TUGAS AKHIR WACANA


REFERENSI DAN INFERENSI WACANA BAHASA INDONESIA

  1. Bacalah teks berikut dengan cermat lalu jawablah pertanyaan di bawahnya!

(1) Enam jam dijarah api, Hartono Elektronik, pusat penjualan barang-barang elektronik di Jalan Kertajaya, habis terbakar. (2) Puluhan peawat televisi, laser disc, lemari es, mesin cuci, tape deck, radio tape, video dan aneka barang elektronik lainnya jadi abu. (3) Sebagian lainnya meleleh “dimanakn” si jago merah. (4) Total kerugiannya diperkirakan lebih dari Rp 1 miliar. (5) toko yang dipercaya sebagian konsumen menjual dengan harga miring itu mengeluarkan asap sekitar pukul 05.30, saat tiga karyawan yang menjaga toko milik hartono Suprapto itu tertidur pulas. (6) Seorang polisi yang kebetulan berpatroli di jalan Kertajaya mengetahui atap itu curiga. (7) sumber api diduga dari korsleting yang terjadi di lantai dasar sisi timur, ruang penempatan jenset. (8) Api mulai membesar setelah terjadi tiga letusan di ruangan itu. (Jawa Pos, 20 Januari 1997)

  1. Manakah ungkapan kebahasaan yang menunjuk pada acuan (referen) yang sama?
  2. Tunjukkan ungkapan kebahasaan yang sama tetapi menunjuk pada acuan yang tidak sama!
    1. Tariklah inferensi berdasarkan ajaran berikut!
    2. Pengusaha itu pindah ke kantor baru.
    3. Gedung itu bertingkat tiga.

Jawab:

  1. Ungkapan kebahasaan yang menunjuk pada acuan yang sama adalah (a) Hartono Elektronik (1), pusat penjualan barang-barang elektronik terkenal di Jalan Kertajaya (1), toko yang dipercaya sebagian konsumen menjual dengan harga miring (5), dan toko dan toko milik Hartono Suprapto (5); (b) diajarah api (1) dengan “dimakan” si jago merah (3).
  2. Ungkapan kebahasaan sama yang menunjuk pada acuan yang berbeda adalah itu pada (5, 5, 6, dan 8)
    1. Inferensi yang dapat diambil adalah “kantor baru itu bertingkat tiga”.

Petunjuk:Jawablah B bila menurut Anda pernyataan betul dan S bila salah!

  1. Referensi dalam analisis wacana selalu mengacu pada objek yang berada di luar teks. (S)
  2. Referensi yang benar adalah yang sesuai dengan konteksnya. (B)
  3. Dalam menarik inferensi tuturan pendengar harus selalu memperhatikan konteksnya. (B)
  4. Agar pembaca dapat memahami acuan secara tepat ia harus mempunyai pengetahuan yang “sama” dengan penulis. (S)
  5. Dalam percakapan, acuan yang dirujuk harus disepakati oleh pewicara dan pendengar. (S)
  6. Antara penulis dan pembaca harus memiliki inferensi yang sama. (S)
  7. Membuat inferensi berarti memahami proposisi yang “hilang” dalam teks. (B)
  8. Agar dapat memahami informasi tersirat suatu ujaran, pendengar perlu memahami makna eksplikaturnya. (B)
  9. Implikatur dapat memahami dengan baik bila kita memahami budaya masyarakatnya. (B)
  10. Inferensi selalu bergantung pada konteks. (B)

KOHESI DAN KOHERENSI WACANA BAHASA INDONESIA

            Petunjuk: Bacalah dengan seksamaparagraf berikut lalu jawablah pertanyaan dibawahnya!

(1) karier dalam kemiliteran Soedjono Hoemardani diawali di kota kelahirannya, Surakarta, dengan pangkat letnan satu pada Resimen Infantri XV. (2) setelah itu, ia pindah ke markas Teritorial IV di Semarang. (3) Pada 1960, ia pindah ke Jakarta, dan menjabat Wakil Deputi III Kasad. (4) Dua tahun kemudian, dengan pangkat letnal kolonel ia diangkat sebagai Pejabat Deputi III Kasad. (5) Ia pernah dikirim ke Amerika Serikat, mengikuti pendidikan Finance Advanced Course di Fort Benjamin Harrison. (6) Sepulang dari AS, pada awal-awal Orde Baru, pak Djono diberi kepercayaan sebagai asisten pribadi (aspri) Presiden Soeharto. (7) Ketika lembaga ini dihapus, Soedjono Hoemardani masih tetap menampingi Presiden Soeharto, sebagai Irjenbang.

  1. Tunjukkan alat kohesi yang menunjukkan urutan waktu!
  2. Tunjukkan alat kohesi yang menunjukkan pengulangan dengan penggantian (substitusi)!
  3. Tunjukkan alat kohesi sarana tunjuk anafora!
  4. Menurut pendapat Anda apakah paragraf di atas koheren? Berikan alasan jawaban Anda!

Jika telah selesai, periksalah hasil latihan Anda dengan memperhatikan rambu-rambu jawaban berikut!

  1. Alat kohesi urutan waktu: setelah itu (2), dua tahun kemudia (4), sepulang dari AS (6).
  2. Alat substitusi: Soedjono Hoemardani (1) diganti dengan kata ia (2,3,4,5) dan Pak Djono (6), asisten pribadi (6) diganti lembaga (7).
  3. Alat kohesi sarana tunjuk anafora: ini (7) mengacu pada asisten pribadi (6).
  4. Koheren karena ide tiap kalimat saling berhubungan dan ditata dengan apik sehingga mudah dipahami pembaca.

Petunjuk:Untuk menjawab soal nomor 1 sampai 5, pilihlah satu jawaban yang paling tepat!

  1. Unsur pembentuk wacana seperti berikut, kecuali ….
  2. Alat kohesi
  3. Kolokasi
  4. Penataan logis
  5. Penataan koordinatif
    1. Berikut adalah jenis alat kohesi, kecuali ….
    2. Substitusi
    3. Konjungsi
    4. c.    Repitisi
    5. Leksikal
      1. Berikut adalah bentuk penanda konjungsi urutan waktu, kecuali ….
    6. Setelah itu
    7. Oleh karena itu
    8. Akhirnya
    9. d.    Mula-mula
      1. Pancasila dapat diiterpretasikan secara luas sedemikian rupa sehingga meliputi pengertian yang mencakup segala aspek kehidupan. Sebaliknya, Pancasila tidak dapat dipersempit, sehingga menjadi monopoli golongan masyarakat tertentu saja.

Kata sebaliknya pada teks tersebut termasuk jenis alat kohesi ….

  1. a.    Pertentangan
  2. Alahan
  3. Parafrase
  4. Pilihan
    1. Seorang yang berfilsafat dapat diumpamakn seorang yang berpijak di bumi sedang tengadah ke bintang-bintang. Dia ingin mengetahui hakikat dirinya dan kesemestaan galaksi.

Kata dia pada teks di atas termasuk jenis alat kohesi ….

  1. Pertentangan
  2. Pengulangan
  3. c.    Pilihan
  4. Parafrase
    1. Kohesi adalah berhubungan maknawi antarbagian suatu teks yang ditandai oleh penggunaan penandahubung yang dapat diamati.

sebab

Koherensi merupakan salah satu unsur pembentuk koherensi.

  1. Dalam teks, kohesi lebih penting dari koherensi.

sebab

Alat kohesi sebagai sebuah unsur pembentuk teks.

  1. Kehadiranalat kohesi dalam teks berfungsi sebagai pengikat bagian-bagian dari teks.

sebab

dengan adanya alat kohesi, gagasan dalam teks akan lebih mudah dipahami.

  1. Alat kohesi anafora merupakan sarana tunjuk yang digunakan untuk mengacu pada hal-hal yang akan disebutkan.

sebab

Anafora, termasuk jenis kohesi alat kohesi leksikal.

  1. Substitusi merupakan penjalin suatu proposisi dengan unsur bahasa yang lain tanpa mengubah referensinya.

sebab

Substitusi merupakan salah satu alat kohesi leksikal.


 

WACANA LISAN DAN TULIS

Petunjuk:bacalah dengan seksama penggalan percakapan berikut lalu jawablah pertanyaan dibawahnya!

I: (1) Assalamu’alaikum,

P: (2) Wa’alaikumsalaam. (3) Lho, Dik Junaidi. (4) Dengan siapa, Dik?

I: (5) sendirian, Pak. (6) Rencananya, dengan nyonya, tapi … dia ternyata harus menghadiri rapat PKK RT.

P: (7) Apa dia itu pengurus PKK?

I: (8) Bukan, Pak. (9) Hanya kali ini, dia harus mengurus pertemuan itu, karena harus menguruspertemuan pada bulan berikutnya. (11) Pertemuan itu, diadakan setiap bulan.

P: (13) Tempatnya, di mana, biasanya?

I: (14) Kalau tempatnya, biasanya, berpindah-pindah. (15) E … maksud saya, tergantung siapa yang mendapatkan arisan itu. (16) Karena yang mendapat arisan selalu dua, maka tempat pertemuannya, diadakan di rumah salah satu yang mendapat arisan itu. (17) Pertemuan kali ini, diadakan di rumah temannya nyonya. (18) Untung saja tidak di rumah. (19) Kalau di rumah, tentu saya tidak dapat ke sini.

Berdasarkan data di atas, jawablah pertanyaan di bawah ini!

  1. Buktikan dengan data di atas bahwa dalam wacana lisan kalimatnya tidak berstuktur!
  2. Buktikan dengan data bahwa dalamwacana lisan frasa benda yang digunakan pendek.

Petunjuk:Untuk menjawab soal nomor 1 sampai 5, pilihlah satu jawaban yang paling tepat!

  1. Dalam wacana tulis tidak pernah ditemukan ungkapan kebahasaan yang dimaksudkan sebagai pengantar perbaikan (revisi), baik pada aspek bahasa maupun isi dan penataannya, karena ….
  2. Wacana tulis selalu benar
  3. Ada kesempatan merevisi selalu dipublikasikan
  4. c.    Wacana tulis didukung konteksnya
  5. Dalam wacana tulis hubungan antara penutur dan mitra tuturnya tidak langsung.
    1. Wacana lisan cenderung tidak menggunakan piranti hubung (piranti kohesi) karena ….
    2. a.    Pemahaman ujaran dibantu oleh konteksnya
    3. Prinsip efisiensi dalam berbahasa
    4. Pemahaman ujaran dibantu oleh pewicara
    5. Pemahaman ujaran dibantu oleh situasi
      1. Wacana tulis cenderung menggunakan kalimat yang panjang-panjang, karena ….
    6. Agar pembaca lebih mudah memahami gagasan
    7. Penulis mempunyai kesempatan untuk memperbaiki jika ada kesalahan pengungkapan gagasan
    8. Komunikasi antara penulis dan pembaca tidak langsung sehingga idenya perlu ditata secara runtut dari diungkapkan secara jelas
    9. d.    Kalimat pendek/berupa frase dalam wacana tulis lebih sulit dipahami pembaca
      1. Manakah di antara kalimat berikut yang biasa dipakai dalam wacana lisan?
    10. Terus, sekarang bicara soal, cowok saja, ya!
    11. Kurikulum 1994 mata pelajaran Bahasa Indonesia mempunyai karakteristik yang berbeda dari kurikulum sebelumnya
    12. c.    Konotasi jelek apa yang disebut para eks di dunia sepak bola, benar-benar terjadi di Stadion San Siro Milan, Minggu sore lalu
    13. Bagi pengelola tim nasional, pelatnas jangka panjang dirasakan perlu karena pemain-pemain terbaik di Indonesia belum bisa disetel dengan sistem block down seperti di negara yang sepak bolanya sudah maju
      1. Dalam wacan lisan, hal-hal yang sudah diketahui tidak perlu diungkapkan lagi. Hal ini sesuai dengan prinsip ….
        1. Efisiensi
        2. b.      Kualitas
        3. Cara
        4. Relevansi
  1. Dalam wacana lisan, sering ditemukan ungkapan kebahasaan maksud saya begini untuk memperbaiki ujaran yang sudah disampaikan.

sebab

Pemahaman wacana lisan sangat didukung oleh konteksnya.

  1. Dalam wacana lisan, ekspresi yang kurang tepat dapat segera diatasi/diperbaiki.

sebab

Komunikasi antara pembicara dan pendengar biasanya terjadi secara langsung.

  1. Wacana lisan disampaikan secara spontan

sebab

Wacana lisan disusun tanpa persiapan.

  1. Dalam wacana tulis, konteks pemakaian bahasa harus dipaparkan penulis dalam teksnya.

sebab

Komunikasi antara pembaca dan penulis terjadi secara tidak langsung.

  1. Dalam suatu pertuturan, antara pembicara dan pendengar sudah bersepakat mengenai topik yang akan dibicarakan.

sebab

Penataan, gagasan dalam wacana lisan berpola topik-komen.


 

WACANA MONOLOG, DIALOG, DAN POLILOG

Kerjakan latihan berikut.

  1. Carilah masing-masing satu buah contoh bentuk wacana lisan monolog, dialog, dan polilog yang ada dalam lingkungan Anda!
  2. Cobalah identifikasi ciri-ciri masing-masing contoh yang Anda temukan!

Jika telah selesai, periksalah hasil latihan Anda dengan memperhatikan rambu-rambu jawaban berikut!

  1. a. Contoh Monolog

Siswa:

“Yth. Bapak kepala SMPN 1 Malang,

Yth. Bapak dan Ibu Guru SMPN 1 Malang,

Yth. Bapak dan Ibu Wali Murid,

Yth. Para undangan, dan

Rekan-rekan yang saya cintai

Assalamu’alaikum wr, wb.

Pada hari yang berbahagia ini, perkenankanlah kami atas nama wakil lulusan mengajak hadirin untuk memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah, Tuhan yang Maha Kuasa, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kita dapat mengikuti acara perpisahan lulusan SMPN 1 Malang tahun ajaran 1997/1998.

Bapak Kepala Sekolah yang kami hormati,

Hari ini merupakan hari yang berbahagia bagi kami karena telah menyelesaikan sebagian tugas yang harus kami selesaikan. Dengan cara perpisahan ini berarti kami telah diakui keberhasilan perjuangan dan doa kami selama kurang lebih 3 tahun ini. Oleh sebab itu, pada kesempatan yang berbahagia ini tidak lupa kami mengucapkan banyak terimakasih kepada Bapak/Ibu Guru, Bapak/Ibu Staf Tata Usaha.

….”

  1. Contoh Dialog

Konteks: Rama (3 tahun), dan Nita (4 tahun) membuka majalh Bobo dan menemukan gambar rumah.

Rama : Ini lumah (Rumah)? (menunjuk gambar rumah)

Nita   : Iya lumah.

Rama : Lumahnya bagus?

Nita   : Iya, pintel (Pinter)

Rama : Lumahku, lumahku bagus.

Nita   : Lumahnya jelek, kok bagus.

  1. Contoh Polilog

Membahas masalah gender.

Penyiar                   :“Sejak dulu wanita itu selalu dijadikan orang belakang. Orang kelas dua. Kita harus memperjuangkannya.

Wartawan laki-laki : “Itukan sesuai dengan kodratnya.”

Wanita karier          :  “Bukan kodrat itu, tapi dibuat oleh manusia. Seandainya, orang laki-laki, maaf ya, tidak egois dan tidak memandang wanita itu rendah, maka para wanita akan lebih percaya diri. Cobalah lihat sekarang, wanita yang diberi kepercayaan ternyata dapat memimpin negara.

Wartawan laki-laki :“bagaimana pun juga wanita itu tetap terbatas, baik dari segi fisik maupun mental. Secara umum, emosi wanita lebih meledak-ledak”

Wanita karier          :  “Emosi bukan merupakan ukuran rendahnya status wanita”

  1. Ingat bahwa wacana monolog lisan ditandai oleh:

(a)    hanya ada satu pembicara

(b)   tidak ada balikan langsung, dan

(c)    terjadi dalam komunikasi lisan.

Wacana dialog lisan ditandai oleh:

(a)    ada dua pembicara,

(b)   terjadi pergantian peran, dan

(c)    terjadi dalam komunikasi lisan.

Wacana polilog lisan ditandai oleh:

(a)    ada lebih dua orang,

(b)   terjadi pergantian peran, dan

(c)    terjadi dalam komunikasi lisan.

Petunjuk:Untuk menjawab soal nomor 1 sampai 5, pilihlah satu jawaban yang paling tepat!

  1. Penjenisan wacana menjadi wacana monolog, dialog, dan polilog didasarkan pada ….
  2. Jumlah peserta dalam komunikasi
  3. Ada tidaknya pergantian peran peserta komunikasi
  4. Jumlah peserta yang terlibat dalam komunikasi
  5. d.    Hubungan antara sumber pesan dan penerima pesan
    1. Berikut adalah unsur pokok dalam dialog, kecuali ….
    2. a.    Penerima pesan
    3. Topik
    4. Alih tutur
    5. Konteks
      1. Salah satu prinsip yang perlu diperhatikan dalam wacana dialog adalah kesopanan. Yang termasuk prinsip kesopanan adalah seperti berikut, kecuali ….
    6. a.    Jangan memaksakan kehendak
    7. Menjaga agar pendengar tetap baik
    8. Memberikan pilihan kepada mitra tutur
    9. Memberi penguatan kepada mitra tutur
      1. Dalam dialog, bila seorang peserta menyampaikan sesuatu informasi sebanyak yang diperlukan mitra tuturnya, dialog itu berarti memenuhi prinsip ….
    10. a.    Kuantitas
    11. Kualitas
    12. Relasi
    13. Cara
      1. Pergantian tutur dalam wacana polilog tidak resmi diatur oleh ….
    14. pembicara
    15. pendengar
    16. c.    moderator
    17. konvensi pemakai bahasa
  1. pasangan ujaran terdekat dapat terjadi bila ujaran yang dihasilkan seseorang menimbulkan ujaran yang lain.

sebab

Pasangan ujaran tedekaat terjadi pada wacana dialog saja.

  1. Pergantian tutur mengikuti pola tertentu.

sebab

Pola pergantian tutr ditentukan oleh budaya masyrakat pemakai bahasa.

  1. Dalam suatu pasangan terdekat, kemungkinan terjadi adanya rangkaian sisipan.

sebab

Sisipan dalam pasangan terdekat mempunyai fungsi tertentu dalam komunikasi.

  1. Dalam dialog, pergantian tutur dapat terjadi topik yang dibicarakan bagus.

sebab

Topik dapat dikembangkan sesuai dengan minat peserta dialog

  1. Sebuah ujaran hanya dapat dianggapi sebanyak dua macam kemungkinan oleh mitra tuturnya.

sebab

Ujaran tanggapan dapat bervariasi sesuai dengan minat peserta.


 

WACANA DESKRIPSI, EKSPOSISI, ARGUMENTASI, PERSUASI, DAN NARASI

Kerjakan tugas berikut.

  1. Carilah contoh bentuk wacana tulis jenis deskripsi, eksposisi, argumentasi, persuasi, dan narasi yang ada di lingkungan anda, masing-masing satu buah!

Jawab:

  1. Contoh wacana deskrispi

Dicari seorang buron

Seorang laki-laki kira-kira berumur 35 tahun. Rambutnya gondrong sebahu dan lurus. Kulit hitam gelap dan lengan kanan bertato dengan gambar wanita telanjang. Ciri lain yang menonjol, hidungnya mancung dan terdapat bekas gorean melintang dari hidung sampai pipi. Pria ini berkumis tebal dan lebat serta berjenggot.

  1. Contoh wacana eksposisi

(per) Peningkatan kadar keasaman air hujan air hujan disebabkan oleh sisa pembakaran di udara. Bahan bakar fosil (misalnya minyak bumi, gas alam, batu bara) bila dibakar akan menghasilkan sulfur dioksida (SO2) dan nitrogen oksida (NOx) sebagai penyebab utama keasaman itu. Penghasil SO2 dan NOx terbesar adalah pembangkit listrik dan industri yang menggunakan batubara sebagai bahan bakar. SO2 dan NOx itu juga dilepaskan oleh kendaraan di jalan. Zat-zat yang berat akan jatuh ke bumi dan yang ringan mengambang di udara.  Jika hujan, zat-zat yang mengembang di udara itu, tersapu bersih oleh hujan yang turun. Makin banyak zat-zat itu makin asam air hujan yang menyapunya.

  1. Contoh wacana argumentasi

Kemama tiga ratus rupiah. Ship khan, Bu? Jadi puan berpikir kritis mahasiswa S! Dapat ditingkatkan, antara lain dengan memberikan latihan secara intensif dalam menyusun argumen. (Al) Makalah mahasiswa S1 menunjukkan kelemahan penalaran. Makalah-makalah mahasiswa S1 mengandung argumen-argumen yang rancu. (Pem) Berpikir kritis ditandai oleh kemampuan menggunakan bahasa secara jelas dan tepat. Berpikir kritis ini nampak pada skripsi dan makalah mahasiswa S1 yang ditulis dengan penalaran baik.

  1. Contoh wacana persuasi

LD : Gratis! Bu, ada yang gratisan lagi!

Rinso satu kilo seakrang berhadiah, hadiahnya itu….

WD : O, apa sih? (dengan penuh rasa ingin tahu)

LD : He, betul kan … nggak sabar khan! Hadiah-nya itu satu sabun Livebuoy seratus gram seharga tiga ratus rupiah. Ship khan, Bu? Jadi ingat, setiap beli Rinso satu kilogram bertanda khusus, jangan lupa minta hadiahnya satu sabun Livebuoy! Okey, cepet lho sebelum habis!

  1. Contoh wacana Narasi

Natalisa, seorang gadis remaja, sangat mencintai binatang piaraan. Setiap pagi dia membawa anjingnya berjalan-jalan. Setelah itu dia memberi makanan kedua anjingnya dan tiga ekor kucing yang juga dipeliharanya. Kemudian, dia membersihkan sangkar burung nuri yang baru dibelinya dari pasar dan setelah selesai langsung memberi makannya. Kalau sang surya sudah memancarkan sinarnya, dijemurnya burung nuri itu selama satu jam. Setelah pekerjaan-pekerjaan mengurus binatang piaraannya selesai, akhirnya dia makan pagi di dapur.

  1. Cobalah identifikasi ciri-ciri masing-masing contoh yang anda temukan!

Jawab:

Ciri wacana deskripsi: (a) jenis wacana yang ditujukan kepada penerima pesan agar dapat membentuk suatu citra (imajinasi) tentang sesuatu hal (b) aspek kejiwaan yang dituju adalah emosi, (c) tidak bersifat evaluatif.

Wacana eksposisi berciri:  (a) bertujuan untuk menerangkan sesuatu hal, (b) dapat berisi konsep-konsep dan logika yang harus diikuti, (c) untuk memahaminya diperlukan proses berpikir.

Wacana argumentasi berciri: (a) adanya isu yang sifatnya kontroversi antara penutur dan mitra tutur, (b) berusaha menjelaskan alasan-alasan yang logis untuk meyakinkan mitra tuturnya (pembaca atau pendengar). (c) biasanya topik diangkat karena mempunyai nilai, (d) elemen pokoknya, yaitu (1) pernyataan, alasan, dan pembenaran.

Wacana persuasi berciri: (a) berutujuan mempengaruhi mitra tutur dan (b) aspek yang dituju adalah emosi dan pikiran.

Wacana narasi berciri: (a) berisi berita, (b) unsur yang penting adalah waktu, pelaku, dan peristiwa, (c) untuk menggerakkan aspek emosi.

  1. Selanjutnya diskusi hasil kerja anda dengan teman anda, untuk mencocokkan pemahaman anda!

Jawab:

Hasil diskusi bergantung pada wacana yang anda temukan dengan memperhatikan ciri-ciri jenis wacana pada rambu-rambu jawaban nomor 2.

Petunjuk: Pilihlah salah satu alternatif jawaban yang anda anggap paling tepat!

  1. Pembedaan jenis wacana menjadi deskripsi, eksposisi, argumentasi, persuasi, dan narasi didasarkan pada….
  2. Tujuan komunikasi
  3. b.    Peran penutur dalam komunikasi
  4. Saluran komunikasi
  5. Cara memproduksi pesan
    1. Pemakaian bahasa dalam kampanye politik menjelang pemilihan umum, dikategorikan sebagai wacana jenis….
    2. Argumentasi
    3. b.    Persuasi
    4. Deskripsi
    5. Eksposisi
      1. Jenis wacana persuasi, sasaran penyampaian pesan adalah aspek….
    6. Emosi
    7. Intelektual
    8. Emosi dan intelektual
    9. d.    Keterampilan
      1. Jenis wacana argumentasi, sasaran penyampaian pesan adalah aspek….
    10. Emosi
    11. Intelektual
    12. c.    Emosi dan intelektual
    13. Keterampilan
      1. Jenis wacana narasi menonjolkan aspek berikut, kecuali….
    14. a.    Urutan waktu
    15. Imajinasi
    16. Adanya tokoh
    17. Intelektual
  1. Jenis wacana deskripsi bermaksud menggambarkan suatu objek seperti apa adanya.

Sebab

Wacana deskripsi bermaksud membentuk imajinasi pembacanya.

  1. Jenis wacana eksposisi hanya cocok untuk menyampaikan konsep abstrak

Sebab

Untuk memahami wacana eksposisi perlu melibatkan aspek emosional dan intelektual.

  1. Wacana argumentasi pada dasarkan bermaksud mempengaruhi pembaca agar dapat menerima gagasan yang ditawarkan.

Sebab

Wacana argumentasi perlu didukung oleh alasan-alasan yang dapat meyakinkan pembacanya.

  1. Pernyataan (claim) dalam wacana argumentasi merupakan proposisi yang hendak dipertahankan oleh penulis.

Sebab

Dalam wacana argumentasi, penulis harus mengambil posisi sesuai dengan keyakinan.

  1. Unsur waktu merupakan aspek terpenting dalam wacana narasi.

Sebab

Unsur waktu dapat membuat pembaca mengaktifkan emosinya.


 

KONTEKS WACANA BAHASA INDONESIA

Latihan 1

  1. Berikan penjelasan singkat tentang konteks, konteks linguistik, koteks, konteks ekstralinguistik, dan konteks situasi!

Jawaban:

Konteks adalah benda yang menjadi lingkungan atau situasi penggunaan bahasa. Konteks linguistik adalah konteks yang berupa unsur bahasa. Koteks adalah teks atau bagian teks yang menjadi ligkungan bagian teks yang lain dalam sebuah wacana. Konteks ekstra linguistik adalah konteks yang bukan unsur bahasa. Konteks situasi adalah konteks yang berupa faktor-faktor pembentuk situasi.

  1. Apa peranan konteks dalam penggunaan bahasa?

Jawaban:

Konteks berperan menentukan ketepatan bentuk dan makna dalam penggunaan bahasa.

  1. Mengapa partisipan harus memperhatikan konteks penggunaan bahasa?

Jawaban:

Partisipan harus memperhatikan konteks penggunaan bahasa agar dapat menggunakan bahasa secara tepat dan dapat menentukan makna secara tepat pula. Dengan kata lain, penggunaan bahasa, baik produktif maupun responsif, senantiasa terikat konteks dalam penggunaan bahasa.

Latihan 2

Pilih salah satu jawaban yang tepat!

  1. Konteks adalah….
  2. Benda atau hal yang bersama ada dengan teks
  3. Unsur-unsur peristiwa yang mengiringi teks
  4. c.    Unsur-unsur yang memebentuk teks
  5. Benda atau hal yang di luar teks
    1. Manakah yang bukan konteks?
    2. Partisipan
    3. b.    Topik
    4. Sarana komunikasi
    5. Tujuan komunikasi
      1. Selain konteks ada koteks. Yang dimaksud koteks adalah sebagai berikut ini, kecuali….
    6. Teks yang menjadi lingkungan teks yang lain
    7. Lingkungan teks yang berupa teks
    8. Bagian teks yang menjadi lingkungan bagian teks yang lain
    9. d.    Lingkungan di luar teks
      1. Konteks linguistik adalah konteks yang….
    10. Berupa satuan-satuan bahasa
    11. Dapat dikenali dari segi ilmu bahasa (linguistik)
    12. c.    Berupa kata-kata dan kalimat-kalimat yang dituturkan oleh partisipan
    13. Berupa teks atau bagian teks yang menjadi lingkungan teks atau bagian teks
      1. Pengguna bahasa harus memperhatikan konteks berdasarkan pertimbangan bahwa….
    14. a.    Keberhasilan tujuan komunikasi ditentukan oleh konteks
    15. Makna tuturan ditentukan oleh konteks
    16. Konteks senantiasa menjadi lingkungan teks
    17. Tidak ada tuturan tanpa konteks
      1. Apa yang tidak termasuk konteks ekstralinguistik?
    18. Topik
    19. Partisipan
    20. c.    Waktu
    21. Paragraf


 

MACAM-MACAM KONTEKS

Latihan 1

  1. Konteks linguistik adalah konteks yang …
    1. Dipelajari dalam bidang linguistik
    2. B.     Berupa unsur-unsur bahasa
    3. Dituturkan oleh partisipan
    4. Berupa kata-kata
  2. Apa saja yang termasuk dalam konteks linguistik?
    1. Penyebutan depan, sifat kata kerja, kata kerja bantu, pengetahuan
    2. Sifat kata kerja, pengetahuan, preposisi, kata kerja bantu
    3. C.     Penyebutan depan, sifat kata kerja, kata kerja bantu, preposisi
    4. Pengalaman partisipan, preposisi, penyebutan depan
  3. Konteks ekstralinguistik adalah konteks yang …
    1. Tidak dapat dikenali dengan linguistik
    2. B.     Unsur di luar bahasa yang menjadi lingkungan wacana
    3. Unsur yang dapat dikenali oleh partisipan
    4. Hal-hal yang terkait dengan penggunaan bahasa
  4. Yang tersebut berikut ini tidak termasuk konteks ekstralinguistik …
    1. Partisipan, topik, latar, saluran
    2. Topik, kerangka topik, latar, kode
    3. Partisipan, praanggapan, topik, latar
    4. D.    Waktu, tempat, partisipan, makna
  5. Penggunaan konteks linguistik dan ekstralinguistik untuk menganalisis wacana bersifat …
    1. A.     Simultan
    2. Terpisah
    3. Sendiri-sendiri
    4. berurutan


 

PENGGUNAAN KONTEKS DALAM ANALISIS WACANA

Latihan 1

  1. Jika analisis wacana diarahkan pada kalimat dalam teks, sasaran analisis adalah …
    1. Kegramatikalan kalimat
    2. Struktur kalimat
    3. Kaidah konstruksi kalimat
    4. D.    Nilai fungsional kalimat
  2. Mengapa analisis satuan unsur wacana senantiasa didasarkan pada konteks?
    1. Karena konteks dapat dicari oleh analisis wacana
    2. B.     Karena status dan nilai fungsional kalimat ditentukan oleh konteks
    3. Karena konteks itu meliputi konteks linguistik dan ekstralinguistik
    4. Karena sasaran analisis wacana adalah status dan nilai fungsional kalimat dalam teks
  3. Sebuah acuan kewacanaan dapat ditentukan berdasarkan …
    1. Kepekaan yang dimiliki partisipan
    2. Gaya penuturan wacana
    3. C.     Konteks yang berlaku
    4. Perkiraan partisipan
  4. Apakah maksud tuturan dapat ditentukan oleh konteks?
    1. Ya, karena maksud tuturan itu termasuk konteks
    2. Ya, karena konteks tidak dapat dilepaskan dari wacana
    3. C.     Ya, karena konteks merupakan faktor penentu maksud tuturan
    4. Ya, karena partisipan senantiasa mempertimbangkan konteks
  5. “Menteri Luar Negeri, Ali Alatas, baru saja tiba di tanah air. Dia segera memberikan laporan kepada Presiden bahwa kunjungannya ke berbagai negara di Eropa harus segera ditindaklanjutui”.

Siapakah yang dimaksudkan dengan “dia” pada kalimat kedua teks tersebut?

  1. Menteri Luar Negeri
  2. Ali Alatas
  3. Menteri
  4. D.    Menteri Luar Negeri, Ali Alatas

 

 


 

PRINSIP INTERPRETASI LOKAL DAN PRINSIP ANALOGI

Latihan 1

  1. Apa yang dimaksud dengan lokal dalam interpretasi lokal?

Jawaban:

Lokal dalam interpretasi lokal adalah semua konteks yang bersama ada dengan wacana. Dengan kata lain, lokal itu adalah konteks lokal wacana. Konteks lokal itu bisa berupa konteks linguistik, non linguistik, konteks fisik dan non fisik, konteks waktu serta partisipan.

  1. Apa yang dimaksud dengan interpretasi lokal dalam analisis wacana?

Jawaban:

Interpretasi lokal adalah interpretasi wacana yang didasarkan pada konteks lokal (linguistik dan nonlinguistik).

  1. Apa yang dimaksud dengan analogi dan berpikir analogi?

Jawaban:

Analogi adalah persamaan atau persesuaian antara dua hal yang berlainan. Berpikir analogi adalah berpikir dengan menyamakan satu hal dengan hal lain dalam rangka melakukan interpretasi.

  1. Apa yang dimaksud dengan interpretasi analogi dalam analisis wacana?

Jawaban:

Interpretasi analogi dalam analisis wacana adalah interpretasi wacana berdasarkan keteraturan yang berlaku pada wacana yang lain, yakni wacana yang sama.

  1. Mengapa seorang partisipan selalu tidak mengalami kesulitan dalam memahami wacana ynag baru?

Jawaban:

Orang tidak mengalami kesulitan dalam interpretasi wacana karena sudah memiliki pengalaman yang relevan untuk memahami wacana yang baru itu. Dengan pengalaman tersebut, dia dapat melakukan cara berpikir analogi.

Latihan 2

  1. Dua prinsip dalam analisis wacana adalah prinsip interpretasi …
  2. Lokal dan temporal
  3. Tekstual dan nontekstual
  4. Linguistik dan nonlinguistik
  5. D.  Lokal dan analogi
    1. Pengertian lokal dalam prinsip interpretasi lokal mencakup konteks …
      1. Yang berupa tempat saja
      2. Linguistik atau koteks
      3. C.     Linguistik dan konteks nonlinguistik
      4. Ranah
  6. Prinsip interpretasi lokal digunakan oleh analis wacana untuk melakukan interpretasi dengan persyaratan sebagai berikut …
    1. A.     Tidak boleh membentuk konteks yang lebih besar dari pada yang diperlukan
    2. Boleh membentuk konteks yang lebih besar dari pada yang diperlukan
    3. Tidak perlu mempertimbangkan konteks yang bukan konteks lokal
    4. Hanya boleh mempertimbangkan konteks lokal
  7. Analogi adalah …
    1. A.     Persamaan dan perbedaan dua benda atau hal yang berlainan
    2. Cara berpikirberdasarkan kesamaan atau kesesuaian dua benda atau hal yang berlainan
    3. Kejadian dua peristiwa yang bersamaan
    4. Hubungan logis antara dua benda atau hal yang berlainan
  8. Dengan interpretasi analogi, analisis wacana harus mempertimbangkan …
  9. Konteks yang relevan saja
  10. B.     Semua konteks secara lengkap
  11. Konteks lokal saja
  12. Konteks lokal linguistik atau koteks


 

SKEMATA DALAM ANALISIS WACANA

Latihan 1

  1. Apa yang dimaksud dengan skemata?

Jawaban:

Skemata adalah pengetahuan yang terkemas secara sistematis dalam ingatan manusia.

  1. Mengapa manusia memiliki skemata?

Jawaban:

Manusia memiliki skemata karena manusia memiliki organ otak yang memungkinkan manusia itu memiliki ingatan, dan ingatan manusia itu bersifat sistematis.

  1. Mengapa pula manusia dengan mudah dapat menggunakan skemata yang dimilikinya?

Jawaban:

Manusia dengan mudah dapat menggunakan skemata karena skemata yang dimilikinya itu merupakan representasi pengetahuan yang sifatnya generik. Dengan skemata demikian itu, dia dengan mudah dapat mengaplikasikan skematanya pada wacana baru.

  1. Apa yang dimaksud dengan struktur pengendalian skemata?

Jawaban:

Struktur pengendalian skemata adalah struktur cara pengaktifan skemata yang mencakup dua kategori struktur, yakni (1) cara pengaktifan dari atas ke bawah, dan (2) cara pengendalian dari bawah ke atas.

  1. Apa fungsi skemata bagi pembaca/pendengar dan bagi analisis wacana?

Jawaban:

Bagi pembaca/pendengar, skemata berfungsi untuk memahami teks. Bagi analisis wacana, di samping berfungsi untuk melakukan analisis wacana lebih lanjut dari berbagai aspek elemen-elemen wacana, struktur wacana, acuan, koherensi dan kohesi wacana.

Latihan 2

  1. Skemata adalah …
    1. Sembarang pengetahuan yang terdapat dalam ingatan
    2. Pengetahuan yang terdapat dalam ingatan
    3. C.     Pengetahuan yang terkemas secara sistematis dalam ingatan
    4. Pengetahuan yang harus diatur dalam ingatan
  2. Skemata memiliki struktur pengendalian, yakni …
    1. A.     Cara pengaktifan skemata sesuai dengan kebutuhan
    2. Susunan skemata dalam ingatan
    3. Bangun konstruksi pengetahuan dalam ingatan
    4. Tipe-tipe struktur pengetahuan dalam ingatan
  3. Dalam pengendalian struktur skemata ada cara pengaktifan dari atas ke bawah, dan sebaliknya, ada lagi cara pengaktifan skemata yakni …
    1. A.     Data ke konsep atau bagian ke kebutuhan
    2. Yang konkret ke yang abstrak
    3. Yang jelas ke yang tidak jelas
    4. Konsep ke data atau dari kebutuhan ke bagian
  4. Bagi pembaca/pendengar, skemata berfungsi untuk …
    1. Mencocokkan pengetahuan dengan isi teks
    2. B.     Menilai isi teks
    3. Memahami isi teks
    4. Menguji kebenaran isi teks
  5. Bagi analisis wacana, skemata digunakan untuk hal berikut, kecuali
    1. Memahami wacana
    2. Menemukan elemen-elemen wacana
    3. Menemukan acuan kewacanaan
    4. D.    Menyusun wacana baru

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

ANALISIS KOHESI DAN KOHERENSIA

Latihan 1

  1. Bacalah teks tersebut baik-baik! Analisislah piranti kohesi yang terdapat dalam teks ini!

Teks 15

Lomba Burung Berkicau Diundur

Lomba burung berkicau dan ayam berkisar yang sedianya dilangsungkan 16 Februari diundur pada 23 Februari. Lomba ini diselenggarakan Pemda Sidoarjo ke-138. Lomba itu dilaksanakan untuk melestarikan budaya memelihara burung dan ayam berkisar tersebut. Harap para peserta dan pecinta memperhatikan.

(Dikutip dengan modifikasi dari Jawa Pos 15 Februari 1997:11)

Jawaban:

Piranti kohesi dalam teks 15

  1. Gramatikal

Penujukan : Lomba ini, Lomba itu.

  1. Leksikal

Repetisi   : lomba, lomba ini, lomba itu

Sinonimi : dilangsungkan, diselenggarakan

Kolokasi  : lomba, peserta

  1. Jelaskan hubungan antar kalimat dalam setiap teks berikut!

Teks 16

01 : Kepalaku sakit

02 : Bodrex, ya?

Jawaban:

Dengan kalimat “Kepalaku sakit”, 01 bermaksud minta bantuan kepada 02. Berdasarkan tafsirannya itu, 02 menawarkan salah satu jenis obat (Bodrex) dengan kalimat “Bodrez, ya?” Dengan begitu kedua kalimat tersebut berhubungan. Pada teks 17, tuturan 01 dipahami oleh 02 bahwa kebutuhan makna harus diatasi dengan cara ke luar. Karena itu, lahirlah kalimat 02 “Ke luar saja nanti”. Dengan maksud untuk mencari makanan.

Latihan 2

Perhatikan teks berikut!

(1)   Saya datang ke sini ada perlu dengan toni. (2) begini! (3) saya bermaksud mengajak adik saya itu pulang. (4) orang tua sudah sakit-sakitan. (5) kesibukan saya di Surabaya tidak mungkin saya tinggalkan. (6) Satu-satunya yang mungkin adalah adik saya.

  1. Toni pada kalimat (1) dapat dikenali sebagai adik penutur berdasarkan petunjuk berikut.
  2. Kata saya pada kalimat (1)
    1. B.       Penggunaan frasa adik saya itu pada kalimat (3) dan frasa adik saya pada kalimat (6).
    2. Kata sakit-sakitan pada kalimat (4) memberikan petunjuk bahwa penutur dan penutur dan toni memiliki orang tua yang sama.
    3. Frasa kesibukan saya pada kalimat (5) menunjukkan kedekatan hubungan dengan adik saya.
  3. Harapan penutur agar Toni pulang dimaksudkan agar Toni mau menunggui orang tua. Tujuan itu dapat dikenali dari…
  4. Kalimat (3)
  5. Kalimat (4)
  6. C.       Kalimat (5)
  7. Kalimat (6)
  8. Kata begini pada kalimat (2) mengganti…
  9. Kalimat (3), (4)
  10. Kalimat (4), (5)
  11. C.       Kalimat (3), (4), (5), (6)
  12. Kalimat (3), (4), (6)
  13. Dari teks itu dapat diketahui bahwa orang tua penutur tidak di Surabaya. Hal itu dapat diketahui dari isi …
  14. Kalimat (3)
  15. Kalimat (4)
  16. C.       Kalimat (5)
  17. Kalimat (6)
  18. Pada teks itu dapat diketahui bahwa penutur tidak dapat pulang untuk menunggui orang tuanya berdasarkan isi …
  19. Kalimat (3)
  20. Kalimat (4)
  21. C.       Kalimat (5)
  22. Kalimat (6)


 

SEJARAH SINGKAT KAJIAN WACANA

Latihan 1

  1. Coba anda terangkan secara singkat latar belakang munculnya kajian terhadap wacana!

Jawaban:

Kajian terhadap analisis wacana muncul karena ketidakpuasan para ahli bahasa terhadap hasil kajian linguistik.

  1. Coba jelaskan perbedaan antara kajian sintaksis dengan wacana ! Beri Contoh !

Jawaban:

Dalam kajian sintaksis, satuan bahasa terbesar adalah kalimat. Sedangkan dalam studi wacana, mempelajari satuan bahasa (rangkaian kalimat) yang digunakan dalam komunikasi.

  1. Jelaskan 2 manfaat mempelajari wacana !

Jawaban:

Manfaat mempelajari wacana antara lain, (a) dapat memahami proses belajar bahasa pada anak-anak. (b) mengetahui kemampuan bercakap-cakap seseorang, dan (c) mengetahui perilaku bahasa dalam konteks tertentu.

  1. Munculnya kajian terhadap wacana disambut baik oleh berbagai ilmuwan, baik dari bidang sosiolinguistik dan psikologuistik. Coba jelaskan maksud pernyataan tersebut !

Jawaban:

Maksudnya, bahwa para ahli yang berkecimpung di bidang sosiolinguistik maupun psikolinguistik menyambut dengan baik kehadiran ilmu baru dalam bidang bahasa yang dinamakan analisis wacana itu. Sambutan tersebut ditindaklanjuti dengan mengembangkan kajian wacana yang dikembangkan oleh ahli sosiolinguistik lebih menekankan kajian satuan bahasa yang dikaitkan dengan aspek-aspek sosial. Sedangkan ahli psikolinguistik lebih menekankan pada proses psikologis pemakai bahasa dalam menghasilkan maupun memproduksi wacana.

Latihan 2

  1. Munculnya studi tentang analisis wacana di dorong oleh…
  2. Perkembangan ilmu bahasa
  3. Perkembangan filsafat Yunani
  4. C.       Kajian linguistik tidak memuaskan
  5. Kajian linguistik yang terbatas
  6. Sinclair dan Coulthrad adalah 2 orang yang berpengaruh dalam studi analisis wacana, mereka menganalisis wacana yang di bentuk di lingkungan…
  7. Interaksi kelas
  8. B.       Masyarakat
  9. Pasar
  10. Sekolah
  11. Unsur struktur yang ditemukan dalam studi analisis wacana interaksi kelas antara lain seperti berikut, kecuali
  12. A.       Pelajaran
  13. Transaksi
  14. Pertukaran
  15. Gerakan
  16. Perbedaan menonjol kajian analisis wacana dengan studi linguistik sebelumnya adalah …
  17.  Pelibatan konteks dalam pemahaman ujaran
  18. Pelibatan unsur pembicara dalam pemahaman ujaran
  19. C.       Kajian analisis wacana lebih luas
  20. Kajian analisis wacana lebih bermanfaat


 

PENGERTIAN WACANA DAN ANALISIS WACANA

Latihan 1

  1. Wacana merupakan satuan bahasa terbesar di atas kalimat. Jelaskan maksud pernyataan tersebut !

Jawaban:

Maksudnya, tataran kebahasaan yang kita kenal selama ni adalah kalimat, kalusa, frasa, kata dan bunyi. Sedangkan wacana merupakan satuan bahasa yang tingkatannya di atas kalimat. Wacana biasanya didukung oleh lbih dari satu kalimat dan satuan bahasa tersebut digunakan dalam proses komunikasi.

  1. Pada suatu malam, anda mendengarkan siaran Dunia Dalam Berita TVRI pada jam 21.00. jenis kategori wacana apakah siaran tersebut?

Jawaban:

Siaran Dunia Dalam Berita termasuk kategori wacana lisan transaksional. Alasannya, wacana tersebut menggunakan saluran bahasa lisan dan lebih menekankan pada penyampaian isi berita (gagasan) dan tidak menghendaki adanya tanggapan langsung dari pemirsa.

  1. Jelaskan maksud fungsi informasional bahasa !

Jawaban:

Fungsi informasional bahasa berfokus pada makna. Maksudnya, bahasa lebih ditekankan pada fungsinya untuk menginformasikan sesuatu. Misalnya melaporkan, mendeskripsikan, menjelaskan, dan mengkonfirmasi sesuatu.

  1. Analisis wacana mengkaji bahasa yang digunakan dalam konteks sosial. Jelaskan maksud pernyataan tersebut !

Jawaban:

Maksudnya, analisis wacana merupakan suatu kajian yang meneliti atau menganalisis bahasa yang digunakan secara alamiah, baik dalam bentuk tulis, maupun lisan. Penggunaan bahasa secara alamiah ini berarti penggunaan bahasa seperti dalam komunikasi sehari-hari.

Latihan 2

  1. Kata wancana dalam kosa kata bahasa Indonesia mengalami…
  2. Perubahan makna
  3. Pegeseran makna
  4. C.       Perluasan makna
  5. Pergantian makna
  6. Istilah wancana, yang sinonim dengan discourse adalah …
  7. Rangkaian beberapa kalimat
  8. B.       Satuan bahasa yang digunakan dalam komunikasi
  9. Bahasa dalam pemahaman
  10. Penggunaan kalimat
  11. Situasi komunikasi yang menghasilkan wacana, harus melibatkan komponen seperti berikut, kecuali…
  12. Penyampaian pesan
  13. Konteks
  14. C.       Saluran
  15. Keinginan
  16. Khotbah Jumat di masjid merupakan bentuk wacana …
  17. A.       Lisan transaksional
  18. Lisan interaksional
  19. Tulis transaksional
  20. Tulis interaksional
  21. Bila anda berdiskusi kelompok dengan teman untuk membahas suatu masalah maka wacana yang dihasilkan termasuk wacana …
  22. Lisan transaksional
  23. B.       Lisan interaksional
  24. Tulis transaksional
  25. Tulis interaksional
  26. Fungsi transaksional bahasa lebih menekankan pada aspek …
  27. A.       Penyampaian gagasan
  28. Terjadinya interaksi timbal balik antar penutur
  29. Keratan hubungan antar penutur
  30. Keindahan bahasa yang digunakan
  31. Makna ujaran dalam wacana sangat ditentukan …
  32. Pewicara yang mempunyai pesan
  33. Konteks pembicaraan
  34. C.       Topik yang dibahas
  35. Saluran informasinya
  36. Fungsi direktif bahasa berorientasi pada …
  37. Penyampaian pesan
  38. Pesan yang disampaikan
  39. Saluran
  40. D.       Penerima pesan
  41. Dalam situasi komunikasi, bahasa mempunyai fungsi kontekstual, maksudnya bahwa …
  42. Dalam memahami makna ujaran harus mempertimbangkan konteksnya
    1. Dalam memahami makna ujaran kadang-kadang perlu mempertimbangkan konteksnya
  43. Konteks pemakaian bahasa tergantung pada penyampaian pesan
  44. D.       Konteks wacana itu bermacam-macam sesuai dengan kebutuhan
  45. Analisis wacana merupakan disiplin ilmu yang …
  46. Memanfaatkan kajian pemakaian bahasa
  47. B.       Mengkaji bahasa dalam pemakaian
  48. Mengkaji bahasa paparan
  49. Mengkaji peran sumber pesan


 

PERSYARATAN TERBENTUKNYA WACANA

Latihan 1

Bacalah kedua teks berikut dengan seksama. Lalu tentukan mana di antara keduanya yang dapat dikategorikan wacana dan mana yang bukan wacana. Berikan alasan anda.

Teks A

(1)   Dibandingkan dengan ilmu-ilmu alam yang telah mengalami perkembangan sangat pesat, ilmu-ilmu soaial agak tertinggal di belakang. (2) beberapa ahli bahkan berpendapat bahwa ilmu-ilmu sosial takkan pernah menjadi ilmu dalam arti sepenuhnya. (3) di pihak lain terdapat pendapat bahwa secara lambat laun ilmu-ilmu soaial akan berkembang juga meskipun tak akan mencapai derajat keilmuan seperti apa yang dicapai ilmu-ilmu alam. (4) menurut kalangan lain, tak dapat disangkal bahwa dewasa ini ilmu-ilmu soaial masih berada dalam tingkat yang belum dewasa. (5) walaupun begitu, mereka beranggapan bahwa penelitian-penelitian di bidang ini akan mencapai derajat keilmuan yang sama seperti yang dicapai sama seperti yang dicapai ilmu-ilmu alam.

Teks B

(1)   Demonstrasi adalah suatu metode untuk menjelaskna makna suatu istilah. Terutama yang termasuk dalam kelompok aksi, dengan memperagakan aksi tersebut. (2) belakangan ini sering kita dengar dan baca adanya demonstrasi di berbagai daerah. (3) dalam mata pelajaran ilmu alam, guru dan murid harus mempersiapkan sejumlah demonstrasi untuk memperoleh pemahaman lebih baik. (4) kita harus selalu waspada terhadap hal-hal tersebut di atas.

Jawaban:

Teks yang layak dikategorikan wacana adalah Teks A. Karena memenuhi prinsip kebutuhan dan kepaduan. Buktinya (a) semua kalimat pada teks tersebut mendukung suatu ide pokok, yaitu perbedaan perkembangan antara ilmu-ilmu alam dan ilmu sosial dan (b) ide-ide pendukung ditata secara runtut dan sistematis sehingga pesan yang disampaikan penulis mudah dipahami.


 

ELEMEN-ELEMEN WACANA

Latihan 1

  1. Informasi utama sebuah wacana terdapat pada …
    1. A.                 Elemen inti
    2. Elemen wajib
    3. Elemen luar inti
    4. Elemen manasuka
    5. Elemen-elemen wacana tertata secara …
      1. Random
      2. B.     Sistematis
      3. Hirarkis
      4. Acak
      5. Kehadiran elemen wacana bergantung pada …
        1. A.     Kehendak penutur
        2. Tuntutan komunikasi
        3. Kebaruan informasi
        4. Urutan informasi
        5. Manakah pernyataan yang benar?
          1. Elemen wacana selalu diwadahi dalam sebuah kalimat
          2. B.     Elemen wacana dapat diwadahi dalam sebuah kalimat atau lebih
          3. Elemen wacana ditentukan berdasarkan segmentasi wacana
          4. Elemen wacana tidak dapat dikenali secara jelas

MATERI METODE PENELITIAN BAHASA


DASAR-DASAR METODE PENELITIAN

-          Penelitian

Suatu kegiatan untuk mencari, mencatat, merumuskan, dan menganalisis sampai menyusun laporan.

-          Metodologi Penelitian

Sekumpulan peraturan, kegiatan, dan prosedur yang digunakan oleh pelaku suatu disiplin ilmu untuk melaksanakan penelitian.

METODOLOGI PENELITIAN

  1. Sekumpulan peraturan, kegiatan, dan prosedur yang digunakan oleh pelaku suatu disiplin ilmu
  2. Studi atau analisis teoretis mengenai suatu cara/metode
  3. Cabang ilmu logika yang berkaitan dengan prinsip umum pembentukan pengetahuan (knowledge)
  4. Metode yang digunakan dalam melaksanakan penelitian
  5. Merupakan dasar penyusunan rancangan penelitian
  6. Merupakan penjabaran dari metode ilmiah secara umum

LANGKAH – LANGKAH PENELITIAN     

  1. Menentukan Topik
  2. Menemukan, memilih, dan merumuskan masalah
  3. Menyusun latar belakang teori
  4. Menetapkan hipotesis
  5. Menyusun rancangan penelitian
  6. Memilih alat pengumpul data
  7. Mengumpulkan dan menyajikan data
  8. Mengolah dan menganalisis data
  9. Mengambil kesimpulan
  10. Menyusun laporan

PENELITIAN KUALITATIF DAN KUANTITATIF

  • Penelitian Kualitatif                         

Penelitian yang berdasarkan kualitas ‘mutu’ data.

  1. Penilaian validitas melalui pengecekan silang atas sumber informasi
  2. Menggunakan latar alamiah
  3. Intrumennya adalah manusia, baik peneliti sendiri atau dengan bantuan orang lain.
  4. Tujuan utama penelitian kualitatif adalah membuat fakta mudah dipahami
  • Penelitian Kuantitatif          

Penelitian yang berdasarkan kuantitas ‘jumlah’ data.

  1. menitikberatkan pada pengukuran
  2. Pengukuran statistik
  3. persentase

PERBEDAAN PENELITIAN
Kualitatif dan Kuantitatif

  • Penelitian Kuantitatif:

Penelitian berangkat dari teori menuju data, dan berakhir pada penerimaan atau penolakan terhadap teori yang digunakan.

  • Penelitian Kualitatif

Peneliti bertolak dari data, memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan penjelas, dan berakhir dengan suatu “teori”.

Kegunaan penelitian kualitatif:

  1. Untuk mengetahui aktualitas
  2. Realitas sosial
  3. Persepsi manusia  (melalui pertanyaan penelitian yang telah dipersiapkan terlebih dahulu).

Jenis-jenis Penelitian Kualitatif

1.      Biografi

  • Penelitian biografi adalah studi tentang individu yang dituliskan kembali dengan mengumpulkan dokumen dan arsip-arsip.
  • Tujuan penelitian ini adalah mengungkap pengalaman menarik yang mempengaruhi atau mengubah hidup seseorang.

2.      Fenomenologi

Penelitian fenomenologi adalah penelitian yang menjelaskan atau mengungkap makna, konsep, atau fenomena.

3.      Grounded theory

  • Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan atau menemukan suatu teori yang berhubungan dengan situasi tertentu .
  • Situasi yang ditumakan misalnya, individu saling berhubungan, bertindak, atau terlibat dalam suatu proses.
  • Inti dari pendekatan grounded theory adalah pengembangan suatu teori yang berhubungan erat dengan konteks peristiwa yang dipelajari.

4.      Etnografi

Etnografi adalah penelitian untuk menguraikan dan penafsiran suatu budaya atau sistem kelompok sosial.

  • peneliti ini mempelajari pola perilaku, kebiasaan, dan cara hidup
  • melibatkan pengamatan yang cukup panjang terhadap suatu kelompok
  • Peneliti mempelajari arti atau makna dari setiap perilaku, bahasa, dan interaksi dalam kelompok.

5.      Studi Kasus

Penelitian studi kasus adalah penelitian yang mengeksplorasi suatu masalah dengan batasan terperinci, memiliki pengambilan data yang mendalam, dan menyertakan berbagai sumber informasi.

  • Penelitian ini dibatasi oleh waktu dan tempat, dan kasus yang dipelajari berupa program, peristiwa, aktivitas, atau individu.

LATAR BELAKANG

a.      Topik Terbaru

b.      Topik Lebih Spesific

c.       Data Pendukung

d.      Bahasa

e.       Pengembangan Topik

 TEKNIK PENGUMPULAN DATA

1.      Observasi

Pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat secara sistematik gejala–gajala yang diselidiki.

–  Memiliki pengetahuan tantang apa yang akan diobservasi.

–  Menyelidiki tujuan penelitian.

–  Mencatat tiap gejala secara terpisah.

2.      Wawancara :

Teknik pengumpulan data yang dilakukan secara lisan.

–  Bisa dilakukan dalam bentuk perorangan atau kelompok

–  Persiapan à pedoman wawancara

–  Bentuk pertanyaan à terbuka, terstruktur, tertutup

–  Kondisikan hubungan yang baik dengan respnden

–  Lakukan perekaman / pencatatan selama wawancara berlangsung

–  Dapat melakukan interpretasi secara langsung langsung

3.      Angket

–  Teknik pengumpulan data secara tidak langsung,

–  Bentuk pertanyaan à terbuka, terstruktur, tertutup

4.        Studi Dokumenter

Teknik pengumpulan data dengan menghimpun dan menganalisis dokumen

–  Dokumen dipilih dan dihimpun berdasarkan tujuan dan fokus penelitian

–  Dokumen diurutkan sesuai dengan urutan kronologis, kekuatan, dan kesesuaian

–  Melakukan analisis data

INSTRUMEN PENELITIAN

Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat untuk mengumpulkan data.

  • Instrumen penelitian dapat berwujud alat sederhana seperti lembar observasi, lembar wawancara, lembar angket, atau alat-alat elektronik.
  • Peneliti dapat memilih instrumen, modifikasi sesuai dengan tujuan penelitian, dan melakukan validasi untuk memperoleh angka reliabilitas.

Beberapa hal yang harus diperhatikan:

  1. Kesesuaian instrumen
  2. Data yang diperlukan
  3. Jenis data
  • Validitas adalah ketepatan mengukur apa yang seharusnya diukur. Data disebut valid apabila data tersebut dapat mengukur apa yang seharusnya diukur
  • Reliabilitas adalah kemampuan memberikan hasil pengukuran yang konsisten. Suatu data disebut reliabel apabila data tersebut dapat dipakai untuk menguji kelompok yang sama pada waktu yang berbeda hasilnya tidak berbeda.

Aturan Menggunakan Instrumen

  1. Gunakan bahasa yang sederhana, jelas, dan langsung.
  2. Tanyakan satu topik untuk satu pertanyaan.
  3. Hindari pertanyaan yang mengarahkan.
  4. Jika informan tidak jelas, berikan definisi singkat.
  5. Gunakan pertanyaan yang logis, netral, dan tidak menyudutkan.

MEMBUAT PERTANYAAN

Pertanyaan yang baik

1. Logis

2. Jelas

3. Tidak  menyudutkan

4. Netral

CARA MEMBUAT RUMUSAN MASALAH

Kelayakan Masalah Penelitian

1. Segi Keilmuan

  • Masalah harus jelas kedudukannya dalam struktur keilmuan yang sedang dipelajari.
  • Masalah disesuaikan dengan kemampuan peneliti yang bersangkutan.

2. Segi Metode Keilmuan

  • Masalah penelitian harus dapat dipecahkan melalui langkah-langkah berpikir ilmiah.

3. Segi Kepentingan dan Kegunaan

  • Masalah penelitian harus disesuaikan dengan kepentingan peneliti. (S1, S2, S3, Bisnis)

Isi Masalah Penelitian

  • Pertanyaan-pertanyaan yang sengaja dirumuskan untuk menemukan jawaban melalui penelitian ilmiah.
  • Masalah penelitian tidak sama dengan judul penelitian.
  • Masalah adalah inti persoalan yang tersirat dalam judul penelitian.

Kriteria Permasalahan

  1. Jelas
  2. Terbatas
  3. Menarik minat peneliti
  4. Harus dirumuskan dalam bentuk pertanyaan, bukan pernyataan

Sumber Masalah

  1. Membaca buku atau hasil penelitian orang lain
    1. Mengkaji konsep
    2. Menjabarkan variabel yang terlibat
    3. Menganalisis hubungan antarvariabel
  2. Melakukan studi pendahuluan atau studi penjajakan
    1. Pengamatan terhadap fenomena nyata
    2. Tentukan fokus pengamatan
    3. Tentukan aspek yang akan diteliti
  3. Pengalaman Pribadi

Masalah dan Judul Penelitian

  1. Masalah dan judul saling berkaitan
  2. Masalah harus memberikan kesan terhadap judul
  3. Judul harus mencerminkan masalah
  4. Judul ditetapkan setelah masalah dirumuskan (tidak sebaliknya)

TUJUAN PENELITIAN

Tujuan Penelitian

  1. Untuk menjelaskan tujuan akhir yang akan dicapai oleh peneliti setelah penelitian selesai dilakukan.
  2. Untuk memberikan gambaran yang tegas tentang sasaran dan ruang lingkup penelitian.

Teknik Merumuskan Tujuan Penelitian

  1. Singkat dan spesifik
  2. Diarahkan untuk menjawab permasalahan yang telah dirumuskan.

Kerangka Teori

  • Kerangka Teori adalah teori-teori yang digunakan di dalam penelitian.
  • Pengkajian  mengenai gejala morfofonemik digunakan teori dari Parera (1994: 18), Kridalaksana (1994), Ramlan (2001a), dan Chaer (2007).
  • Pengkajian mengenai afiks digunakan teori Tarigan (1988), Kridalaksana (1992), (1994), Ramlan (2001a), Alwi dkk. (2003), dan Verhaar (2006: 107).
  • Pengkajian mengenai ciri-ciri morfologis verba digunakan teori Kridalaksana (1994), Chaer (2002), Alwi dkk. (2003: 104), dan Verhaar (2006: 52).
  • Pengkajian mengenai ciri-ciri sintaktis verba digunakan teori Kridalaksana (1994: 51), Ramlan (2001a: 59), dan Alwi dkk. (2003: 87).
  • Pengkajian mengenai ciri-ciri semantik verba digunakan teori Quirk dkk. (1985), Djajasudarma (1993b: 5), dan Alwi dkk. (2003: 94-95).
  • Pengkajian mengenai makna gramatikal afiks verba digunakan teori Kridalaksana (1994: 40), Alwi dkk. (2003: 103), dan Verhaar (2006: 118).

Bobot dan Relevansi

  1. Bobot  adalah manfaat penelitian bagi ilmu pengetahuan.
    1. Hasil penelitian ini dapat memberikan gambaran yang rinci, mendalam, dan komprehensif mengenai afiks verbal bahasa Melayu Jambi.
    2. Data kebahasaan dalam penelitian ini dapat bermanfaat bagi data kebahasaan bahasa Melayu Jambi khususnya dan data linguistik pada umumnya.
    3. Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat dalam memahami kesemestaan bahasa dan bagi tipologi bahasa.
    4. Kesejagatan itu dapat dilihat dari afiks, kategori, dan makna gramatikal.
      1. Penelitian ini dapat dijadikan pedoman dan perangsang bagi peneliti berikutnya, baik dalam objek yang sama maupun dengan objek yang berbeda, yang berhubungan dengan afiks verbal bahasa Melayu Jambi.
      2. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi pengembangan teori linguistik, paling tidak memperkaya khasanah teori linguistik.
      3. Kehadiran hasil penelitian ini juga memberikan bahan acuan yang membantu dalam penyusunan tata bahasa Melayu Jambi.
  1. Relevansi adalah hubungan penelitian dengan ilmu pengetahuan.

METODE PADAN

Metode padan adalah metode analisis data yang alat penentunya di luar, terlepas, dan tidak menjadi bagian dari bahasa (langue) yang bersangkutan.

Jenis-jenis Metode Padan

  • Metode padan referensial adalah metode analisis bahasa berdasarkan referensi yang terkandung pada tuturan bahasa. Metode ini digunakan untuk memperoleh gambaran hierarki bahasa.

Dia mandi.                  Pelaku —tindakan

Dia mencium adik.      Pelaku—tindakan—sasaran

  • Metode padan fonetis artikulatoris adalah metode analisis bahasa dengan menggunakan alat penentu organ atau alat ucap pembentuk bunyi bahasa.

Pita suara—vokal, konsonan

Penghentian alat ucap—kata, kalimat

  • Metode padan translasional adalah metode analisis bahasa dengan menggunakan alat penentu bahasa atau lingual lain.

Ada yang dipisah ada yang tidak—kata

Dimulai huruf kapital dan diakhiri tanda titik—kalimat

  • Metode padan ortografis adalah metode analisis bahasa dengan menggunakan alat penentu perekam atau tulisan.

Bertindak menuruti atau menentang apa yang diucapkan oleh

si pembicara—kalimat perintah

Berkata dengan isi yang informatif—kalimat tanya

Terdengar melengking tinggi atau biasa—kalimat seru

  • Metode padan pragmatis adalah metode analisis bahasa dengan menggunakan alat penentu lawan bicara.

Bahasa Inggris —the—nomina

a atau an—satu

METODE DISTRIBUSIONAL

Metode distribusional atau metode agih adalah analisis data yang menggunakan alat penentu bahasa yang bersangkutan. Metode ini biasanya digunakan untuk menganalisis tuturan. Metode distribusional berfungsi untuk menjelaskan dan mendeskripsikan unsur – unsur data yang akan diteliti.

Teknik-teknik metode distribusional

1. Teknik Urai Unsur Terkecil ‘Ultimate Constituent Analysis’ (UCA)

Teknik Urai Unsur Terkecil dimaksudkan mengurai suatu satuan lingual tertentu atas unsur-unsur terkecilnya. Unsur terkecil yang mempunyai makna biasanya disebut “morfem”.

Contoh : Berlari, unsur terkecilnya adalah “ber-” dan “lari”.

DATA

Pengertian Data

Data adalah kumpulan angka, fakta, fenomena, atau keadaan yang merupakan hasil pengamatan, pengukuran, atau pencatatan terhadap karakteristik atau sifat suatu objek.

Data berfungsi untuk membedakan objek yang satu dengan yang lain pada sifat yang sama. Data merupakan deskripsi dari suatu kejadian yang kita hadapi. Data dapat berupa catatan-catatan dalam kertas atau buku.

Syarat-syarat data yang baik:

1. Objektif: Data harus sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.

2. Representatif: Data harus mewakili objek yang diteliti.

3. Kesalahan Baku (Standar Error): Kesalahan data sampel kecil.

4. Tepat waktu (up to date): Data harus dapat digunakan tepat pada waktunya.

5. Relevan: Data yang dikumpulkan harus sesuai dengan masalah yang akan di selesaikan.

KLASIFIKASI DATA

Berdasarkan sifatnya

1) Data kuantitatif : data yang berupa angka-angka

2) Data kualitatif : data yang berupa kata-kata atau pernyataan-pernyataan

Berdasarkan sumbernya

1) Data primer adalah data yang diperoleh dari

sumber data secara langsung.

2) Data sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber data secara tidak langsung.

Kegunaan Data

1. Sebagai dasar suatu perencanaan

2. Sebagai alat control

3. Sebagai dasar evaluasi

4. Sebagai dasar untuk membuat keputusan atau   memecahkan persoalan

Metode Pengumpulan Data

1. Observasi (Pengamatan Langsung)

2. Survei

3. Interview (Wawancara/Kuesioner)

4. Dokumentasi

5. Eksperimen (Percobaan/Pengukuran langsung)

METODE PADAN

Metode padan adalah metode analisis data yang alat penentunya di luar, terlepas, dan tidak menjadi bagian dari bahasa (langue) yang bersangkutan.

Jenis-jenis Metode Padan

  • Metode padan referensial adalah metode analisis bahasa berdasarkan referensi yang terkandung pada tuturan bahasa. Metode ini digunakan untuk memperoleh gambaran hierarki bahasa.

Dia mandi.                  Pelaku —tindakan

Dia mencium adik.      Pelaku—tindakan—sasaran

  • Metode padan fonetis artikulatoris adalah metode analisis bahasa dengan menggunakan alat penentu organ atau alat ucap pembentuk bunyi bahasa.

Pita suara—vokal, konsonan

Penghentian alat ucap—kata, kalimat

  • Metode padan translasional adalah metode analisis bahasa dengan menggunakan alat penentu bahasa atau lingual lain.

Ada yang dipisah ada yang tidak—kata

Dimulai huruf kapital dan diakhiri tanda titik—kalimat

  • Metode padan ortografis adalah metode analisis bahasa dengan menggunakan alat penentu perekam atau tulisan.

Bertindak menuruti atau menentang apa yang diucapkan oleh

si pembicara—kalimat perintah

Berkata dengan isi yang informatif—kalimat tanya

Terdengar melengking tinggi atau biasa—kalimat seru

  • Metode padan pragmatis adalah metode analisis bahasa dengan menggunakan alat penentu lawan bicara.

Bahasa Inggris —the—nomina

a atau an—satu

METODE DISTRIBUSIONAL

Metode distribusional atau metode agih adalah analisis data yang menggunakan alat penentu bahasa yang bersangkutan. Metode ini biasanya digunakan untuk menganalisis tuturan. Metode distribusional berfungsi untuk menjelaskan dan mendeskripsikan unsur–unsur data yang akan diteliti.

Teknik-teknik metode distribusional

1. Teknik Urai Unsur Terkecil ‘Ultimate Constituent Analysis’ (UCA)

Teknik Urai Unsur Terkecil adalah analisis data dengan mengurai suatu satuan lingual tertentu atas unsur-unsur terkecilnya. Unsur terkecil yang mempunyai makna biasanya disebut “morfem”.

Contoh : Berlari, unsur terkecilnya adalah “ber-” dan “lari”.

2. Teknik Pilah Unsur Langsung ‘Immediate Constituent Analysis’ (ICA)

Teknik ini berdekatan dengan teknik urai unsur terkecil yaitu memilah atau mengurai suatu konstruksi tertentu (sintaksis) atas unsur-unsur langsungnya.

Contoh: Ia pergi ke Jogja. (“ia”, ‘pergi”, dan “ke Jogja”).

3. Teknik Lesap (delisi)

Teknik Lesap adalah teknik analisis data dengan melesapkan (melepaskan, menghilangkan, menghapuskan, mengurangi) unsur satuan lingual. Pelesapan atau penghilangan unsur dalam teknik lesap berfungsi untuk mengetahui kadar keintiman unsur yang dilesapkan. Kadar keintiman ini dapat dilihat dari gramatikal atau tidak gramatikalnya suatu unsur.

Tadi pagi, ia pergi ke Jogjakarta.

Unsur “ke” pada contoh di atas bersifat wajib. Bila “ke” dihilangkan, maka akan menjadi: ”Tadi pergi, ia pergi Jogjakarta”. Kalimat tersebut menjadi tidak gramatikal.

4. Teknik Ganti (substitusi)

Teknik ganti (substitusi) adalah teknik analisis data dengan menyelidiki kepararelan atau kesejajaran distribusi satuan lingual. Teknik ini digunakan untuk mengetahui kadar kesamaan kelas atau kategori. Penjenisan dapat menghasilkan nomina, verba, adjektiva dan lain-lain.  Kata Amin sekelas dengan kata Mereka. Hal ini berdasarkan data bahwa kata-kata tersebut saling menggantikan. Contoh:

Mereka pergi ke sekolah.

Amin pergi ke sekolah.

Kata Mereka adalah sekelas, sekategori, dan sejenis dengan kata Amin.

5. Teknik Perluas (ekspansi)

Teknik perluas adalah teknik memperluas satuan lingual dengan unsur tertentu.

Teknik ini berguna untuk:

(a)    memperluas kosa kata.

(b)   mengetahui identitas satuan lingual.

(c)    menentukan makna (aspek semantis) satuan lingual.

”Rumah baru” dapat diperluas menjadi:

”rumah [yang] baru”

“dalam rumah baru”

“dalam sebuah rumah baru”

“di dalam rumah yang baru”

6. Teknik Balik (permutasi)

Teknik balik adalah teknik analisis data dengan membalikkan urutannya. Teknik ini bertujuan untuk menguji tingkat keketatan relasi antarunsur suatu konstruksi.

(1) Bir baru, berbeda dengan “baru bir”

(2) Ali memukul Norton, berbeda dengan “Norton memukul Ali”.

Frase “bir baru” yang termasuk frase endosentris atributif benar-benar berbeda dan “baru bir”. Kalimat ”Ali memukul Norton.”, berbeda dengan ”Norton memukul Ali.”, karena kalimat pertama Ali berperan sebagai agentif (pelaku) dan Norton sebagai pasientif (penderita), sedangkan dalam kalimat kedua Norton berperan sebagai agentif (pelaku) dan Ali sebagai pasientif (penderita).

TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL

  • Sampel adalah sebagian dari populasi. Artinya tidak akan ada sampel jika tidak ada populasi.
  • Populasi adalah keseluruhan elemen atau unsur yang akan kita teliti.
    • Elemen = orang, kalimat, surat kabar, TV, kejadian, atau benda yang dijadikan objek penelitian.
    • Alasan Pengambilan Sampel

1)      Populasi demikian banyaknya sehingga dalam praktiknya tidak mungkin seluruh elemen diteliti.

2)      Keterbatasan waktu penelitian, biaya, dan sumber daya manusia, membuat peneliti harus meneliti sebagian dari elemen penelitian.

1. Sampel Probabilitas (Probability Sampling)

    a. Sampel Acak Berstrata (Simple Random Sampling)

b. Sampel Acak Berstrata Proporsional (Proportionate Stratified Random Sampling)

c. Sampel Acak Berstrata Tidak Proporsional (Disproportionate Stratified Random Sampling)

d. Sampel Area (Area Sampling)

2. Sampel Nonprobabilitas (Nonprobability Sampling)

a. Sampel Sistematis (Systematic Sampling)

     b. Sampel Kuota (Quota Sampling)

c. Sampel Insidental (Insidental Sampling)

d. Sampel Purposif (Purposive Sampling)

e. Sampel Jenuh (Jenuh Sampling)

f.  Sampel Bola Salju (Snowball Sampling)

3. Sampel Probabilitas (Probability Sampling)

Sampel Probabilitas adalah teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Pemilihan sampel dilakukan secara acak dan dilakukan secara objektif, dalam arti tidak didasarkan semata-mata pada keinginan peneliti, sehingga setiap anggota populasi memiliki kesempatan tertentu untuk terpilih sebagai sampel.

a.  Sampel Acak Sederhana (simple random sampling)

Sampel Acak Sederhana adalah sebuah proses sampel yang dilakukan sedemikian rupa sehingga setiap satuan sampel yang ada dalam populasi mempunyai peluang yang sama untuk dipilih ke dalam sampel. Dikatakan simple (sederhana) karena pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu. Cara demikian dilakukan bila anggota populasi dianggap homogen.

b. Sampel Acak Berstrata Proporsional (Proportionate Stratified Random Sampling)

Sampel Acak Berstrata adalah teknik pengambilan sampel acak sederhana dari setiap strata populasi yang sudah ditentukan lebih dulu. Penarikan sampel acak berstrata, populasinya di skat-skat menjadi beberapa group yang disebut strata. Teknik ini digunakan bila populasi mempunyai anggota/unsur yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional.

Suatu organisasi yang mempunyai pegawai dari Tatar belakang pendidikan yang berstrata, maka populasi pegawai itu berstrata. Misalnya jumlah pegawai yang lulus S1 = 45, S2 = 30, STM = 800, ST = 900, SMEA = 400, SD = 300. Jumlah sampel yang harus diambil meliputi strata pendidikan tersebut.

c. Sampel Acak Berstrata Tidak Proporsional (Disproportionate Stratified Random Sampling)

Sampel Acak Berstrata Tidak Proporsional adalah teknik penggambilan sampel yang digunakan untuk menentukan jumlah sampel, bila populasi berstrata tetapi kurang proporsional.

Misalnya pegawai dari unit kerja tertentu mempunyai; 3 orang lulusan S3, 4 orang lulusan S2, 90 orang S1, 800 orang SMU, 700 orang SMP. Maka tiga orang lulusan S3 dan empat orang S2 itu diambil semuanya sebagai sampel. Karena dua kelompok ini terlalu kecil bila dibandingkan dengan kelompok S1, SMU, dan SMP.  

d.  Sampel Area (Area Sampling)

Sampel Area adalah teknik sampel yang digunakan untuk menentukan sampel bila objek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas, misalnya penduduk dari suatu negara, provinsi atau kabupaten. Untuk menentukan penduduk mana, yang akan dijadikan sumber data, maka pengambilan sampelnya berdasarkan daerah populasi yang telah ditetapkan.

Misalnya di Indonesia terdapat 30 provinsi, dan sampelnya akan menggunakan 15 provinsi, maka pengambilan 15 propinsi itu dilakukan secara random. Tetapi perlu diingat, karena provinsi-provinsi di Indonesia itu berstrata (tidak sama) maka pengambilan sampelnya perlu menggunakan stratified random sampling. Provinsi di Indonesia ada yang pendudukanya padat, ada yang tidak, ada, yang mempunyai hutan banyak ada, yang tidak, ada, yang kaya bahan tambang ada yang tidak. Karakteristik semacam ini perlu diperhatikan sehingga pengambilan sampel menurut strata populasi itu dapat ditetapkan.

2. Sampel Nonprobabilitas (Nonprobability Sampling)

Sampel Nonprobabilitas adalah teknik pengambilan sampel yang tidak memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Teknik pengambilan sampel ini dilakukan dengan pertimbangan-pertimbangan peneliti, sehingga semua anggota populasi tidak mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai anggota sampel.

  1. Sampel Sistematis (Systematic Sampling)

Sampel Sistematis adalah teknik pengambilan sampel berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut. Misalnya anggota populasi yang terdiri dari 100 orang. Dari semua anggota itu diberi nomor urut, yaitu nomor I sampai dengan nomor 100. Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan nomor ganjil saja, genap saja, atau kelipatan dari bilangan tertentu, misalnya kelipatan dari bilangan lima. Untuk ini maka yang diambil sebagai sampel adalah nomor 1, 5, 10, 15, 20, dan seterusnya sampai 100.

b. Sampel Kuota (Quota Sampling)

Sampel Kuota adalah teknik pengambilan sampel yang dilakukan dengan acak dan mempertimbangkan kriteria yang akan dijadikan anggota sampel sampai jumlah (kuota) yang diinginkan. Peneliti menentukan sendiri ukuran dan kriteria sampel. Penarikan sampel dilakukan atas dasar pertimbangan peneliti untuk tujuan meningkatkan representasi sampel penelitian sampai jumlah tertentu sebagaimana yang dikehendaki peneliti.

Langkah penarikan sampel kuota antara lain:

  1. Peneliti merumuskan kategori quota dari populasi yang akan ditelitinya melalui pertimbangan-pertimbangan tertentu sesuai dengan ciri-ciri yang dikehendakinya, seperti jenis kelamin, dan usia.
  2. Menentukan besarnya jumlah sampel yang dibutuhkan, dan menetapkan jumlah jatah (quotum).
  3. Mengambil jumlah jatah yang diperlukan. Teknik sampling kuota biasanya digunakan bila populasinya berukuran besar.
  4. Sebagai contoh, akan melakukan penelitian tentang pendapat masyarakat terhadap pelayanan masyarakat dalam urusan Izin Mendirikan Bangunan. Jumlah sampel yang ditentukan 500 orang. Kalau pengumpulan data belum didasarkan pada 500 orang tersebut, maka penelitian dipandang belum selesai, karena belum memenuhi kouta yang ditentukan.
  5. Bila pengumpulan data dilakukan secara kelompok yang terdiri atas 5 orang pengumpul data, maka setiap anggota kelompok harus dapat menghubungi 100 orang anggota sampel, atau 5 orang tersebut harus dapat mencari data dari 500 anggota sampel.
  6. c. Sampel Insidental (Insidental Sampling)
  7. Sampling Insidental adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan/insidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data.
  8. Sampel ini diambil berdasarkan faktor spontanitas, artinya siapa saja yang secara tidak sengaja bertemu dengan peneliti dan sesuai dengan karakteristiknya, maka orang tersebut dapat dijadikan sampel. Dengan kata lain sampel diambil/terpilih karena ada ditempat dan waktu yang tepat. Tanpa kriteria peneliti bebas memilih siapa saja yang ditemuinya untuk dijadikan sampel.
  9. d. Sampel Purposif (Purposive Sampling)
  10. Sampel Purposif adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Teknik penarikan sampelnya dilakukan berdasarkan karakteristik yang telah ditetapkan. Penentuan kriteria ini dimungkinkan karena peneliti mempunyai pertimbangan-pertimbangan tertentu di dalam pengambilan sampelnya.
  11. Misalnya akan melakukan penelitian tentang kualitas makanan, maka sampel sumber datanya adalah orang yang ahli makanan, atau penelitian tentang kondisi politik di suatu daerah, maka sampel sumber datanya adalah orang yang ahli politik. Sampel ini lebih cocok digunakan untuk penelitian kualitatif, atau penelitian-penelitian yang tidak melakukan generalisasi.  
  12. e. Sampel Jenuh (Jenuh Sampling)
  13. Sampel Jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang, atau penelitian yang ingin membuntuhkan generalisasi dengan kesalahan yang sangat kecil. Istilah lain sampel Jenuh adalah total sampel. 
  14. f. Sampel Bola Salju (Snowball Sampling)
  15. Sampel Bola Salju adalah teknik penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian membesar. Ibarat bola salju yang menggelinding yang lama-lama menjadi besar. Dalam penentuan sampel, pertama-tama dipilih satu atau dua orang, tetapi karena dengan dua orang ini belum merasa lengkap terhadap data yang diberikan, maka peneliti mencari orang lain yang dipandang lebih tahu dan dapat melengkapi data yang diberikan oleh dua orang sebelumnya. Begitu seterusnya, sehingga jumlah sampel semakin bertambah sampai mengkristal yang berarti sample sudah cukup dan tidak bertambah lagi.

LEKSIKOLOGI


leksikologi

Leksikologi  mempelajari seluk beluk kata ialah mempelajari perbendaharaan kata  dalam suatu bahasa, mempelajari pemakaian kata serta artinya seperti dipakai oleh maayarakat pemakai bahasa. Misalnya kata masak yang mempunyai beberapa arti dalam pemakaiannya dalam kalimat

Contoh:..

1.      Sudah sampai tua hingga harus dipetik, di makan : Misalnya tentang buah yang masak di pohon

2.      Sudah jadi ( tentang masakan) Misalnya meskipun sudah beberapa jam direbus , belum masak juga ubi ini

3.      Sudah selesai, sudah dipikirkan. Misalnya adonan ini belum masak, bangsa kita dianggapnya belum masak

4.      Mengolah, membuat panganan. Misalnya masak kue lapis

Lekikologi mempelajari arti yang lebih kurang tetap yang terkandung dalam kata. Yang lazim disebut leksikal (lexical meaning)

Contoh:..

Rumah = berumah

Di samping  kata rumah terdapat juga kata berumah di mana  keduanya sama-sama memiliki arti leksikal

Rumah berarti “ bangunan untuk tempat tinggal”, bngunan pada umumnya

Berumah berarti “ mempunyai rumah, diam, tinggal”

Arti leksial dan pemakaian kata tersebut dibiarakan dalam leksikologi, sedangkan dalam morfologi dibicarakan perubahan bentuknya dari rumah menjadi berumah

PENGERTIAN LEKSIKOLOGI

Leksikologi adalah ilmu mengenai leksikon yang satuannya disebut leksem. Leksikologi mengarah pada kata yang sudah jadi, baik yang terbentuk secara arbitrer, maupun yang terbentuk sebagai hasil proses morfologi. Dalam hal simantik, leksikologi membicarakan makna leksikal dengan berbagai aspek dan permasalahannya.(Chaer,2008:6)

Leksikologi mempelajari seluk-beluk kata, ialah mempelajari perbendaharaan kata dalam suatu bahasa, mempelajari pemakaian kata serta arti seperti dipakai oleh masysrakat pemakai bahasa (Ramlan,1983:17). Misalnya kata masak, kata ini memiliki berbagai arti dalam pemakaiannya, seperti dijelaskan dalam kamus sebagai berikut :

1.   ‘sudah sampai tua hingga boleh dipetik, dimakan, dsb’.

Misalnya : belum masak juga ubi ini.

2.   ‘sudah jadi’

Misalnya : Meskipun sudah sejam direbus, belum masak juga ubi ini.

3.   ‘sudah selesai, sudah dipikir’

Misalnya : Bangsa kita diangapnya belum masak.

4.   ‘mengolah, membuat panganan’

Misalnya : masak kue lapis

Selanjutnya diterangkan pula arti kata bentukan dari kata tersebut, kata masak-memasak berarti ‘hal atau urusan memasak makanan, dsb’, memasakkan  artinya ‘memasak untuk orang lain’; mungkin juga berarti ‘menjadikan masak’, masakan berarti ‘barang apa yang dimasak, seperti lauk-pauk, makanan, dsb’,  pemasak berarti ‘orang yang memasak’ mungkin juga berarti ‘alat untuk memasak’.

Perbandingan Morfologi dengan Leksikologi

Morfologi dan Leksikologi sama-sama mempelajari kata, ari kata, akan tetapi di antara keduanya terdapat perbedaan. Leksikologi mempelajari arti yang lebih kurang tetap yang terkandung dalam kata atau yang lazim disebut arti leksis atau makna leksikal, sedangkan morfologi mempelajari arti yang timbul akibat peristiwa gramatis yang biasa disebut arti gramatis atau makna gramatikal. Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut :

Kata kosong mempunyai berbagai makna dalam pemakaiannya, antara lain :

a)      Tidak ada isinya; misalnya: peti besinya telah kosong.

b)      Hampa, berongga (geronggang) di dalamnya; misalnya: tinggal butir-butir padi yang kosong.

c)      Tidak ada yang menempati; misalnya: rumah itu kosong.

d)     Terluang; misalnya: waktu kosong.

e)      Tidak mengandung sesuatu yang penting atau berharga; misalnya: perkataannya kosong.

Selain itu, ada pula kata-kata mengosongkan ‘menjadikan kosong’, pengosongan ‘perbuatan mengosongkan’, kekosongan ‘keadaan kosong’ atau ‘menderita sesuatu karena kosong’.

kata kosong dengan mengosongkan. Kedua kata itu masing-masing mepunyai arti leksis atau makna leksikal. Kosong antara lain artinya ada lima butir seperti yang tertera pada contoh di atas, sedangkan mengosongkan makna atau artinya ‘menjadikan atau membuat jadi kosong’. Mengenai arti leksis kedua kata tersebut dibicarakan dalam leksikologi, sedangkan dalam morfologi dibicarakan makna atau arti yang timbul akibat melekatnya imbuhan atau afiks meN-kan.

Jadi kalo leksis itu menyatakan arti secara harafiah…sedangkan kalo morfologi, menyatakan arti secara gramatikal, atau arti hasildari penambahan

Contoh lain yaitu selain kata rumah terdapat kata berumah. Kedua kata tersebut masing-masing mempunyai arti leksikal, kata rumah berarti ‘bangunan untuk tempat tinggal’ dan  kata berumah berarti ‘mempunyai rumah’,’diam’,’tinggal’. Arti leksikal dan pemakaian kata tersebut dibicarakan dalam leksikologi sedangkan dalam morfologi dibicarakan perubahan bentuknya, dari rumah menjadi berumah, perubahan golongannya dari kata nominal menjadi kata verbal, serta perubahan arti yang timbul sebagai akibat dari melekatnya afik ber- pada rumah  ialah timbulnya makna ‘mempunyai’,’memakai’ atau ‘mempergunakan’.

 

One Direction – Midnight Memories (The Ultimate Edition) 2013


One-Direction-Midnight-Memories-Deluxe-CD-Album

TRACK LIST:

01. Best Song Ever
02. Story of My Life
03. Diana
04. Midnight Memories
05. You & I
06. Don’t Forget Where You Belong
07. Strong
08. Happily
09. Right Now
10. Little Black Dress
11. Through the Dark
12. Something Great
13. Little White Lies
14. Better Than Words
15. Why Don’t We Go There
16. Does He Know?
17. Alive
18. Half A Heart

One Direction – Midnight Memories (The Ultimate Edition) Download .rar

Qwerty Record


Qwerty Record

Qwerty Record

             Qwerty Record
Jenis Label rekaman
Industri Musik, hiburan, dan berita.
Produser Kawirian
Didirikan 19 September 2012
Kantor pusat Kuala Tungkal – Jambi, Indonesia
Daerah layanan Internasional
Didirikan Oleh Kawirian
Situs web http://www.qwertyrecord.com

Qwerty Record adalah sebuah perusahaan rekaman Indonesia yang dibuka umum sejak pada tanggal 20September 2012. Dan di rilis tanggal 19 September 2012. Perusahaan ini selain memproduksi dan mendistribusikan musik juga sebagai basecame Rian. Perusahaan rekaman ini didirikan oleh Rian karena dia ingin mempunyai perusahaan rekaman sendiri. Karena dulunya Rian bergabung dengan Perusahaan rekaman Trinity Optima Production. Karena keberhasilannya dan kesuksesannya, akhirnya Rian keluar dari TOP dan membuat rekaman perusahaan sendiri. Perusahaan ini menghasilkan musik, hiburan dan berita.

MATERI SEMANTIK


II. Makna dan Masalahnya

1.      Pengertian Makna
Makna adalah gejala dalam ujaran / utterance-internal-phenomenon (sesuatu yang terdapat dalam bahasa  (intralingistik) yang berhubungan langsung dengan bunyi dan referennya (ekstralinguistik))
                        Makna
                        (yang diartikan)
Tanda linguistik                                                          referen
                        [Bunyi]
                        Yang mengartikan
Yang menandai                                                           yang ditandai
(intralingual)                                                                (ekstralingual)
                        meja
                                                                            Gambar
<meja>                                                                        (sebuah meja)
                        [bunyi]
                        Yang mengartikan
yang menandai                                                            yang ditandai
(intralingual)                                                                (ekstralingual)
2.      Informasi
Gejala luar ujaran (utterance external) unsur yang terdapat diluar bahasa (ujaran) yang dilihat dari segi objek atau yang dibicarakan.
3.      Maksud
Sesuatu yang terdapat di luar bahasa dilihat dari subjeknya si pengujar atau orang yang berbicara.
istilah
Segi (dalam keseluruhanperistiwa pengujaran)
Jenis semantik
makna
segi lingual atau dalam ujaran
sematik kalimat, gramatikal dan leksikal
informasi
segi objektif (yang dibicarakan)
luar semantik (ekstralingulistik)
maksud
segi subjektif (pihak pemakai bahasa)
semantik maksud
4.      Tanda, Lambang, Konsep dan Devinisi
a.       Tanda dalam bahasa Indonesia pada awalnya bermakna ‘bekas’.
-          Pukulan rotan yang sangat keras pada punggung akan meninggalkan bekas. Bekas pukulan yang berwarna merah tersebut menandai telah terjadi pukulan.
-          Terdengar suara adzan berarti tanda waktu sholat telah tiba.
-          Lampu merah meyala tandanya semua kendaraan harus berhenti.
b.      Lambang sebenarnya adalah juga tanda, tetapi lambang tidak memberi tanda secara langsung, melainkan melalui sesuatu yang lain.
-       Warna merah pada bendera merah putih melambangkan keberanian,
-       Warna putih melambangkan kesucian
-       Padi dan kapas melambangkan  kemakmuran dsb.
c.       Konsep adalah suatu gambaran dalam benak kita yang mewakili apa yang kita dengar.
d.      Konsep sebagai referen dari suatu lambang memang tidak pernah bisa sempurna. Maka untuk menyempurnakan konsep yang ada digunakan batasan atau devinisi. Batasan atau devinisi memberikan rumusan yang lebih teliti mengenai suatu konsep.
5.      Hubungan Kaidah Umum
a.       Hubungan antara sebuah kata/leksem dengan rujukan atau acuannya bersifat arbitrer. Dengan kata lain tidak ada hubungan wajib di antara keduanya.
b.      Secara singkronik makna sebuah kata/leksem tidak berupah, secara diakronik ada kemungkinan berubah. Maksudnya, dalam jangka waktu terbatas makna sebuah kata tidak akan berubah, tetapi dalam waktu tertentu yang relatif tidak terbatas ada kemungkinan bisa berubah.
c.       Bentuk-bentuk yang berbeda, akan berbeda pula maknanya. Maksudnya, kalau ada dua buah kata/leksem walaupun perbedaanya sedikit, tetapi maknanya pasti berbeda. Oleh karena itu kata yang dikatakan bersinonim pasti maknanya tidak sama persis.
d.      Setiap bahasa memiliki sistem semantik sendiri yang berbeda dengan sistem semantik bahasa lain karena sistem semantik itu berkaitan erat dengan sistem budaya pemakai bahasa itu, sedangkan sistem budaya yang melatarbelakangi setiap bahasa itu tidak sama.
e.       Makna setiap leksem dalam suatau bahasa sangat dipengaruhi oleh pandangan hidup dan sikap anggota masyarakat yang bersangkutan.

f.       Luasnya makna yang dikandung sebuah bentuk gramatikal berbanding terbalik dengan luasnya bentuk tersebut.

III. Penamaan dan Pendefinisan

1.      Penamaan
a.      Peniruan bunyi
Dalam bahasa Indonesia terdapat beberapa kata yang terbentuk dari peniruan bunyi, nama-nama benda tersebut dibentuk berdasarkan bunyi dari benda tersebut atau suara yang ditimbulkan oleh benda tersebut. Misalnya cicak, tokek, gukguk untuk anjing, meong untuk kucing. Kata-kata yang dibentuk dari tiruan bunyi ini disebut kata peniru bunyi ataua Onomatope.
Selain ada juga bentuk kata kerja atau nama perbuatan dari tiruan bunyi itu. Misalnya anjing menggongngong, ayam berkotek, ular mendesis angin menderu dan sebagainya.
b.      Penyebutan Sebagian
Penamaan suatu benda atau konsep berdasarkan bagian dari benda itu biasanya berdasarkan ciri yang khas atau yang menonjol dari benda itu yang sudah ketahui secara umum.
Penyebutan sebagian ini terdiri dari dua yaitu:
1.      Pars prototo  adalah penyebutan sebagian dari benda atau konsep tetapi berlaku secara keseluruhan.
Misalnya : kepala, ekor dsb
2.      Totem pro parte adalah penyebutan keseluruhan untuk sebagian
Misalnya:  Indonesia  mengikuti ajang olimpiade internasional.
c.       Penyebutan sifat khas
Penamaan suatu benda atau suatu konsep berdasarkan sifat khas yang melekat pada konsep tersebut.
Misalnya: si kikir si bakhil, dsb
d.      Penemu atau Pembuat
Penamaan satu benda atau suatu konsep yang didasarkan pada nama penemunya atau pembuatnya.
Misalnya: ikan mujair ditemukan oleh Mujair di kediri Jawa timur, Raflesia Arnoldi, ditemukan oleh ArnoldiDalil archimides ditemukan oleh archimides,  kodak, honda dan sebagainya.
e.       Tempat asal
Penamaan suatu benda dapat juga ditelusuri dari nama tempat asal benda tersebut.
Misalnya sate Padang,  sate Madura, pisang Ambon jeruk Bali, piagam Jakarta, perjanjian Renfile dan sebagainya.
f.       Bahan
Beberapa jumlah benda juga diambil dari bahan pokok benda tersebut.
Misalnya: kaca mata, sepatu kaca, kaca spion, kaleng susu, kaleng minyak, kue kalengan dsb.
g.      Keserupaan
Penaamaan suatu benda atau suatu konsep dengan cara makna benda yersebut  dipersamakan atau diperbandingkan dengan makna leksikal dari kata itu.
Mislanya: kaki meja, kepala paku, kepala kantor, tangan meja dsb.
h.      Pendevinisian Pemendekan
Terdapat kata-kata dalam bahasa Indonesia yang terbentuk sebagai hasil penggabungan unsur-usnur huruf awal atau suku kata dari beberapa kata  yang digabungkan menjadi satu.
Misalnya: ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia). Koni (Komite Olah Raga Nasional Indonesia), dsb.
i.        Penamaan Baru
Kata-kaya atau istilah yang sudah ada perlu diganti dengan kata-kata baru, karena dianggap kurang tepat, tidak rasional, kurang halus atau kurang ilmiah.
Misalnya kuli diganti dengan buruh, gelandangan diganti dengan tunawisma, dsb.
2.      Pendevinisian
Pendefinisian adalah usaha yang dilakukan dengan sengaja untuk mengungkapkan dengan kata-kata akan suatu benda, konsep, proses, aktivitas, peristiwa dan sebagainya.
a.       Devinisis sinonimis, suatu kata didevinisikan dengan sebuah kata lain yang merupakan sinonim dari kata itu. Misalnya ayah dengan bapak.
b.      Definisis formal, dalam pendefinisian ini konsep atau ide yang akan dideviniskan disebutkan dulu sebuah ciri umumnya, lalu disebutkan pula ciri khususnya.
Konsep/ ide
Ciri umum
Ciri khusus
a)      bus
Kendaraan umum
dapat memuat banyak penumpang
b)      taksi
Kendaraan umum
Penumpang terbatas
c)      pensil
Alat tulis
Terbuat dari kayu dan arang
d)     pena
Alat tulis
Terbuat dari bahan plastik dan berisi tinta
a)      bus adalah kendaraan umum yang dapat memuat banyak penumpang
b)      taksi adalah kendaraan umum yang memuat penumpang dalam jumlah yang terbatas
c)      pensil ealat tulis yang terbuat dari kayu dan arang
d)      pena adalah alat tulis yang terbuat dari plastik dan berisi tinta.
c.       Devinisi logis adalah devinisi yang mengidentifikasikan secara tegas objek, ide atau konsep yang didevinisikan itu sedemikian rupa, sehingga obek tersebut berbeda secara nyatadengan objek-objek lain. Devinisi logis biasanya bersifat ilmiah dan banyak terdapat dalam buku-buku pelajaran.
Contoh: air
Air adalah zat cair yang jatuh dari awan sebagai hujan, mengaliri sungai, menggenangi danau dan lautan, meliputi bua pertiga dari permukaan bumi, merupakan unsur pokok dari kehidupan, tanpa bau, tanpa rasa, tanpa warna, tetapi tampak kebiru-biruan pada lapisan yang tebal, membeku pada nol drajat celcius dan mendidih pada 1oo derajat celcius.
d.      Devinisi ensiklopedis adalah devinisi yang lebih luas lagi dari devinisi logis sebab devinisi ensiklopedis menerangkan secara lengkap dan jelas serta cermat akan segala sesuatu yang berkenaan dengan kata atau konsep yang didevinisikan.
Contoh:
Air adalah persenyawaan hidrogen dan oksigen, terdapat di mana-mana dan dapat berwujud (1), gas, seperti uap air: (2) cairan seperti air yang sehari-hari dijumpai (3), padat seperti es dan salju. Air merupakan zat pelarut yang baik sekali dan paling murah , terdapat di alam dalam keadaan tidak murni,. Air murni berupa  cairan yang tidak berbau, tidak berasa dan tidak berwarna. Pada suhu empat derajat Celsius air mencapai maksimum  berat jenis. didinginkan nol derajat celcius atau 32 derajat fahrenheit, air berubah menjadi es yang lebih ringan dari pada air. Air mengembang sewaktu membeku. Bila dipanaskan pada suhu 100 derajat Celcius air akan berubah menjadi uap air. Air murni bukanlah konduktor yang baik. Manusia binatang dan tumbuh-tumbuhan memerlukan air untuk hidup. Tenaga ir mempunyai arti ekonomi yang besar.
e.       Devinisi operasional
Devinisi operasional dibuat orang untuk membatasi konsep-konsep yang akan dikemukakan dalam suatu tulisan atau pembicaraan.  Devinisi ini hanya digunakan untuk keperluan tertentu, terbatas pada suatu topik pembicaraan.

Misalnya: yang dimaksud air dalam pembahasan ini adalah segala zat cair yang terdapat di alam tumbuh-tumbuhan baik yang ada di dalam batang (seperti air tebu) maupun yang ada di dalam buah.

RELASI MAKNA

Relasi makna adalah hubungan kebermaknaan antara sebuah kata atau satuan bahasa lainnya dengan kata atau satuan bahasa lainnya. Hubungan kebermaknaan mungkin menyangkut hal kesamaan makna, kebalikan makna, kegandaan makna, ketercakupan makna dan sebagainya.
1.      Sinonimi
Verhaar (1978) mendefiniskan sinonim sebagai ungkapan (berupa kata, frase, atau kalimat) yang maknanya kurang lebih sama dengan makna ungkapan lain.
Misalnya:
-          buruk dan jelek
-          bunga dan kembang
-          bapak dan ayah
Hubungan makna antara dua buah kata yang bersinonim bersifat dua arah. Misalnya bunga besinonim dengan kembang, maka kembang bersinonim dengan bunga.
Makna dua buah kata yang bersinonim tidak pernah mempunyai makna yang sama persis, mutlak atau simetris. Kesinoniman mutlak atau kesinoniman simetris tidak ada dalam perbendaharaan kata dalam bahasa Indonesia. Hal itu disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:
a.       Waktu
Misalnya kata hulubalang dan komandan merupakan dua buah kata yang bersinonim tetapi karena faktor waktu, maka kedua kata tersebut tidak bisa dipertukarkan. Hulubalang hanya cocok untuk situasi kuno, sedangkan komandan cocok untuk situasi masa kini.
b.      Tempat atau daerah
Misalnya kata saya dan beta merupakan dua kata yang bersinonim , tetapi kedua kata tersebut tidak dapat dipertukarkan. Beta hanya cocok digunakan dalam konteks pemakaian bahasa Indonesia timur (Maluku).
c.       Sosial
Misalnya aku dan saya adalah dua buah kata yang bersinonim, teapi kata aku hanya dapat digunakan untuk teman sebaya dan tidak digunakan kepada orang yang lebih tua atau status sosialnya lebih tinggi.
d.      Bidang Kegiatan
Misalnya kata tasawuf, kebatinan, dan mistik adalah tiga buah kata yang bersionim. Namun kata tasawuf hanya lazim dalam agama islam, kebatinan untuk yang bukan islam dan mistik untuk semua agama.
e.       Nuansa Makna
Misalnya kata-kata melihat, melirik, melotot, meninjau, atau mengintip adalah kata-kata yang bersinonim. Kata melihat bisa digunakan secara umum, tetapi kata melirik hanya digunakan untuk menyatakan melihat dengan sudut mata, melolot hanya digunakan dengan mata terbuka lebar, meninjau hanya digunakan hanya dugunakan hanya dugunakan untuk menyatakan melihat dari tempat yang jauh.
Dalam bahasa Indonesia selain kata yang mempunyai sinonim ternyata terdapat satuan lain yang juga mempunyai sinonim, satuan-satuan tersebut adalah:
1)      Sinonim antara morfem (bebas) dengan morfem (terikat)
Misalnya dia dengan nya, saya dengan ku
a)      Minta bantuan dia
Minta bantuannya
b)      Bukan teman  saya
Bukan temanku
2)      Sinonim antara kata denga kata
Misalnya mati dengan meninggal,  buruk dengan jelek, dsb.
3)      Sinonim antara kata dengan frase atau sebaliknya
Misalnya meninggal dengan tutup usia, pencuri dengan tamu tak diundang
4)      Sinonim antara frase dengan frase
Misalnya ayah ibu, dengan orang tua
5)      Sininim antara kalimat dengan kalimat
Misanlya  adik menendang bola dengan bola ditendang adik
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam sinonim bahasa Indonesia
-          tidak semua kata dalam bahasa Indonesia memiliki sinonim
-          kata-kata  bersinonim pada bentuk dasar tetapi tidak pada bentuk jadian. Mislanya kata benar dan betul, tetapi kata kebenaran dan kebetulan tidak bersinonim.
-          ada kata-kata yang yang dalam arti sebenarnya tidak mempunyai sinonim, tetapi dalam arti kiasan justru mempunyai sinonim, misalnya kata hitam dalam arti sebenarnya tidak mempunyai sinonim, tetapi dalam arti kiasan hitam bersnonim dengan gelap, mesum, buruk, jahat dsb.
2.      Antonimi  atau Oposisi
Verhaar (1978) mendefinisikan antinimi adalah ungkapan (bisa berupa kata, tetapi dapat juga berbentuk frase, atau kalimat) yang maknanya dianggap kebalikan dari makna ungkapan lain.
Mislanya kata bagus berartonim dengan kata buruk, besar dengan kecil, membeli dengan menjual dsb.
Hubungan makna antara dua buah kata yang berantonimi bersifat dua arah. Jadi kalau bagus berantonim dengan buruk maka buruk berantonim dengan bagus.
Antonim disbut juga dengan istilah lawan kata,  lawan makna atau oposisi.
Berdasarkan sifatnya oposisi dapat dibedakan menjadi:
a.       Oposisi Mutlak
Terdapat perlawanan makna yang mutlak. Misalnya antara hidup dengan mati terdapat batas yang mutlak, sebab sesuatu yang hidup pasti tidak mati, dan sesuatu yang mati pasti tidak hidup.
b.      Oposisi Kutub
Makna kata-kata yang termasuk oposisi kutub ini pertentanganya tidak bersifat mutlak, melainkan bersifat gradasi. Artinya terdapat tingkat-tingkat makna pada kata-kata tersebut, misalnya kata kaya dan miskin, terdapat tingkatan pada kata tersebut misalnya agak kaya, cukup kaya, sangat kaya dan paling kaya begitu juga dengan kata miskin.
Kata-kata yang berasoiasi kutub ini umumnya berasal dari kelas kata adjektif, misalnya jauh-dekat, panjang-pendek, tinggi-rendah dsb.
c.       Oposisi Hubungan
Makna kata-kata yang beroposisi hubungan (relasional) ini bersifat saling melengkapi. Artinya kehadiran kata yang satu karena ada kata yang lain yang menjadi oposisinya. Tanpa kehadiran keduanya maka oposisi ini tidak ada.
Misalnya kata menjual beroposisi dengan membeli, suami degan istri.
Kata-kata yang beropsosisi hubungan ini bisa berupa kata-kata kerja seperti maju-mundur, pulang-pergi, pasang-surut, belajar-mengajar  atau berupa kata benda misalnya ayah-ibu, buruh-majikan, guru-murid dsb.
d.      Oposisi Hierarkial
Makna kata kata yang beroposisi hierakrial ini menyatakan suatu deret jenjang atau tindakan. Oleh karena itu kata-kata yang beroposisi hierarkial ini adalah kata-kata yang berupa nama satuan ukuran (berat, panjang dan isi), nama satuan hitungan dan penanggalan, nama jenjang kepangkatan dan sebagainya.
Misalnya meter beroposisi dengan kilometer karena beraada dalam satuan yang menyakatan panjang. Kuintal  beroposisi dengan ton karena keduanya berada dalam satuan ukuran yang menyatakan berat.
e.       Oposisi Majemuk
Dalam bahasa Indonesia ada beberapa kata yang beropsisi dengan lebih dari satu kata. Mislanya kata berdiri bisa beroposisi dengan kata duduk, berbaring,berjongkok dsb.  Misalnya kata diam beroposisi dengan berbicara, bergerak, dan bekerja.
Tidak semua kata dalam bahasa Indonesia mempunyai antonim atau oposisi. Misalnya mobil, rumput, monyet dsb.
3.      Homonimi, Homofoni, dan Homograf
a.       Homonimi
Verhaar (1978) mendefiniskan  homonimi sebagai ungkapan (berupa kata, frase atau kalimat) yang bentuknya sama dengan ungkapan lain tetapi maknanya tidak sama.
Misalnya bisa yang bermakna racun ular dan bisa yang bermakna sanggup.
Ada dua sebab kemungkinan terjadinya homonimi yaitu:
1.      Bentuk-bentuk yang berhomonimi itu berasal dari bahasa atau dialek yang berlainan. Misalnya bisa yang berati racun berasal dari bahasa Melayu, sedangkan bisa yang berarti sanggup berasal dari bahasa Jawa.
2.      Bentuk-bentuk yang berhomonimi itu terjadi sebagai hasil proses morfologis. Mislanya mengukur dalam kalimat. Ibu mengukur kelapa di dapur, adalah berhomonim pada kalimat ayah mengukur luasnya  halaman rumah kami.
Homonimi juga terjadi pada tataran morfem, kata, frase, dan kalimat
a)      Homonimi antarmorfem, tentunya antara sebuah morfem terikat dengan morfem terikat lainnya. Mislanya morfem –nya pada kalimat, ini buku saya, itu bukumu dan dan yang disana bukunya berhomonim dengan –nya pada kalimat mau belajar tapi bukunya tidak ada.
b)      Homonimi antarkata misalnya bisa yang bermakna sanggup dan bisa yang bermakna racun ular. Semi yang bermakna tunas dan semi yang bermakna setengah.
c)      Hominimi antarfrase, misalnya antara frase cinta anak yang bermakan cita seorang anak kepada orang tuanya dengan cinta anak yang bermakna cinta orang tua kepada anaknya. lukisan saya yang bermakna lukisan karya saya, lukisan milik saya atau lukisan wajah saya.
d)      Homonimi antarkalimat misalnya istri lurah yang baru itu cantik  yang bermakna lurah yang baru dilantik itu mempunyai istri yang cantik, dengan lurah itu baru saja menikah dengan seorang wanita cantik.
b.      Homofoni
Homofoni berasal dari dua kata yaitu kata homo yang bermakna sama dan fon yang bermakna bunyi, jadi homofoni adalah kata-kata yang mempununyai bentuk yang berbeda, maknanya berbeda tetapi mempunyai bunyi yang sama. Misalnya kata bang dengan bank. Bank adalah lembaga yang mengurus lalu lintas uang, sedangkan bang berasal dari abang yang bermakna kakak laki-laki. Sangsi dengan sanksi, sangsi yang bermakna ragu dengan sanksi yang bermakna akibat atau konsekuensi.
c.       Homografi
Homografi secara etimologi beras dari kata homo yang bermakna sama dengan graf yang bermakna tulisan, jadi homografi adalah kata-kata mempunyai tulisan yang sama tetapi bunyi dan maknanya berbeda. Misalnya teras dengan teras, teras yang pertama dilafalkan tǝras bermakna  inti kayu dan teras yang kedua dilafalkan teras yang bermakna bagian dari rumah. Apel dengan apel, apel yang pertama dilafalkan apěl yang bermakna upacara dan apel yang dilafalkan apɛl yang bermakna buah apel.
4.      Hiponimi dan Hipernimi
a.      Hiponimi
Verhaar (1978:137) hiponim adalah ungkapan biasanya berupa kata, tetapi kiranya dapat beupa frase atau kalimat) yang maknanya dianggap merupakan bagian dari makna  suatu ungkapan lain. Misalnya gurame adalah hiponim dari ikan. Sebab makna gurame termasuk dalam makna kata ikan. Gurame memang ikan tetapi bukan hanya gurami yang termasuk juga bandeng, tenggiri, salmon, mujair, cakalang, teri, mas dan sebagainya. Hubungan antara gurame, teri, cakalang dan ikan –kan lain disebut hubungan kohiponim. Jadi gurame berkohiponim dengan tenggiri, bandeng dan sebagainya.
Hubungan hiponim ini hanya bersifat satu arah, artinya hiponim dari bandeng adalah ikan, tetapi ikan tidak berhiponim dengan bandeng melainkan ikan berhipernim dengan bandeng.
b.      Hipernimi
Konsep hipernimi adalah kebalikan dari konsep hiponimi. Konsep hiponimi dan hipernimi mengandaikan adanya kelas bawahan dan kelas atasan, adanya makna sebuah kata  yang berada di bawah makna kata lainnya. Oleh karena itu, ada kemungkinan sebuah kata yang merupakan hipernim dari sebuah kata merupakan hipernim dari kata lainnya, akan menjadi hiponim terhadap kata lain yang hierarkial di atasnya.
Misalnya kata mahluk berhipernim dengan manusia dan binatang tetapi binatang berhipernim juga dengan ikan, kambing, monyet, gajah dan sebagainya, ikan berhipernim juga dengan gurame, tongkol, bandeng dan sebagainya.
Disamping istilah hiponimi dan hipernimi terdapat istilah lain yaitu meronimi. Kedua istilah ini mengadung konsep yang hampir sama. Bedanya kalau hiponimi menyatakan adanya kata (unsur leksikal) yang maknanya berada di bawah makna kata lain, sedangkan meronimi menyatakan adanya kata (unsur leksikal) yang merupakan bagian bagian dari kata lain. Misalnya ikan mempunyai bagian-bagian tubuh, kepala, sirip, ekor, ingsang, sisik, dan sebagainya maka bisa dikatakan bahwa meronimi dari ikan adalah kepala, sirip, ekor, ingsang, sisik dan sebagainya.
5.      Polisemi
Polisemi lazim diartikan sebagai satuan bahasa (terutama kata, frase, ) yang memiliki makna lebih dari satu.
Misalnya kata kepala dalam bahasa Indonesia memiliki makna
-          Bagian tubuh dari leher ke atas (seperti terdapat pada manusia dan hewan)
-          Bagian dari sesuatu yang terletak di bagian atas atau depan yang merupakan bagian yang penting (kepala Ketera api, kepala meja).
-          Bagian dari sesuatu yang berbentuk bulat (kepala paku, kepla jarum)
-          Pemimpin atau ketua (kepala sekolah, kepala kantor)
-          Jiwa orang seperti dalam kalimat “setiap kepala menerima bantuan RP. 5000.000”
-          Akal budi seperti dalam kalimat “ badanya besar tetapi kepalanya kosong”.
Konsep polisemi hampir sama dengan konsep homonimi. Perbedaanya adalah homonimi bukanlah sebuah kata, melainkan dua buah kata atau lebih yang kebetulan maknanya sama. Tentu saja homonimi itu bukan sebuah kata maka maknanya pun berbeda. Makna  kata pada homonimi tidak ada kaitannya atau hubungannya sama sekali antara yang satu dengan yang lainnya. Sedangkan  polisemi adalah sebuah kata yang memiliki makna lebih dari satu, makna kata pada polisemi masih ada hubungannya antara makna yang satu dengan yang lain karen memang kembangkan dari komponen-komponen makna kata-kata tersebut.
6.      Ambiguitas
Ambiguitas adalah ketaksaan sering diartikan sebagai kata yang bermakna ganda atau mendua arti. Pengertian ambiguitas hampir sama dengan pengertain polisemi. Perbedaanya terletak pada kegandaan makna dalam polisemi dari kata, sedangkan kegandaan makna pada ambiguitas berasal dari satuan yang lebih besar yaitu frase atau kalimat dan terjadi akibat penafsiran struktur gramatikal yang berbeda.
Misalnya buku sejarah baru dapat ditasfirkan sebagai (1)  buku sejarah itu baru terbit, (2) buku itu berisi sejarah zaman baru
Pengertian ambiguitas hampir sama dengan homonimi. Perbedaanya terletak pada apabila homonimi dilihat sebagai bentuk yang kebetulan sama dan dengan makna yang berbeda, sedangkan ambiguitas adalah sebuah bentuk dengan makna yang berbeda sebagai akibat dari berbedanya penafsiran struktur gramatikal bentuk tersebut. Ambiguitas hanya terjadi pada tataran frase dann kalimat sedangkan homonimi dapat terjadi pada semua satuan gramatikal.
7.      Redundansi
Istilah redundansi sering diartikan sebagai berlebih-lebihan  pemakaian unsur segemental dalam suatu bnetuk ujaran.
Mislanya

bola ditendang udin dengan bola ditendang oleh si udin. Pemakaian kata oleh pada kalimat kedua tersebut dianggap sebagai sesuatu yang redundasi, yang berlebihan dan sebenarnya tidak perlu.

PERUBAHAN MAKNA
Makna suatu bahasa dapat mengalami perubahan yang disebabkan oleh berbagai faktor oleh pemakai bahasa tersebut. Perubahan makna mencakup perluasan, pembatasan, pelemahan, pengaburan, dan pergeseran makna yang tampak di dalam pengunaan bahasa. Menurut Manaf (2010:106), perubahan makna adalah berubahnya makna suatu leksem atau satuan leksikal. Perubahan makna tersebut dapat berupa perubahan konsep dan atau perubahan nilai rasa.
1.      Faktor-faktor yang Menyebabkan Terjadinya Perubahan Makna
Dalam hal mengenai perubahan makna, Chaer (2012:311) menyatakan bahwa secara sinkronis, makna sebuah kata atau leksem tidak akan berubah, tetapi secara diakronis terdapat kemungkinan makna tersebut dapat berubah. Artinya, dalam waktu yang relatif singkat, makna sebuah kata akan tetap sama, tidak berubah, tetapi dalam waktu yang relatif lama, terdapat kemungkinan makna sebuah kata tersebut akan berubah. Perubahan tersebut tidak berlaku untuk semua kosakata yang terdapat dalam sebuah bahasa, melainkan hanya terjadi pada sejumlah kata saja. Menurut Manaf (2010:107—111), faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan makna pada sebuah kata ialah sebagai berikut.
a.    Perkembangan dalam bidang ilmu dan teknologi. Adanya perkembangan konsep keilmuan dan teknologi dapat menyebabkan kata yang pada mulanya bermakna A menjadi bermakna B atau bermakna C. Misalnya, kata sastra dan berlayar.
b.    Perkembangan sosial budaya. Perkembangan dalam masyarakat yang berkenaan dengan sikap sosial dan budaya, juga menyebabkan terjadinya perubahan makna. Misalnya, kata saudara, tuan, dan sarjana.
c.    Perkembangan pemakaian kata. Setiap bidang kegiatan atau keilmuan biasanya mempunyai sejumlah kosakata yang berkenaan dengan bidang tersebut. Misalnya, dalam bidang pertanian ditemukan kosakata seperti menggarap, menuai, pupuk, hama, dan panen; dalam bidang agama Islam terdapat kosakata seperti imam, khatib, puasa, zakat; dan dalam bidang pelayaran ada kosakata berlabuh, berlayar, haluan, nahkoda, buritan. Kosakata yang pada mulanya hanya digunakan pada bidang-bidang tersebut, dalam perkembangan kemudian juga digunakan dalam bidang-bidang lain, dengan makna baru atau agak lain dengan makna aslinya. Misalnya, kata menggarap dari bidang pertanian digunakan juga umtuk bidang lain dengan makna mengerjakan/membuat, seperti menggarap skripsi, menggarap naskah drama, menggarap rancangan undang-undang lalu lintas. Kata membajak yang berasal dari bidang pertanian, kini sudah biasa digunakan dalam bidang lain dengan makna mencari keuntungan yang besar secara tidak benar, seperti membajak buku, membajak lagu, membajak pesawat terbang. Kata jurusan yang berasal dari bidang lalu lintas kini juga digunakan dalam bidang pendidikan dengan makna bidang studi/vakultas, seperti jurusan bahasa asing, jurusan hukum perdata, dan jurusan ekonomi pembangunan.
d.   Pertukaran tanggapan indra. Alat indra manusia yang terdiri dari lima jenis mempunyai fungsi masing-masing untuk menangkap gejala-gejala yang terjadi di dunia. Namun, dalam perkembangan pemakaian bahasa banyak terjadi pertukaran pemakaian alat indra untuk menangkap gejala yang terjadi di sekitar manusia tersebut. Misalnya, rasa pedas yang seharusnya ditanggap oleh indra persa lidah menjadi ditanggap oleh alat pendengar telinga, seperti kata-katanya pedas; kata manis yang seharusnya ditanggap oleh alat perasa lidah menjadi ditanggap dengan alat indra mata, seperti wajahnya sangat manis. Perubahan tanggapan indra ini disebut sinestesia. Contoh lainnya seperti warnanya teduh, suaranya berat sekali, kedengarannya memang nikmat, lukisan itu ramai sekali, tingkah lakunya sangat kasar.
e.    Adanya asosiasi. Asosiasi ialah adanya hubungan antara sebuah bentuk ujaran dengan sesuatu yang lain berkenaan dengan bentuk ujaran tersebut, sehingga bila disebut ujaran tersebut maka yang dimaksud ialah sesuatu yang lain yang berkenaan dengan ujaran tersebut. Misalnya, kata amplop yang sebenarnya bermakna sampul surat, tetapi amplop dalam kalimat ”Supaya urusan cepat beres, beri saja amplop” bermakna uang sogok. Contoh lain ialah berupa hubungan waktu dengan kejadian, seperti memeriahkan perayaan 17 Agustus. Kata 17 Agustus pada kalimat tersebut berasosiasi dengan hari kemerdekaan.
f.     Proses gramatikal. Proses gramatikal juga dapat mengakibatkan perubahan makna. Perubahan makna yang diakibatkan oleh proses gramatikal misalnya, leksem makan mengalami perubahan makna setelah mendapatkan afiks me-, ter-, dan –an, leksem makan menjadi memakan, termakan, dan makanan. Leksem memakan berarti memasukkan makanan ke mulut, mengunyah, lalu menelannya; leksem termakan artinya makan secara tidak sengaja; dan leksem makanan artinya benda yang dapat dimakan.
g.    Pengembangan istilah. Misalnya, leksem pantau semula bermakna sejenis ikan yang suka melayang-layang di air, seperti dalam kalimat ”Ikan pantau banyak kita temukan di air jernih” setelah digunakan sebagai istilah di bidang birokrasi, leksem pantau bermakna mengawasi, seperti dalam kalimat ”Menteri Sosial sedang memantau penyaluran sembako kepada masyarakat yang tertimpa bencana alam”.
Senada dengan hal tersebut, Rahardi (2006:70) menyatakan bahwa cukup banyak faktor yang dapat dianggap sebagai sosok yang menyebabkan terjadinya perubahan makna. Pertama, faktor kadar kedekatan relasi bahasa dengan masyarakat pemiliknya dan sosok kebudayaan yang menjadi wadahnya. Kedua, faktor yang berupa dorongan internal bahasa yang bersangkutan untuk menggunakan kata-kata atau istilah di dalam tertentu sesuai dengan tuntutan zaman. Ketiga, faktor kebutuhan dari para pengguna bahasa itu sendiri untuk bergengsi-gengsi atau menyombongkan diri, yang pada akhirnya justru dapat melahirkan banyak kata yang dipungut dari bahasa daerah atau bahasa asing.
Ramadansyah (2010:22) menyatakan bahwa makna suatu kata dapat berubah. Perubahan tersebut disebabkan oleh beberapa hal, yaitu (a) peristiwa ketatabahasaan, misalnya kata makan, akibat adanya peristiwa ketatabahasaan ditemui kata makanan, pemakan, makan-makan, makan biaya, makan besar, makan suap, dan sebagainya; (b) perubahan waktu, misalnya dulu kata sarjana bermakna orang yang pandai dan terpandang, tetapi kini, untuk orang yang lulus perguruan tinggi; (c) perbedaan tempat, misalnya kata butuh di Jawa bermakna perlu, sedangkan di Kalimantan Timur bermakna kemaluan laki-laki; (d) perbedaan lingkungan, misalnya kata jurusan di lingkungan lalu lintas bermakna arah tujuan, di lingkungan pendidikan bermakna bagian jurusan, di lingkungan olahraga bermakna bagian sikap badan; dan (e) perubahan konotasi.
2.      Jenis-jenis Perubahan Makna
Menurut Chaer (2009:140—144), perubahan makna kata secara umum terdiri dari beberapa jenis. Jenis-jenis tersebut ialah sebagai berikut.
a.    Meluas, yaitu gejala yang terjadi pada sebuah kata atau leksem yang pada mulanya hanya memiliki sebuah makna, tetapi kemudian karena berbagai faktor, menjadi memiliki makna-makna lain. Misalnya, kata saudara, kakak, ibu, adik, bapak, mencetak, dan lain-lain.
b.    Menyempit, yaitu gejala yang terjadi pada sebuah kata yang pada mulanya mempunyai makna yang cukup luas, kemudian berubah menjadi terbatas hanya pada sebuah makna saja. Misalnya, kata sarjana, ahli, pendeta, dan sebagainya.
c.    Perubahan total, artinya berubah sama sekali makna sebuah kata dari makna aslinya. Memang terdapat kemungkinan makna yang dimiliki sekarang masih memiliki sangkut paut dengan makna asliny, tetapi sangkut paut tersebut sudah jauh sekali. Misalnya, kata ceramah, seni, pena, canggih, dan sebagainya.
d.   Penghalusan (Amelioratif), yaitu gejala yang ditampilkan oleh suatu leksem atau satuan bahasa dianggap memiliki makna yang lebih halus atau lebih sopan pada saat ini daripada makna satuan bahasa tersebut dahulu. Misalnya, lembaga pemasyarakatan, pemutusan hubungan kerja, dan sebagainya.
e.    Pengasaran (Peyoratif), artinya usaha untuk mengganti kata yang maknanya halus atau bermakna biasa dengan kata yang maknanya kasar. Usaha atau gejala pengasaran ini biasanya dilakukan dalam situasi yang tidak ramah atau untuk menunjukkan kejengkelan. Misalnya, mencaplok, mendepak, menggondol, dan sebagainya.
Menurut Chaer dan Leonie Agustina (1995:186), perubahan semantik yang paling sering terjadi adalah berupa perubahan pada makna butir-butir leksikal yang mungkin meluas, menyempit, atau berubah total. Hal senada juga diungkapkan oleh Ramadansyah (2010:22—23) yang menyatakan bahwa perubahan makna pada leksikon sebuah bahasa dapat terjadi karena proses sebagai berikut. Pertama, meluas (generalisasi), apabila cakupan makna sekarang lebih luas daripada yang lama, misalnya berlayar, bapak, saudara, putra. Kedua, menyempit (spesialisasi), apabila cakupan makna sekarang lebih sempit daripada makna yang lama, misalnya pendeta, sarjana, madrasah. Ketiga, peninggian makna (amelioratif), apabila arti baru dirasakan lebih baik daripada makna yang lama, misalnya wanita (dulu: perempuan); Bung (dulu: panggilan kepada lelaki, kini: panggilan kepada pimpinan/tokoh). Keempat, penurunan makna (peyoratif), apabila arti baru dirasakan lebih rendah dari arti yang dulu, misalnya, bini lebih rendah dari istri/nyonya, bunting lebih rendah daripada hamil. Kelima, pertukaran (sinestesia), apabila terjadi perubahan makna akibat pertukaran indra yang berlainan, misalnya namanya harum, suaranya halus, rupanya manis, kata-katanya pedas. Keenam, persamaan (asosiasi), apabila terjadi perubahan makna karena persamaan sifat, misalnya amplop bermakna uang sogok, bunga kembang bermakna gadis cantik, mencatut bermakna mencari keuntungan. Jadi berkaitan dengan makna kias.
3.      Analisis Contoh Perubahan Makna
1.    Meluas
a.         Kata papan yang semula hanya bermakna belahan pipih dari sebilah kayu, seperti pada kalimat ”Ayah memotong sebilah papan kemarin sore”, sekarang sudah meluas maknanya menjadi perumahan, seperti pada kalimat ”Manusia memerlukan sandang, pangan, dan papan”.
b.        Kata baju yang pada mulanya hanya bermakna pakaian sebelah atas dari pinggang sampai ke bahu, seperti dalam ungkapan baju batik, dan baju lengan panjang, tetapi dalam kalimat ”Murid-murid itu memakai bau seragam”, makna kata baju telah meluas menjadi benda yang bukan hanya baju, tetapi juga celana, sepatu, dasi, dan topi. Demikian juga dengan baju dinas, baju olah raga, dan baju militer.
c.         Kata saudara yang pada mulanya hanya bermakna keluarga seperut atau orang yang lahir dari kandungan yang sama, seperti dalam kalimat ”Orang yang sedang berdiri di depan rumah itu adalah saudara kandungku”, tetapi dalam kalimat ”Surat saudara sudah kami baca; jawabannya tunggu saja di rumah”, makna kata saudara telah meluas menjadi kata saapan yang sederajat, baik usia maupun kedudukan sosial.
d.        Kata berlayar dahulunya bermakna melakukan perjalanan dengan kapal atau perahu yang digerakkan oleh tenaga layar. Namun, meskipun tenaga penggerak kapal sudah diganti dengan mesin uap, mesin diesel, mesin turbo, tetapi kata berlayar masih tetap digunakan untuk menyebut perjalanan di air.
e.         Kata putera dan puteri dahulu hanya dipakai untuk anak-anak raja, sekarang semua anak lak-laki dan wanita disebut sebagai putera dan puteri, seperti pada kalimat ”Pesawat ini merupakan hasil karya dari putera-puteri Indonesia”.
f.         Kata kepala dahulu dihubungkan dengan bagian badan sebelah atas atau tempat otak. Sekarang, makna kata kepala telah melaus, sehingga lahirlah urutan kata kepala sekolah, kepala rumah sakit, kepala kejaksaan, kepala pemerintahan. Makna kepala sekolah yaitu orang yang mempunyai jabatan tertinggi pada sebuah sekolah.
g.        Kata kemudi dahulu dihubungkan dengan alat untuk menjaga kelurusan jalannya perhau atau kapal di perairan. Kini, muncul urutan kata mengemudikan perusahaan, mengemudikan pesawat, mengemudikan negara.
h.        Kata benih dahulu dihubungkan dengan bibit, misalnya benih padi. Jadi, berhubungan dengan pertanian. Kini, muncul urutan kata benih perkara, benih persengketaan. Kata benih dalam hal ini tidak berhubungan lagi dengan pertanian, tetapi bermakna pangkal/sumber.
i.          Kata haluan dahulu bermakna bagian depan kapal atau perahu yang menagcu pada arah. Kini, muncul urutan kata garis-garis besar haluan negara, berhaluan ekstrem, berhaluan kiri. kata haluan pada konteks tersebut bermkna aliran atau paham seseorang, paham yang diperjuangkan.
j.          Kata jurusan dahulu lebih banyak dihubungkan dengan arah perjalanan, misalnya jurusan Grogol, jurusan Tanah Abang. Kini, muncul urutan kata jurusan bahasa, jurusan teknik. Dalam hal ini, kata jurusan lebih mengacu pada spesialisasi atau bagian disiplin ilmu yang ditekuni. Terlihat di sini bahwa kata jurusan sudah mengalami perluasan makna, yaitu dari arah menjadi bidang atau spesialisasi.
k.        Kata kawat dahulu dihubungkan dengan benda yang seurat yang terbuat dari logam. Kini, muncul istilah mengirim kawat, mengawatkan, yang bermakna mengirim berita melalui kantor telekomunikasi, sperti pada kalimat ”Segera kawatkan meninggalknya ayah kepadanya”. Di sini tampak bahwa makna kata kawat telah meluas.
l.          Kata anak biasanya dihubungkan dengan turunan setelah ibu dan ayah. Kini, muncul urutan kata anak kunci, anak sungai, anak sekolah, anak bab. Urutan kata tersebut tidak dapat diterangkan secara biologis, sebab secara biologis, bab, kunci, sekolah, sungai, tidak mungkin akan beranak. Demikian pula dengan pengunaan kata awak yang dahulu bermakna diri sendiri, kini telah muncul urutan kata awak pesawat, awak bus, awak kereta api, awak kapal. Ungkapan ini bermakna seseorang yang bekerja pada pesawat, bus, kereta api, dan kapal.
m.      Kata kunci biasanya dihubungkan dengan alat untuk mengunci rumah, peti. Kini, muncul urutan kata juru kunci, kunci jawaban, kunci perdamaian, kunci keberhasilan. Urutan kata mengunci rumah mengacu kepada kegiatan menutup dan membuka rumah dengan kunci. Kunci keberhasilan mengacu pada kegiatan utama, kegiatan agar kita berhasil di dalam suatu usaha. Tampak di sini, hubungan maknanya tetap ada, meskipun makna kata kunci telah meluas.
n.        Kata lahir biasanya dihubungkan dengan proses biologis, keluarnya bayi dari kandungan ibu. Kini, telah muncul urutan kata ia melahirkan kata-kata, telah lahir tunas bangsa, lahir gol pertama. Terlihat di sini hubungan makna yang berkaitan dengan proses, meskipun maknanya telah meluas.
o.        Kata kandungan biasanya dikaitkan dengan bayi yang dikandung ibu di dalam perutnya. Kini, muncul urutan kata persoalan itu mengandung dua hal ini; apa yang terkandung di dalam hatinya sulit diterka. Kata ini mengandung makna leksikal yang berarti yang berada di dalam.
p.        Kata mencetak pada mulanya hanya digunakan pada bidang penerbitan buku, majalah, atau koran, tetapi kemudian maknanya menjadi meluas seperti dalam kalimat ”Persija tidak berhasil mencetak satu gol pun; Pemerintah akan mencetak sawah-sawah baru; Kabarnya dokter dapat mencetak uang dengan mudah”. Kata mencetak dalam kalimat-kalima tersebut bermakna membuat, menghasilkan, memperoleh, mencari, atau mengumpulkan.
q.        Kata target yang berarti sasaran, dahulu bermakna sinar yang ada di sekeliling perisai, maupun struktur yang menyerupai perisai, ditandai dengan lingkaran-lingkaran yang makin memusat, dan dibuat khusus untuk latihan menembak. Namun sekarang seperti dalam kalimat ”Penghasilan tahun ini harus melebihi dari target yang telah ditetapkan”. Makna target pada kalimat tersebut sudah meluas, tidak lagi hanya sekadar hal yang digunakan untuk latihan menembak, tetapi bermakna sesuatu yang harus dicapai.
r.          Kata songsong/menyongsong dahulu memiliki makna menyambut dengan payung kebesaran. Sekarang terdapat ungkapan menyongsong tamu, menyongsong hari raya, menyongsong masa depan, menyongsong musuh, menyongsong musim hujan. Makna kata menyongsong sekarang ini sudah melusa. Tidak harus dengan menggunakan payung kebesaran lagi.
s.         Kata jago yang semula hanya bermakna ayam jantan yang sudah dewasa, yang biasanya diadu dalam suatu aduan atau sabung ayam, sudah mengalami perluasan makna. Sekarang, kata ini bermakna sesuatu yang diharapkan menang dalam suatu pertandingan. Tidak hanya pada adu ayam, juga pada adu jangkrik, balapan kuda, balap sepeda motor/mobil, bahkan pada olahraga yang dilakukan manusia, seperti pidato, menyanyi, kecantikan, dan sebagainya.
t.            Kata kereta api dahulu dihubungkan dengan kereta yang benar-benar dijalankan dengan pertolongan api atau kayu bakar. Seiring dengan perkembangan zaman, manusia sudah dapat menciptakan mesin, tetapi kata kereta api masih tetap digunakan. Kata ini meluas tidak hanya mengenai kereta yang digerakkan dengan api atau kayu bakar, tetapi juga mengacu pada kereta yang sudah digerakkan dengan mesin.
2.        Menyempit
Perubahan makna yang menjadi penyempitan artinya jika dahulunya suatu kata atau satuan ujaran memiliki makna yang sangat umum, tetapi kini makna ujaran tersebut menjadi khusus atau sangat khusus (Chaer, 2012:314).
a.         Kata ahli pada awalnya menunjuk pada orang tertentu atau kelompok orang tertentu yang benar-benar mahir dan teruji keandalan dan kemahirannya dalam bidang tertentu. Namun sekarang, maknanya cenderung menyempit dan lebih banyak digunakan secara promotif, seperti pada ahli sumur, ahli pijat, ahli mesin, dan lain-lain.
b.        Kata sarjana pada awalnya adalah orang yang cerdik dan pandai, tetapi kini kata sarjana hanya bermakna orang yang telah lulus dari perguruan tinggi. Dewasa ini, betapa pun luas dan dalamnya ilmu seseorang, jika dia bukan lulusan perguruan tinggi, tidak bisa disebut sarjana.
c.         Kata pendeta dahulu bermakna orang yang berilmu, sekarang dipakai untuk menyebut guru agama Kristen atau Domine.
d.        Kata merawat biasanya dikaitkan dengan kegiatan merwat orang sakit di rumah. Orang yang merawat orang sakit disebut dengan perawat. Namun, sekarang tidak ada perawat yang bekerja di rumah., sebab orang yang disebut perawat yang kini biasa disebut dengan paramedis, biasanya bekerja di rumah sakit atau di rumah bersalin.
e.         Kata skripsi pada mulanya dihubungkan dengan tulisan tangan. Kini, maknanya lebih terbatas dan lebih menyempit, yaitu tulisan mahasiswa yang disusun sebagai persyaratan menempuh ujian untuk memperoleh gelar pada S-1.
f.          Kata tukang memiliki makna yang luas. Namun, apabila seseorang mengatakan tukang besi, tukang kayu, tukang mas, tukang weswl, tukang las, maka maknanya menjadi terbatas atau lebih menyempit. Makna yang diacu lebih terbatas kepada bidang pekerjaan yang berkaitan dengan keterampilan yang bersangkutan. Jika seseorang mengatakan tukang besi, maka yang dimaksud adalah orang yang pekerjaannya menempa besi menjadi perkakas, misalnya menjadi parang, pisau, pacul, dan perkakas lainnya. Jadi, makna yang diacu lebih terbatas kepada bidang pekerjaan yang berkaitan dengan keterampilan orang yang bersangkutan.
3.    Perubahan Total
Artinya makna yang dimiliki sekarang sudah jauh berbeda dengan makna aslinya (Chaer, 2012:314). Contoh perubahan total:
a.         Pada masa orde lama, kata subversi berarti upaya penyusupan yang dilakukan oleh agen-agen nekolim untuk menghancurkan revolusi. Gerakan intelektual seperti kelompok Manikebu (Manifesto Kebudayaan) dipandang sebagai subversi. Namun pada masa orde varu, kata subversi merujuk pada kegiatan antipembangunan yang dilakukan oleh ekstrem kanan atau ekstrem kiri, atau orang-orang yang melakukan kritik yang tidak bertanggung jawab.
b.        Pada masa orde lama, kata politik mempunyai konotasi yang positif, berkaitan dengan kegiatan yang mempunyai akses pada struktur kekuasaan. Namun pada masa orde lama, kata politik diartikan sebagai hal yang negatif, kegiatan yang tidak sejalan dengan elit penguasa. Politik merupakan hal yang jelek. Bangsa kita pernah menderita ketika politik menjadi panglima, tetapi akhir-akhir ini, secara perlahan politik mulai memiliki konotasi positif. Pada saat sekarang, orang-orang berbicara tentang partisipasi politik, pendidikan politik, sosialisasi politik, dan sebagainya.  
c.         Kata pena yang pada awalnya bermakna selembar bulu angsa, tetapi sekarang sudah hilang/lenyap, dan yang kini masih ada yaitu hanya gambar ikon atau simbolnya saja. Lalu, sekarang muncul makna baru yang berbeda dengan makna lama, yaitu menunjuk pada alat tulis yang memiliki tinta.
d.        Kata ceramah yang pada awalnya berarti banyak bicara, cerewet, atau banyak cakap, kini makna-makna tersebut telah berubah menjadi paparan atau uraian dalam bidang ilmu tertentu.
e.         Kata canggih yang pada awalnya juga berarti cerewet, bawel, banyak omong, tetapi kini makna tersebut telah berubah membentuk makna baru yang tidak bertautan dengan makna yang ditinggalkannya, yaitu sangat rumit, ruwet, modern, seperti pada kalimat ”Saat ini telah muncul berbagai barang elektronik yang canggih”.
f.         Kata sastra pada mulanya bermakna tulisan, huruf, lalu mengalam perubahan makna menjadi bacaan, kemudian berubah lagi menjadi buku yang baik isinya dan baik pula bahasanya. Selanjutnya, berubah lagi menjadi karya bahasa yang bersifat imajinatif dan kreatif.
g.        Pada zaman feodal dulu, untuk menyebut orang lain yang dihormati, digunakan kata tuan. Kini, kata tuan yang berbau feodal tersebut, diganti dengan kata bapak, sehingga terkesan lebih demokratis.
h.        Kata seni pada mulanya hanya berkenaan dengan ari seni, tetapi sekarang maknanya berubah menjadi karya cipta uang bernilai halus, seperti seni lukis, seni lukis, seni pahat, dan seni musik.
i.          Kata pujangga semula bermakna ular, kemudian bermakna sarjana. Kini, kata pujangga bermakna keahlian menciptakan roman, novel, atau puisi.
4.    Melemahkan Makna/Menghalus (Amelioratif)
Amelioratif artinya leksem atau satuan leksikal yang dahulu dirasakan kasar atau tidak sopan sekarang diganti dengan leksem atau satuan leksikal lain agar makna yang dirasakan halus atau sopan (Manaf, 2010:113). Contoh amelioratif:
a.         Di kantor sering terdengar atasan yang berkata kepada bawahannya ”Segera laksanakan!” perintah ini meskipun teras wajar, tetapi terkesan kasar. Untuk melemahkan makna urutan kata tersebut, digunakan kalimat ”Harap dikerjakan dalam waktu dekat; harap dikerjakan dalam waktu tidak terlalu lama”.
b.        Kata berpidato dan memberikan instruksi, dilemahkan maknya dengan jalan menggunakan kata memberikan pengarahan, memberikan pembinaan, melaksanakan serasehan, melaksanakan santiaji.
c.         Kata dipetieskan, dimapkan, didep, digunakan untuk melemahkan makna kata perkara atau urusan yang sengaja didiamkan.
d.        Kata air kencing dan tai memiliki makna yang menjijikkan. Untuk berbicara sopan, kata-kata ini perlu diganti dengan kata atau ungkapan lain, seperti air seni, urine, air kecil, pipis, air besar, serta tinja, dan feaces. Juga dengan tempat pembuangan benda-benda tersebut seperti wc dan kakus dapat diganti dengan kamar kecil, kamar belakang, lavatory, jamban, dan toilet.
e.         Kata uang sogok dan uang suap dapat diganti dengan uang semir, uang rokok, uang bensin, pelicin, dan sebagainya.
f.         Kata pelacur harus diganti dengan wanita tunasusila (WTS), wanita penghibur, pramunikmat, atau kupu-kupu malam. Kata pembantu atau babu harus diganti dengan pramuwisma.
g.        Kata pemulung harus diganti dengan sebutan laskar mandiri, karena bermakna pemungut barang-barang bekas dan tidak berharga, dan ia juga berjasa menjaga kebersihan lingkungan.
h.        Kata gelandangan harus diganti dengan tunawisma, karena berprofesi sebagai orang yang hidup menggelandang tanpa tempat tinggal. Pengangguran diganti dengan tunakarya, tahanan doganti dengan narapidana, dan penjara diganti dengan lembaga pemasyarakatan.
i.          Kata ayan diganti dengan epilepsi, kudis diganti dengan scabies, borok diganti dengan abses, buta diganti tunanetra, tuli diganti dengan tunarungu, bisu diganti dengan tunawicara, dan gila diganti dengan tunagrahita. Orang-orang yang menderita cacat sekarang tidak lagi sopan bila dikatakan penderita cacat, tetapi harus diganti dengan penyandang cacat.
j.          Kata korupsi dan manipulasi harus diganti dengan penyalahgunaan dan penyimpangan, kata ditangkap harus diperhalus menjadi diamankan, kata ditahan harus diganti dengan dimintai keterangan, kata dipecat harus diganti dengan diberhentikan dengan hormat atau dibebastugaskan.
k.        Kata mati harus diganti dengan meninggal atau tutup usia untuk orang biasa, wafat dan mangkat untuk raja, dan gugur untuk pahlawan, jenasah atau jasad untuk mengganti kaya mayat.
l.          Kata bodoh, tolol, dungu harus diganti dengan kata kurang atau lemah.
5.    Memburuk/Mengasar (Peyoratif)
Peyoratif artinya perubahan makna yang berupa leksem yang semula dirasakan halus kemudian karena faktor tertentu, makna leksem atau satuan leksikal tersebut dirasakan bermakna kasar. Contoh peyoratif:
a.         Kata mendepak dipakai untuk mengganti kata mengeluarkan seperti dalam kalimat ”Dia berhasil mendepak Bapak Ahmad dari kedudukannya”.
b.        Kata menjebloskan yang dipakai untuk menggantikan kata memasukkan seperti dalam kalimat ”Karena kesalahan yang dilakukannya, akhirnya polisi menjebloskannya ke dalam sel”.
c.         Kata menggondol biasa dipakai untuk binatang seperti dalam kalimat ”Anjing menggondol tulang” tetapi bisa digunakan seperti dalam kalimat ”Akhirnya regu bulu tangkis berhasil menggondol pulang piala Thomas Cup itu”.
d.        Kata mencuri seperti dalam kalimat ”Kontingen Suriname berhasil mencuri satu medali emas dari kolam renang” dianggap kasar, karena mencuri merupakan suatu tindak kejahatan yang dapat diancam dengan hukuman penjara.
e.         Kata dicekal merupakan pemedekan dari kata dicegah dan ditangkal. Kata ini dipakai untuk menggantikan kata pelarangan dan pencegahan seperti dalam kalimat ”Karena kasus yang dialaminya, ia sedang dicekal oleh pihak berwajib untuk jangka waktu yang relatif lama”. Kata dicekal dalam kalimat tersebut bermakna tindakan mencegah seseorang untuk berpergian ke luar negeri.
f.         Kata menipu biasa dipakai untuk menggantikan kata pembelian fiktif, pembayaran fiktif, penerimaan fiktif.
g.        Kata pemberontak dipakai untuk menggantikan kata gerakan pengacau keamanan.
h.        Kata pembantu dipakai untuk menggantikan kata kaki-tangan.
i.          Kata bini dipakai untuk menggantikan kata istri dan laki dipakia untuk menggantikan kata suami.

j.          Kata mampus digunakan untuk menggantikan kata mati.

MEDAN MAKNA DAN KOMPONEN MAKNA

1.      Medan Makna
Harimurti (1982) menyatakan bahwa medan makna ( semantic field, semantic domain) adalah bagian dari sistem semantik bahasa yang menggambarkan bagian dari bidang kebudayaan atau realitas dalam alam semesta tertentu dan yang direalisasikan oleh seperangkat unsur leksikal yang maknanya berhubungan. Kata atau unsur leksikal yang maknanya berhubungan dalam satu bidang tertentu jumlahnya tidak sama dari satu bahasa dengan bahasa lain, sebab berkaitan erat dengan kemajuan atau situasi budaya masyarakat bahasa yang bersangkutan. Misalnya pada silsilah kekerabatan dalam bahasa Indonesia masih belum lengkap. Kita belum berhubungan antara ego, misalnya (1) anak dari kemenakan, (2) anak dari sepupu, (3) anak dari besan yang bukan menantu, (4) anak dari moyang, (5) anak dari piut dan sebagainya.
Kata-kata yang berada dalam satu medan makna dapat digolongkan menjadi dua, yaitu yang termasuk golongan kolokasi dan goolongan set. Kolokasi (berasal dari bahasa latin colloco yang berarti ada di tempat yang sama dengan) menunjuk kepada hubungan sintagmatik yang terjadi aantara kata-kata atau unsur-unsur leksikal itu. Kata-kata yang berkolokasi ditemukan bersama atau berada dalam satu tempat atau satu lingkungan. Misalnya : pada kalimat penyerang tengah bernomor punggung tujuh itu memasukkan bola ke gawang dengan melewati pemain belakang dari pihak lawan yang ramai, kiper dari pihak lawan kewalahan menangkap bola tersebut sehingga wasit menyatakan gol. Kita dapat melihat kata-kata penyerang tengah, penyerang belakang, gol, bola, wasit, gawang, dan kiper berkolokasi dalam pembicaraan tentang olah raga sepakbola.
Dalam pembicaraan tentaang jenis makna ada istilah kolokasi, yaitu jenis makna kolokasi yaitu makna kata yang tertentu berkenaan dengan keterikatan kata tersebut dengan kata lain yang merupakan kolokasi. Misalnya kata tampan, cantik, dan indah sama-sama bermakna denotatif ‘bagus’. Tetapi kata tampan memiliki komponen atau ciri makna (+laki-laki) sedangkan kataa cantik memiliki komponen atau ciri makna (-laki-laki) dan kata indah memiliki komponen atau ciri makna (-manusia).
Set menjuk pada hubungan paradigmatik karena kata-kata atau unsur-unsur yang berada dalaam suatu set dapat saling menggantikan. Suatu set biasanya berupa sekelompok unsur leksikal dari kelas yang sama yang tampaknya merupakan satu kesatuan. Setiap unsur leksika dalam suatu set dibatasi oleh tempatnya dalam hubungan dengan anggota-anggota dalam set tersebut.
SET                   bayi                    dingin
(Paradigmatik)         kanak-kanak       sejuk
                                 remaja                hangat
                                 dewasa               panas
                                 manula                terik
kata remaja merupakan tahap pertumbuhan antara kanak-kanak dengan dewasa; sejuk adalah suhu di antara dingin  dengan hangat.
                                
2.      Komponen Makna
       Komponen makna atau komponen semantik (semantic feature, semantic property, atau semantic marker) mengajarkan bahwa setiap kata atau unsur leksikal terdiri dari satu atau beberapa unsur yang bersama-sama membentuk makna kata atau makna unsur leksikal tersebut.  Misalnyaa, kata ayah mengandung komponen makna atau unsur makna: +insan, +dewasa, +jantan dan +kawin dan ibu mengandung komponen makna; +insan,+dewasa,-jantan dan +kawin.
Komponen Makna
Ayah
Ibu
1.       Insan
+
+
2.      Dewasa
+
+
3.      Jantan
+
-
4.      kawin
+
+
            Konsep analisis ini (lazim disebut analisis biner) oleh para ahli kemudian diterapkan juga untuk membedakan makna suatu kata dengan kata lain. Analisis biner ini dapat pula digunakan untuk mencari perbedaan semantik kata-kata yang bersinonim.
       Dari pengamatan terhadap data/unsur-unsur leksikal, ada tiga hal yang perlu dikemukakan sehubungan dengan analisis biner tersebut, yaitu:
-          Pertama, ada pasangan kata yang salah satu daripadanya lebih bersifat netral atau umum sedaangkan yang lain bersifat khusus. Misalnya, pasangan kata mahasiswa dan mahasiswi. Kata mahasiswa lebih bersifat umum dan netral karena dapat termasuk “pria” dan “wanita”. Sebaliknya kata mahasiswi lebih bersifat khusus karena hanya mengenai “wanita”.
-          Kedua, ada kata atau unsur leksikal yang sukar dicari pasangannya karena memang mungkin tidak ada; tetapi ada juga yang mempunyai pasangan lebih dari satu. Contoh kata atau unsur leksikal yang pasangannya lebih dari satu adalah kata berdiri. Kata berdiri bukan hanya bisa dipertentangkan dengan kata duduk, tetapi dapat juga dengan kata tiarap, rebah, tidur, jongkok, dan berbaring.
-          Ketiga, sukar mengatur ciri-ciri semantik itu secara bertingkat, mana yang lebih bersifat umum dan mana yang lebih bersifat khusus. Umpamanya ciri (jantan) dan (dewasa), bisa bersifat umum (jantan) dan bisa juga bersifat umum (dewasa).
3.        Kesesuaian Semantik dan Gramatis
            Seorang penutur suatu bahasa dapat memahami dan menggunakan bahasanya bukanlah karena dia menguasai semua kalimat yang ada di dalam bahasanya itu, melainkan karena adanya unsur kesesuaian atau kecocokan ciri-ciri semantik antara unsur leksikal yang satu dengan unsur yang lain. Umpamanya, antara katawanita dan mengandung ada  kesesuaian ciri semantik.
            Kesesuaian ciri ini berlaku bukan hanya pada unsur-unsur leksikal saja tetapi juga berlaku antara unsur leksikal dan unsur gramantikal.Umpamanya, kata seekor hanya sesuai dengan kata ayam tetapi tidak sesuai dengan kata ayam-ayam, yaitu bentuk reduplikasi dari kata ayam. Kata seekor sesuai dengan kata ayam karena keduanya mengandung ciri (+tunggal); sebaliknya kata seekor tidak sesuai dengan kata ayam- ayam karena kata seekorberciri makna (+tunggal) sedangkan ayam-ayam berciri makna(-tunggal).
       Para ahli tata bahasa generatif semantik seperti Chafe (1970) dan Fillmore (1971),  berpendapat setiap unsur leksikal mengandung ketentuan-ketentuan penggunanaannya yang sudah terpateri yang bersifat gramatikal dan bersifat semantis. Ketentuan-ketentuan gramatikal memberikan kondisi-kondisi gramatikal yang berlaku jika suatu unsur gramatikal hendak digunakan. Umpamanya kata kerja makan dalam penggunaannya memerlukan adanya sebuah subyek dan sebuah obyek (walaupun disini objek ini bisa dihilangkan).
        Oleh karena itulah kalimat Adik makan dendeng atau kucing makan dendeng dapat diterima, sebab adik  maupun kucing  mengandung ciri makna (+bernyawa) dan dendeng  mengandung ciri makna (+makanan). Tetapi kalimat *Pensil makan dendeng dan kalimat Adik makan lemari tidak dapat diterima karena kata pensil pada kalimat pertama mengandung ciri makna (-bernyawa) dan kata lemari pada kalimat kedua mengandung ciri makna (-makanan). Jadi tidak dapat diterimanya kedua kalimat itu bukanlah karena masalah gramatikal, melainkan karena masalah semantik.
SOAL SEMANTIK

JENIS MAKNA

  1. Makna Leksikal dan Makna Gramatikal
    1. Makna Leksikal

Makna Leksikal adalah makna dasar sebuah kata yang sesuai dengan kamus. Makna dasar ini melekat pada kata dasar sebuah kata. Makna leksikal juga dapat disebut juga makna asli sebuah kata yang belum mengalami afiksasi (proses penambahan imbuhan) ataupun penggabungan dengan kata yang lain. Namun, kebanyakan orang lebih suka mendefinisikan makna leksikal sebagai makna kamus.

Contoh:

  1. Rumah
  2. Cerai
  3. Bulpoin
  4. Kerbau
  5. Buku
  1. Makna Gramatikal

Makna Gramatikal adalah makna kata yang terbentuk karena penggunaan kata tersebut dalam kaitannya dengan tata bahasa. Makna gramatikal muncul karena kaidah tata bahasa, seperti afiksasi, pembentukan kata majemuk, penggunaan kata dalam kalimat, dan lain-lain.

Contoh:

  1. Berlari = melakukan aktivitas
  2. Bersedih = dalam keadaan
  3. Bertiga = kumpulan
  4. Berpegangan = saling
  5. Berjanji : Melakukan atau mengucap janji
  1. Makna Referensial dan Konotatif
    1. Makna Referensial

Makna Referensial adalah makna yang berhubungan langsung dengan kenyataan atau referent (acuan), makna referensial disebut juga makna kognitif, karena memiliki acuan. Makna ini memiliki hubungan dengan konsep, sama halnya seperti makna kognitif. Hubungan yang terjalin antara sebuah bentuk kata dengan barang, hal, atau kegiatan (peristiwa) di luar bahasa tidak bersifat langsung, ada media yang terletak di antaranya. Kata merupakan lambang (simbol) yang menghubungkan konsep dengan acuan.

Contoh :

  1. Orang itu menampar orang.
  2. Orang itu menampar dirinya.
  3. Manusia itu menginjak manusia.
  4. Orang itu menduduki masyarakat.
  5. Kampung itu terpencil dengan kampong lain.
  1. Makna Nonreferensial

Makna nonreferensial adalah sebuah kata yang tidak mempunyai referen (acuan). Seperti kata preposisi dan konjungsi, juga kata tugas lainnya. Dalam hal ini kata preposisi dan konjungsi serta kata tugas lainnya hanya memiliki fungsi atau tugas tapi tidak memiliki makna. Berkenaan dengan bahasan ini ada sejumlah kata yang disebut kata-kata deiktis, yaitu kata yang acuannya tidak menetap pada satu maujud, melainkan dapat berpindah dari maujud yang satu kepada maujud yang lain. Yang termasuk kata-kata deiktis yaitu: dia, saya, kamu, di sini, di sana, di situ, sekarang, besok, nanti, ini, itu.

Contoh:

  1. Tadi dia duduk di sini
  2.  ”Hujan terjadi hampir setiap hari di sini”, kata walikota Bogor.
  3. Di sini, di Indonesia, hal seperti itu sering terjadi.
  4. Kamu tau kan besok itu hari apa?
  5. Jadi, apa yang saya harus lakukan sekarang?

Pada kalimat (a) kata di sini menunjukan tempat tertentu yang sempit sekali. Mungkin bisa dimaksudkan sebuah bangku, atau hanya pada sepotong tempat dari sebuah bangku. Pada kalimat (b) di sini menunjuk pada sebuah tempat yang lebih luas yaitu kota Bogor. Sedangkan pada kalimat (c) di sini merujuk pada daerah yang meliputi seluruh wilayah Indonesia. Jadi dari ketiga macam contoh diatas referennya tidak sama oleh karena itu disebut makna nonreferensial (d) besok menunjukkan bahwa seseorang mengingatkan pada teman / pacarnya tentang sesuatu yang ada di hari setelah ini (e) sekarang merujuk kepada seseorang yang sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa.

  1. Makna Denotatif dan Konotatif
  2. Makna Denotatif

Makna Denotatif adalah makna asli, makna asal atau makna sebenarnya yang dimiliki sebuah leksem.

Contoh:

  1. Kurus, diartikan sebagai  keadaan tubuhnya yang lebih kecil dan ukuran badannya normal.
  2. babi adalah binatang ternak, babi mempunyai makna konotatif, najis.
  3. Cella baru saja di pecat dari pekerjaannya.
  4. Milli seorang gadis buta yang pintar.
  5. Badan sebesar gajah begitu tidak akan muat bila dia memakainya.
  1. Makna Konotatif

Makna Konotatif adalah makna lain yang ditambahkan pada makna denotatif tadi yang berhubungan dengan nilai rasa orang atau kelompok orang yang menggunakan kata tersebut.
Contoh:

  1. Kurus artinya tidak memiliki nilai rasa yang mengenakkan, tetapi kata ramping bersinonim dengan kata kurus itu memiliki konotatif positif, nilai yang mengenakkan. Orang akan senang bila dikatakan ramping.
  2. Babi, berkonotasi negatif bagi orang Islam tetapi tidak bagi orang non Islam. Makna  konotasi berbeda dengan makna kias karena makna kias menurut sapa bertujuan memerintah kata.
  3. Bunga, diartikan sebagai ‘bagian tumbuhan yang digunakan sebagai alat reproduksi atau berkembang biak’.
  4. Dia baru saja dirumahkan dari pekerjaannya.
  5. Miki adalah seorang tuna rungu yang berprestasi.
  1. Makna Kata dan makna Istilah
  2. Makna Kata

Makna kata, walaupun secara sinkronis tidak berubah, tetapi karena berbagai faktor dalam kehidupan dapat menjadi bersifat umum. Makna kata itu baru menjadi jelas kalau sudah digunakan dalam suatu kalimat.

Contoh:

  1. Kata tahanan, bermakna orang yang ditahan,tapi bisa juga hasil perbuatan menahan.
  2. Kata air, bermakna air yang berada di sumur, di gelas, di bak mandi atau air hujan.
  3. Budi tidur siang pukul satu siang sehabis shalat zuhur.
  4. Pelayaran ke negara Perancis itu dipimpin oleh Kapten Sugianto.
  5. Saya bercita-cita ingin menjadi sarjana pendidikan.
  1. Makna Istilah

Makna istilah memiliki makna yang tetap dan pasti. Ketetapan dan kepastian makna istilah itu karena istilah itu hanya digunakan dalam bidang kegiatan atau keilmuan tertentu.
Contoh:

  1. Kata tahanan masih bersifat umum, istilah di bidang hukum, kata tahanan itu sudah pasti orang yang ditahan sehubungan suatu perkara.
  2. Bunga sudah tidur dari pekerjaannya sebagai sekretaris.
  3. Ibu Yuli sudah Tutup buku tahun lalu.
  4. Ustadz Jefri Al Bukhori Tutup usia pada hari jum’at tanggal 26 April 2013
  5. Sulastri di kuburkan pada pembaringan terakhirnya di TPU jeruk purut.
  1. Makna Konseptual dan Makna Asosiatif
    1. Makna Konseptual

Makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari konteks atau asosiasi apapun.

Contoh:

  1. Kata kuda memiliki makna konseptual “sejenis binatang berkaki empat yang bisa dikendarai”.
  2. kata Rumah memiliki makna konseptual “bangunan tempat tinggal manusia”.
  3. Kata buaya yang berarti ‘binatang melata karnivora purba yang hidup di air dan memiliki sisik tajam’. Arti kata itu berlaku pada kalimat berikut ‘Adik melihat penangkapan buaya di pinggir sungai’
  4. Hati sapi ini enak sekali diolah menjadi makanan lezat.
  5. Kata ‘ibu’ yakni ‘manusia berjenis kelamin perempuan dan telah dewasa’.
  1. Makna Asosiatif

Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah leksem atau kata berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan suatu yang berada di luar bahasa .

Contoh:

  1. Kata melati berasosiasi dengan suatu yang suci atau kesucian.
  2. Kata merah berasosiasi berani atau paham komunis.
  3. Kata putih berasosiasi melambangkan kesucian bagi negara indonesia.
  4. Kata garuda berasosiasi melambangkan negara indonesia.
  5. Kata kembang berasosiasi dengan sebutan untuk kota bandung.
  1. Makna Idiomatikal dan Peribahasa
    1. Makna Idiomatikal

Idiomatikal adalah satuan-satuan bahasa (ada berupa baik kata, frase, maupun kalimat) maknanya tidak dapat diramalkan dari makna leksikal, baik unsur-unsurnya maupun makna gramatikal satuan-satuan tersebut.

Contoh:

  1. Piring terbang itu pernah kulihat di kawasan puncak Bogor.
  2. Anak yang pertama dilahirkan dengan cara bedah Caesar.
  3. Ibu sedang membaca tajuk rencana yang ia baca di surat kabar pagi ini.
  4. Kata-katanya amat menyejukkan hati.
  5. Aku adalah anak semata wayang orang tuaku.
  1. Makna Peribahasa

Makna pribahasa bersifat memperbandingkan atau mengumpamakan, maka lazim juga disebut dengan nama perumpamaan. Bagai, bak, seperti, laksana dan umpama lazim digunakan dalam peribahasa.

Contoh:

  1. Bagai air didaun talas.
  2. Bagai pinang dibelah dua.
  3. Seperti lembu dicucuk hidung
  4. Seperti cendawan tumbuh selepas hujan
  5. Bagai roda pedati, sekali ke atas, sekali ke bawah.
  1. Makna Kias

Makna kias adalah kata, frase dan kalimat yang tidak merujuk pada arti sebenarnya.

Contoh:

  1. Putri malam, bermakna bulan.
  2. Raja siang, bermakna matahari.
  3. Kembang perawan, bermakna gadis yang masih ting-ting.
  4. Kembang desa, bermakna gadis yang cantik
  5. Mahkota wanita, bermakna rambut wanita.
  1. Makna lokusi, ilokusi dan perlokusi.

Lokusi :

  1. Dasar tindakan dalam  suatu ujaran.
  2. Tindakan mengaitkan topic dengan keterangan makna dasar sebuah tuturan.

Ilokusi :

  1. Tindakan atau maksud yang menyertai sebuah ujaran.
  2. Daya yang ditimbulkan oleh sebuah ujaran.

Perlokusi :

  1. Pengaruh atau efek dari pertuturan lokusi dan ilokusi.
  2. Hasil dari tuturan terhadap pendengarnya.

Contoh:

“suara kamu begitu indah untuk di dengar”.

Lokusi : ujuaran tersebut hanya sebuah pernyataan bahwa suaranya jelek.

Ilokusi : ujaran tersebut bisa berarti pujian, keluhan, ataupun ejekan.

Perlokusi : ujaran tersebut dapat membuat pendengarnya merasa senang dan bangga karena

mendapat pujian dan bisa juga marah-marah karena mendapat ejekan.