Air Asin, Gambut, & Payau Beserta Pengolahannya


  1. 1. Air asin

air asin, adalah air dengan larutan garam jenuh, digunakan untuk mengawetkan sayuran, ikan, dan daging. Walaupun brine digunakan seperti gula dan cuka, juga dapat digunakan dalam transportasi, yaitu untuk menghantarkan panas dari satu tempat ke tempat lain. Hal ini karena larutan garam dalam air merendahkan titik bekunya dan meningkatkan efisiensi transportasi dengan harga murah.

Salinitas air berdasarkan persentase garam terlarut
Air tawar Air payau Air saline Brine
< 0.05 % 0.05 – 3 % 3 – 5 % > 5 %

Brine juga digunakan dalam industri farmasi, di antaranya brine dari sodium chloride dan potassium chloride.

  1. 2. Air gambut

air gambut adalah air ditemukan dan mencakup daerah gambut. Karakteristik air gambut adalah intensitas warna yang lebih tinggi (merah kuning atau kecoklatan). Semakin rendah pH dalam kisaran 2-5, asam, dengan kandungan organik lebih tinggi dan konsentrasi rendah partikel dan kation. Kandungan Fe, Al, Na, S dan P lebih tinggi. Sedangkan kandungan unsur mikro dalam lumut gambut adalah B, S, Zn, C, Ag, Au, Ca, Ba, Ti, V, Cu, Mn, aku dan Co metode elektrokoagulasi adalah proses metode air gambut menjadi air murni. Proses koagulasi elektro dilakukan dengan menempatkan elektroda dari plat aluminium dalam ukuran 5 x 8 cm dan tebal 1 mm, tawas 100 ml (1000 ppm), arus listrik 12 volt dan waktu elektrokoagulasi adalah 45 menit menjadi 1000 ml sampel gambut lumut. Penelitian ini akan menganalisis kandungan besi (Fe), tembaga (Cu), dan kalsium (Ca) dimana sebelum dan setelah pemurnian. Analisis unsur menggunakan spektrofotometri penyerapan atom. Hasilnya adalah isi dari besi (Fe), curprum (Cu), dan kalsium (Ca) adalah 1,4030 mg / L, 0,2954 mg / L dan 3,7361 mg / L, masing-masing. Berat besi (Fe), tembaga (Cu) dn kalsium (Ca) setelah dibersihkan adalah arragered 0,3411 mg / L, 0,0156 mg / L dan 2,0560 mg / L. Hal ini menunjukkan bahwa metode elektrokoagulasi oleh tawas 10 ml (1000 ppm) meminimalkan kandungan Fe sebesar 75,69%, Tembaga (Cu) konten untuk 94,72% dan kadar Kalsium adalah 44,97%. Air gambut yaitu udara Yang Selalu terdapat gambut dan menggenangi Lahan. Ciri-ciri gambut intensive udara warna Yang Tinggi (kuning kecoklatan atau merah), rendah ANTARA pH 2-5, asam rasanya, kandungan zat organiknya Tinggi Serta rendahnya konsentrasi kation dan partikel. PADA gambut sebagian kandungan Fe, Al, Na, S dan P mencapai Kadar Tinggi. Sedangkan kandungan Unsur mikro KESAWAN gambut adalah B, Sr, Zn, Cr, Ag, Au, Ca, Ba, Ti, V, Cu, Mn, aku dan Co Metode adalah salah Satu cara untuk mengolah gambut elektrokoagulasi udara bersih menajdi udara. Proses elektrokoagulasi Suami Artikel Baru dilakukan cara memasukkan elektroda Lempeng Dari Logam Aluminium dengan ukuran 5 x 8 cm Artikel Baru ketebalan 1 mm, Larutan Tawas 10 ml (1000 ppm), Arus listrik 12 volt julian dan elektrokoagulasi 45 menit KESAWAN ke 1000 gambut ml sampel udara. KESAWAN PENELITIAN Suami Yang dianalisis adalah Kadar Besi (Fe), Tembaga (Cu), dan Kalsium (Ca) at dijernihkan dan Penghasilan kena pajak. Analisis logam-logam tersebut menggunakan alat spektrofotometer serapan Atom (SSA). Hasil Yang diperoleh bahwa Kadar Besi (Fe), Tembaga (Cu) dan Kalsium (Ca) adalah berturut-turut 1,4030 mg / L, 0,2954 mg / L dan 3,7361 mg / L sedangkan Kadar Besi (Fe), Tembaga (Cu) dan Kalsium (Ca) dijernihkan adalah berturut-turut Penghasilan kena pajak 0,3411 mg / L, 0,0156 mg / L dan 2,0560 mg / L. Suami hal menunjukkan bahwa metode elektrokoagulasi dengna tawas Pengurangan 10 ml (1000 ppm) telah menurunkan Kadar Fe sebesar 75,69%, Kadar Tembaga (Cu) sebesar 94.75% dan Kadar Kalsium sebesar 44,97%. 087006014.

  1. 3. Air payau

Air payau adalah campuran antara air tawar dan air laut (air asin). Jika kadar garam yang dikandung dalam satu liter air adalah antara 0,5 sampai 30 gram, maka air ini disebut air payau. Namun jika lebih, disebut air asin.

CARA MEMBUAT AIR JADI JERNIH

Air merupakan sumber bagi kehidupan. Sering kita mendengar bumi disebut sebagai planet biru, karena air menutupi 3/4 permukaan bumi. Tetapi tidak jarang pula kita mengalami kesulitan mendapatkan air bersih, terutama saat musim kemarau disaat air umur mulai berubah warna atau berbau. Ironis memang, tapi itulah kenyataannya. Yang pasti kita harus selalu optimis. Sekalipun air sumur atau sumber air lainnya yang kita miliki mulai menjadi keruh, kotor ataupun berbau, selama kuantitasnya masih banyak kita masih dapat berupaya merubah/menjernihkan air keruh/kotor tersebut menjadi air bersih yang layak pakai.

Ada berbagai macam cara sederhana yang dapat kita gunakan untuk mendapatkan air bersih, dan cara yang paling mudah dan paling umum digunakan adalah dengan membuat saringan air, dan bagi kita mungkin yang paling tepat adalah membuat penjernih air atau saringan air sederhana. Perlu diperhatikan, bahwa air bersih yang dihasilkan dari proses penyaringan air secara sederhana tersebut tidak dapat menghilangkan sepenuhnya garam yang terlarut di dalam air. Gunakan destilasi sederhana untuk menghasilkan air yang tidak mengandung garam. Saran saya, sebelum anda membeli alat / mesin penjernih air yang harganya ratusan ribu sampai jutaan rupiah, anda mencoba terlebih dahulu beberapa alternatif cara sederhana dan mudah guna mendapatkan air bersih dengan cara mempergunakan filter air / penyaringan air :

1. Saringan Kain Katun.

Pembuatan saringan air dengan menggunakan kain katun merupakan teknik penyaringan yang paling sederhana / mudah. Air keruh disaring dengan menggunakan kain katun yang bersih. Saringan ini dapat membersihkan air dari kotoran dan organisme kecil yang ada dalam air keruh. Air hasil saringan tergantung pada ketebalan dan kerapatan kain yang digunakan.

2. Saringan Kapas

Teknik saringan air ini dapat memberikan hasil yang lebih baik dari teknik sebelumnya. Seperti halnya penyaringan dengan kain katun, penyaringan dengan kapas juga dapat membersihkan air dari kotoran dan organisme kecil yang ada dalam air keruh. Hasil saringan juga tergantung pada ketebalan dan kerapatan kapas yang digunakan.

PENGOLAHAN AIR GAMBUT

  1. PENDAHULUAN
    Kebutuhan akan air bersih di daerah pedesaan dan pinggiran kota untuk air minum, memasak , mencuci dan sebagiannya harus diperhatikan. Cara penjernihan air perlu diketahui karena semakin banyak sumber air yang tercemar limbah rumah tangga maupun limbah industri.
    Cara penjernihan air baik secara alami maupun kimiawi akan diuraikan dalam bab ini. Cara-cara yang disajikan dapat digunakan di desa karena bahan dan alatnya mudah didapat. Bahan-bahannya anatara lain batu, pasir, kerikil, arang tempurung kelapa, arang sekam padi, tanah liat, ijuk, kaporit, kapur, tawas, biji kelor dan lain-lain.
  2. URAIAN SINGKAT
    Pengolahan air gambut menjadi air sehat bisa digunakan di daerah rawa seperti di Kalimantan dan Sumatera yang mengandung gambut. Untuk itu diperlukan suatu cara pengolahan air gambut yang sederhana dan terjangkau oleh masyarakat di daerah tersebut. Caranya dengan menggunakan pasir sebagai saringan.
  3. BAHAN
    1. Air gambut (yang berwarna coklat, kandungan zat organik tinggi; pa rendah; kesadahan rendah)
    2. Zat pengumpul (tanah liat yang berwarna hitam dan berbau busuk)
    3. Pasir (diambil 03-1,2 mm)
  4. PEMBUATAN
    Proses pengolahannya terdiri dari dua tahap, yaitu: 

    1. Dalam drum, air gambut dicampur dengan lempung. Setelah diaduk terjadi proses penggumpulan, penyampuran, penyerapan dan pengendapan.
    2. Proses penyaringan (filtrasi)
      Dalam tabung penyaring, air yang mengalir dari drum mengalami proses filtrasi (fisik dan kimia) sehingga menghasilkan air bersih yang memenuhi persyaratan Departemen Kesehatan RI.
  5. PENGGUNAAN
    Petunjuk Operasi 

    1. Air gambut dimasukkan ke dalam drum/tong kira-kira sebanyak 200 liter semua kran dalam keadaan tertutup.
    2. Siapkan tanah lempung kira-kira sebanyak 40 sendok makan (1/2 kg), kemudian larutkan dalam ember kecil dengan air kira-kira 2 lt.
    3. Masukkan larutan dalam ember tadi ke dalam drum melalui ayakan, kemudian aduk dengan jalan memutar batang pengaduk selama 5-10 menit.
    4. Biarkan air dalam drum selama 45-60 menit agar kotoran mengendap.
    5. Kran 1 dan 3 dibuka untuk mendapatkan air bersih.
      Catatan : Media penyaring harus dalam keadaan terendam air, baik ketika operasi maupun tidak beroperasi.
  6. PEMELIHARAAN
    1. Pembersihan Drum
      Setiap kali setelah dipakai, drum harus dibersihkan dengan cara : 

      1. Kran 1 dan 2 ditutup
      2. Kran 4 (penguras) dibuka, kemudian dibilas dengan air sampai bersih.
    2. Pembersihan Saringan (Filter)
      Pembersihan saringan dilakukan paling lama seminggu sekali, atau kalau air yang keluar dari kran 3 sudah mulai keruh/berwarna dengan cara sebagai
      berikut : 

      1. Tutup kran 1,3 dan 4 kemudian buka kran 2 (penguras)
      2. Tuangkan air bersih ke dalam tabung filter perlahan-lahan, sampai air yang keluar dari kran 2 bersih kembali.
  7. KEUNTUNGAN
    1. Teknologi yang sederhana, diwujudkan dalam bentuk instalasi pengolahan air gambut yang murah, mudah dikelola dan dirawat.
    2. Pembuatan instalasi ini masih dapat disederhanakan lagi dengan memanfaatkan bahan-bahan setempat serta dapat dikerjakan sendiri, sehingga biaya pembuatan dapat terjangkau oleh masyarakat banyak.

PENGOLAHAN AIR PAYAU

Instalasi Pengolahan Air Sistem Reverse Osmosis

Air merupakan kebutuhan dasar yang sangat penting bagi manusia dan makhluk hidup lainnya. Tidak semua daerah mempunyai sumberdaya air yang baik. Wilayah pesisir pantai dan pulau-pulau kecil di muara sungai atau di tengah lautan lepas merupakan daerah-daerah yang sangat miskin akan sumber air bersih, sehingga timbul masalah pemenuhan kebutuhan air bersih terutama pada musim kemarau panjang. Kualitas air tanahnya sangat bergantung dari curah hujan. Pada musim kemarau, air tawar yang berasal dari air hujan sudah tidak tersedia lagi, sehingga air tanah dengan mudah akan terkontaminasi oleh air laut. Pencemaran kualitas air tanah akibat dari kontaminasi air laut disebut intrusi. Ciri adanya intrusi air laut adalah air tanah yang terasa payau atau mengandung kadar garam khlorida dan TDS (Total Dissolved Solid) yang tinggi. Sumber air yang terdapat di daerah-daerah seperti itu umumnya berkualitas buruk (payau atau asin, yaitu TDS > 3000 ppm), baik air tanahnya maupun air permukaannya.

PDAM yang diharapkan mampu memenuhi kebutuhan air bersih bagi masyarakat masih sangat terbatas kapasitasnya. Sampai saat ini baru sekitar 40% masyarakat perkotaan yang dapat menikmati air PDAM. Untuk pedesaan, pemenuhan kebutuhan air bersih baru mencapai maksimal 10%. Apabila air baku berupa air payau atau asin (karena adanya pengaruh/pencemaran air laut), maka PDAM sampai saat ini belum mampu menerapkan teknologi pengolahan air payau/asin untuk air minum.

Untuk mengatasi masalah pemenuhan kebutuhan air bersih tersebut diperlukan penerapan teknologi pengolahan air yang sesuai dengan kondisi sumber air baku, kondisi sosial, budaya, ekonomi dan SDM masyarakat setempat. Instalasi Pengolahan Air Payau dengan sistem Reverse Osmosis (IPA RO) merupakan jawaban yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut.

KEUNTUNGAN DAN KEUNGGULAN

IPA RO mempunyai ciri-ciri yang sangat khusus sebagai model pengolah air payau/asin yaitu:

  1. Energi yang relatif hemat. Konsumsi energi IPA RO relatif rendah untuk kapasitas kecil, yaitu sekitar antara 8 – 9 kWh untuk air baku dengan TDS 35.000 ppm dan 9 – 11 kWh untuk TDS 42.000 ppm (kapasitas produksi 10 – 20 m3/hari).
  2. Hemat Ruangan. Sebagai contoh, untuk IPA RO dengan kapasitas kecil (5 – 10 m3/hari), seluruh komponen sistem tersebut hanya membutuhkan luas ruangan sekitar 6 – 10 m2.
  3. Mudah dalam pengoperasian karena pengendalian operasi terpusat pada satu panel yang kecil dan sederhana.
  4. Kemudahan untuk menambah kapasitas.
  5. Produksi airnya dapat langsung diminum, tanpa dimasak dahulu.
  6. IPA RO mudah dipindahkan ke lokasi lain (ada yang terpasang dalam unit mobil RO atau kontainer).
  7. Biaya produksi air minum bila dibandingkan dengan air mineral dalam kemasan adalah jauh lebih murah, yaitu sekitar Rp. 15,- per liter.

Meskipun IPA RO tersebut mempunyai banyak keuntungan, akan tetapi dalam pengoperasiannya harus memperhatikan petunjuk operasi. Hal ini dimaksudkan agar sistem tersebut dapat digunakan secara baik dan awet. Di dalam pengelolaan IPA RO diperlukan biaya operasional dan perawatan. Biaya tersebut diperlukan antara lain untuk bahan kimia, bahan bakar, pengganti media penyaring, service komponen peralatan dan upah tenaga operator.

SISTEM PEMPROSES

Pada tabel berikut diuraikan beberapa spesifikasi teknis dari komponen IPA RO (kapasitas kecil 5 m3 per hari).

Tabel 1 : Komponen Unit Pretreatment (Pengolahan Pendahuluan)

No Nama Barang Spesifikasi Keterangan
1 Pompa Air Baku Kapasitas min. 15 liter/menit, 220V, 2 phasa, 50 Hz, Tekanan 6 Bar (maksimum) Pompa Nochiatau yang setara (bahan casing dari stainless steel)
2 Tangki Reaktor Kapasitas 0,5 – 1,8 m3/Jam Mild Steel (fiber coating)
3 Penyaring Pasir Cepat Kapasitas 0,5 – 1,8 m3/ Jam Fiber glass (FRP)
4 Penyaring Besi- Mangan Kapasitas 0,5 – 1,8 m3/Jam Fiber glass (FRP)
5 Penyaring Penghilang 

Warna (Filter Karbon)

Kapasitas 1,2 – 1,8 m3/Jam Fiber glass (FRP)
6 Pompa Dosing Tek. 7 Bar, Kap. 4,7 liter/Jam Hypallon, Sebanyak 1 buah
7 Tangki kimia Volume 50 liter Fiber glass (FRP)
8 Penyaring Mikro 

(Cartridge Filter)

Pori-pori = 0,1 – 0,5 m m 

Kapasitas 0,5 -1,8 m3/Jam

Media penyaring Selulosa, 

Cover Plastik

9 Perlengkapan Jumper, Listrik, Pemipaan Plastik, PVC, Logam

Tabel 2 : Komponen Unit RO

No Nama Barang Spesifikasi Keterangan
1 Pompa Dosing Double Acting, Chemtech, Pressure = 7 Bar, Kapasitas = 4,7 liter/jam Hypallon, sebanyak 1 buah
2 Membran RO Thin Film Composit, Tekanan Operasi 1-24 Bar, Temp. 40 oC, 

Air Payau/asin, Toleransi besi, mangan, Khlorida 0,1 ppm (maksimum)

Jumlah elemen 1 buah dengan kapasitas 5 m3 per hari
3 Panel Listrik dan Sistem Kendali Operasi Kelistrikan, indikator tekanan dan konduktivitas, lampu Semi otomatis dan manual
4 Pompa Tekanan Tinggi 2,2 KVA, 3 Phasa, 380V, 50 Hz Stainless Steel
5 Perlengkapan Perpipaan, Flowmeter, Valve, Kabel dan Kelistrikan PVC, Plastik, Logam

Tabel 3 : Penampungan air olahan

No Nama Barang Spesifikasi Keterangan
1 Bak Penampung Air Olahan Bahan Poly Ethylen 

Volume 1000 liter

Sebanyak 2 buah
2 Perlengkapan Perpipaan, Valve (Kran) PVC, logam

Tabel 4 : Pembangkit Listrik

No Nama Barang Spesifikasi Keterangan
1 Generator Kapasitas Max 7,5 KVA, 15-19 

PK, 3 Phasa, 380 V/220 V,

Bahan bakar Solar
2 Panel Kelistrikan 3 Phasa, 380 V dan 220 V Manual

PETUNJUK OPERASI IPA RO

Sebelum operasi pengolahan dimulai, harus dilakukan persiapan pembuatan larutan kimia yang akan diinjeksikan ke dalam proses pengolahan. Bahan-bahan kimia yang dibutuhkan adalah :

a) Antiscalant :

  1. Isi 0,5 l (½ liter ) NASCO 710 ke dalam tangki kimia.
  2. Tambahkan air bersih sampai volume 50 liter.
  3. Aduk sampai merata.

b) Zat Aditif I :

  1. Isi 0,5 kg (½ kilogram ) NASCO BW 738-S ke dalam tangki kimia.
  2. Tambahkan air bersih sampai volume 50 liter
  3. Aduk sampai merata.

c) Anti Biofoulling :

  1. Masukkan 2,5 – 5 liter NASCO 208 ke dalam tangki kimia.
  2. Tambahkan air bersih sampai volume 50 liter.
  3. Aduk sampai merata.

d) Larutan Kalium Permanganat :

    1. Isi 0,5 kg (½ kilogram) Kalium Permanganat ke dalam tangki kimia.
    2. Tambahkan air bersih sampai volumenya 50 liter.
    3. Aduk sampai tercampur rata.

e) Larutan Desinfektan (bila perlu) :

    1. Isikan 250 gr kaporit ke dalam tangki larutan desinfektan.
    2. Tambahkan 25 liter air.
    3. Aduk sampai merata.

Secara umum gambaran tentang urut-urutan proses pengolahan dalam sistem ini dapat dilihat pada Gambar 4. Air baku sangat menentukan bagi tekanan operasi membran, umur membran, kualitas air yang dihasilkan, dan jumlah air olahan yang akan dihasilkan. Unit ini adalah untuk memproduksi air minum, sehingga sedapat mungkin kualitas air baku yang dipakai memenuhi syarat air baku air minum, kecuali untuk TDS dan Khlorida. Jangan gunakan unit RO ini untuk air baku yang tergolong air limbah. Air baku yang sudah dipastikan memenuhi standar air baku untuk sistem IPA RO ini (lihat Tabel 5) dipompa dengan tekanan dorong minimum 5 sampai 6 bar, dan masuk ke dalam tangki reaktor atau tangki pencampur.

Tabel 5 : Standar Kualitas air baku

No. PARAMETER SATUAN AIR BAKU (MAX)
1 Warna Pt. Co Scale 100
2 Bau - Relatif
3 Kekeruhan NTU 20
4 Besi mg/liter 2,0
5 Mangan mg/liter 1,3
6 Khlorida mg/liter 4000
7 Bahan Organik mg/liter 40
8 TDS mg/liter 12000

Langkah Awal Operasi Pengolahan Pendahuluan :

  1. Saringan pasir, besi-mangan dan karbon aktif harus pada posisi service.
  2. Semua valve pada suction (masukan) dan discharge (keluaran) pompa harus terbuka.
  3. Hidupkan pompa air baku.
  4. Pompa dosing Kalium Permanganat atau Khlorin/Kaporit (bila ada) akan bekerja secara otomatis begitu pompa air baku bekerja.
  5. Pompa dosing untuk NASCO 710, NASCO 738-S dan NASCO 208 akan beroperasi bersama (juga secara otomatis) begitu pompa tekanan tinggi untuk sistem RO mulai bekerja.
  6. Cuci-Balik Saringan Pasir dengan cara mengatur multifunction valve pada posisi backwash (Bkw). Jangan lupa untuk membuka valve/kran pembuangan pada setiap operasi pencucian balik pada setiap tabung penyaringan dan menutup inlet valve untuk tabung penyaring berikutnya.
  7. Pada setiap Backwash udara akan keluar dari tabung, tunggu hingga air yang keluar dari valve ini benar-benar air dan tidak tercampur udara.
  8. Cek air backwash, bila butiran media penyaring ada yang keluar, tutup kembali inlet valve perlahan-lahan hingga hanya air yang keluar.
  9. Tunggu pada posisi ini hingga air yang keluar jernih, lalu bilas hingga bersih dan kembalikan multifunction valve pada posisi service.
  10. Lakukan backwash terhadap saringan besi – mangan dan karbon aktif dengan mengulangi langkah 6 hingga 9.

Langkah Awal Operasi Unit RO

Urut-urutan langkah yang harus ditempuh pada permulaan pengoperasian sistem RO dapat diungkapkan sebagai berikut :

  1. Buka 100% kran (valve) masukan air baku, kran pengendali aliran buangan dan kran keluaran (throttling valve) pompa sentrifugal.
  2. Perlahan-lahan tutup kran pengendali aliran buangan (concentrate flow control valve) hingga tekanan operasi pada alat ukur (operating pressure gauge) menunjukkan 50 psi.
  3. Cek semua sambungan pemipaan dan perlengkapannya serta tekanan operasinya.
  4. Jika terdapat kebocoran :
  • Matikan pompa dengan memutar MAN-OFF-AUTO switch ke OFF.
  • Tutup kran air baku yang masuk ke sistem RO.
  • Perbaiki kebocoran.
  • Lanjutkan dari langkah 1 – 3.
  1. Jika terdapat bahan pengawet di dalam elemen RO, bilas sistem pada 50 psi selama 30 menit.
  2. Lanjutkan pengaturan kran pengendali hingga tekanan operasi sekitar 296 psi.
  3. Jumlahkan debit air hasil olahan dan aliran buangannya. Bandingkan besaran-besaran angka ini dengan yang terdapat pada Tabel 6. Debit air baku yang masuk ke sistem RO harus 0,6 m3/jam dan tekanan operasi sekitar 296 psi. Pada saat ini ada kemungkinan debit air baku melebihi 0,6 m3/jam. Jaga jangan sampai lebih dari 1,0 m3/jam (maksimum). Perlahan-lahan kurangi debit air baku dengan menutup kran keluaran (throttling valve) setelah pompa sentrifugal hingga debit air baku sebesar 0,6 m3/jam tercapai.
  4. Setelah debit tersebut tercapai, tekanan akan berubah dan memerlukan perubahan. Ulangi langkah 2 s/d 7 hingga tekanan operasi sekitar 296 psi dan tekanan pada aliran air buangan sekitar 291 psi.
  5. Setelah beroperasi satu jam, ukur dan catat pada lembar jurnal operasi RO seluruh data operasi yang terdapat pada alat ukur yang ada.
  6. Ulangi prosedur langkah awal setelah dua jam. Perhatikan semua parameter seperti langkah awal pertama.

Tabel 6 : Desain operasi unit reverse osmosis

No Jenis 

Kondisi Operasi

Nilai Besaran yang dianjurkan
1 Temperatur Air Baku Max. 45oC
2 Debit Air Baku 0,6 m3/Jam ( 10 liter/menit)
3 Debit Air Hasil Olahan 0,21 m3/Jam(3,5 liter/menit)
4 Debit Air Buangan 0,39 m3/Jam(6,5 liter/menit)
5 Presentasi jumlah air olahan per elemen membran 35 % (maksimum )
6 Kebutuhan Listrik 380 V ; 50 Hz ; 3 phasa
7 pH Air Baku 4 – 9
8 Konsentrasi Mn dalam Air Baku 0,1 ppm (maksimum)
9 Konsentrasi Fe dalam Air Baku 0,1 ppm (maksimum)
10 Kekeruhan (maksimum) Air Baku 1,0 NTU
11 SDI (maksimum) Air Baku 4,0
12 Konsentrasi Khlorin dalam Air Baku < 0,1 ppm
13 Tekanan Maksimum Operasi 300 Psig ( 2,07 Mpa )
About these ads

9 pemikiran pada “Air Asin, Gambut, & Payau Beserta Pengolahannya

  1. hai.. sesamo wong Jambi,mare saling tolong…
    saya tertarik dgn ulasan cara menjernihkan air gambut krn sy ingin mbagikan informasi ini kpd saudara2 kita di Kal-Bar yg mngandalkan air hujan utk keperluan makan dan minum. bisakah saya mendapat info/foto2 alat penyaringannya sehingga air gambut tsbut layak utk dikonsumsi. terimakasih u bantuannya, tlg balas k email ku atau facebook ku mimi wijaya..
    Tuhan memberkati..

  2. Gan,
    Kalo kriteria untuk Air Laut | Air Payau | Air Tawar, TDS dan conductivitynya berapa ya?
    Tolong kirim jg ke email infonya gan.
    Tq

  3. Ping-balik: Cara Membuat Air Minum dari Air Payau | Fresh Cold

  4. infonya menarik sekali bisa ga saya minta keterangan lebih lanjut lg dan foto2 nya? soalnya daerah saya juga memiliki lahan gambut dan mayoritas minum dengan menggunakan air hujan. tolong ya. di email kan ke alamt saya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s