MATERI SEMANTIK


II. Makna dan Masalahnya

1.      Pengertian Makna
Makna adalah gejala dalam ujaran / utterance-internal-phenomenon (sesuatu yang terdapat dalam bahasa  (intralingistik) yang berhubungan langsung dengan bunyi dan referennya (ekstralinguistik))
                        Makna
                        (yang diartikan)
Tanda linguistik                                                          referen
                        [Bunyi]
                        Yang mengartikan
Yang menandai                                                           yang ditandai
(intralingual)                                                                (ekstralingual)
                        meja
                                                                            Gambar
<meja>                                                                        (sebuah meja)
                        [bunyi]
                        Yang mengartikan
yang menandai                                                            yang ditandai
(intralingual)                                                                (ekstralingual)
2.      Informasi
Gejala luar ujaran (utterance external) unsur yang terdapat diluar bahasa (ujaran) yang dilihat dari segi objek atau yang dibicarakan.
3.      Maksud
Sesuatu yang terdapat di luar bahasa dilihat dari subjeknya si pengujar atau orang yang berbicara.
istilah
Segi (dalam keseluruhanperistiwa pengujaran)
Jenis semantik
makna
segi lingual atau dalam ujaran
sematik kalimat, gramatikal dan leksikal
informasi
segi objektif (yang dibicarakan)
luar semantik (ekstralingulistik)
maksud
segi subjektif (pihak pemakai bahasa)
semantik maksud
4.      Tanda, Lambang, Konsep dan Devinisi
a.       Tanda dalam bahasa Indonesia pada awalnya bermakna ‘bekas’.
-          Pukulan rotan yang sangat keras pada punggung akan meninggalkan bekas. Bekas pukulan yang berwarna merah tersebut menandai telah terjadi pukulan.
-          Terdengar suara adzan berarti tanda waktu sholat telah tiba.
-          Lampu merah meyala tandanya semua kendaraan harus berhenti.
b.      Lambang sebenarnya adalah juga tanda, tetapi lambang tidak memberi tanda secara langsung, melainkan melalui sesuatu yang lain.
-       Warna merah pada bendera merah putih melambangkan keberanian,
-       Warna putih melambangkan kesucian
-       Padi dan kapas melambangkan  kemakmuran dsb.
c.       Konsep adalah suatu gambaran dalam benak kita yang mewakili apa yang kita dengar.
d.      Konsep sebagai referen dari suatu lambang memang tidak pernah bisa sempurna. Maka untuk menyempurnakan konsep yang ada digunakan batasan atau devinisi. Batasan atau devinisi memberikan rumusan yang lebih teliti mengenai suatu konsep.
5.      Hubungan Kaidah Umum
a.       Hubungan antara sebuah kata/leksem dengan rujukan atau acuannya bersifat arbitrer. Dengan kata lain tidak ada hubungan wajib di antara keduanya.
b.      Secara singkronik makna sebuah kata/leksem tidak berupah, secara diakronik ada kemungkinan berubah. Maksudnya, dalam jangka waktu terbatas makna sebuah kata tidak akan berubah, tetapi dalam waktu tertentu yang relatif tidak terbatas ada kemungkinan bisa berubah.
c.       Bentuk-bentuk yang berbeda, akan berbeda pula maknanya. Maksudnya, kalau ada dua buah kata/leksem walaupun perbedaanya sedikit, tetapi maknanya pasti berbeda. Oleh karena itu kata yang dikatakan bersinonim pasti maknanya tidak sama persis.
d.      Setiap bahasa memiliki sistem semantik sendiri yang berbeda dengan sistem semantik bahasa lain karena sistem semantik itu berkaitan erat dengan sistem budaya pemakai bahasa itu, sedangkan sistem budaya yang melatarbelakangi setiap bahasa itu tidak sama.
e.       Makna setiap leksem dalam suatau bahasa sangat dipengaruhi oleh pandangan hidup dan sikap anggota masyarakat yang bersangkutan.

f.       Luasnya makna yang dikandung sebuah bentuk gramatikal berbanding terbalik dengan luasnya bentuk tersebut.

III. Penamaan dan Pendefinisan

1.      Penamaan
a.      Peniruan bunyi
Dalam bahasa Indonesia terdapat beberapa kata yang terbentuk dari peniruan bunyi, nama-nama benda tersebut dibentuk berdasarkan bunyi dari benda tersebut atau suara yang ditimbulkan oleh benda tersebut. Misalnya cicak, tokek, gukguk untuk anjing, meong untuk kucing. Kata-kata yang dibentuk dari tiruan bunyi ini disebut kata peniru bunyi ataua Onomatope.
Selain ada juga bentuk kata kerja atau nama perbuatan dari tiruan bunyi itu. Misalnya anjing menggongngong, ayam berkotek, ular mendesis angin menderu dan sebagainya.
b.      Penyebutan Sebagian
Penamaan suatu benda atau konsep berdasarkan bagian dari benda itu biasanya berdasarkan ciri yang khas atau yang menonjol dari benda itu yang sudah ketahui secara umum.
Penyebutan sebagian ini terdiri dari dua yaitu:
1.      Pars prototo  adalah penyebutan sebagian dari benda atau konsep tetapi berlaku secara keseluruhan.
Misalnya : kepala, ekor dsb
2.      Totem pro parte adalah penyebutan keseluruhan untuk sebagian
Misalnya:  Indonesia  mengikuti ajang olimpiade internasional.
c.       Penyebutan sifat khas
Penamaan suatu benda atau suatu konsep berdasarkan sifat khas yang melekat pada konsep tersebut.
Misalnya: si kikir si bakhil, dsb
d.      Penemu atau Pembuat
Penamaan satu benda atau suatu konsep yang didasarkan pada nama penemunya atau pembuatnya.
Misalnya: ikan mujair ditemukan oleh Mujair di kediri Jawa timur, Raflesia Arnoldi, ditemukan oleh ArnoldiDalil archimides ditemukan oleh archimides,  kodak, honda dan sebagainya.
e.       Tempat asal
Penamaan suatu benda dapat juga ditelusuri dari nama tempat asal benda tersebut.
Misalnya sate Padang,  sate Madura, pisang Ambon jeruk Bali, piagam Jakarta, perjanjian Renfile dan sebagainya.
f.       Bahan
Beberapa jumlah benda juga diambil dari bahan pokok benda tersebut.
Misalnya: kaca mata, sepatu kaca, kaca spion, kaleng susu, kaleng minyak, kue kalengan dsb.
g.      Keserupaan
Penaamaan suatu benda atau suatu konsep dengan cara makna benda yersebut  dipersamakan atau diperbandingkan dengan makna leksikal dari kata itu.
Mislanya: kaki meja, kepala paku, kepala kantor, tangan meja dsb.
h.      Pendevinisian Pemendekan
Terdapat kata-kata dalam bahasa Indonesia yang terbentuk sebagai hasil penggabungan unsur-usnur huruf awal atau suku kata dari beberapa kata  yang digabungkan menjadi satu.
Misalnya: ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia). Koni (Komite Olah Raga Nasional Indonesia), dsb.
i.        Penamaan Baru
Kata-kaya atau istilah yang sudah ada perlu diganti dengan kata-kata baru, karena dianggap kurang tepat, tidak rasional, kurang halus atau kurang ilmiah.
Misalnya kuli diganti dengan buruh, gelandangan diganti dengan tunawisma, dsb.
2.      Pendevinisian
Pendefinisian adalah usaha yang dilakukan dengan sengaja untuk mengungkapkan dengan kata-kata akan suatu benda, konsep, proses, aktivitas, peristiwa dan sebagainya.
a.       Devinisis sinonimis, suatu kata didevinisikan dengan sebuah kata lain yang merupakan sinonim dari kata itu. Misalnya ayah dengan bapak.
b.      Definisis formal, dalam pendefinisian ini konsep atau ide yang akan dideviniskan disebutkan dulu sebuah ciri umumnya, lalu disebutkan pula ciri khususnya.
Konsep/ ide
Ciri umum
Ciri khusus
a)      bus
Kendaraan umum
dapat memuat banyak penumpang
b)      taksi
Kendaraan umum
Penumpang terbatas
c)      pensil
Alat tulis
Terbuat dari kayu dan arang
d)     pena
Alat tulis
Terbuat dari bahan plastik dan berisi tinta
a)      bus adalah kendaraan umum yang dapat memuat banyak penumpang
b)      taksi adalah kendaraan umum yang memuat penumpang dalam jumlah yang terbatas
c)      pensil ealat tulis yang terbuat dari kayu dan arang
d)      pena adalah alat tulis yang terbuat dari plastik dan berisi tinta.
c.       Devinisi logis adalah devinisi yang mengidentifikasikan secara tegas objek, ide atau konsep yang didevinisikan itu sedemikian rupa, sehingga obek tersebut berbeda secara nyatadengan objek-objek lain. Devinisi logis biasanya bersifat ilmiah dan banyak terdapat dalam buku-buku pelajaran.
Contoh: air
Air adalah zat cair yang jatuh dari awan sebagai hujan, mengaliri sungai, menggenangi danau dan lautan, meliputi bua pertiga dari permukaan bumi, merupakan unsur pokok dari kehidupan, tanpa bau, tanpa rasa, tanpa warna, tetapi tampak kebiru-biruan pada lapisan yang tebal, membeku pada nol drajat celcius dan mendidih pada 1oo derajat celcius.
d.      Devinisi ensiklopedis adalah devinisi yang lebih luas lagi dari devinisi logis sebab devinisi ensiklopedis menerangkan secara lengkap dan jelas serta cermat akan segala sesuatu yang berkenaan dengan kata atau konsep yang didevinisikan.
Contoh:
Air adalah persenyawaan hidrogen dan oksigen, terdapat di mana-mana dan dapat berwujud (1), gas, seperti uap air: (2) cairan seperti air yang sehari-hari dijumpai (3), padat seperti es dan salju. Air merupakan zat pelarut yang baik sekali dan paling murah , terdapat di alam dalam keadaan tidak murni,. Air murni berupa  cairan yang tidak berbau, tidak berasa dan tidak berwarna. Pada suhu empat derajat Celsius air mencapai maksimum  berat jenis. didinginkan nol derajat celcius atau 32 derajat fahrenheit, air berubah menjadi es yang lebih ringan dari pada air. Air mengembang sewaktu membeku. Bila dipanaskan pada suhu 100 derajat Celcius air akan berubah menjadi uap air. Air murni bukanlah konduktor yang baik. Manusia binatang dan tumbuh-tumbuhan memerlukan air untuk hidup. Tenaga ir mempunyai arti ekonomi yang besar.
e.       Devinisi operasional
Devinisi operasional dibuat orang untuk membatasi konsep-konsep yang akan dikemukakan dalam suatu tulisan atau pembicaraan.  Devinisi ini hanya digunakan untuk keperluan tertentu, terbatas pada suatu topik pembicaraan.

Misalnya: yang dimaksud air dalam pembahasan ini adalah segala zat cair yang terdapat di alam tumbuh-tumbuhan baik yang ada di dalam batang (seperti air tebu) maupun yang ada di dalam buah.

RELASI MAKNA

Relasi makna adalah hubungan kebermaknaan antara sebuah kata atau satuan bahasa lainnya dengan kata atau satuan bahasa lainnya. Hubungan kebermaknaan mungkin menyangkut hal kesamaan makna, kebalikan makna, kegandaan makna, ketercakupan makna dan sebagainya.
1.      Sinonimi
Verhaar (1978) mendefiniskan sinonim sebagai ungkapan (berupa kata, frase, atau kalimat) yang maknanya kurang lebih sama dengan makna ungkapan lain.
Misalnya:
-          buruk dan jelek
-          bunga dan kembang
-          bapak dan ayah
Hubungan makna antara dua buah kata yang bersinonim bersifat dua arah. Misalnya bunga besinonim dengan kembang, maka kembang bersinonim dengan bunga.
Makna dua buah kata yang bersinonim tidak pernah mempunyai makna yang sama persis, mutlak atau simetris. Kesinoniman mutlak atau kesinoniman simetris tidak ada dalam perbendaharaan kata dalam bahasa Indonesia. Hal itu disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:
a.       Waktu
Misalnya kata hulubalang dan komandan merupakan dua buah kata yang bersinonim tetapi karena faktor waktu, maka kedua kata tersebut tidak bisa dipertukarkan. Hulubalang hanya cocok untuk situasi kuno, sedangkan komandan cocok untuk situasi masa kini.
b.      Tempat atau daerah
Misalnya kata saya dan beta merupakan dua kata yang bersinonim , tetapi kedua kata tersebut tidak dapat dipertukarkan. Beta hanya cocok digunakan dalam konteks pemakaian bahasa Indonesia timur (Maluku).
c.       Sosial
Misalnya aku dan saya adalah dua buah kata yang bersinonim, teapi kata aku hanya dapat digunakan untuk teman sebaya dan tidak digunakan kepada orang yang lebih tua atau status sosialnya lebih tinggi.
d.      Bidang Kegiatan
Misalnya kata tasawuf, kebatinan, dan mistik adalah tiga buah kata yang bersionim. Namun kata tasawuf hanya lazim dalam agama islam, kebatinan untuk yang bukan islam dan mistik untuk semua agama.
e.       Nuansa Makna
Misalnya kata-kata melihat, melirik, melotot, meninjau, atau mengintip adalah kata-kata yang bersinonim. Kata melihat bisa digunakan secara umum, tetapi kata melirik hanya digunakan untuk menyatakan melihat dengan sudut mata, melolot hanya digunakan dengan mata terbuka lebar, meninjau hanya digunakan hanya dugunakan hanya dugunakan untuk menyatakan melihat dari tempat yang jauh.
Dalam bahasa Indonesia selain kata yang mempunyai sinonim ternyata terdapat satuan lain yang juga mempunyai sinonim, satuan-satuan tersebut adalah:
1)      Sinonim antara morfem (bebas) dengan morfem (terikat)
Misalnya dia dengan nya, saya dengan ku
a)      Minta bantuan dia
Minta bantuannya
b)      Bukan teman  saya
Bukan temanku
2)      Sinonim antara kata denga kata
Misalnya mati dengan meninggal,  buruk dengan jelek, dsb.
3)      Sinonim antara kata dengan frase atau sebaliknya
Misalnya meninggal dengan tutup usia, pencuri dengan tamu tak diundang
4)      Sinonim antara frase dengan frase
Misalnya ayah ibu, dengan orang tua
5)      Sininim antara kalimat dengan kalimat
Misanlya  adik menendang bola dengan bola ditendang adik
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam sinonim bahasa Indonesia
-          tidak semua kata dalam bahasa Indonesia memiliki sinonim
-          kata-kata  bersinonim pada bentuk dasar tetapi tidak pada bentuk jadian. Mislanya kata benar dan betul, tetapi kata kebenaran dan kebetulan tidak bersinonim.
-          ada kata-kata yang yang dalam arti sebenarnya tidak mempunyai sinonim, tetapi dalam arti kiasan justru mempunyai sinonim, misalnya kata hitam dalam arti sebenarnya tidak mempunyai sinonim, tetapi dalam arti kiasan hitam bersnonim dengan gelap, mesum, buruk, jahat dsb.
2.      Antonimi  atau Oposisi
Verhaar (1978) mendefinisikan antinimi adalah ungkapan (bisa berupa kata, tetapi dapat juga berbentuk frase, atau kalimat) yang maknanya dianggap kebalikan dari makna ungkapan lain.
Mislanya kata bagus berartonim dengan kata buruk, besar dengan kecil, membeli dengan menjual dsb.
Hubungan makna antara dua buah kata yang berantonimi bersifat dua arah. Jadi kalau bagus berantonim dengan buruk maka buruk berantonim dengan bagus.
Antonim disbut juga dengan istilah lawan kata,  lawan makna atau oposisi.
Berdasarkan sifatnya oposisi dapat dibedakan menjadi:
a.       Oposisi Mutlak
Terdapat perlawanan makna yang mutlak. Misalnya antara hidup dengan mati terdapat batas yang mutlak, sebab sesuatu yang hidup pasti tidak mati, dan sesuatu yang mati pasti tidak hidup.
b.      Oposisi Kutub
Makna kata-kata yang termasuk oposisi kutub ini pertentanganya tidak bersifat mutlak, melainkan bersifat gradasi. Artinya terdapat tingkat-tingkat makna pada kata-kata tersebut, misalnya kata kaya dan miskin, terdapat tingkatan pada kata tersebut misalnya agak kaya, cukup kaya, sangat kaya dan paling kaya begitu juga dengan kata miskin.
Kata-kata yang berasoiasi kutub ini umumnya berasal dari kelas kata adjektif, misalnya jauh-dekat, panjang-pendek, tinggi-rendah dsb.
c.       Oposisi Hubungan
Makna kata-kata yang beroposisi hubungan (relasional) ini bersifat saling melengkapi. Artinya kehadiran kata yang satu karena ada kata yang lain yang menjadi oposisinya. Tanpa kehadiran keduanya maka oposisi ini tidak ada.
Misalnya kata menjual beroposisi dengan membeli, suami degan istri.
Kata-kata yang beropsosisi hubungan ini bisa berupa kata-kata kerja seperti maju-mundur, pulang-pergi, pasang-surut, belajar-mengajar  atau berupa kata benda misalnya ayah-ibu, buruh-majikan, guru-murid dsb.
d.      Oposisi Hierarkial
Makna kata kata yang beroposisi hierakrial ini menyatakan suatu deret jenjang atau tindakan. Oleh karena itu kata-kata yang beroposisi hierarkial ini adalah kata-kata yang berupa nama satuan ukuran (berat, panjang dan isi), nama satuan hitungan dan penanggalan, nama jenjang kepangkatan dan sebagainya.
Misalnya meter beroposisi dengan kilometer karena beraada dalam satuan yang menyakatan panjang. Kuintal  beroposisi dengan ton karena keduanya berada dalam satuan ukuran yang menyatakan berat.
e.       Oposisi Majemuk
Dalam bahasa Indonesia ada beberapa kata yang beropsisi dengan lebih dari satu kata. Mislanya kata berdiri bisa beroposisi dengan kata duduk, berbaring,berjongkok dsb.  Misalnya kata diam beroposisi dengan berbicara, bergerak, dan bekerja.
Tidak semua kata dalam bahasa Indonesia mempunyai antonim atau oposisi. Misalnya mobil, rumput, monyet dsb.
3.      Homonimi, Homofoni, dan Homograf
a.       Homonimi
Verhaar (1978) mendefiniskan  homonimi sebagai ungkapan (berupa kata, frase atau kalimat) yang bentuknya sama dengan ungkapan lain tetapi maknanya tidak sama.
Misalnya bisa yang bermakna racun ular dan bisa yang bermakna sanggup.
Ada dua sebab kemungkinan terjadinya homonimi yaitu:
1.      Bentuk-bentuk yang berhomonimi itu berasal dari bahasa atau dialek yang berlainan. Misalnya bisa yang berati racun berasal dari bahasa Melayu, sedangkan bisa yang berarti sanggup berasal dari bahasa Jawa.
2.      Bentuk-bentuk yang berhomonimi itu terjadi sebagai hasil proses morfologis. Mislanya mengukur dalam kalimat. Ibu mengukur kelapa di dapur, adalah berhomonim pada kalimat ayah mengukur luasnya  halaman rumah kami.
Homonimi juga terjadi pada tataran morfem, kata, frase, dan kalimat
a)      Homonimi antarmorfem, tentunya antara sebuah morfem terikat dengan morfem terikat lainnya. Mislanya morfem –nya pada kalimat, ini buku saya, itu bukumu dan dan yang disana bukunya berhomonim dengan –nya pada kalimat mau belajar tapi bukunya tidak ada.
b)      Homonimi antarkata misalnya bisa yang bermakna sanggup dan bisa yang bermakna racun ular. Semi yang bermakna tunas dan semi yang bermakna setengah.
c)      Hominimi antarfrase, misalnya antara frase cinta anak yang bermakan cita seorang anak kepada orang tuanya dengan cinta anak yang bermakna cinta orang tua kepada anaknya. lukisan saya yang bermakna lukisan karya saya, lukisan milik saya atau lukisan wajah saya.
d)      Homonimi antarkalimat misalnya istri lurah yang baru itu cantik  yang bermakna lurah yang baru dilantik itu mempunyai istri yang cantik, dengan lurah itu baru saja menikah dengan seorang wanita cantik.
b.      Homofoni
Homofoni berasal dari dua kata yaitu kata homo yang bermakna sama dan fon yang bermakna bunyi, jadi homofoni adalah kata-kata yang mempununyai bentuk yang berbeda, maknanya berbeda tetapi mempunyai bunyi yang sama. Misalnya kata bang dengan bank. Bank adalah lembaga yang mengurus lalu lintas uang, sedangkan bang berasal dari abang yang bermakna kakak laki-laki. Sangsi dengan sanksi, sangsi yang bermakna ragu dengan sanksi yang bermakna akibat atau konsekuensi.
c.       Homografi
Homografi secara etimologi beras dari kata homo yang bermakna sama dengan graf yang bermakna tulisan, jadi homografi adalah kata-kata mempunyai tulisan yang sama tetapi bunyi dan maknanya berbeda. Misalnya teras dengan teras, teras yang pertama dilafalkan tǝras bermakna  inti kayu dan teras yang kedua dilafalkan teras yang bermakna bagian dari rumah. Apel dengan apel, apel yang pertama dilafalkan apěl yang bermakna upacara dan apel yang dilafalkan apɛl yang bermakna buah apel.
4.      Hiponimi dan Hipernimi
a.      Hiponimi
Verhaar (1978:137) hiponim adalah ungkapan biasanya berupa kata, tetapi kiranya dapat beupa frase atau kalimat) yang maknanya dianggap merupakan bagian dari makna  suatu ungkapan lain. Misalnya gurame adalah hiponim dari ikan. Sebab makna gurame termasuk dalam makna kata ikan. Gurame memang ikan tetapi bukan hanya gurami yang termasuk juga bandeng, tenggiri, salmon, mujair, cakalang, teri, mas dan sebagainya. Hubungan antara gurame, teri, cakalang dan ikan –kan lain disebut hubungan kohiponim. Jadi gurame berkohiponim dengan tenggiri, bandeng dan sebagainya.
Hubungan hiponim ini hanya bersifat satu arah, artinya hiponim dari bandeng adalah ikan, tetapi ikan tidak berhiponim dengan bandeng melainkan ikan berhipernim dengan bandeng.
b.      Hipernimi
Konsep hipernimi adalah kebalikan dari konsep hiponimi. Konsep hiponimi dan hipernimi mengandaikan adanya kelas bawahan dan kelas atasan, adanya makna sebuah kata  yang berada di bawah makna kata lainnya. Oleh karena itu, ada kemungkinan sebuah kata yang merupakan hipernim dari sebuah kata merupakan hipernim dari kata lainnya, akan menjadi hiponim terhadap kata lain yang hierarkial di atasnya.
Misalnya kata mahluk berhipernim dengan manusia dan binatang tetapi binatang berhipernim juga dengan ikan, kambing, monyet, gajah dan sebagainya, ikan berhipernim juga dengan gurame, tongkol, bandeng dan sebagainya.
Disamping istilah hiponimi dan hipernimi terdapat istilah lain yaitu meronimi. Kedua istilah ini mengadung konsep yang hampir sama. Bedanya kalau hiponimi menyatakan adanya kata (unsur leksikal) yang maknanya berada di bawah makna kata lain, sedangkan meronimi menyatakan adanya kata (unsur leksikal) yang merupakan bagian bagian dari kata lain. Misalnya ikan mempunyai bagian-bagian tubuh, kepala, sirip, ekor, ingsang, sisik, dan sebagainya maka bisa dikatakan bahwa meronimi dari ikan adalah kepala, sirip, ekor, ingsang, sisik dan sebagainya.
5.      Polisemi
Polisemi lazim diartikan sebagai satuan bahasa (terutama kata, frase, ) yang memiliki makna lebih dari satu.
Misalnya kata kepala dalam bahasa Indonesia memiliki makna
-          Bagian tubuh dari leher ke atas (seperti terdapat pada manusia dan hewan)
-          Bagian dari sesuatu yang terletak di bagian atas atau depan yang merupakan bagian yang penting (kepala Ketera api, kepala meja).
-          Bagian dari sesuatu yang berbentuk bulat (kepala paku, kepla jarum)
-          Pemimpin atau ketua (kepala sekolah, kepala kantor)
-          Jiwa orang seperti dalam kalimat “setiap kepala menerima bantuan RP. 5000.000”
-          Akal budi seperti dalam kalimat “ badanya besar tetapi kepalanya kosong”.
Konsep polisemi hampir sama dengan konsep homonimi. Perbedaanya adalah homonimi bukanlah sebuah kata, melainkan dua buah kata atau lebih yang kebetulan maknanya sama. Tentu saja homonimi itu bukan sebuah kata maka maknanya pun berbeda. Makna  kata pada homonimi tidak ada kaitannya atau hubungannya sama sekali antara yang satu dengan yang lainnya. Sedangkan  polisemi adalah sebuah kata yang memiliki makna lebih dari satu, makna kata pada polisemi masih ada hubungannya antara makna yang satu dengan yang lain karen memang kembangkan dari komponen-komponen makna kata-kata tersebut.
6.      Ambiguitas
Ambiguitas adalah ketaksaan sering diartikan sebagai kata yang bermakna ganda atau mendua arti. Pengertian ambiguitas hampir sama dengan pengertain polisemi. Perbedaanya terletak pada kegandaan makna dalam polisemi dari kata, sedangkan kegandaan makna pada ambiguitas berasal dari satuan yang lebih besar yaitu frase atau kalimat dan terjadi akibat penafsiran struktur gramatikal yang berbeda.
Misalnya buku sejarah baru dapat ditasfirkan sebagai (1)  buku sejarah itu baru terbit, (2) buku itu berisi sejarah zaman baru
Pengertian ambiguitas hampir sama dengan homonimi. Perbedaanya terletak pada apabila homonimi dilihat sebagai bentuk yang kebetulan sama dan dengan makna yang berbeda, sedangkan ambiguitas adalah sebuah bentuk dengan makna yang berbeda sebagai akibat dari berbedanya penafsiran struktur gramatikal bentuk tersebut. Ambiguitas hanya terjadi pada tataran frase dann kalimat sedangkan homonimi dapat terjadi pada semua satuan gramatikal.
7.      Redundansi
Istilah redundansi sering diartikan sebagai berlebih-lebihan  pemakaian unsur segemental dalam suatu bnetuk ujaran.
Mislanya

bola ditendang udin dengan bola ditendang oleh si udin. Pemakaian kata oleh pada kalimat kedua tersebut dianggap sebagai sesuatu yang redundasi, yang berlebihan dan sebenarnya tidak perlu.

PERUBAHAN MAKNA
Makna suatu bahasa dapat mengalami perubahan yang disebabkan oleh berbagai faktor oleh pemakai bahasa tersebut. Perubahan makna mencakup perluasan, pembatasan, pelemahan, pengaburan, dan pergeseran makna yang tampak di dalam pengunaan bahasa. Menurut Manaf (2010:106), perubahan makna adalah berubahnya makna suatu leksem atau satuan leksikal. Perubahan makna tersebut dapat berupa perubahan konsep dan atau perubahan nilai rasa.
1.      Faktor-faktor yang Menyebabkan Terjadinya Perubahan Makna
Dalam hal mengenai perubahan makna, Chaer (2012:311) menyatakan bahwa secara sinkronis, makna sebuah kata atau leksem tidak akan berubah, tetapi secara diakronis terdapat kemungkinan makna tersebut dapat berubah. Artinya, dalam waktu yang relatif singkat, makna sebuah kata akan tetap sama, tidak berubah, tetapi dalam waktu yang relatif lama, terdapat kemungkinan makna sebuah kata tersebut akan berubah. Perubahan tersebut tidak berlaku untuk semua kosakata yang terdapat dalam sebuah bahasa, melainkan hanya terjadi pada sejumlah kata saja. Menurut Manaf (2010:107—111), faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan makna pada sebuah kata ialah sebagai berikut.
a.    Perkembangan dalam bidang ilmu dan teknologi. Adanya perkembangan konsep keilmuan dan teknologi dapat menyebabkan kata yang pada mulanya bermakna A menjadi bermakna B atau bermakna C. Misalnya, kata sastra dan berlayar.
b.    Perkembangan sosial budaya. Perkembangan dalam masyarakat yang berkenaan dengan sikap sosial dan budaya, juga menyebabkan terjadinya perubahan makna. Misalnya, kata saudara, tuan, dan sarjana.
c.    Perkembangan pemakaian kata. Setiap bidang kegiatan atau keilmuan biasanya mempunyai sejumlah kosakata yang berkenaan dengan bidang tersebut. Misalnya, dalam bidang pertanian ditemukan kosakata seperti menggarap, menuai, pupuk, hama, dan panen; dalam bidang agama Islam terdapat kosakata seperti imam, khatib, puasa, zakat; dan dalam bidang pelayaran ada kosakata berlabuh, berlayar, haluan, nahkoda, buritan. Kosakata yang pada mulanya hanya digunakan pada bidang-bidang tersebut, dalam perkembangan kemudian juga digunakan dalam bidang-bidang lain, dengan makna baru atau agak lain dengan makna aslinya. Misalnya, kata menggarap dari bidang pertanian digunakan juga umtuk bidang lain dengan makna mengerjakan/membuat, seperti menggarap skripsi, menggarap naskah drama, menggarap rancangan undang-undang lalu lintas. Kata membajak yang berasal dari bidang pertanian, kini sudah biasa digunakan dalam bidang lain dengan makna mencari keuntungan yang besar secara tidak benar, seperti membajak buku, membajak lagu, membajak pesawat terbang. Kata jurusan yang berasal dari bidang lalu lintas kini juga digunakan dalam bidang pendidikan dengan makna bidang studi/vakultas, seperti jurusan bahasa asing, jurusan hukum perdata, dan jurusan ekonomi pembangunan.
d.   Pertukaran tanggapan indra. Alat indra manusia yang terdiri dari lima jenis mempunyai fungsi masing-masing untuk menangkap gejala-gejala yang terjadi di dunia. Namun, dalam perkembangan pemakaian bahasa banyak terjadi pertukaran pemakaian alat indra untuk menangkap gejala yang terjadi di sekitar manusia tersebut. Misalnya, rasa pedas yang seharusnya ditanggap oleh indra persa lidah menjadi ditanggap oleh alat pendengar telinga, seperti kata-katanya pedas; kata manis yang seharusnya ditanggap oleh alat perasa lidah menjadi ditanggap dengan alat indra mata, seperti wajahnya sangat manis. Perubahan tanggapan indra ini disebut sinestesia. Contoh lainnya seperti warnanya teduh, suaranya berat sekali, kedengarannya memang nikmat, lukisan itu ramai sekali, tingkah lakunya sangat kasar.
e.    Adanya asosiasi. Asosiasi ialah adanya hubungan antara sebuah bentuk ujaran dengan sesuatu yang lain berkenaan dengan bentuk ujaran tersebut, sehingga bila disebut ujaran tersebut maka yang dimaksud ialah sesuatu yang lain yang berkenaan dengan ujaran tersebut. Misalnya, kata amplop yang sebenarnya bermakna sampul surat, tetapi amplop dalam kalimat ”Supaya urusan cepat beres, beri saja amplop” bermakna uang sogok. Contoh lain ialah berupa hubungan waktu dengan kejadian, seperti memeriahkan perayaan 17 Agustus. Kata 17 Agustus pada kalimat tersebut berasosiasi dengan hari kemerdekaan.
f.     Proses gramatikal. Proses gramatikal juga dapat mengakibatkan perubahan makna. Perubahan makna yang diakibatkan oleh proses gramatikal misalnya, leksem makan mengalami perubahan makna setelah mendapatkan afiks me-, ter-, dan –an, leksem makan menjadi memakan, termakan, dan makanan. Leksem memakan berarti memasukkan makanan ke mulut, mengunyah, lalu menelannya; leksem termakan artinya makan secara tidak sengaja; dan leksem makanan artinya benda yang dapat dimakan.
g.    Pengembangan istilah. Misalnya, leksem pantau semula bermakna sejenis ikan yang suka melayang-layang di air, seperti dalam kalimat ”Ikan pantau banyak kita temukan di air jernih” setelah digunakan sebagai istilah di bidang birokrasi, leksem pantau bermakna mengawasi, seperti dalam kalimat ”Menteri Sosial sedang memantau penyaluran sembako kepada masyarakat yang tertimpa bencana alam”.
Senada dengan hal tersebut, Rahardi (2006:70) menyatakan bahwa cukup banyak faktor yang dapat dianggap sebagai sosok yang menyebabkan terjadinya perubahan makna. Pertama, faktor kadar kedekatan relasi bahasa dengan masyarakat pemiliknya dan sosok kebudayaan yang menjadi wadahnya. Kedua, faktor yang berupa dorongan internal bahasa yang bersangkutan untuk menggunakan kata-kata atau istilah di dalam tertentu sesuai dengan tuntutan zaman. Ketiga, faktor kebutuhan dari para pengguna bahasa itu sendiri untuk bergengsi-gengsi atau menyombongkan diri, yang pada akhirnya justru dapat melahirkan banyak kata yang dipungut dari bahasa daerah atau bahasa asing.
Ramadansyah (2010:22) menyatakan bahwa makna suatu kata dapat berubah. Perubahan tersebut disebabkan oleh beberapa hal, yaitu (a) peristiwa ketatabahasaan, misalnya kata makan, akibat adanya peristiwa ketatabahasaan ditemui kata makanan, pemakan, makan-makan, makan biaya, makan besar, makan suap, dan sebagainya; (b) perubahan waktu, misalnya dulu kata sarjana bermakna orang yang pandai dan terpandang, tetapi kini, untuk orang yang lulus perguruan tinggi; (c) perbedaan tempat, misalnya kata butuh di Jawa bermakna perlu, sedangkan di Kalimantan Timur bermakna kemaluan laki-laki; (d) perbedaan lingkungan, misalnya kata jurusan di lingkungan lalu lintas bermakna arah tujuan, di lingkungan pendidikan bermakna bagian jurusan, di lingkungan olahraga bermakna bagian sikap badan; dan (e) perubahan konotasi.
2.      Jenis-jenis Perubahan Makna
Menurut Chaer (2009:140—144), perubahan makna kata secara umum terdiri dari beberapa jenis. Jenis-jenis tersebut ialah sebagai berikut.
a.    Meluas, yaitu gejala yang terjadi pada sebuah kata atau leksem yang pada mulanya hanya memiliki sebuah makna, tetapi kemudian karena berbagai faktor, menjadi memiliki makna-makna lain. Misalnya, kata saudara, kakak, ibu, adik, bapak, mencetak, dan lain-lain.
b.    Menyempit, yaitu gejala yang terjadi pada sebuah kata yang pada mulanya mempunyai makna yang cukup luas, kemudian berubah menjadi terbatas hanya pada sebuah makna saja. Misalnya, kata sarjana, ahli, pendeta, dan sebagainya.
c.    Perubahan total, artinya berubah sama sekali makna sebuah kata dari makna aslinya. Memang terdapat kemungkinan makna yang dimiliki sekarang masih memiliki sangkut paut dengan makna asliny, tetapi sangkut paut tersebut sudah jauh sekali. Misalnya, kata ceramah, seni, pena, canggih, dan sebagainya.
d.   Penghalusan (Amelioratif), yaitu gejala yang ditampilkan oleh suatu leksem atau satuan bahasa dianggap memiliki makna yang lebih halus atau lebih sopan pada saat ini daripada makna satuan bahasa tersebut dahulu. Misalnya, lembaga pemasyarakatan, pemutusan hubungan kerja, dan sebagainya.
e.    Pengasaran (Peyoratif), artinya usaha untuk mengganti kata yang maknanya halus atau bermakna biasa dengan kata yang maknanya kasar. Usaha atau gejala pengasaran ini biasanya dilakukan dalam situasi yang tidak ramah atau untuk menunjukkan kejengkelan. Misalnya, mencaplok, mendepak, menggondol, dan sebagainya.
Menurut Chaer dan Leonie Agustina (1995:186), perubahan semantik yang paling sering terjadi adalah berupa perubahan pada makna butir-butir leksikal yang mungkin meluas, menyempit, atau berubah total. Hal senada juga diungkapkan oleh Ramadansyah (2010:22—23) yang menyatakan bahwa perubahan makna pada leksikon sebuah bahasa dapat terjadi karena proses sebagai berikut. Pertama, meluas (generalisasi), apabila cakupan makna sekarang lebih luas daripada yang lama, misalnya berlayar, bapak, saudara, putra. Kedua, menyempit (spesialisasi), apabila cakupan makna sekarang lebih sempit daripada makna yang lama, misalnya pendeta, sarjana, madrasah. Ketiga, peninggian makna (amelioratif), apabila arti baru dirasakan lebih baik daripada makna yang lama, misalnya wanita (dulu: perempuan); Bung (dulu: panggilan kepada lelaki, kini: panggilan kepada pimpinan/tokoh). Keempat, penurunan makna (peyoratif), apabila arti baru dirasakan lebih rendah dari arti yang dulu, misalnya, bini lebih rendah dari istri/nyonya, bunting lebih rendah daripada hamil. Kelima, pertukaran (sinestesia), apabila terjadi perubahan makna akibat pertukaran indra yang berlainan, misalnya namanya harum, suaranya halus, rupanya manis, kata-katanya pedas. Keenam, persamaan (asosiasi), apabila terjadi perubahan makna karena persamaan sifat, misalnya amplop bermakna uang sogok, bunga kembang bermakna gadis cantik, mencatut bermakna mencari keuntungan. Jadi berkaitan dengan makna kias.
3.      Analisis Contoh Perubahan Makna
1.    Meluas
a.         Kata papan yang semula hanya bermakna belahan pipih dari sebilah kayu, seperti pada kalimat ”Ayah memotong sebilah papan kemarin sore”, sekarang sudah meluas maknanya menjadi perumahan, seperti pada kalimat ”Manusia memerlukan sandang, pangan, dan papan”.
b.        Kata baju yang pada mulanya hanya bermakna pakaian sebelah atas dari pinggang sampai ke bahu, seperti dalam ungkapan baju batik, dan baju lengan panjang, tetapi dalam kalimat ”Murid-murid itu memakai bau seragam”, makna kata baju telah meluas menjadi benda yang bukan hanya baju, tetapi juga celana, sepatu, dasi, dan topi. Demikian juga dengan baju dinas, baju olah raga, dan baju militer.
c.         Kata saudara yang pada mulanya hanya bermakna keluarga seperut atau orang yang lahir dari kandungan yang sama, seperti dalam kalimat ”Orang yang sedang berdiri di depan rumah itu adalah saudara kandungku”, tetapi dalam kalimat ”Surat saudara sudah kami baca; jawabannya tunggu saja di rumah”, makna kata saudara telah meluas menjadi kata saapan yang sederajat, baik usia maupun kedudukan sosial.
d.        Kata berlayar dahulunya bermakna melakukan perjalanan dengan kapal atau perahu yang digerakkan oleh tenaga layar. Namun, meskipun tenaga penggerak kapal sudah diganti dengan mesin uap, mesin diesel, mesin turbo, tetapi kata berlayar masih tetap digunakan untuk menyebut perjalanan di air.
e.         Kata putera dan puteri dahulu hanya dipakai untuk anak-anak raja, sekarang semua anak lak-laki dan wanita disebut sebagai putera dan puteri, seperti pada kalimat ”Pesawat ini merupakan hasil karya dari putera-puteri Indonesia”.
f.         Kata kepala dahulu dihubungkan dengan bagian badan sebelah atas atau tempat otak. Sekarang, makna kata kepala telah melaus, sehingga lahirlah urutan kata kepala sekolah, kepala rumah sakit, kepala kejaksaan, kepala pemerintahan. Makna kepala sekolah yaitu orang yang mempunyai jabatan tertinggi pada sebuah sekolah.
g.        Kata kemudi dahulu dihubungkan dengan alat untuk menjaga kelurusan jalannya perhau atau kapal di perairan. Kini, muncul urutan kata mengemudikan perusahaan, mengemudikan pesawat, mengemudikan negara.
h.        Kata benih dahulu dihubungkan dengan bibit, misalnya benih padi. Jadi, berhubungan dengan pertanian. Kini, muncul urutan kata benih perkara, benih persengketaan. Kata benih dalam hal ini tidak berhubungan lagi dengan pertanian, tetapi bermakna pangkal/sumber.
i.          Kata haluan dahulu bermakna bagian depan kapal atau perahu yang menagcu pada arah. Kini, muncul urutan kata garis-garis besar haluan negara, berhaluan ekstrem, berhaluan kiri. kata haluan pada konteks tersebut bermkna aliran atau paham seseorang, paham yang diperjuangkan.
j.          Kata jurusan dahulu lebih banyak dihubungkan dengan arah perjalanan, misalnya jurusan Grogol, jurusan Tanah Abang. Kini, muncul urutan kata jurusan bahasa, jurusan teknik. Dalam hal ini, kata jurusan lebih mengacu pada spesialisasi atau bagian disiplin ilmu yang ditekuni. Terlihat di sini bahwa kata jurusan sudah mengalami perluasan makna, yaitu dari arah menjadi bidang atau spesialisasi.
k.        Kata kawat dahulu dihubungkan dengan benda yang seurat yang terbuat dari logam. Kini, muncul istilah mengirim kawat, mengawatkan, yang bermakna mengirim berita melalui kantor telekomunikasi, sperti pada kalimat ”Segera kawatkan meninggalknya ayah kepadanya”. Di sini tampak bahwa makna kata kawat telah meluas.
l.          Kata anak biasanya dihubungkan dengan turunan setelah ibu dan ayah. Kini, muncul urutan kata anak kunci, anak sungai, anak sekolah, anak bab. Urutan kata tersebut tidak dapat diterangkan secara biologis, sebab secara biologis, bab, kunci, sekolah, sungai, tidak mungkin akan beranak. Demikian pula dengan pengunaan kata awak yang dahulu bermakna diri sendiri, kini telah muncul urutan kata awak pesawat, awak bus, awak kereta api, awak kapal. Ungkapan ini bermakna seseorang yang bekerja pada pesawat, bus, kereta api, dan kapal.
m.      Kata kunci biasanya dihubungkan dengan alat untuk mengunci rumah, peti. Kini, muncul urutan kata juru kunci, kunci jawaban, kunci perdamaian, kunci keberhasilan. Urutan kata mengunci rumah mengacu kepada kegiatan menutup dan membuka rumah dengan kunci. Kunci keberhasilan mengacu pada kegiatan utama, kegiatan agar kita berhasil di dalam suatu usaha. Tampak di sini, hubungan maknanya tetap ada, meskipun makna kata kunci telah meluas.
n.        Kata lahir biasanya dihubungkan dengan proses biologis, keluarnya bayi dari kandungan ibu. Kini, telah muncul urutan kata ia melahirkan kata-kata, telah lahir tunas bangsa, lahir gol pertama. Terlihat di sini hubungan makna yang berkaitan dengan proses, meskipun maknanya telah meluas.
o.        Kata kandungan biasanya dikaitkan dengan bayi yang dikandung ibu di dalam perutnya. Kini, muncul urutan kata persoalan itu mengandung dua hal ini; apa yang terkandung di dalam hatinya sulit diterka. Kata ini mengandung makna leksikal yang berarti yang berada di dalam.
p.        Kata mencetak pada mulanya hanya digunakan pada bidang penerbitan buku, majalah, atau koran, tetapi kemudian maknanya menjadi meluas seperti dalam kalimat ”Persija tidak berhasil mencetak satu gol pun; Pemerintah akan mencetak sawah-sawah baru; Kabarnya dokter dapat mencetak uang dengan mudah”. Kata mencetak dalam kalimat-kalima tersebut bermakna membuat, menghasilkan, memperoleh, mencari, atau mengumpulkan.
q.        Kata target yang berarti sasaran, dahulu bermakna sinar yang ada di sekeliling perisai, maupun struktur yang menyerupai perisai, ditandai dengan lingkaran-lingkaran yang makin memusat, dan dibuat khusus untuk latihan menembak. Namun sekarang seperti dalam kalimat ”Penghasilan tahun ini harus melebihi dari target yang telah ditetapkan”. Makna target pada kalimat tersebut sudah meluas, tidak lagi hanya sekadar hal yang digunakan untuk latihan menembak, tetapi bermakna sesuatu yang harus dicapai.
r.          Kata songsong/menyongsong dahulu memiliki makna menyambut dengan payung kebesaran. Sekarang terdapat ungkapan menyongsong tamu, menyongsong hari raya, menyongsong masa depan, menyongsong musuh, menyongsong musim hujan. Makna kata menyongsong sekarang ini sudah melusa. Tidak harus dengan menggunakan payung kebesaran lagi.
s.         Kata jago yang semula hanya bermakna ayam jantan yang sudah dewasa, yang biasanya diadu dalam suatu aduan atau sabung ayam, sudah mengalami perluasan makna. Sekarang, kata ini bermakna sesuatu yang diharapkan menang dalam suatu pertandingan. Tidak hanya pada adu ayam, juga pada adu jangkrik, balapan kuda, balap sepeda motor/mobil, bahkan pada olahraga yang dilakukan manusia, seperti pidato, menyanyi, kecantikan, dan sebagainya.
t.            Kata kereta api dahulu dihubungkan dengan kereta yang benar-benar dijalankan dengan pertolongan api atau kayu bakar. Seiring dengan perkembangan zaman, manusia sudah dapat menciptakan mesin, tetapi kata kereta api masih tetap digunakan. Kata ini meluas tidak hanya mengenai kereta yang digerakkan dengan api atau kayu bakar, tetapi juga mengacu pada kereta yang sudah digerakkan dengan mesin.
2.        Menyempit
Perubahan makna yang menjadi penyempitan artinya jika dahulunya suatu kata atau satuan ujaran memiliki makna yang sangat umum, tetapi kini makna ujaran tersebut menjadi khusus atau sangat khusus (Chaer, 2012:314).
a.         Kata ahli pada awalnya menunjuk pada orang tertentu atau kelompok orang tertentu yang benar-benar mahir dan teruji keandalan dan kemahirannya dalam bidang tertentu. Namun sekarang, maknanya cenderung menyempit dan lebih banyak digunakan secara promotif, seperti pada ahli sumur, ahli pijat, ahli mesin, dan lain-lain.
b.        Kata sarjana pada awalnya adalah orang yang cerdik dan pandai, tetapi kini kata sarjana hanya bermakna orang yang telah lulus dari perguruan tinggi. Dewasa ini, betapa pun luas dan dalamnya ilmu seseorang, jika dia bukan lulusan perguruan tinggi, tidak bisa disebut sarjana.
c.         Kata pendeta dahulu bermakna orang yang berilmu, sekarang dipakai untuk menyebut guru agama Kristen atau Domine.
d.        Kata merawat biasanya dikaitkan dengan kegiatan merwat orang sakit di rumah. Orang yang merawat orang sakit disebut dengan perawat. Namun, sekarang tidak ada perawat yang bekerja di rumah., sebab orang yang disebut perawat yang kini biasa disebut dengan paramedis, biasanya bekerja di rumah sakit atau di rumah bersalin.
e.         Kata skripsi pada mulanya dihubungkan dengan tulisan tangan. Kini, maknanya lebih terbatas dan lebih menyempit, yaitu tulisan mahasiswa yang disusun sebagai persyaratan menempuh ujian untuk memperoleh gelar pada S-1.
f.          Kata tukang memiliki makna yang luas. Namun, apabila seseorang mengatakan tukang besi, tukang kayu, tukang mas, tukang weswl, tukang las, maka maknanya menjadi terbatas atau lebih menyempit. Makna yang diacu lebih terbatas kepada bidang pekerjaan yang berkaitan dengan keterampilan yang bersangkutan. Jika seseorang mengatakan tukang besi, maka yang dimaksud adalah orang yang pekerjaannya menempa besi menjadi perkakas, misalnya menjadi parang, pisau, pacul, dan perkakas lainnya. Jadi, makna yang diacu lebih terbatas kepada bidang pekerjaan yang berkaitan dengan keterampilan orang yang bersangkutan.
3.    Perubahan Total
Artinya makna yang dimiliki sekarang sudah jauh berbeda dengan makna aslinya (Chaer, 2012:314). Contoh perubahan total:
a.         Pada masa orde lama, kata subversi berarti upaya penyusupan yang dilakukan oleh agen-agen nekolim untuk menghancurkan revolusi. Gerakan intelektual seperti kelompok Manikebu (Manifesto Kebudayaan) dipandang sebagai subversi. Namun pada masa orde varu, kata subversi merujuk pada kegiatan antipembangunan yang dilakukan oleh ekstrem kanan atau ekstrem kiri, atau orang-orang yang melakukan kritik yang tidak bertanggung jawab.
b.        Pada masa orde lama, kata politik mempunyai konotasi yang positif, berkaitan dengan kegiatan yang mempunyai akses pada struktur kekuasaan. Namun pada masa orde lama, kata politik diartikan sebagai hal yang negatif, kegiatan yang tidak sejalan dengan elit penguasa. Politik merupakan hal yang jelek. Bangsa kita pernah menderita ketika politik menjadi panglima, tetapi akhir-akhir ini, secara perlahan politik mulai memiliki konotasi positif. Pada saat sekarang, orang-orang berbicara tentang partisipasi politik, pendidikan politik, sosialisasi politik, dan sebagainya.  
c.         Kata pena yang pada awalnya bermakna selembar bulu angsa, tetapi sekarang sudah hilang/lenyap, dan yang kini masih ada yaitu hanya gambar ikon atau simbolnya saja. Lalu, sekarang muncul makna baru yang berbeda dengan makna lama, yaitu menunjuk pada alat tulis yang memiliki tinta.
d.        Kata ceramah yang pada awalnya berarti banyak bicara, cerewet, atau banyak cakap, kini makna-makna tersebut telah berubah menjadi paparan atau uraian dalam bidang ilmu tertentu.
e.         Kata canggih yang pada awalnya juga berarti cerewet, bawel, banyak omong, tetapi kini makna tersebut telah berubah membentuk makna baru yang tidak bertautan dengan makna yang ditinggalkannya, yaitu sangat rumit, ruwet, modern, seperti pada kalimat ”Saat ini telah muncul berbagai barang elektronik yang canggih”.
f.         Kata sastra pada mulanya bermakna tulisan, huruf, lalu mengalam perubahan makna menjadi bacaan, kemudian berubah lagi menjadi buku yang baik isinya dan baik pula bahasanya. Selanjutnya, berubah lagi menjadi karya bahasa yang bersifat imajinatif dan kreatif.
g.        Pada zaman feodal dulu, untuk menyebut orang lain yang dihormati, digunakan kata tuan. Kini, kata tuan yang berbau feodal tersebut, diganti dengan kata bapak, sehingga terkesan lebih demokratis.
h.        Kata seni pada mulanya hanya berkenaan dengan ari seni, tetapi sekarang maknanya berubah menjadi karya cipta uang bernilai halus, seperti seni lukis, seni lukis, seni pahat, dan seni musik.
i.          Kata pujangga semula bermakna ular, kemudian bermakna sarjana. Kini, kata pujangga bermakna keahlian menciptakan roman, novel, atau puisi.
4.    Melemahkan Makna/Menghalus (Amelioratif)
Amelioratif artinya leksem atau satuan leksikal yang dahulu dirasakan kasar atau tidak sopan sekarang diganti dengan leksem atau satuan leksikal lain agar makna yang dirasakan halus atau sopan (Manaf, 2010:113). Contoh amelioratif:
a.         Di kantor sering terdengar atasan yang berkata kepada bawahannya ”Segera laksanakan!” perintah ini meskipun teras wajar, tetapi terkesan kasar. Untuk melemahkan makna urutan kata tersebut, digunakan kalimat ”Harap dikerjakan dalam waktu dekat; harap dikerjakan dalam waktu tidak terlalu lama”.
b.        Kata berpidato dan memberikan instruksi, dilemahkan maknya dengan jalan menggunakan kata memberikan pengarahan, memberikan pembinaan, melaksanakan serasehan, melaksanakan santiaji.
c.         Kata dipetieskan, dimapkan, didep, digunakan untuk melemahkan makna kata perkara atau urusan yang sengaja didiamkan.
d.        Kata air kencing dan tai memiliki makna yang menjijikkan. Untuk berbicara sopan, kata-kata ini perlu diganti dengan kata atau ungkapan lain, seperti air seni, urine, air kecil, pipis, air besar, serta tinja, dan feaces. Juga dengan tempat pembuangan benda-benda tersebut seperti wc dan kakus dapat diganti dengan kamar kecil, kamar belakang, lavatory, jamban, dan toilet.
e.         Kata uang sogok dan uang suap dapat diganti dengan uang semir, uang rokok, uang bensin, pelicin, dan sebagainya.
f.         Kata pelacur harus diganti dengan wanita tunasusila (WTS), wanita penghibur, pramunikmat, atau kupu-kupu malam. Kata pembantu atau babu harus diganti dengan pramuwisma.
g.        Kata pemulung harus diganti dengan sebutan laskar mandiri, karena bermakna pemungut barang-barang bekas dan tidak berharga, dan ia juga berjasa menjaga kebersihan lingkungan.
h.        Kata gelandangan harus diganti dengan tunawisma, karena berprofesi sebagai orang yang hidup menggelandang tanpa tempat tinggal. Pengangguran diganti dengan tunakarya, tahanan doganti dengan narapidana, dan penjara diganti dengan lembaga pemasyarakatan.
i.          Kata ayan diganti dengan epilepsi, kudis diganti dengan scabies, borok diganti dengan abses, buta diganti tunanetra, tuli diganti dengan tunarungu, bisu diganti dengan tunawicara, dan gila diganti dengan tunagrahita. Orang-orang yang menderita cacat sekarang tidak lagi sopan bila dikatakan penderita cacat, tetapi harus diganti dengan penyandang cacat.
j.          Kata korupsi dan manipulasi harus diganti dengan penyalahgunaan dan penyimpangan, kata ditangkap harus diperhalus menjadi diamankan, kata ditahan harus diganti dengan dimintai keterangan, kata dipecat harus diganti dengan diberhentikan dengan hormat atau dibebastugaskan.
k.        Kata mati harus diganti dengan meninggal atau tutup usia untuk orang biasa, wafat dan mangkat untuk raja, dan gugur untuk pahlawan, jenasah atau jasad untuk mengganti kaya mayat.
l.          Kata bodoh, tolol, dungu harus diganti dengan kata kurang atau lemah.
5.    Memburuk/Mengasar (Peyoratif)
Peyoratif artinya perubahan makna yang berupa leksem yang semula dirasakan halus kemudian karena faktor tertentu, makna leksem atau satuan leksikal tersebut dirasakan bermakna kasar. Contoh peyoratif:
a.         Kata mendepak dipakai untuk mengganti kata mengeluarkan seperti dalam kalimat ”Dia berhasil mendepak Bapak Ahmad dari kedudukannya”.
b.        Kata menjebloskan yang dipakai untuk menggantikan kata memasukkan seperti dalam kalimat ”Karena kesalahan yang dilakukannya, akhirnya polisi menjebloskannya ke dalam sel”.
c.         Kata menggondol biasa dipakai untuk binatang seperti dalam kalimat ”Anjing menggondol tulang” tetapi bisa digunakan seperti dalam kalimat ”Akhirnya regu bulu tangkis berhasil menggondol pulang piala Thomas Cup itu”.
d.        Kata mencuri seperti dalam kalimat ”Kontingen Suriname berhasil mencuri satu medali emas dari kolam renang” dianggap kasar, karena mencuri merupakan suatu tindak kejahatan yang dapat diancam dengan hukuman penjara.
e.         Kata dicekal merupakan pemedekan dari kata dicegah dan ditangkal. Kata ini dipakai untuk menggantikan kata pelarangan dan pencegahan seperti dalam kalimat ”Karena kasus yang dialaminya, ia sedang dicekal oleh pihak berwajib untuk jangka waktu yang relatif lama”. Kata dicekal dalam kalimat tersebut bermakna tindakan mencegah seseorang untuk berpergian ke luar negeri.
f.         Kata menipu biasa dipakai untuk menggantikan kata pembelian fiktif, pembayaran fiktif, penerimaan fiktif.
g.        Kata pemberontak dipakai untuk menggantikan kata gerakan pengacau keamanan.
h.        Kata pembantu dipakai untuk menggantikan kata kaki-tangan.
i.          Kata bini dipakai untuk menggantikan kata istri dan laki dipakia untuk menggantikan kata suami.

j.          Kata mampus digunakan untuk menggantikan kata mati.

MEDAN MAKNA DAN KOMPONEN MAKNA

1.      Medan Makna
Harimurti (1982) menyatakan bahwa medan makna ( semantic field, semantic domain) adalah bagian dari sistem semantik bahasa yang menggambarkan bagian dari bidang kebudayaan atau realitas dalam alam semesta tertentu dan yang direalisasikan oleh seperangkat unsur leksikal yang maknanya berhubungan. Kata atau unsur leksikal yang maknanya berhubungan dalam satu bidang tertentu jumlahnya tidak sama dari satu bahasa dengan bahasa lain, sebab berkaitan erat dengan kemajuan atau situasi budaya masyarakat bahasa yang bersangkutan. Misalnya pada silsilah kekerabatan dalam bahasa Indonesia masih belum lengkap. Kita belum berhubungan antara ego, misalnya (1) anak dari kemenakan, (2) anak dari sepupu, (3) anak dari besan yang bukan menantu, (4) anak dari moyang, (5) anak dari piut dan sebagainya.
Kata-kata yang berada dalam satu medan makna dapat digolongkan menjadi dua, yaitu yang termasuk golongan kolokasi dan goolongan set. Kolokasi (berasal dari bahasa latin colloco yang berarti ada di tempat yang sama dengan) menunjuk kepada hubungan sintagmatik yang terjadi aantara kata-kata atau unsur-unsur leksikal itu. Kata-kata yang berkolokasi ditemukan bersama atau berada dalam satu tempat atau satu lingkungan. Misalnya : pada kalimat penyerang tengah bernomor punggung tujuh itu memasukkan bola ke gawang dengan melewati pemain belakang dari pihak lawan yang ramai, kiper dari pihak lawan kewalahan menangkap bola tersebut sehingga wasit menyatakan gol. Kita dapat melihat kata-kata penyerang tengah, penyerang belakang, gol, bola, wasit, gawang, dan kiper berkolokasi dalam pembicaraan tentang olah raga sepakbola.
Dalam pembicaraan tentaang jenis makna ada istilah kolokasi, yaitu jenis makna kolokasi yaitu makna kata yang tertentu berkenaan dengan keterikatan kata tersebut dengan kata lain yang merupakan kolokasi. Misalnya kata tampan, cantik, dan indah sama-sama bermakna denotatif ‘bagus’. Tetapi kata tampan memiliki komponen atau ciri makna (+laki-laki) sedangkan kataa cantik memiliki komponen atau ciri makna (-laki-laki) dan kata indah memiliki komponen atau ciri makna (-manusia).
Set menjuk pada hubungan paradigmatik karena kata-kata atau unsur-unsur yang berada dalaam suatu set dapat saling menggantikan. Suatu set biasanya berupa sekelompok unsur leksikal dari kelas yang sama yang tampaknya merupakan satu kesatuan. Setiap unsur leksika dalam suatu set dibatasi oleh tempatnya dalam hubungan dengan anggota-anggota dalam set tersebut.
SET                   bayi                    dingin
(Paradigmatik)         kanak-kanak       sejuk
                                 remaja                hangat
                                 dewasa               panas
                                 manula                terik
kata remaja merupakan tahap pertumbuhan antara kanak-kanak dengan dewasa; sejuk adalah suhu di antara dingin  dengan hangat.
                                
2.      Komponen Makna
       Komponen makna atau komponen semantik (semantic feature, semantic property, atau semantic marker) mengajarkan bahwa setiap kata atau unsur leksikal terdiri dari satu atau beberapa unsur yang bersama-sama membentuk makna kata atau makna unsur leksikal tersebut.  Misalnyaa, kata ayah mengandung komponen makna atau unsur makna: +insan, +dewasa, +jantan dan +kawin dan ibu mengandung komponen makna; +insan,+dewasa,-jantan dan +kawin.
Komponen Makna
Ayah
Ibu
1.       Insan
+
+
2.      Dewasa
+
+
3.      Jantan
+
-
4.      kawin
+
+
            Konsep analisis ini (lazim disebut analisis biner) oleh para ahli kemudian diterapkan juga untuk membedakan makna suatu kata dengan kata lain. Analisis biner ini dapat pula digunakan untuk mencari perbedaan semantik kata-kata yang bersinonim.
       Dari pengamatan terhadap data/unsur-unsur leksikal, ada tiga hal yang perlu dikemukakan sehubungan dengan analisis biner tersebut, yaitu:
-          Pertama, ada pasangan kata yang salah satu daripadanya lebih bersifat netral atau umum sedaangkan yang lain bersifat khusus. Misalnya, pasangan kata mahasiswa dan mahasiswi. Kata mahasiswa lebih bersifat umum dan netral karena dapat termasuk “pria” dan “wanita”. Sebaliknya kata mahasiswi lebih bersifat khusus karena hanya mengenai “wanita”.
-          Kedua, ada kata atau unsur leksikal yang sukar dicari pasangannya karena memang mungkin tidak ada; tetapi ada juga yang mempunyai pasangan lebih dari satu. Contoh kata atau unsur leksikal yang pasangannya lebih dari satu adalah kata berdiri. Kata berdiri bukan hanya bisa dipertentangkan dengan kata duduk, tetapi dapat juga dengan kata tiarap, rebah, tidur, jongkok, dan berbaring.
-          Ketiga, sukar mengatur ciri-ciri semantik itu secara bertingkat, mana yang lebih bersifat umum dan mana yang lebih bersifat khusus. Umpamanya ciri (jantan) dan (dewasa), bisa bersifat umum (jantan) dan bisa juga bersifat umum (dewasa).
3.        Kesesuaian Semantik dan Gramatis
            Seorang penutur suatu bahasa dapat memahami dan menggunakan bahasanya bukanlah karena dia menguasai semua kalimat yang ada di dalam bahasanya itu, melainkan karena adanya unsur kesesuaian atau kecocokan ciri-ciri semantik antara unsur leksikal yang satu dengan unsur yang lain. Umpamanya, antara katawanita dan mengandung ada  kesesuaian ciri semantik.
            Kesesuaian ciri ini berlaku bukan hanya pada unsur-unsur leksikal saja tetapi juga berlaku antara unsur leksikal dan unsur gramantikal.Umpamanya, kata seekor hanya sesuai dengan kata ayam tetapi tidak sesuai dengan kata ayam-ayam, yaitu bentuk reduplikasi dari kata ayam. Kata seekor sesuai dengan kata ayam karena keduanya mengandung ciri (+tunggal); sebaliknya kata seekor tidak sesuai dengan kata ayam- ayam karena kata seekorberciri makna (+tunggal) sedangkan ayam-ayam berciri makna(-tunggal).
       Para ahli tata bahasa generatif semantik seperti Chafe (1970) dan Fillmore (1971),  berpendapat setiap unsur leksikal mengandung ketentuan-ketentuan penggunanaannya yang sudah terpateri yang bersifat gramatikal dan bersifat semantis. Ketentuan-ketentuan gramatikal memberikan kondisi-kondisi gramatikal yang berlaku jika suatu unsur gramatikal hendak digunakan. Umpamanya kata kerja makan dalam penggunaannya memerlukan adanya sebuah subyek dan sebuah obyek (walaupun disini objek ini bisa dihilangkan).
        Oleh karena itulah kalimat Adik makan dendeng atau kucing makan dendeng dapat diterima, sebab adik  maupun kucing  mengandung ciri makna (+bernyawa) dan dendeng  mengandung ciri makna (+makanan). Tetapi kalimat *Pensil makan dendeng dan kalimat Adik makan lemari tidak dapat diterima karena kata pensil pada kalimat pertama mengandung ciri makna (-bernyawa) dan kata lemari pada kalimat kedua mengandung ciri makna (-makanan). Jadi tidak dapat diterimanya kedua kalimat itu bukanlah karena masalah gramatikal, melainkan karena masalah semantik.
SOAL SEMANTIK

JENIS MAKNA

  1. Makna Leksikal dan Makna Gramatikal
    1. Makna Leksikal

Makna Leksikal adalah makna dasar sebuah kata yang sesuai dengan kamus. Makna dasar ini melekat pada kata dasar sebuah kata. Makna leksikal juga dapat disebut juga makna asli sebuah kata yang belum mengalami afiksasi (proses penambahan imbuhan) ataupun penggabungan dengan kata yang lain. Namun, kebanyakan orang lebih suka mendefinisikan makna leksikal sebagai makna kamus.

Contoh:

  1. Rumah
  2. Cerai
  3. Bulpoin
  4. Kerbau
  5. Buku
  1. Makna Gramatikal

Makna Gramatikal adalah makna kata yang terbentuk karena penggunaan kata tersebut dalam kaitannya dengan tata bahasa. Makna gramatikal muncul karena kaidah tata bahasa, seperti afiksasi, pembentukan kata majemuk, penggunaan kata dalam kalimat, dan lain-lain.

Contoh:

  1. Berlari = melakukan aktivitas
  2. Bersedih = dalam keadaan
  3. Bertiga = kumpulan
  4. Berpegangan = saling
  5. Berjanji : Melakukan atau mengucap janji
  1. Makna Referensial dan Konotatif
    1. Makna Referensial

Makna Referensial adalah makna yang berhubungan langsung dengan kenyataan atau referent (acuan), makna referensial disebut juga makna kognitif, karena memiliki acuan. Makna ini memiliki hubungan dengan konsep, sama halnya seperti makna kognitif. Hubungan yang terjalin antara sebuah bentuk kata dengan barang, hal, atau kegiatan (peristiwa) di luar bahasa tidak bersifat langsung, ada media yang terletak di antaranya. Kata merupakan lambang (simbol) yang menghubungkan konsep dengan acuan.

Contoh :

  1. Orang itu menampar orang.
  2. Orang itu menampar dirinya.
  3. Manusia itu menginjak manusia.
  4. Orang itu menduduki masyarakat.
  5. Kampung itu terpencil dengan kampong lain.
  1. Makna Nonreferensial

Makna nonreferensial adalah sebuah kata yang tidak mempunyai referen (acuan). Seperti kata preposisi dan konjungsi, juga kata tugas lainnya. Dalam hal ini kata preposisi dan konjungsi serta kata tugas lainnya hanya memiliki fungsi atau tugas tapi tidak memiliki makna. Berkenaan dengan bahasan ini ada sejumlah kata yang disebut kata-kata deiktis, yaitu kata yang acuannya tidak menetap pada satu maujud, melainkan dapat berpindah dari maujud yang satu kepada maujud yang lain. Yang termasuk kata-kata deiktis yaitu: dia, saya, kamu, di sini, di sana, di situ, sekarang, besok, nanti, ini, itu.

Contoh:

  1. Tadi dia duduk di sini
  2.  ”Hujan terjadi hampir setiap hari di sini”, kata walikota Bogor.
  3. Di sini, di Indonesia, hal seperti itu sering terjadi.
  4. Kamu tau kan besok itu hari apa?
  5. Jadi, apa yang saya harus lakukan sekarang?

Pada kalimat (a) kata di sini menunjukan tempat tertentu yang sempit sekali. Mungkin bisa dimaksudkan sebuah bangku, atau hanya pada sepotong tempat dari sebuah bangku. Pada kalimat (b) di sini menunjuk pada sebuah tempat yang lebih luas yaitu kota Bogor. Sedangkan pada kalimat (c) di sini merujuk pada daerah yang meliputi seluruh wilayah Indonesia. Jadi dari ketiga macam contoh diatas referennya tidak sama oleh karena itu disebut makna nonreferensial (d) besok menunjukkan bahwa seseorang mengingatkan pada teman / pacarnya tentang sesuatu yang ada di hari setelah ini (e) sekarang merujuk kepada seseorang yang sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa.

  1. Makna Denotatif dan Konotatif
  2. Makna Denotatif

Makna Denotatif adalah makna asli, makna asal atau makna sebenarnya yang dimiliki sebuah leksem.

Contoh:

  1. Kurus, diartikan sebagai  keadaan tubuhnya yang lebih kecil dan ukuran badannya normal.
  2. babi adalah binatang ternak, babi mempunyai makna konotatif, najis.
  3. Cella baru saja di pecat dari pekerjaannya.
  4. Milli seorang gadis buta yang pintar.
  5. Badan sebesar gajah begitu tidak akan muat bila dia memakainya.
  1. Makna Konotatif

Makna Konotatif adalah makna lain yang ditambahkan pada makna denotatif tadi yang berhubungan dengan nilai rasa orang atau kelompok orang yang menggunakan kata tersebut.
Contoh:

  1. Kurus artinya tidak memiliki nilai rasa yang mengenakkan, tetapi kata ramping bersinonim dengan kata kurus itu memiliki konotatif positif, nilai yang mengenakkan. Orang akan senang bila dikatakan ramping.
  2. Babi, berkonotasi negatif bagi orang Islam tetapi tidak bagi orang non Islam. Makna  konotasi berbeda dengan makna kias karena makna kias menurut sapa bertujuan memerintah kata.
  3. Bunga, diartikan sebagai ‘bagian tumbuhan yang digunakan sebagai alat reproduksi atau berkembang biak’.
  4. Dia baru saja dirumahkan dari pekerjaannya.
  5. Miki adalah seorang tuna rungu yang berprestasi.
  1. Makna Kata dan makna Istilah
  2. Makna Kata

Makna kata, walaupun secara sinkronis tidak berubah, tetapi karena berbagai faktor dalam kehidupan dapat menjadi bersifat umum. Makna kata itu baru menjadi jelas kalau sudah digunakan dalam suatu kalimat.

Contoh:

  1. Kata tahanan, bermakna orang yang ditahan,tapi bisa juga hasil perbuatan menahan.
  2. Kata air, bermakna air yang berada di sumur, di gelas, di bak mandi atau air hujan.
  3. Budi tidur siang pukul satu siang sehabis shalat zuhur.
  4. Pelayaran ke negara Perancis itu dipimpin oleh Kapten Sugianto.
  5. Saya bercita-cita ingin menjadi sarjana pendidikan.
  1. Makna Istilah

Makna istilah memiliki makna yang tetap dan pasti. Ketetapan dan kepastian makna istilah itu karena istilah itu hanya digunakan dalam bidang kegiatan atau keilmuan tertentu.
Contoh:

  1. Kata tahanan masih bersifat umum, istilah di bidang hukum, kata tahanan itu sudah pasti orang yang ditahan sehubungan suatu perkara.
  2. Bunga sudah tidur dari pekerjaannya sebagai sekretaris.
  3. Ibu Yuli sudah Tutup buku tahun lalu.
  4. Ustadz Jefri Al Bukhori Tutup usia pada hari jum’at tanggal 26 April 2013
  5. Sulastri di kuburkan pada pembaringan terakhirnya di TPU jeruk purut.
  1. Makna Konseptual dan Makna Asosiatif
    1. Makna Konseptual

Makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari konteks atau asosiasi apapun.

Contoh:

  1. Kata kuda memiliki makna konseptual “sejenis binatang berkaki empat yang bisa dikendarai”.
  2. kata Rumah memiliki makna konseptual “bangunan tempat tinggal manusia”.
  3. Kata buaya yang berarti ‘binatang melata karnivora purba yang hidup di air dan memiliki sisik tajam’. Arti kata itu berlaku pada kalimat berikut ‘Adik melihat penangkapan buaya di pinggir sungai’
  4. Hati sapi ini enak sekali diolah menjadi makanan lezat.
  5. Kata ‘ibu’ yakni ‘manusia berjenis kelamin perempuan dan telah dewasa’.
  1. Makna Asosiatif

Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah leksem atau kata berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan suatu yang berada di luar bahasa .

Contoh:

  1. Kata melati berasosiasi dengan suatu yang suci atau kesucian.
  2. Kata merah berasosiasi berani atau paham komunis.
  3. Kata putih berasosiasi melambangkan kesucian bagi negara indonesia.
  4. Kata garuda berasosiasi melambangkan negara indonesia.
  5. Kata kembang berasosiasi dengan sebutan untuk kota bandung.
  1. Makna Idiomatikal dan Peribahasa
    1. Makna Idiomatikal

Idiomatikal adalah satuan-satuan bahasa (ada berupa baik kata, frase, maupun kalimat) maknanya tidak dapat diramalkan dari makna leksikal, baik unsur-unsurnya maupun makna gramatikal satuan-satuan tersebut.

Contoh:

  1. Piring terbang itu pernah kulihat di kawasan puncak Bogor.
  2. Anak yang pertama dilahirkan dengan cara bedah Caesar.
  3. Ibu sedang membaca tajuk rencana yang ia baca di surat kabar pagi ini.
  4. Kata-katanya amat menyejukkan hati.
  5. Aku adalah anak semata wayang orang tuaku.
  1. Makna Peribahasa

Makna pribahasa bersifat memperbandingkan atau mengumpamakan, maka lazim juga disebut dengan nama perumpamaan. Bagai, bak, seperti, laksana dan umpama lazim digunakan dalam peribahasa.

Contoh:

  1. Bagai air didaun talas.
  2. Bagai pinang dibelah dua.
  3. Seperti lembu dicucuk hidung
  4. Seperti cendawan tumbuh selepas hujan
  5. Bagai roda pedati, sekali ke atas, sekali ke bawah.
  1. Makna Kias

Makna kias adalah kata, frase dan kalimat yang tidak merujuk pada arti sebenarnya.

Contoh:

  1. Putri malam, bermakna bulan.
  2. Raja siang, bermakna matahari.
  3. Kembang perawan, bermakna gadis yang masih ting-ting.
  4. Kembang desa, bermakna gadis yang cantik
  5. Mahkota wanita, bermakna rambut wanita.
  1. Makna lokusi, ilokusi dan perlokusi.

Lokusi :

  1. Dasar tindakan dalam  suatu ujaran.
  2. Tindakan mengaitkan topic dengan keterangan makna dasar sebuah tuturan.

Ilokusi :

  1. Tindakan atau maksud yang menyertai sebuah ujaran.
  2. Daya yang ditimbulkan oleh sebuah ujaran.

Perlokusi :

  1. Pengaruh atau efek dari pertuturan lokusi dan ilokusi.
  2. Hasil dari tuturan terhadap pendengarnya.

Contoh:

“suara kamu begitu indah untuk di dengar”.

Lokusi : ujuaran tersebut hanya sebuah pernyataan bahwa suaranya jelek.

Ilokusi : ujaran tersebut bisa berarti pujian, keluhan, ataupun ejekan.

Perlokusi : ujaran tersebut dapat membuat pendengarnya merasa senang dan bangga karena

mendapat pujian dan bisa juga marah-marah karena mendapat ejekan.

PROSA, FIKSI DAN DRAMA


PROSA

A. PENGERTIAN PROSA /FIKSI

Prosa dalam kesusastraan sering disebut juga dengan istilah fiksi. Kata prosa diambil dari bahasa Inggris, yakni prose. Prosa atau fiksi memiliki arti sebuah karya naratif yang menceritakan sesuatu yang bersifat rekaan, khayalan, tidak berdasarkan kenyataan atau dapat juga berarti suatu kenyataan yang  yang lahir berdasarkan khayalan.

Sudjiman (1984:17) menyatakan bahwa fiksi adalah cerita rekaan, kisahan yang mempunyai tokoh, lakuan, dan alur yang dihasilkan oleh daya khayal atau imajinasi. Jika berbicara fiksi, maka konteksnya mengingatkan kepada karya sastra. Sebaliknya jika berbicara karya sastra, maka konteks tersebut akan mengarahkan kepada sebuah karya sastra yang bersifat fiktif.

Secara umum prosa/fiksi memiliki arti sebuah cerita rekaan yang kisahannya mempunyai aspek tokoh, alur, tema, dan pusat pengisahan yang keseluruhannya dihasilkan oleh daya imajinasi pengarang.

Cerita fiksi dihasilkan oleh daya imajinasi pengarang, maka seluruh aspek yang ada di dalam sebuah prosa tentunya juga berdasarkan khayalan. Usaha penciptaan peristiwa atau pun tokoh sebagai sesuatu yang benar-benar terjadi dalam cerita tersebut dapat ditinjau dari dua faktor utama.

1. Faktor proses

Proses penciptaan dilihat dari subjektifitas sastrawan saat memproses alam sekitarnya dengan imajinasinya.

2. Faktor sumber penciptaan

Semua hal yang terjadi di dalam semesta, terutama yang berlangsung di sekitar kehidupan pengarangnya.

Subjektifitas pengarang turut menentukan bobot sebuah fiksi. Semakin tajam imajinasi pengarang ketika menciptakan permasalahan dalam cerita, biasanya semakin berbobot fiksi tersebut. Dengan demikian, maka semakin terintgrasi pula pengarang tersebut sebagai seorang sastrawan. Keindahan dan manfaat yang tercipta dalam sebuah fiksi dijadikan sebagai tolak ukur untuk menetapkan berbobot tidaknya sebuah karya sastra.

Ketika membaca sebuah fiksi agaknya kita tenggelam ke dalam dunia khayalan karena secara fisik diam tetapi secara batin sangat aktif untuk mengikuti sejauh imajinasi yang diciptakan pengarang.

B. JENIS-JENIS PROSA/FIKSI

Ditinjau dari segi penyebarannya, prosa/fiksi dapat dikelompokkan menjadi dua, yakni prosa lama (tradsional) dan prosa modern. Prosa tradisional lebih sering dikenal dengan prosa lisan sementara prosa modern dikenal denga prosa tulisan. Fiksi tradisional lebih mengandalkan oral gestur yang awalnya berkembang dalam masyarakat daerah yang belum memiliki tradisi tulis.

a. Prosa Lama

Untuk mengenal fiksi tradisional dapat dilihat ciri-ciri dari fiksi tersebut, yakni:

1)      Interpolasi; penambahan atau pengisian unsur-unsur baru pada bahan cerita.

2)       varian; suatu versi yang mempunyai perbedaan pokok dengan versi cerita lainnya. Dalam versi ini memiliki ciri penyebarannya dari mulut ke mulut, versinya berbeda-beda, bersifat anonim,menciptakan manfaat.

Dalam kesastraan, prosa lama muncul sebagai tradisi lisan. Pada prosa lama dikenal

  1.  dongeng,
  2. mite,
  3. legenda,
  4. fabel,
  5. hikayat,
  6. cerita penggeli hati, dan
  7. cerita perumpamaan.

a)      Dongeng adalah cerita yang sepenuhnya merupakan hasil imajinasi atau khayalan pengarang yang diceritakan seluruhnya belum pernah terjadi.

b)      Fabel adalah cerita rekaan tentang binatang dan dilakukan atau para pelakunya binatang yang diperlakukan seperti manusia.

c)      Hikayat adalah cerita, baik sejarah, maupun cerita roman fiktif yang dibaca untuk pelipur lara, pembangkit semangat juang, atau sekedar untuk meramaikan pesta.

d)     Legenda adalah dongeng tentang suatu kejadian alam, asal usul suatu tempat, benda, atau kejadian di suatu tempat atau daerah.

e)      Mite adalah cerita yang mengandung atau berlatar belakang sejarah atau hal yang sudah dipercayai orang banyak bahwa cerita tersebut pernah terjadi dan mengandung hal-hal gaib.

Contoh: cerita Nyi Roro Kidul

}  Cerita penggeli hati sering diistilahkan dengan cerita noodlehead karena terdapat dalam hampir semua budaya rakyat.

Contoh: cerita si kabayan.

}  Cerita perumpamaan adalah dongeng yang mengandung kiasan atau ibarat yang berisi nasihat dan bersifat mendidik.

b. Prosa Modern

Dari khasanah sastra modern, dikenal adanya beberapa jenis karya prosa/fiksi, yakni novel dan cerita  pendek. Perbedaan antara cerpen dengan novel harus dilihat dari kekhasan strukturnya dan karakteristik permasalahannya.

Cerpen; hanya mengungkapkan kesatuan permasalahan saja, yakni dengan mengungkapkan sebuah permasalahan disertai dengan faktor penyebab dan akibatnya.

Novel; memuat beberapa kesatuan permasalahan yang membentuk rantai permasalahan, diikuti faktor penyebab dan akibatnya, peristiwa yang terjadi dapat terulang kembali dengan melihat akibat yang muncul sebagai penyebab permasalahan lain muncul.

Secara sederhana perbedaan tersebut dapat terlihat bahwa cerpen mengutamakan penyajian lintasan peristiwa untuk merangkum sebuah permasalahan. Sebaliknya novel mengutamakan kesempurnaan penyajian peristiwa untuk menyajikan permasalahan sejelas mungkin sehingga peristiwa dalam novel terkesan utuh.

Dari berbagai ragam cerpen yang berkembang, dapat digolongkan atas: cerpen absurd dan cerpen suasana batin.

v   cerpen absurd; cerpen yang tidak masuk akal atau cerpen yang mustahil terjadi. Contoh cerita superman.

v   cerpen suasana batin; cerpen yang mampu membawa pembaca masuk ke dalam suasana batin bahkan hanyut dan lebur ke dalam diri tokoh, seakan-akan kita menjadi tokoh tersebut.

v  cerita anak; cerita yang ditulis untuk anak-anak sesuai dengan usianya. Bentuknya bisa serial, cerita bergambar.

v   cerita keajaiban; yakni cerita sihir dan peri gaib, yang biasanya melibatkan unsur percintaan dan petualangan.

v   cerita fantasi; menggambarkan dunia yang tidak nyata, menceritakan hal-hal aneh, menggambarkan suasana yang asing dan peristiwa yang sukar diterima akal.

v  cerita fiksi ilmu pengetahuan; cerita dengan unsur fantasi yang didasarkan pada hipotesis tentang ramalan yang masuk akal berdasarkan pengetahuan, teori, dan spekulasi ilmiah.

Selanjutnya ragam fiksi modern yakni novel. Novel Indonesia terbagi atas novel yang terintegrasi dan yang tidak terintegrasi.

  • Novel terintegrasi adalah novel yang menyajikan struktur yang mendukung sistem sosial ekonomi yang ada.
  • Novel tak integrasi adalah novel yang tidak mendukung sistem sosial ekonomi.

Novel Terintegrasi

Novel terintegrasi berasal dari anggapan bahwa karya sastra berisi ajaran yang baik secara langsung maupun tak langsung mendukung sistem sosial ekonomi.

Novel yang terintegrasi dapat dibedakan menjadi dua:

}   novel yang menggunakan tradisi atau budaya lokal sebagai alat untuk penyesuaian dengan sistem yang ada,

}  Novel yang menggunakan agama untuk tujuan pendukung sistem atau struktur tersebut.

Novel warna budaya lokal

Pengertian warna lokal mencakup masalah:

  1. Penggunaan bahasa; mencakup kata atau diksi, struktur, dan idiom-idiom lokal.
  2. Cara berpikir; mencakup idealis  dan pragmatis.
  3. Pelukisan adat istiadat.
  4. Adanya kepercayaan rakyat, baik secara kolektif maupun individual.
  5. Sikap hidup; baik vertikal maupun horizontal.

Pemanfaatan warna lokal

  1. Dirasa bahasa Indonesia kurang ekspresif atau kurang ekonomis (tidak dapat mengangkat suatu pengertian dari suatu kata).
  2. Ada sesuatu yang hanya ada pada tempat di daerah, sementara dalam bahasa Indonesia tidak menyediakan.
  3. Untuk memberikan corak realis yang kuat.

Novel warna agama

Novel warna agama beranggapan bahwa seni adalah suatu kumpulan seluruh kehadiran manusia. Novel ini tidak memberikan jawaban tetapi justru memberikan pernyataan.

Novel ini dilatarbelakangi oleh:

  • Motif-motif dalam kesusastraan, yaitu persoalan pencarian identitas sastrawan.
  • Motif-motif di luar kesusastraan, yaitu pengaruh penggolongan serta realitas antara golongan di dalam masyarakat.

Novel tak terintegrasi

Novel yang tak terintegrasi dalah novel yang tidak mendukung secara langsung sistem sosial ekonomi masyarakat di mana karya sastra itu lahir. Hal ini muncul atas dasar kesadaran :

  • Mereka sadar bahwa sastra novel sebagai suatu yang mencoba memberikan arti terhadap kehidupan, tidak mungkin akan dapat memengaruhi mekanisme kehidupan.
  • Sastra dianggap sebagai mental exercise, suatu pemikiran tanpa memperhatikan hubungannya dengan kenyataan.
  • Penulis novel telah menghasilkan karya yang lebih mementingkan karya sastra sebagai suatu latihan pemikiran, dan tidak memperhatikan soal penyampaian amanat sebuah moral sastra pada publik.

Contoh novel merahnya merah, kering, ziarah ( Iwan simatupang); olenka, rafilus (Budi darma); dll.

UNSUR-UNSUR PEMBANGUN FIKSI

A. Unsur ekstrinsik

Unsur yang membangun sebuah fiksi yang berasal dari luar sastra. Unsur ekstrinsik fisik yang utama adalah pengarang, sensitivitas pengarang, pandangan hidup pengarang (tata nilai masyarakat, ideologi, konvensi budaya, konvensi sastra, konvensi bahasa).

B. Unsur intrinsik

Unsur yang membangun dari dalam fiksi tersebut.

Dapat dibedakan menjadi dua, yakni unsur bentuk  dan unsur isi atau lebih dikenal dengan unsur fisik dan unsur mental.

Unsur bentuk (fisik): alur, tokoh dan penokohan, latar, sudut pandang, dan gaya bahasa.

Unsur isi (mental): tema dan amanat.

v Plot: Cara pengarang menyusun dan menghadirkan peristiwa-peristiwa dalam suatu cerita sastra yang berdasarkan hubungan kausalitas (sebab-akibat).

Plot cerita tidak selalu berurutan, pengarang yang kreatif akan menyusun peristiwa cerita sehingga cerita menjadi absurd.

Elemen-elemen plot:

  • Situation: Memaparkan peristiwa
  • Generation: Peristiwa mulai begerak
  •  Rising action: keadaan mulai memuncak
  •  Climax: peristiwa memuncak
  •  Denoument: Peleraian, pemecahan persoalan.
  • Penokohan: Cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan watak tokohnya dalam cerita.

Tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berkelakuan di dalam cerita.

Berdasarkan  fungsinya tokoh dibedakan menjadi tokoh sentral dan tokoh bawahan.

Tokoh dan penokohan dalam cerita dikenal:

1. Protagonis

2. Antagonis

Tokoh protagonis selalu menjadi tokoh yang sentral dan menjadi pusat sorotan di dalam kisahan.

Untuk menentukan tokoh utama bukan dari frekuensi kemunculannya melainkan intensitas keterlibatan tokoh dalam peristiwa yang membangun cerita.

Tokoh antagonis atau tokoh lawan juga termasuk tokoh sentral.

Tokoh antagonis merupakan penentang tokoh utama. Tokoh ini mewakili pihak yang jahat atau yang salah.

Pertentangan yang terjadi merupakan suatu peristiwa yang sengaja dimunculkan untuk membedakan tokoh protagonis dan antagonis.

Tokoh bawahan sangat diperlukan untuk menunjang atau mendukung tokoh utama. Tokoh semacam ini sering disebut tokoh andalan. Untuk menyampaikan pikiran dan perasaan tokoh utama, tidak perlu selalu menggunakan monolog tokoh utama.

Tokoh bawahan ini dibedakan atas tokohh datar dan tokoh bulat. Tokoh datar bersifat statis, watakny sedikit sekali berubah bahkan tidak berubah sama sekali.

Tokoh bulat disebut juga tokoh kompleks.  Tokoh ini mampu memberikan kejutan dengan perubahan-perubahan wataknya.

Seorang pengarang  untuk menentuka tokoh dan penokohan menggunakan metode langsung dan metode tak langsung. Metode langsung adalah metode yang digunakan untuk memaparkan watak tokohnya, memberi komentar tentang watak tokoh tersebut.

Apresiasi prosa Indonesia

Kata apresiasi secara harfiah berarti‘penghargaan’ terhadap suatu objek, hal, kejadian, atau pun peristiwa. Apresiasi itu berarti memberi penghargaan dengan sebaik-baiknya dan seobjektif mungkin terhadap karya sastra khususnya prosa itu

Penghargaan yang seobjektif mungkin, artinya penghargaan itu dilakukan setelah karya sastra itu kita baca, kita telaah unsur-unsur pembentuknya, dan kita tafsirkan berdasarkan wawasan dan visi kita terhadap karya sastra itu.

Dalam apresiasi dengan tujuan memberikan penghargaan terhadap karya prosa itu, kita haruslah bisa “membongkar” dan menerangjelaskan hal-hal yang berkenaan dengan ukuran keindahan dan “kelebihan” karya prosa itu. Dengan demikian, penghargaan yang diberikan dapat diharapkan bersifat tepat dan objektif.

Apresiasi dapat dilakukan melalui beberapa tahap kegiatan. Tahap-tahap itu yakni:

}  Tahap penikmatan atau menyenangi. Tindakan operasionalnya pada tahap ini
misalnya membaca karya sastra (puisi maupun novel}, menghadiri acara deklamasi, dan sebagainya.

}  Tahap penghargaan. Tindakan operasionalnya, antara lain, melihat kebaikan, nilai, atau manfaat suatu karya sastrahususny khususnya prosa, dan merasakan pengaruh suatu karya ke dalam jiwa, dan sebagainya.

}  Tahap penghayatan. Tindakan operasionalnya adalah menganalisis lebih lanjut akan suatu karya, mencari hakikat atau makna suatu karya beserta argumentasinya; membuat tafsiran dan menyusun pendapat berdasarkan analisis yang telah dibuat.

}  Tahap penerapan. Tindakan operasionalnya adalah melahirkan ide baru, mengamalkan penemuan, atau mendayagunakan hasil operasi dalam mencapai material, moral, dan struktural untuk kepentingan sosial, politik, dan budaya.

Pembelajaran apresiasi dimulai dengan

(a) guru memilih bahasa yang cocok, mempelajari dulu,

(b) menyuruh siswa membaca dengan baik,

(c ) membimbing siswa untuk menelaah unsur-unsur prosa tersebut,dan

(d) meminta siswa menyusun laporan tentang   karya yang dibacam dengan   bimbingan guru.

Karya prosa modern Indonesia dimulai dari buku-buku terbitan Balai Pustaka seperti Si Jamin dan Si Johan, Siti Nurbaya, Salah Asuhan, Saiah PiHhj Sengsara MembawaNikmat, dan sebagainya.

Di luar Balai Pustaka sebenarnya ada pula buku-buku cerita yang diterbitkan; tetapi karena bahasanya “kurang terpelihara”, maka sering tidak dianggap atau tidak dibicarakan sebagai karya sastra Indonesia.

Prosa-prosa produk zaman Balai Pustaka kebanyakan karya mengangkat persoalan adat sebagai tema dan belum mengangkat masalah sosial budaya.

Oleh karena itu, konflik-konflik yang terjadi hanyalah seputar pertentangan golongan yang mempertahankan adat dengan golongan yang ingin meninggalkan adat karena dianggap mengekang kebebasan dan kemajuan.

Zaman Balai Pustaka dilanjutkan oleh yang disebut Angkatan Pujangga Baru.

Prosa pada angkatan ini sudah tidak banyak lagi bertemakan adat atau pertentangan adat tetapi sudah mengangkat juga persoalan sosial seperti dalam roman Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisyahbana yang mengangkat masalah emansipasi wanita; novel Belenggu karya Armyn pane yang mengangkat masalah kehidupan sosial seorang dokter, istrinya, dan seorang pasien wanita.

Zaman Jepang (1940-1945) adalah zaman susah akibat perang Asia Timur Raya dan pendudukan tentara Jepang atas Indonesia.

Pada masa ini karya sastra kebanyakan berupa puisi yang bersifat simbolis karena tidak berani berterang-terangan, takut akan ancaman kompeni Jepang.

Prosa yang muncul hanyalah berupa corat-caret, sketsa, dan kisah-kisah pendek dari pengarang Idrus. Itu pun baru diumumkan setelah Jepang kalah perang. Judul-judul prosanya antara lain “Corat-Caret di bawah Tanah”. “Kota harmoni”, Sanyo”, “Oh..oh”, dan “Aki”.

Setelah Jepang pergi pada tahun 1945, dan negeri kita diamuk suasana revolusi sejumlah karya prosa muncul. Pada 1948 terbit karya Idrus yakni kumpulan cerita pendek yang dimulai dengan cerpen “Ave Maria” dan berakhir dengan cerpen “Jalan lain ke Roma”

Namun, didalam buku itu pun ada naskah drama yang berjudul “Kejahatan Membahas dendam”.

Pengarang lain adalah Pramudya Ananta Tur yang dalam prosa-prosanya banyak melukiskan kedahsyatan revolusi Indonesia.

Karyanya antara lain Keluarga Gerilya (novel), Mereka yang Dilumpuhkan (novel), Percikan Revolusi/kumpulan (cerpen), Perburuan (novel), Subuh (novel), dan Di Tepi Kali Bekasi (novel).

Novel lain yang muncul pada masa revolusi adalah Atheis karangan Achdiat Karta Mihardja, Tidak Ada Esok dan Jalan Tak ada Ujung karangan Mochtar Lubis.

Revolusi berakhir pada akhir Desember 1949 dan Indonesia secara de facto dan de yure menjadi negara merdeka.

Namun, pada awal kemerdekaan ini kegiatan sastra tampaknya lebih banyak pada karya puisi dan cerita pendek.

Banyak pengarang muncul bersama cerpennya yang dipublikasikan dalam buku kumpulan cerita pendek.

Karya mereka yang bisa disebutkan di sini antara lain, adalah Terang Bulan Terang di Kali (kumpulan cerpen) dan Nyai Dasima karya S.M. Ardan, Hitam Putin (kumpulan cerpen) karya Mohamad Ali, Robohnya Surau Kami (kumpulan cerpen) karya A.A. Navis, Kawat Berduri karya Trisno Yuwono. Pulang (novel) karya Toha Mochtar, Hati yang Damai dan Dua Dunia karya N.H. Dini, dan Daun Kering karya Trisno Sumardjo.

Sesudah huru-hara G 30S/PKI laluin 1965 khasanah prosa Indonesia tetap didominasi oleh cerpen, meskipun karya novel juga tidak kurang, tetapi lebih banyak pengarang dikenal karena karya cerpennya.

Bentuk prosa yang muncul saat itu antara lain:

}  Harimau-Harimau dan Maut dan Cinta keduanya karya Mochtar Lubis,

}  Jalan Terbuka karya Ali Audah, Sepi Terasing karya Aoh K. Hadimadja;

}  Tidak Menyerah, Lentera Sepi, Kubah, dan Bawuk, keempatnya karya Umar Kliayam,

}   Burung-Burung Manyar karya Y.B. Mangunwijaya,

}  Kalah dan Menang karya Sutan takdir Alisyahbana,

}  Telegram karya Putu Wijaya,

}  Pada Sebuah Kapal karya N.H. Dini,

}  Ziarah dan Merahnya Merah keduanya karya Iwan Simatupang,

}  Karmila karya Marga T,

}  Wajah-Wajah Cinta karya La Rose; dan sejumlah novel lainnya.

DRAMA

Drama adalah Karya sastra yang mengungkapkan cerita melalui dialog-dialog para tokohnya. Drama dapat dikelompokkan atas dua jenis:

v  Drama prosa: dialog drama yang menggunakan bahasa prosa.

v  Drama puisi: Dialog drama yang menggunakan bahasa puisi dan biasanya lebih menonjol bunyi dan irama bahasanya.

  1. Secara etimologis kata drama berasal dari bahasa Yunani asal katanya “dramoi” artinya menirukan perbuatan yang mengutamakan gerak.
  2. Menurut kamus drama adalah suatu karangan  dalam bentuk prosa atau fiksi yang disajikan dalam dialog atau pantomim. Drama suatu cerita yang mengandung konflik tokoh yang dipentaskan.
  1. 3.Pengertian drama dari segi sastra: Suatu naskah individu yang bernilai sastra dan bersifat “Script oriented” (berorientasi pada bacaan/naskah).
  2. 4.Pengertian drama dari segi teater atau pementasan: Suatu cerita/ kisah kehidupan manusia yang disusun untuk dipertunjukkan oleh para pelaku, melalui perbuatan diatas pentas dan ditonton oleh publik (penonton) dan bersifat “Actor Oriented (Berorientasi pada pelaku).

Unsur-unsur yang Membangun Drama

Sebagai suatu karya literer, drama mempunyai unsur pembangun, yakni:

1. Premise: Tema atau ide sebuah cerita yang menjadi masalah yang dibicarakan dalam naskah drama.

2. Plot/alur: Sambung sinambung peristiwa berdasarkan hubungan sebab akibat (kausalitas) dalam sebuah naskah drama.

3. Perwatakan: Bagaimana tokoh cerita menekankan watak peristiwa-peristiwa yang digambarkan dalam sebuah naskah drama.

4. Dialog: cipta sastra yang disajikan dalam bentuk percakapan antara dua tokoh atau lebih.

Sebagai karya non-literer  drama mempunyai unsur pembangun sebagai berikut :

Perlengkapan Segala sesuatu yang diperlukan untuk pementasan drama.Pementasan drama memerlukan :

1. Dekorasi: Penataan tempat pertunjukkan (pentas). Guna menimbulkan suasana/setting cerita drama.

2. Tata Busana : penataan pakaian para pelaku guna membawakan perannya dalam pentas drama.

3. Tata Rias: Pentaan wajah pemain/lakon untuk mempertengah karakter lakon yang diperankan dalam pentas drama.

4. Tata lampu: pengaturan cahaya untuk memberikan tambahan suasana dalam membuat adegan drama.

5. Tata musik: pengaturan ilustrasi musik guna menimbulkan suasana cerita drama.

6. Aktor: Manusia-manusia buatan pengarang yang memerankan watak dalam naskah drama.

7. Tempat Pertunjukan (Pentas): Tempat pertunjukan/pentas drama terdiri beberapa bagian yaitu:

a)      Auditorium: Tempat penonton menyaksikan pertunjukan drama.

b)      Orkestra: Tempat rombongan memberikan ilustrasi hasil.

c)      Stage: Tempat pertunjukan berlangsung yang terletak didepan okestra.

d)     Skene: Tempat para pemain bertukar pakaian yang terletak dibelakang panggung.

e)      Procenium: Bagian depan lagi dari Stage

Drama mempunyai 2 dimensi, yakni:

  1. Drama sebagai seni sastra
  2. Drama sebagai seni pentas

Prosedur pembelajaran drama sebagai seni sastra:

v Pelacakan

v Pendahuluan

v Penentuan Sikap Praktis

v Introduksi

v Penyajian

v Diskusi

v Pengukuhan

Proses Pementasan Drama:

  • Pengantar
  • Pemilihan naskah
  • Penentuan pemain
  • Latihan dasar drama, meliputi: latihan gerak, latihan suara dan latihan akting
  •  Pementasan dan Evaluasi

Penonton

Penonton merupakan unsur yang turut menentukan pementasan drama. Drama tidak akan berarti apa-apa bila tidak disaksikan oleh penonton.

JAWABAN DAN MID SINTAKSIS


Nama : Kawirian

Kelas : IV B

NPM : 1100888201051

  1. Apa perbedaan frase dengan kata majemuk?

Berikan 3 contoh masing-masing.

Jawab:

-          Frasa adalah kumpulan kata nonpredikatif. Artinya frasa tidak memiliki predikat dalam strukturnya. Itu yang membedakan frasa dari klausa dan kalimat. Sedangkan,

Contoh: ayam hitam saya, rumah itu besar, dan pintar otak saya

-          Kata majemuk adalah gabungan dua buah morfem dasar atau lebih yang mengandung satu pengertian baru. Kata majemuk tidak menonjolkan arti tiap kata. tetapi gabungan kata itu secara bersama-sama membentuk suatu makna atau arti baru.

Contoh: Meja makan, sapu tangan, dan kapal terbang.

  1. Jelaskan :
    1. Perbedaan frasa endosentris dan frasa eksosentris.
    2. Frasa endosentris bersumbu satu.
    3. Frasa endosentris bersumbu banyak.
    4. Frasa endosentris terbagi atas frase endosentris koordinatif dan frase endosentris apositif.

Berikan masing-masing 3 contoh!

Jawab:

  1. Frasa Endosentris dan Frasa Eksosentris

Frasa endosentris merupakan frase yang mempunyai distribusi yang sama dengan unsurnya, baik semua unsur-unsurnya maupun salah satu unsurnya (Ramlan, 1986:146). Sedangkan, frasa eksosentris ialah frasa yang tidak mempunyai distribusi yang sama dengan semua unsurnya (Ramlan, 1986:146).

Contoh :

  1. Frasa Endosentris :

-       Sejumlah mahasiswa di teras.

-       Bola di tendang oleh si Udin.

-       Buku sejarah itu baru terbit.

  1. Frasa Eksosentris :

-       Ia pergi ke Bandung bersama ayah.

-       Ia pergi ke sekolah tanpa pamit kepada ayah.

-       Ia bekerja sebagai guru.

  1. Frasa endosentris bersumbu satu.

Frasa endosentris bersumbu satu, dapat dibedakan menjadi frasa nominal, frasa pronominal, frasa verbal, frasa ajektival, dan frasa numeral.

Contoh :

  1. Frasa endosentris bersumbu banyak

Farasa endosentris bersumbu jamak terdiri atas farasa koordinatif dan frasa apositif.

Contoh :

  1. Perbedaan antara Frasa endosentris koordinatif dan frase endosentris apositif.

-       Frasa endosentris koordinatif

Menurut Oscar (1993), frasa endosentris koordinatif adalah frasa yang intinya mempunyai referensi yang berbeda-beda. Frase ini terdiri atas unsur-unsur yang setara dan kesetaraannya terlihat dari kemungkinan unsur-unsur tersebut itu dihubungkan oleh kata sambung dan atau atau.

Contoh :

  1. Paman dan bibi sudah lama tidak megunjungi kami.
  2. Kerbau, lembu, dan kambing adalah hewan piaraan.
  3. Siapa yang harus pergi, saya atau Anda?

-       Frase endosentris apositif

Frasa endosenttris apositif merupakan frasa yang berinti dua dan kedua inti itu tidak mempunyai referen yang sama, sehingga kedua inti tersebut tidak dapat dihubungkan oleh konektor (Ba’dulu 2005:59).

Contoh :

  1. Yogya, kota pelajar
  2. Indonesia, tanah airku
  3. Bapak Soeharto, Presiden RI
  1. Jelaskan :
    1. Klausa dapat dibagi mnejaedi klausa bebas dan klausa terikat. Beri 3 contoh masing-masing!
    2. Buatlah lima buah contoh klausa verbal yang intransitif.
    3. Buatlah lima buah contoh klausa verbal yang transitif.
    4. Hubungan antar klausa berdasarkan waktu terbagi menjadi 4 jenis. Sebutkan dan beri 2 contoh!

Jawab :

  1. Klausa dapat dibagi mnejaedi klausa bebas dan klausa terikat

-       Klausa bebas ialah klausa yang boleh berdiri dengan sendiri dan apabila diucapkan dengan intonasi yang sempurna, klausa bebas ini akan menjadi ayat yang lengkap.

Contoh :

  1. Ahmad menari.
  2. Dia lulus dalam ujian
  3. Robert memenangkan kejuaraan.

-       Klausa terikat adalah klausa yang memiliki struktur yang tidak lengkap. Dengan kata lain, klausa jenis ini tidak memiliki subyek sekaligus predikat. Karena itu, klausa jenis ini selalu terikat dengan klausa yang lain dan tidak pernah bisa menjadi kalimat mayor.

-       Contoh:

  1. Besok sore. (Jawaban untuk kalimat “Kapan kamu berangkat?”)
  2. Ketika hujan turun, bukit itu longsor.
  3. Ketika senja datang, langit pun mulai menghitam.
  4. Contoh klausa verba yang intrasitif
  5. nenek menangis
  6. adik melompat-lompat
  7. rio berlari
  8. lina memanjat
  9. dia bersiap-siap
    1. Contoh klausa verba yang transitif
      1. nenek menulis surat
      2. kakek membaca buku silat
      3. melly menyanyikan sebuah lagu
      4. siti membuat kue
      5. ibu mengambil buah di pohon
      6. Hubungan natar klausa berdasarkan waktu terbagi menjadi 4 jenis.
      7. Waktu batas permulaan

Waktubatas permulaan ditandai oleh kata penghubung sejak atau sedari, seperti

  1. Sejak kecil saya memang sudah menulis apa-apa yang saya alami dalam hidup sehari.
  2. Kamu terbiasa hidup sederhana sedari kami masih baru saja menikah.
  3. Waktu bersama

Waktu bersamaan ditandai oleh kata penghubung ketika, pada waktu, (se) waktu, seraya, serta, sampai, sementara, selagi, selama, dan tatkala. Seperti,

  1. Mereka datang ketika kami sedang duduk-duduk di teras rumah sore hari.
  2. Untunglah kebakaran itu terjadi sewaktu turun hujan yang sangat lebat.
  3. Waktu berurutan

Waktu berurutan ditandai oleh kata penghubung sebelum, sehabis, setelah, sesudah, seusai dan begitu. Seperti

  1. Sesudah pulang sekolah, dia membantu orang tuanya bekerja di lading.
  2. Sebelum tamat belajar, saya pun ingin pulang untuk turut membangun desa.
  3. Waktu batas akhir

Waktu batas akhir digunakan untuk menyatakan akhir atau ujung suatu proses. Waktu batas akhir ditandai oleh kata penghubung sampai dan kepada.

  1. Aku harus belajar dan berjuang keras sampai cita-citaku tercapai.
  2. Kita harus mempertahankan negeri ini hingga akhir zaman.
  1. Sebutkan:
    1. Sebutkan unsur-unsur kalimat berdasarkan fungsi. Beri dua contoh!
    2. Sebutkan pembagian kalimat berdasarkan bentuknya. Beri tiga contoh!
    3. Kalimat majemuk setara terdiri atas tiga macam. Sebutkan dan berikan contoh-contohnya!

Jawab :

  1. Unsur-unsur kalimat berdasarkan fungsi.
    1. Fungsi Subjek

Contoh:

1)      Jalanya, Akhir –nya di sini mengatakan kata benda, meskipun kata benda itu menyatakan suatu kerja.

2)      Berperang, Artinya hal perang, dianggap sebagai kata benda.

  1. Fungsi Predikat

Contoh:

1)      Penunjuk aspek : sudah, sedang, akan, yang selalu ada didepan predikat.

2)      Kata kerja bantu : boleh, harus, dapat.

3)      Kata petunjuk modal : mungkin, seharusnya, jangan-jangan.

4)      Beberapa ketengan lain : tidak, bukan, justru, memang, yang terletak diantara S, dan P, dan

5)      Kata kerja kopula : ialah, adalah, merupakan, menjadi. Biasanya kata ini digunakan merangkaikan predikat nomina dengan S-nya, khusus FB-FB (Frase Benda-Frase Benda).

  1. Fungsi Objek

Contoh :

1)      Pembantu membersihkan ruangan saya.

2)      Ruangan saya dibersihkan oleh pembantu.

  1. Fungsi Pelengkap

Contoh:

1)      .(nothing)

2)      .(nothing)

  1. Fungsi Keterangan

Contoh :

1)      Dia tidur dikamar depan

2)      Mereka sedang belajar bahasa indonesia sekarang

  1. Jenis kalimat berdasarkan bentuk
  2. Kalimat deklaratif

Kalimat ini disebut juga dengan kalimat berita. Kalimat berita adalah kalimat yang isinya memberitahukan sesuatu. Umumnya mendorong orang untuk memberikan tanggapan.

-       Macam-macam kalimat berita :

  1. Kalimat berita kepastian

Contoh : Ani pasti datang ke acara perpisahan ini.

  1. Kalimat berita pengingkaran

Contoh : Saya tidak akan datang pada acara ulang tahunmu.

  1. Kalimat berita kesangsian

Contoh : Mereka mungkin akan tiba nanti malam.

  1. Kalimat berita bentuk lainnya

Contoh : Kami tidak tahu mengapa dia datang terlambat.

  1. Kalimat imperatif

Kalimat ini disebut juga dengan kalimat perintah atau permintaan. Kalimat perintah adalah kalimat yang bertujuan memberikan perintah kepada orang lain untuk melakukan sesuatu. Biasanya diakhiri dengan tanda seru (!). Dalam bentuk lisan, kalimat perintah ditandai dengan intonasi tinggi.

-       Macam-macam kalimat perintah

  1. Kalimat perintah biasa, ditandai dengan partikel lah.

Contoh : tutuplah jendela itu !

  1. Kalimat larangan, ditandai dengan penggunaan kata jangan.

Contoh : Jangan merokok di tempat umum !

  1. Kalimat ajakan, ditandai dengan kata mohon, tolong, silahkan.

Contoh : Tolong temani nenekmu di rumah !

  1. Kalimat interogatif

Kalimat ini disebut judga dengan kalimat tanya atau juga disebut kalimat yang berisi interogasi. Kalimat Tanya. Kalimat tanya adalah kalimat yang isinya menanyakan sesuatu atau seseorang sehingga diperoleh jawaban tentang suatu masalah. Biasanya diakhiri dengan tanda tanya (?). Secara lisan, kalimat tanya ditandai dengan intonasi yang rendah.

Contoh :

1)      Apakah kamu sakit ?

2)      Siapa yang membeli buku ini ?

  1. Macam-macam kalimat majemuk setara.
    1. Kalimat setara sejajar atau menggabungkan.

Contoh : Ia menanam bunga dan rajin menyiraminya.

  1. Kalimat setara berlawanan atau mempertentangkan.

Contoh : Andi tidak menulis surat, tetapi hanya menggambar saja.

  1. Kalimat setara sebab-akibat.

Contoh : Penduduk Kota Yogyakarta panik karena ada gempa bumi.

  1. Jelaskan:
    1. Apa yang dimaksud dengan kalimat efektif?
    2. Kalimat efektif harus memiliki :

-       Syarat keparalelan

-       Syarat kehematan

-       Syarat kesepadanan

-       Syarat kelogisan

Beserta satu contoh!

Jawab :

  1. Kalimat efektif

Kalimat efektif adalah kalimat yang secara tepat dapat mewakili gagasan atau perasaan pembicara atau penulis dan sanggup menimbulkan gagasan yang sama tepatnya di dalam pikiran pendengar atau pembaca seperti yang dipikirkan oleh pembicara atau penulis.

  1. Kalimat afektif harus memiliki :

-          Syarat Keparalelan

Yang  dimaksud  keparalelan  adalah  kesamaan  bentuk  kata  yang digunakan  dalam  kalimat  itu.  Artinya,  kalau  bentuk  pertama menggunakan  kata  benda  (nomina),  bentuk  kedua  dan  seterusnya   juga harus  menggunakan  kata  benda  (nomina).  Kalau  bentuk  pertama menggunakan kata  kerja  (verba),  bentuk  kedua  dan  seterusnya   juga menggunakan  kata kerja (verba).

Contoh:

Apabila pelaksanaan pembangunan  lima  tahun kita  jadikan  titik tolak,  maka  menonjollah  beberapa  masalah  pokok  yang  minta perhatian  dan  pemecahan.  Reorganisasi  administrasi  departemen-departemen. Ini yang pertama. Masalah pokok yang lain  yang  menonjol  ialah  penghentian  pemborosan  dan penyelewengan. Ketiga  karena masalah  pembangunan  ekonomi yang  kita  jadikan  titik  tolak,   maka  kita  ingin  juga mengemukakan  faktor  lain.  Yaitu  bagaimana  memobilisir potensi  nasioal   secara  maksimal  dalam  pembangunan  ini.

-          Syarat Kehematan

Yang  dimaksud  kehematan  dalam kalimat  efektif  ialah  hemat menggunakan  kata,  frasa,  atau bentuk  lain  yang  dianggap  tidak  perlu. Kehematan  tidak  berarti  harus menghilangkan  kata-kata  yang  dapat menambah  kejelasan  kalimat.  Penghematan  di  sini  mempunyai  arti penghematan  terhadap kata  yang memang  tidak diperlukan,  sejauh  tidak menyalahi kaidah tata bahasa.

Contoh: Lukisan itu indah. Lukisan itu akan saya beli.

-          Syarat Kesepadanan

Yang  dimaksud  kesepadanan  ialah  keseimbangan  antara  pikiran (gagasan)  dan  struktur  bahasa  yang  dipakai.  Kesepadanan  kalimat  ini diperlihatkan oleh kesatuan gagasan  yang kompak dan kepaduan pikiran yang baik.

Contoh:

-          Syarat Kelogisan

Yang  dimaksud    dengan  kelogisan  ialah  ide  kalimat  itu  dapat diterima oleh akal dan sesuai dengan kaidah yang berlaku. Kelogisan  berhubungan  dengan  penalaran,  yaitu  proses  berpikir untuk  menghubung-hubungkan  fakta  yang  ada  sehin gga  sampai  pada suatu  simpulan.  Dengan  perkataan  lain,  penalaran  (reasoning)  ialah proses mengambil simpulan  (conclicusion, interference) dan bahan bukti atau  petunjuk  (evidence)  ataupun  yang  dianggap  bahan bukti  atau petunjuk (Moeliono, 1988: 124—125)

Contoh:

Mayat wanita  yang  di temukan  itu  sebelumnya  sering mondar-mandir di  daerah tersebut.

Soal dan Jawaban Telaah Kurikulum dan Buku Teks


  1. Mengapa kurikulum menentukan kualitas pendidikan?

Jawab:

Menurut saya, kurikulum merupakan suatu kelengkapan sekolah untuk menunjukkan sesuatu kepada masayarakat bahwa sekolah tersebut memiliki identitas agar sekolah tersebut dinilai baik. Dan juga kurikulum di rancang dan disusun sebagai alat ukur siswa untuk mendapatkan hasil yang lebih baik, agar dapat mengetahui sampai dimana batas kemampuan pengetahuan siswa dalam suatu pembelajaran.

Pendidikan merupakan aspek terpenting dalam kehidupan, karena melalui pendidikan manusia dapat tumbuh dan berkembang sehingga siap melaksanakan tugas sebagai manusia seutuhnya untuk menghadapi tantangan dalam kehidupan. Pendidikan yang berkualitas akan melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas pula.

Kualitas secara sederhana berarti kesetaraan penilaian masyarakat umum secara objektif terhadap suatu input, proses dan output yang terjadi didalamnya. Kualitas bersifat dinamis, yaitu selalu mengalami perubahan, baik berupa peningkatan atau penurunan. Kualitas pendidikan ditentukan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah kurikulum, guru atau tenaga pengajar, fasilitas, dan sumber belajar. Ada beberapa faktor, yaitu :

  1. Kurikulum.

Kurikulum yang sering berganti-ganti berdampak negatif terhadap dunia pendidikan, terlebih pada peserta didik. Belum sampai kita memahami dan memenuhi satu kurikulum yang ditentukan oleh pusat, sudah berganti dengan kurikulum yang baru, hal ini menimbulkan ketidakstabilan bahkan kekacauan dalam sistem pendidikan. Kurikulum seharusnya dibuat secara konsisten dan efisien.

  1. Guru atau tenaga pengajar.

Profesionalisme guru menentukan kualitas pendidikan. Profesional merupakan standar dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan kemampuan dalam mentransfer ilmu tersebut kepada peserta didik berlandaskan moral yang baik. Guru yang profesional harus mampu mengantarkan anak didiknya menjadi manusia yang berilmu dan bermoral.

Menurut Undang-undang No.14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 10 ayat (1) kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi.Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik. Kompetensi kepribadian adalah kemampuan memiliki dan membentuk karakteristik dan moral yang baik pada siswa. Kompetensi sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orangtua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. Kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam.

  1. Fasilitas.

Fasilitas pendidikan seperti perpustakaan, laboratorium, ruangan belajar yang memadai, suasana belajar yang mendukung, media pembelajaran, komputer, internet dan segala sesuatu yang menyangkut sarana dan prasarana pendidikan akan sangat mempengaruhi kualitas pendidikan.

  1. Sumber belajar.

Sumber belajar di era globalisasi saat ini sangat luas dan tak terbatas. Selain buku pelajaran, segala informasi dapat kita dapat dari internet, tentu saja dengan penggunaan yang tepat sesuai etika. Dalam hal ini yang terpenting adalah menumbuhkan minat membaca kepada anak didik oleh guru maupun orang tua. Buku pelajaran yang mudah dipahami dan memberikan banyak informasi secara tepat adalah buku yang sebaiknya dikonsumsi oleh peserta didik. Peserta didik sebaiknya dikenalkan dengan internet sejak dini tetapi dengan batasan-batasan tertentu yang dalam hal ini diperlukan pengawasan dari orangtua.

Jadi, pendidikan yang berkualitas berarti pendidikan yang memenuhi faktor faktor tersebut, dimana diperlukan suatu sistem dalam mengatur pelaksanaan pendidikan meliputi input, proses dan output, sehingga menghasilkan peserta didik yang berkualitas, baik secara pengetahuan maupun moral.

     2.  Apa fungsi kurikulum dalam proses pendidikan?

Jawab :

Kurikulum dalam pendidikan memiliki beberapa fungsi sebagai berikut:

  1. Fungsi kurikulum dalam rangka mencapai tujuan pendididkan Fungsi kurikulum dalam pendidikan tidak lain merupakan alat untuk mencapai tujuan pendididkan.dalam hal ini, alat untuk menempa manusia yang diharapkan sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Pendidikan suatu bangsa dengan bangsa lain tidak akan sama karena setiap bangsa dan Negara mempunyai filsafat dan tujuan pendidikan tertentu yang dipengaruhi oleh berbagai segi, baik segi agama, idiologi, kebudayaan, maupun kebutuhan Negara itu sendiri. Dsdengan demikian, dinegara kita tidak sama dengan Negara-negara lain, untuk itu, maka:

1)   Kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan nasional,

2)   Kuriulum merupakan program yang harus dilaksanakan oleh guru dan murid dalam proses belajar mengajar, guna mencapai tujuan-tujuan itu,

3)   Kurikulum merupakan pedoman guru dan siswa agar terlaksana proses belajar mengajar dengan baik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.

  1. Fungsi Kurikulum Bagi Sekolah yang Bersangkutan Kurikulum Bagi Sekolah yang Bersangkutan mempunyai fungsi sebagai berikut:

1)   Sebagai alat mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan.

2)   Sebagai pedoman mengatur segala kegiatan sehari-hari di sekolah tersebut, fungsi ini meliputi:

  1. Jenis program pendidikan yang harus dilaksanakan
  2. Cara menyelenggarakan setiap jenis program pendidikan
  3. Orang yang bertanggung jawab dan melaksanakan program pendidikan.
  4. Fungsi kurikulum yang ada di atasnya

1)   Fungsi Kesinambungan Sekolah pada tingkat atasnya harus mengetahui kurikulum yang dipergunakan pada tingkat bawahnya sehingga dapat menyesuaikan kurikulm yang diselenggarakannya.

2)   Fungsi Peniapan Tenaga Bilamana sekolah tertentu diberi wewenang mempersiapkan tenaga guru bagi sekolah yang memerlukan tenaga guru tadi, baik mengenai isi, organisasi, maupun cara mengajar.

  1. Fungsi Kurikulum Bagi Guru Guru tidak hanya berfungsi sebagai pelaksana kurikulum sesuai dengan kurikulum yang berlaku, tetapi juga sebagai pengembanga kurikulum dalam rangaka pelaksanaan kurikulum tersebut.
  2. Fungsi Kurikulum Bagi Kepala Sekolah Bagi kepala sekolah, kurikulum merupakan barometer atau alat pengukur keberhasilanprogram pendidikan di sekolah yang dipimpinnya. Kepala sekolah dituntut untuk menguasai dan mengontrol, apakah kcegiatan proses pendidikan yang dilaksanakan itu berpijak pada kurikulum yang berlaku.
  3. Fungsi Kurikulum Bagi Pengawas (supervisor) Bagi para pengawas, fungsi kurikulum dapat dijadikan sebagai pedoman, patokan, atau ukuran dan menetapkan bagaimana yang memerlukan penyempurnaan atau perbaikan dalam usaha pelaksanaan kurikulum dan peningkatan mutu pendidikan.
  4. Fungsi Kurikulum Bagi Masyarakat Melalui kurikulum sekolah yang bersangkutan, masyarakat bisa mengetahui apakah pengetahuan, sikap, dan nilaiserta keterampilan yang dibutuhkannya relevan atau tidak dengan kuri-kulum suatu sekolah.
  5. Fungsi Kurikulum Bagi Pemakai Lulusan Instansi atau perusahaan yang memper-gunakan tenaga kerja yang baik dalamarti kuantitas dan kualitas agar dapat meningkatkan produk-tivitas.

   3.  Mengapa dalam penyusunan dan pengembangan kurikulum harus berlandaskan asa filosofis, asas psikologi belajar, asas psikologi anak dan asas sosiologi.

Jawab:

Sebelum menjelaskan mengapa pengembangan kurikulum harus berlandaskan asas filosofis, asas psikologi belajar, asas psikologi anak dan asas sosiologis. Sebaiknya saya menjelaskan apa asas-asas yang akan dijelaskan diatas.

Pada prinsipnya, asas-asas tersebut harus dijadikan dasar dalam setiap pengembangan kurikulum, yaitu :

  1. Asas filosofis, yaitu asumsi-asumsi tentang hakikat realitas, hakikatmanusia, hakikat pengetahuan, dan hakikat nilai yang menjadi titik tolak dalam mengembangkan kurikulum. Asumsi-asumsi filosofis tersebut berimplikasi padda perumusan tujuan pendidikan, pengembangan isi atau materi pendidikan, penentuan strategi, serta pada peranan peserta didik dan peranan pendidik.
  2. Asas  psikologis belajar, adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari psikologi yang dijadikan titik tolak dalam mengembangkan kurikulum. Ada dua jenis psikologi yang harus yang harus menjadi acuan, yaitu psikologi perkembangan dan psikologi belajar. Psikologi perkembangan proses dan karakteristik perkembangan peserta didik sebagai subjek pendidikan, sedangkan psikologi belajar mempelajari tingkah laku peserta didik dalam situasi belajar. Ada 3 jenis teori belajar yang mempunyai pengaruh besar dalam mengembangkan kurikulum, yaitu teori belajar kognitif, behavioristik, dan humanistic.
  3. Asas psikologi anak, yaitu dalam hubungannnya dengan proses belajar mengajar (pendidikan), syamsu Yusuf (2005:23), menegaskan bahwa penahapan perkembangan yang digunakan sebaiknya  bersifat elektif, artinya tidak terpaku pada suatu pendapat saja, tetapi bersifat luas untuk meramu dari berbagai pendapat yang mempunyai hubungan erat. Setiap tahap perkembangan memiliki karakterisitk terseb=ndiri, karena ada dimensi-dimensi perkembagan tertentu yang lebih dominan dibandingkan dengan tahap perkembagan lainnya. Atas dasar itu kita dapat memahami karakterisitik profil pada setiap tahapan perkembangannya. Syamsu yusuf (2005:25) menguraikan karakteristik tahap-tahap perkembagan individu, yaitu masa usia prasekolah, masa usia sekolah dasar, masa usia sekolah menengah.
  4. Asas sosiologis, yaitu asumsi-asumsi yang berasal dari sosiologi yang dijadikan titik tolak dalam pengembangan kurikulum. Dipandang dari sosiologi, pendidikan adalah proses mempersiapkan individu agar menjadi warga masyarakat yang diharapkan, pendidikan adalah proses sosialsasi, dan berdasarkan pandangan antropologi, pendidikan adalah “enkuturasi” atau pembudayaan.

Jadi kesimpulannya, bahwa asas-asas yang telah dijelaskan diatas, sangat erat kaitannya dengan pengembangan kurikulum karena asas-asas yang telah dijelaskan diatas berasal dari masayarakat, mendapatkan pendidikan baik formal, maupun nonformal dalam lingkungan masyrakat, dan diarahkan agar mampu terjun dalam kehidupan bermasyarakat. Karena itu kehidupan masyrakat dan budaya dengan segala karakteristiknya harus menjadi landasan dan titik tolak dalam melaksanankan pendidikan.

   4.   Jelaskanlah hubungan komponen-komponen kurikulum.

Jawab:

IMG_0132

Bagan tersebut menggambarkan bahwa sistem kurikulum terbentuk oelh emapt komponen, yaitu: komponen tujuan, isi kurikulum, metode atau strategi pencapaian tujuan, dan komponen evaluasi.

  1. Komponen tujuan, ini berhubungan dengan arah atau hasil yang dihrapkan dalam skala makro, rumusan tujuan kurikulum erat kaitannya dengan filsafat atau sistem nilai yang dianut oleh masyrakat yang dicita-citakan. Misalkan, filsafat atau sistem nilai yang dianut masyrakat indonedia adalah pancasila, maka tujuan yang diharapkan tercapai oelh suatu kurikulum adalah terbentuknya masyrakat yang pancasilais.
  2. Komponen isi kurikulum, merupakan komponen yang berhubungan dengan pengalaman belajar yang harus dimiliki siswa. Isi kurikulm itu menyangkut semua aspek baik yang berhbungan dengan p-engetahuan atau materi pelajaran yang biasanya tergambarkan pada isi setiap mata pelajaran yang diberikan mapun aktivitas dan kegitan siswa. Baik materi maupun aktivitas itu seluruhnya diarahkan untuk mencapi tujuan yang ditentukan.
  3. Komponen atau strategi pencapaian tujuan, merupakan komponen yang memiliki peran yang sangat penting, sebab berhubungan dengan implementasi kurikulum. Bagaimanapun bagus dan idealnya tujuan yang harus dicapai tanpa strategi yang tepat untuk mencapainya, maka tujuan itu tidak mungkin dapat dicapai. Strategi meliputi rencana, metode dan perangkat kegiatan yang direncanakan untuk mencapai tujuan tertentu.
  4. Komponen evaluasi, merupakan proses yang tidak pernah berakhir (olive, 1988). Proses tersebut meliputi perencanaan, implementasi dan evaluasi. Merujuk pada pendapat tersebut, maka evaluasi merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam pengembangan kurikulum. Evealuasi merupakan komponen untuk melihat efektifitas pencapaian tujuan. Dalam konteks kurikulum, evaluasi dapat berfungsi untuk mengetahui apakah tujuan yang telah ditetapkan telah tercapai atau belum, atau evaluasi digunakan sebgai umpan balik dalam perbaikan strategi yang ditetapkan.

   5.   Ada berbagai model pengembangan kurikulum menurut sendiri, model manakah yang lebih baik. Jelaskan!

Jawab:

Dari ketujuh model yang telah dipaparkan, model yang lebih baik adalah model Beauchamp, karena konsep ini berkembang sejalan dengan  perkembangan teori dan praktik pendidikan, juga bervariasi sesuai dengan aliran atau teori pendidikan yang dianutnya.

Dalam sukmadinata (2005:5), beauchamp mengatakan: a curriculum is a written document which may contain many ingredients, but basically it is a plan for the education of pupils during their enrollment in given school. Selanjutnya Beauchamp (1976) mendefinisikan teori kurikulum sebagai: … a set of related statement that gives meaning to a schools curriculum  by pointing up the relationships among its elements and by directing its development, its use, and its evaluation. (sukmadinata, 2005:6). Dan beauchamp (1975) menggambarkan: … (1) the choice of arena for curriculum decision making, (2) the selection and involvement of person in curriculum planning, (4) actual writing of a curriculum, (5) implementing the curriculum, (6) evaluation the curriculum, and (7) providing for feedback and modification of the curriculum.; (sukmadinata, 2005:7)

Kelemahan padda model-model yang lain, yaitu:

  1. Model Ralph tyler, yaitu model yang telah dikembangkan olehnya itu di sajikan dalam bentuk yang usdah umum. Karena ketika membaca medel yang telah dipaparkannya saja, pastilah itu yang untuk dikembangkan dalam sebuah kurikulum.
  2. Model administrative, yaitu model yang telah disajikan itu langkah-langkahnya memang  termasuk kedalam dalam sebuah pembuatan kurikulum. Dan  juga model ini termasuk kedalam prinsip-prinsip k=pengembangan kurikulum.
  3. Model demonstrasi, yaitu langkah-langkah dalam model ini begitu rumit untuk dilakukan. Karena idenya saja berasal dari bawah (grass roots)
  4. Model Miller-Seller, yaitu sama dengan model Ralph Tyler, karena model ini sudah begitu umum dan termasuk juga dalam pengembangan kurikulum
  5. Model taba, yaitu model yang tidak semenarik model-model lain. Dikarenakan model ini modifikasi dari model Ralph tyler. Tetapi modifikasinya hanya pada penekanan terutama peusatan perhatian guru.

KUMPULAN PUISI KAWIRIAN


KEJAMNYA DUNIA

Kulangkahkan kaki yang rentan ini

Demi menafkahi batin ini

Hari demi hari ku lalui

Tanpa ada yang mengasihi

Sinisnya hari menyapa ku

Tanpa ada rasa ragu

Ku coba bentangkan hati ku

Demi hidupku yang rusuh

Ohh…

Betapa kejamnya dunia

Menjadikan hidup ku sia-sia

Inginnya aku hidup seperti mereka

Dengan hidupnya bercahaya

               Jambi, 13 September 2011

IBU

Ibu…

Tanpamu aku bagaikan

Debu  yang berserakan

dijalanan

Ibu…

Tanpamu aku seperti

Tidak mempunyai tongkat

Untuk berpegangan

Ibu…

Kau pelita hidupku

Kau tujuan hidupku

Dan kau segalanya bagi ku

Setiap hari…

Aku slalu mendoakan mu di sana

Karena aku takut kehilanganmu

Ibu…

Yang aku pinta darimu

Cuma satu yaitu

Ku ingin berada di sampingmu

Selamanya…

        Jambi, 04 Desember 2011

SULTAN THAHA

Bertahun-tahun yang lalu

Kau seperti mengguncangkan dunia

Engkau berjuang mati-matian

Demi menyelamatkan kota kelahiran

Dengan kerendahan hati

Kau slalu saja hormat kepada rakyat biasa

Walaupun kau seorang bangsawan

Di mata rakyatmu

dengan segala cara

kau tumpahkan tinta jiwamu hanya untuk melawan perampok bangsa

tanpa ada sedikitpun darah yang mengalir di tubuh kebangsawananmu

tidak hanya itu!

Engkau melawan musuhmu yang kami sebut perampok bangsa itu

Sama sekali tidak menggunakan senjata

Melainkan akal dan fikiran sebagai serdadu bagimu.

Kini kulitmu melempem dan berbau tanah

Tapi jiwamu masih seperti dulu

Yang kuat seperti emas batangan

Tanggal 26 April 1904, Dunia menangis besar saat itu

Karena engkau telah tutup usia

Kini engkau telah tiada

Tetapi jiwa dan ragamu akan terus ku simpan dalam jiwa ku

Seorang pahlawan yang abadi untuk ku

Sultan Thaha

        Jambi, 19 Desember 2011

PANTANG MENYERAH

Ku berjalan terus demi meraih cita

Untuk dunia baru di depan mata ku

Tak ada rasa takut akan gelapnya malam

Demi meraih ilmu setinggi langit

Tanpa ilmu aku bagaikan tuna rungu

Tanpa ilmu aku seperti binatang

Dengan ilmu aku bisa memeluk dunia

Karena ilmu aku bisa menyentuh matahari

Aku tetap maju terus pantang mundur

Walau angin topan sekalipun menghalangiku

Demi ilmu aku rela terbakar

Demi ilmu aku rela mati

Untuk itu,  aku harus bisa

Semoga saja tidak tinggal harapan

Aku hanya ingin seperti mereka

Bisa menuntut ilmu ke negeri cina

             Jambi, 19 Desember 2011

ARTI SAHABAT

Sahabatku

Dulu kita tak mengenal satu sama lain

Bahkan untuk mendekat saja aku seperti ingin menyentuh bara api

Kini kau hadir dalam hidupku

Saat aku membuatmu sedih, marah, kecewa bahkan terluka

Tapi kau tetap membalasnya dengan senyuman

Walaupun aku tetap terus menyakitimu

Kau tetap tidak pernah membalasnya

Saat ku sedih kau slalu hadir

Saat ku butuh kau slalu datang untuk membantu

Kau seperti malaikat buatku

Yang tak pernah absen di hari hari ku

Di saat itulah aku sadar

Kau melebihi segalanya bagi ku

Walaupun kau seorang teman

tapi bagiku kau sangat istimewa

Sahabatku

Ku ingin persahabatan ini tetap abadi

Walaupun dunia ini tak slamanya abadi

Karena ku yakin dirimu dan diriku akan slalu bersama

Selamanya

               Jambi, 19 Desember 2011

TERIMAKASIH GURUKU

 Terimakasih guruku.

Slama ini engkau,

Tidak mengenal lelah dalam memberi ilmu.

Engkau abaikan butiran-butiran keringat yang ada padamu

Demi hanya untuk kami para penyandang cacat ilmu.

Terimaksih guruku.

Slama ini engkau,

Tlah membawa kami ke ladang ilmu.

Menanam benih-benih kemanusiaan.

Padamkan punting-puntung kesombongan

Dan membugarkan perkebunan budi

Lembut menyiram akal pekerti

Tekun menyemai mulia pribadi

Jasa baktimu terhampar pasti.

Guru

Mungkin tanpa engkau,

Kami hanyalah butiran debu

Yang tidak berguna lagi.

Kami hanyalah barang bekas

Yang tidak terpakai lagi

Guru

Yang kami inginkan hanya satu

Tetaplah menjadi bulan

Untuk generasi kami selamanya

               Jambi, 15 Mei 2012

KAU

 Kau adalah anugerah dari Tuhan

Karena kau di lahirkan hanya untuk ku

Kau adalah perempuan idaman

Karena kau sangat mengagumkan untuk ku

Matamu indah

Tanganmu halus

Bibirmu kecil

Aku menyukaimu

Kau memang seorang yang aku cintai

Kau memang seorang yang aku sayangi

Dan aku sangat menyukai dibalik kerudungmu

Karena dibalik kerudungmu tersimpan sebuah hati yang tulus

Tulus untuk mencintaiku

Sama dengan tulusnya aku mencintai dirimu Sofi.

                  Jambi, 27 Desember 2012

KEGELAPAN

Aku terbaring dalam keadaan yang sangat gelap

Di kegelapan itu aku hanya seorang diri

Disisi lain aku sangat takut berada disana

Aku seperti dihantui oleh kegelapan itu sendiri

Aku berfikir apakah aku sedang bermimpi atau sedang tertidur

Aku coba untuk membuka mataku

Tetapi tetap saja aku dalam kegelapan

Aku mencoba untuk mencari sisi terang dalam kegelapan itu

Tapi sama sekali tidak ku temukan

Lalu aku mendengar suara

Bangun! Bangun!

Siapa dia?

Aku langsung tersentak kaget dan sadar

Dan membuka mataku

Dan ternyata yang membangunkanku adalah Kamu.

                Jambi, 27 Desember 2012

LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN

Laki-laki berbeda dengan perempuan

Cara berfikir laki-laki berbeda dengan cara berfikir perempuan

Tingkah laku laki-laki berbeda dengan tingkah laku perempuan

Tapi,

Disisi lain ada kesamaan yang dimiliki oleh laki-laki dan perempuan

Kesamaan itu adalah hati

Hati yang membuat keduanya saling mengasihi

Hati juga yang membuat keduanya saling mengerti

Hati juga sama dengan cinta

Karna cinta laki-laki dan perempuan bisa bersama

                   Jambi, 27 Desember 2012

MERAH

 Merah bukan berarti darah

Merah bukan berarti warna

Merah bukan berarti lambang dari keberanian

Merah bukan berarti mawar

Merah bukan berarti bibir, daging, laut, maupun anggur.

Tetapi merah ini adalah merah cinta dan hati.

                 Jambi, 27 Desember 2012

AYUNAN

Halus selembut sutra

Terdiri dari seribu benang yang di rajut

Di gantung seutas tali yang tipis

Berwarna merah muda.

                Kuala Tungkal, 29 Desember 2012

BADAI

 Malam gelap cahaya gelap

Tapi langit terang lalu gelap

Bunyi seperti perut yang lapar

sedang menghentakkan langit diatas sana

awan tidak bisa berlari tapi bisa bersembunyi

langit hitam gelam

awan menghitam

lalu menangis hebat seakan terjadi bencana

daun pepohonan tak bisa lagi menari indah

burung-burung pun tak bisa lagi mengepakkan sayapnya

langit memberontak

marah

mungkin lapar

atau mungkin senang

duuaaarrrr …

akar langit mulai mencabik langit

dan hah, ternyata badai.

               Jambi, 29 Desember 2012

MENGKHAYAL

 Terbang melayang tanpa arah

Lewat udara yang tak terarah

Fikiran melayang tanpa beban

Lewat mimpi menjadi kenyataan.

                Kuala Tungkal, 01 Januari 2013

BENDA ADALAH CINTA

 Angin berhembus bagaikan cinta

Yang terbang tanpa sayap.

Hujan turun bagaikan seribu panah

Yang menusuk kedalam cinta.

Mimpi adalah sebuah cinta

Yang datang di saat mata terpejam.

Kertas putih adalah cinta

Yang bersih tak di nodai biadap.

Kehidupan akan jadi cinta

Jika ku jalani bersamamu.

                     Jambi, 02 Januari 2013

MALAPEKATA

Kancil menulis dengan kata

Dengan indah dan manis

Dan Beruang pun membaca

Kata demi kata

Mulut pun berkomat kamit

Tampak di kepala terbakar api merah

Urat pun jadi tertarik

Lalu,

Beruang juga menulis dengan kata

Tapi tak seindah kata Kancil

Kata pun menuai sebuah rasa

Ada rasa pedas, asam, asin, dan pahit.

Oh tidak!

Beruang tidak berhenti

Dia terus saja menulis kata

Kancil pun tak dapat berbuat banyak.

Apa yang terjadi?

Ternyata Kancil terinjak

Terinjak pada kata beruang

Dan Aku pun tak dapat beruang banyak

Kata itu,

Ternyata telah membangunkan ular dan buaya

Mereka senang akan kesengsaraan si Kancil

Akibat ulah kata beruang.

Ular dan Buaya juga menulis kata

Kata yang dapat mematikan Kancil

Kancil hanya terdiam tanpa kata

Terselimuti rasa sakit karna kata.

Pesan pun tersirat dari-Nya

Hati-hati jika bermain kata

Karna kata dapat menjadikan sebuah malapetaka.

                 Jambi, 16 Januari 2013

K

 Mata …

Mata punya dua mata

Yang dapat melihat kata

Kata …

Kata yang tersusun kata

Yang kau tulis dengan kata

“Aku ingin bersamamu #K”

                  Jambi, 21 Januari 2013

MUSIM

Aku tau kau masih di hati. Karna musim akan selalu musim semi.

Tapi jikalau kau pindah kelain hati,

Mungkin musim iniakan menjadi musim kemarau yang gersang.

                  Jambi, 23 Januari 2013

MENTARI

Cahaya datang dari timur

Membawa seribu harapan.

Cahaya pergi menuju barat

Membawa luka.

           Jambi, 27 Januari 2013

MALAM DI KOTA KU

Terbaring sunyi dalam ruang bengap

Di temani majalah lama

Dan buku penyair agung

Rebut sang adik yang berebut buku

“ini punyaku, ini punyaku”

Masjid masjid yang mengalunkan nada Al-Quran

Itu tampak jelas di telinga ku

Akankah aku disini bisa sebahagia disana?

Tak ada yang berani menjawab

Cuma Kau yang berani menjawab.

               Kuala Tungkal, 28 januari 2013

KOSONG

Pulang dengan tangan hampa

Jambi, 22 Maret 2013

COBAAN

Luka
Luka itu datang ketika aku tidak bisa menghadapi luka
Luka
Luka itu mencabik-cabik aku yang tak sanggup menghadapinya.

Tubuh pun pontang panting
Terkumpul semua masalah dalam benak
Aku tidak mengerti apa ini?
Jelas ini semua datangnya dari engkau, Ya Allah

Setetes dua tetes jatuh dari pelupuk mata
Terisak dada hingga sulit bernapas
Aku tidak mengetahui apa ini?
Jelas tersirat dalam bayangan gelapmu, Ya Allah

Kuala Tungkal, 07 Juli 2013

BUKIT SENYUM


BUKIT SENYUM
Umumnya Tempat Tongkrongan Anak Muda
Kuala Tungkal – Di Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar) terdapat sebuah bukit yang diberi nama Bukit Senyum. Kabupaten yang di pimpin oleh Bupati H. Usman Ermulan ini banyak sekali bukit-bukit yang yang ada. Bukit ini terletak di area Petro China daerah Batang Lumut Kecamatan Betara 6. Jarak dari kota Kuala Tungkal mencapai  41 KM.
Saat berkunjung kesana sabtu (18/02), ternyata bukit itu sama sekali tidak berbentuk senyum. Yang ada di atas bukit  hanya pohon tinggi yang kering dan kerangka pohon.  Dan di sbelahnya tempat itnggal para pekerja di Petro China yang di sebut Mess.
“Kalo masalah tu, tak ade yang tau dengan jelas ngape tempat ni dinamakan bukit senyum. Ade yang bilang karna jalan menuju kesane tu berbentuk setengah lingkaran, jadi berbentuk senyuman. Ade juge yang bilang tempat ni gundukan dari tanah yang seperti bukit itu mirip seperti sebuah senyuman. Tapi taka de satupun tanggapan yang mengandung mistik” ujar pengunjung yang bernama Rya.
Keadaan yang tenang karena jauh dari kebisingan jalan, ini lokasinya yang sangat cocok untuk dijadikan tempat hunting dan rekreasi. Bahkan juga bisa jadi tempat ini di jadikan tempat tongkrongan alis tempat mejeng anak muda. “Kalo masalah itu tu, so pasti tempat ini dimanfaatkan sama muda mudi untuk nongkrong en pacaran, ape lagi saat malam minggu atau libur, tempat ini sering ramai di kunjungi. Soalnye udara disini tu sejuk, ape lagi kalo siang, adeeeemm nian!” ujarnya. (@kawirian)

ACARA HIMABINDO DI CANDI MUARO JAMBI SUKSES


Acara Himabindo di Candi Muaro Jambi Sukses
 
MUARO JAMBI – Puncak peringatan Bulan Bahasa ke – 84 dan merayakan Ulang Tahun Himpunan Mahasiswa Bahasa Indonesia (Himabindo) ke – 5, sekaligus launching buku Cerita Rakyat yang di himpun oleh Mahasiswa PSPBSI semester 1 kelas a, b, dan c dalam pelajaran Pengantar Pengkajian Kesusastraan di Candi Muaro Jambi, berlangsung sukses.
Lama perjalanan dari Broni ke Candi Muaro Jambi menghabiskan waktu 34 menit. Dengan di antar 5 pasukan mobil bus yang berisi satu mobil 40 orang itu berlangsung bahagia.
            Tampak hadir dalam acara ini, ibu Dra. Erlina Zahar, M.Pd selaku ketua Prodi PSPBSI Universitas Batanghari sekaligus pelaksana acara, Wakil Dekan I bapak Abdoel Gafar, S.Pd, M.Pd beserta istri, Pak Sujoko, S.Pd, pak Firmantara, S.Pd, Mas Eko, Rian Muiz selaku alumni PSPBSI Universitas Batanghari, Para Anggota Himabindo, Para Mahasiswa PSPBSI dari semester 1 s/d 9, dan kelas pekerja juga turut memeriahkan acara ini.
            Acara dimulai jam 09.48 WIB, karena panitia sudah menyusun struktur acara agar acara itu tidak berantakan. Penampilan pembukanya adalah penampilan kelas III B yaitu tarian Sekapur Sirih. Karena memang kelas ini yang diminta untuk menampilkan tarian ini untuk acara pembukanya.
            Setelah persembahannya diberikan kepada para tamu kehormatan, lalu kata sambutan dari Ketua prodi ibu Dra. Erlina Zahar, M.Pd. dalam sambutannya mengatakan, acara yang kita laksanakan dalam memperingati Bulan Bahasa ke – 84 dan merayakan Ulang Tahun Himabindo ke – 5 yang bertepatan dengan bulan bahasa kemarin, sekaligus launching buku Cerita Rakyat yang di himpun oleh Mahasiswa PSPBSI semester 1 kelas a, b, dan c dalam pelajaran Pengantar Pengkajian Kesusastraan. Dan acara ini, kita tidak mengajukan proposal kepada siapapun, karena yang buat acara kita, yang menyiapkan kita, dan dari kita untuk kita. Untuk itu, jangan lagi diantara kita berprasangka buruk tentang acara ini ya. Semoga acara ini sukses kita laksanakan.
“Alhamdulillah, acara yang kita laksakan selama ini kita tunggu-tunggu untuk memperingati bulan bahasa ke – 84 dan merayakan Ulang Tahun Himabindo ke – 5, sekaligus launching buku Cerita Rakyat semester  1 ini terlaksanakan” ujar Wahyu selaku ketua Himabindo. Setelah itu, di akhiri dengan do’a.
            Setelah acara resmi itu, lalu masuklah acara intinya. Banyak penampilan-penampilan dari Mahasiswa PSPBSI dari mulai semester 1 s/d 9, diantaranya adalah membaca puisi, musikalisasi puisi, tari, berbalas pantun, vocal group, pencak silat, drama comedy dan standup comedy.
            Dari penampilan-penampilan yang di tampilkan, hampir semua penampilan sukses menghibur semua penonton. Banyak hal-hal positif dan bermanfaat dalam acara ini.
            Jam 11.53 WIB, waktunya untuk Ishoma. Waktu istirahat yang diberikan hanya 40 menit. Lalu semua di suruh kumpul kembali untuk melaksanakan penampilan berikutnya. Ternyata penampilan tinggal 2 lagi. Karena salah satu dari semester I B sedang sakit. Setelah penampilan semua sudah selesai. Lalu semua berfoto bersama di Candi yang tinggi.
            Jam 13.47 WIB, saatnya untuk kembali ke Bus masing-masing, karena acara juga sudah selesai. Beberapa Mahasiswa menggerutuk karena acara yang dilaksanakan itu hanya sebentar. Karena pada waktu acara gladi resik kemarin di umumkan bahwa acara akan selesai jam 17.00 WIB.
            ”Ay, aku masih belom puas rasonyo” ujar Karlina Mahasiswi semester V B itu tampak kesal. (@kawirian)

DEMAM ONLINE


DEMAM ONLINE
 
 Online_DistEd_img
“Siang malam ku selalu menatap layar terpaku
Untuk online online, online online”
Pasti kalian tau dong dengan sedikit petikan lagu itu?
Petikan lagu itu adalah lagunya Saykoji yang lagi ngetren di tahun 2008. Saat ini atau mulai detik ini sudah banyak jutaan manusia yang mengenal jejaring sosial (Social Networking).  Canggihnya fasilitas untuk mempermudah hidup manusia saat ini begitu mengagumkan. Contohnya saja manusia sudah mengenal Facebook, Twitter, My Space, Plurk, Tumblr, Instagram, Blogger, dan berbagai situs jejaring sosial lainnya.
Yang jadi pertanyaan, manusia di era yang sedang ngetren sekarang ini sudah kelewat batas. Artinya mereka sekarang telah menjadi best friend-nya si jejaring sosial. Why? Di karenakan mereka selalu up to date masalah yang beginian.
Jejaring sosial itu di ibaratkan rokok. Sekali isap, pengen coba isap lagi. Walau berusaha untuk  berhenti, tapi terus pengen coba lagi. Lama-lama akhirnya ketagihan. Coba lihat lagi lirik dari lagu saykoji ini.
Tidur telat bangun pagi-pagi nyalain komputer online lagi.
Bukan mau ngetik kerjaan, e-mail tugas diserahkan.
Tapi malah buka facebook, padahal face masih ngantuk.
Beler kayak orang mabuk, palak naik turun ngangguk-ngangguk.
Karena facebook, twitter dan lain sebagainya. Semua pekerjaan yang harus dikerjakan bisa terbengkalai. Cuma gara-gara sebuah layar unik doang.  Seharusnya jejaring sosial itu digunakan untuk hal-hal yang positif, misalnya mencari tugas, share, dan lain sebagainya. Agar  semua pekerjaan kita terselesaikan dengan cepat.
Terkadang jejaring sosial digunakan sebagai tempat curhat, tempat maki-maki, tempat 4l4y3r5. Biasanya sih yang begitu kebanyakan anak perempuan. Karena perempuan selalu menganggap facebook & twitternya adalah sebagai buku diary nya.  Hati-hati untuk kaum perempuan, kaum lelaki biasa memberikan gelar kepada kaum perempuan “Miss Chatting”. hehehehe. (@kawirian)

JALAN MENUJU BEKEN


JALAN MENUJU BEKEN
 fsb2-1
            Seperti pepatah yang mengatakan kalau banyak jalan menuju Roma, banyak juga jalan menuju beken. Nggak hanya bergaya yang berlebihan seperti baju yang belum jadi, sepatu yang bermerk, rambut style zaman sekarang atau yang lain-lain yang bisa bikin kita beken. Itu mah kuno!! Dengan cara ini kita bisa jadi beken dan menambah wawasan kita. Yaitu dengan cara ng-Blog.
            Apakah kamu tau dengan blog? Apa kamu tau istilah Blogger? jika kalian jawab iya. Berarti kalian sudah pada beken. Masa iya sih! Ya iyalah, berarti kalian itu nggak Gaptek alias Gagap Teknologi. Jika kalian tidak tahu, maka dari itu mulailah dari sekarang.
            Punya blog itu asyik loh, kita disitu bisa belajar nulis, bisa meng-Expressi kan diri, bisa curhat, awalnya kita orangnya tertutup bisa menjadi terbuka, bisa bersosialisasi dengan dunia maya, pokoknya asyik deh dan nggak bakalan rugi.
            Buktinya, Raditya Dika, nih. Dari iseng-iseng nulis blog, di tahun 2001 Dika berhasil bikin buku, menulis skenario film sampai main film juga. Nggak hanya itu, Dika juga jadi merasa dengan rajin menulis di blog, dia jadi bisa menulis dengan baik dan benar. “Nggak hanya nulis asal-asalan saja, tapi dia belajar nulis yang benar biar orang suka dengan tulisan dia,” meski yang ditulisnya adalah cerita komedi atau masalah kehidupan yang sepele. Karena menulis di blog jugalah, Dika jadi dapat kesempatan buat nulis buku, nulis skenario dan main film. Kebayang nggak jika kalian seperti Raditya Dika.
Tips untuk kalian yang memilih blog untuk beken:
  • Update terus blog kita dan jangan hanya menulis tentang kita saja. Sekali-kali tulislah pendapat kita tentang masalah sosial atau fonomena yang sedang terjadi.
  •  Menulislah dengan struktur dan tata bahasa yang baik. Jadi, orang yang membaca tulisanmu akan mengerti tentang apa yang kamu tulis.
  • Percantik blog kamu dengan wallpaper lucu. Hindari warna wallpaper yang bertabrakan dengan huruf.
  • Jangan lupa promosikan blog kamu ini ke teman-teman, biar mereka rajin mengikuti perkembangannya.
  •  “Kuncinya adalah jadi diri sendiri saja, nggak usah nengikuti tren. Blog itu kan punya kita, jadi terserah kita kamu mau mengisinya dengan cara seperti apa. Dan jangan takut atau malu untuk membahas sesuatu yang berbeda karena itulah yang bikin blog kita jadi unik.”
  •  “Nggak usah pusing memikirkan cara mengisi blog. cukup ungkapin saja apa yang kita sukai. Jangan malas untuk terus berekspresi dan sering-sering berkunjung ke blog orang lain supaya kita bisa berbagi cerita.”
  • “Jadikan blog sebagai sarana untuk mengasah bakat. Bakat menulis, fashion atau fotografi, pasti akan lebih terasah deh kalau di tampilkan di blog. karena kita tahu banyak orang lain yang melihat sehingga terpacu untuk bikin sesuatu yang lebih bagus lagi.”
  • “Kalau bikin blog bareng geng atau sobat, kita harus bisa memacu semangat sobat yang malas nulis. Jangan keenakan nulis dan curhat sendirian. Namanya juga blog bersama, jadi harus di isi bareng-bareng.”
  • Dan jika kalian ingin membuat blog, kunjungi situs ini : . Di situ kalian akan mengetahui langkah-langkah pembuatannya.(@kawirian)

SOAL MID PERENCANAAN PENGAJARAN BAHASA INDONESIA


1. Mengapa sebelum mengajar, guru perlu menulis / mendesain rencana pembelajaran?

Jawab:

Karena Jika guru tidak membuat perencanaan dalam mengajar, maka sebenarnya guru merencanakan kegagalan mengajar dan waktu tidak bisa kembali.

”Selain itu, alasan konsekuensi profesi. Jika guru adalah profesi, maka harus ada dokumen kerja nyata yang dapat diukur, itulah rencana pembelajaran. Jika tidak, maka pekerjaan mengajar selama puluhan tahun tidak tercatat dan lenyap tiada arti,”

2. Jelaskan variable-variabel pembelajaran dan hubungan antar variabel.

Jawab:

Variabel-variabel yang tercakup dalam teori pembelajaran dan konteks kedua dimaksudkan untuk melihat posisi teori elaborasi dalam urutan procedural perancangan system pembelajaran atau lebih dikenal dengan desain pembelajaran. Teori elaborasi dapat dikaji dari dua konteks. Konteks pertama untuk menunjukkan posisi teori elaborasi dalam klasifikasi variabel-variabel yang tercakup dalam teori pembelajaran, dan konteks kedua dimaksudkan untuk melihat posisi teori elaborasi dalam urutan procedural perancangan system pembelajaran atau lebih dikenal dengan desain pembelajaran.

Variabel metode pembelajaran ini diklasifikasikan menjadi 3 jenis, yaitu :

  1. Metode / strategi untuk mengorganisasi isi pembelajaran.
  2. Metode / strategi untuk menyampaikan isi pembelajaran.
  3. Metode / strategi untuk mengelola pembelajaran.

Hubungan antar variabel mencangkup beberapa langkah, yaitu :

  1. Merumuskan tujuan pembelajaran
  2. Menganlisis karakterisitik subjek didik
  3. Merancang strategi pembelajaran
  4. Menetapkan strategi mengembangkan bahan dan media
  5. Mengevaluasi unjuk kerja siswa

3. Pembelajaran merupakan suatu sistem yang terdiri atas komponen. Jelaskan komponen-komponen sistem pembelajaran dan hubungan antar komponen tersebut.

Jawab :

Pembelajaran merupakan suatu sistem, yang terdiri dari berbagai komponen yang saling berhubungan satu dengan yang lain. Komponen tersebut meliputi: kurikulum, guru, siswa, materi, metode, media dan evaluasi. dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan enam komponen utama pembelajaran efektif, yakni: konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan ( Inquiri), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment).

Jadi dapat disimpulkan bahwa komponen pembelajaran adalah kumpulan dari beberapa item yang saling berhubungan satu sama lain yang merupakan hal penting dalam proses belajar mengajar.

Hubungan antar komponen :

Sebagai sebuah sistem, masing-masing komponen tersebut membentuk sebuah integritas atau satu kesatuan yang utuh. Masing-masing komponen saling berinteraksi yaitu saling berhubungan secara aktif dan saling mempengaruhi. Misalnya dalam menentukan bahan pembelajaran merujuk pada tujuan yang telah ditentukan, serta bagaimana materi itu disampaikan akan menggunakan strategi yang tepat yang didukung oleh media yang sesuai. Dalam menentukan evaluasi pembelajaran anak merujuk pada tujuan pembelajaran, bahan yang disediakan media dan strategi yang digunakan, begitu juga dengan komponen yang lainnya saling bergabung dan saling terobos.

4. Jelaskan perbedaan pendekatan, metode, teknik, strategi, model, dan pemodelan.

Jawab :

  1. Pendekatan pembelajaran : Titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu.
  2. Metode pembelajaran : Cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan  untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: (1) ceramah; (2) demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5) laboratorium; (6) pengalaman lapangan; (7) brainstorming; (8) debat, (9) simposium, dan sebagainya.
  3. Teknik pembelajaran : dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas.
  4. Strategi pembelajaran : Suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai  secara efektif dan efisien.
  5. Model pembelajaran : Bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.
  6. Pemodelan : Dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang ditiru. Model itu bisa berupa cara mengoperasikan sesuatu atau guru memberi contoh cara mengerjakan sesuatu. Dengan begitu, guru memberi model tentang bagaimana cara belajar. Dalam pendekatan CTL, guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa. Seorang siswa bisa di-tunjuk untuk memberi contoh. Siswa ‘contoh’ tersebut dikatakan sebagai model. Siswa lain dapat menggunakan model tersebut sebagai standar kompetensi yang harus dicapainya. Model juga dapat didatangkan dari luar.

5. Menurut anda, pendekatan pembelajran Bahasa Indonesia yang paling baik itu pendekatan seperti apa? Dan berikan contoh.

Jawab :

Pendekatan konstektual. Karena Pendekatan konstektual merupakan suatu konsep belajar dimana guru menghadirkan situasi dunia nyata kedalam kelas dan mendorong siswa membuat membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi anak untuk memecahkan persoalan, berpikir kritis dan melaksanakan observasi serta menarik kesimpulan dalam kehidupan jangka panjangnya. Dalam konteks itu, siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apa mereka dan bagaimana mencapainya.

Contoh :

pembentukan kelompok jigsaw :

Misal suatu kelas dengan jumlah siswa 40, dan materi pembelajaran yang akan dicapai sesuai dengan tujuan pembelajarannya terdiri dari 5 bagian materi pembelajaran, maka dari 40 siswa akan terdapat 5 kelompok ahli yang beranggotakan 8 siswa dan 8 kelompok asal yang terdiri dari 5 siswa. Setiap anggota kelompok ahli akan kembali ke kelompok asal memberikan informasi yang telah diperoleh dalam diskusi di kelompok ahli serta setiap siswa menyampaikan apa yang telah diperoleh atau dipelajari dalam kelompok ahli. Guru memfasilitasi diskusi kelompok baik yang ada pada kelompok ahli maupun kelompok asal.

REFERENSI :

http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2012/07/10/192186/16/Guru-Dituntut-Susun-Rencana-Pembelajaran-Kreatif

blog.tp.ac.id/…/jelaskan-variabel-variabel-pembelajaranbagaimanakah-keterkaitan-antar-variabel-tersebut.pdf

http://husamah.staff.umm.ac.id/files/2010/03/belajar-dan-pembelajaran-kel-2.pdf

http://herdy07.wordpress.com/2012/03/17/apa-perbedaannya-model-metode-strategi-pendekatan-dan-teknik-pembelajaran/

http://3an-master.blogspot.com/2012/06/model-pembelajaran-inkuiri-dan.html

Dimyati, Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta. Rineka Cipta.