan makna atau arti yang timbul akibat melekatnya imbuhan atau afiks meN-kan.

Jadi kalo leksis itu menyatakan arti secara harafiah…sedangkan kalo morfologi, menyatakan arti secara gramatikal, atau arti hasildari penambahan

Contoh lain yaitu selain kata rumah terdapat kata berumah. Kedua kata tersebut masing-masing mempunyai arti leksikal, kata rumah berarti ‘bangunan untuk tempat tinggal’ dan  kata berumah berarti ‘mempunyai rumah’,’diam’,’tinggal’. Arti leksikal dan pemakaian kata tersebut dibicarakan dalam leksikologi sedangkan dalam morfologi dibicarakan perubahan bentuknya, dari rumah menjadi berumah, perubahan golongannya dari kata nominal menjadi kata verbal, serta perubahan arti yang timbul sebagai akibat dari melekatnya afik ber- pada rumah  ialah timbulnya makna ‘mempunyai’,’memakai’ atau ‘mempergunakan’.

 

One Direction – Midnight Memories (The Ultimate Edition) 2013


One-Direction-Midnight-Memories-Deluxe-CD-Album

TRACK LIST:

01. Best Song Ever
02. Story of My Life
03. Diana
04. Midnight Memories
05. You & I
06. Don’t Forget Where You Belong
07. Strong
08. Happily
09. Right Now
10. Little Black Dress
11. Through the Dark
12. Something Great
13. Little White Lies
14. Better Than Words
15. Why Don’t We Go There
16. Does He Know?
17. Alive
18. Half A Heart

One Direction – Midnight Memories (The Ultimate Edition) Download .rar

Qwerty Record


Qwerty Record

Qwerty Record

             Qwerty Record
Jenis Label rekaman
Industri Musik, hiburan, dan berita.
Produser Kawirian
Didirikan 19 September 2012
Kantor pusat Kuala Tungkal – Jambi, Indonesia
Daerah layanan Internasional
Didirikan Oleh Kawirian
Situs web http://www.qwertyrecord.com

Qwerty Record adalah sebuah perusahaan rekaman Indonesia yang dibuka umum sejak pada tanggal 20September 2012. Dan di rilis tanggal 19 September 2012. Perusahaan ini selain memproduksi dan mendistribusikan musik juga sebagai basecame Rian. Perusahaan rekaman ini didirikan oleh Rian karena dia ingin mempunyai perusahaan rekaman sendiri. Karena dulunya Rian bergabung dengan Perusahaan rekaman Trinity Optima Production. Karena keberhasilannya dan kesuksesannya, akhirnya Rian keluar dari TOP dan membuat rekaman perusahaan sendiri. Perusahaan ini menghasilkan musik, hiburan dan berita.